Reynand bertanya untuk ketiga kalinya pagi itu apakah benang di pergelangan Reyna sudah diam.
"Sudah diam sejak semalam, Rey. Sejak kamu tanya yang pertama."
Rabu pagi, cahaya matahari masuk miring lewat jendela cottage dan jatuh tepat di pergelangan kiri Reyna. Reynand memegang tangan istrinya seperti memegang barang pecah belah, memutarnya ke kanan, ke kiri, lalu mendekatkan wajah. Hanya garis tipis dua putaran, sewarna kulit yang tertekan. Tidak berdenyut, tidak bergerak.
"Mungkin kamu cuma kelelahan," katanya, tidak yakin.
"Mungkin kamu cuma bangun terlalu pagi."
"Mungkin kita dua-duanya." Ia mengecup punggung tangan itu, lalu meletakkannya hati-hati di atas selimut. "Hari ini tidak ada benang, tidak ada cermin, tidak ada kasus. Kita naik perahu."
Dan memang begitulah Rabu mereka. Seorang nelayan tua membawa mereka mengitari karang hitam dengan perahu kayu yang catnya mengelupas. Reyna memegang pinggiran perahu sambil memekik tiap kali ombak mengangkat lambung, dan Reynand tertawa selepas itu, suara yang jarang Reyna dengar darinya. Sore harinya mereka makan es kelapa di warung, malamnya tidur lebih awal. Benang itu diam seharian, dan diamnya mulai terasa mencurigakan bagi keduanya, meski tidak ada yang mau mengakui.
***
Reyna terbangun dengan bagian tubuh yang bergerak sendiri.
Itu yang pertama ia sadari: tangan kirinya terangkat dari selimut, lurus ke depan, jemari menjulur ke arah pintu. Ia belum membuka mata sepenuhnya ketika rasa dingin menjalar dari pergelangan sampai siku. Ia melihat ke bawah. Di dalam gelap kamar, benang merah itu menyala, bukan lagi garis samar tetapi merah pekat, seperti kawat panas, melingkar dua kali dan menegang ke arah luar jendela, ke arah laut.
"Rey," bisiknya, dan suaranya tidak keluar.
Tubuhnya bergeser ke tepi ranjang. Kakinya menyentuh lantai kayu yang dingin. Ia tidak berjalan; ia ditarik, dan setiap langkah terasa seperti menyeret tali yang dikaitkan di dalam dadanya.
"Rey!"
Kali ini suaranya pecah. Terdengar benda jatuh di belakangnya, lalu lengan hangat melingkar di pinggangnya dari belakang.
"Aku di sini. Reyna, dengar aku. Aku di sini."
Benang itu menarik lebih keras. Pintu cottage terbuka sendiri, angin laut masuk dan membawa bau garam yang tajam. Kaki Reyna sudah melewati ambang. Pasir dingin menyentuh telapaknya.
Reynand mulai bersholawat, melantunkan Ya Nabi Salam Alaika dengan suara bergetar tetapi tidak putus, mulutnya persis di telinga Reyna. Lengannya tidak mengendur sedikit pun walau tubuh Reyna terus condong ke depan.
Di bawah cahaya bulan tipis Reyna melihat laut menghitam, gulungannya terlalu pelan, seperti sesuatu yang bernapas di bawahnya. Benang di pergelangannya menarik lagi, dan kali ini sakitnya tajam, seperti jarum menusuk dari dalam.
"Lepaskan," desis Reyna. Ia sendiri tidak tahu ia bicara kepada siapa.
Kalung di lehernya bersinar. Cahayanya hangat dan putih, menembus kain bajunya, menerangi wajah Reynand yang basah oleh keringat dan air mata yang tidak ia sadari. Reyna merasakan tarikan di dadanya melonggar satu inci, dua inci, seperti tali yang digerogoti dari dalam. Benang di pergelangannya meredup dari merah pekat menjadi merah tua, lalu merah muda, lalu surut ke dalam kulit meninggalkan lingkar ungu yang berdenyut nyeri.
Kakinya berhenti. Seluruh tubuhnya jatuh ke belakang, ke dada Reynand, dan mereka terduduk di pasir dingin dengan napas terengah-engah.
"Aku punya kamu," ucap Reynand berulang-ulang di rambutnya. "Aku punya kamu. Aku punya kamu."
Ombak di depan mereka menghantam karang, keras dan biasa, ombak yang sewajarnya.
"Kamu terluka?" Reynand menarik tangan kiri Reyna ke dalam cahaya bulan dan menahan napas melihat lingkar ungu yang kini mengitari pergelangan seperti bekas tali. "Sakit?"
"Berdenyut. Tapi tidak parah."
"Kamu bilang tidak parah juga waktu tanganmu membiru di balik air terjun."
"Dan waktu itu aku memang tidak apa-apa."
"Reyna." Suaranya turun satu nada, rendah dan serak. "Aku komandan polisi. Aku sudah melihat pelaku bersenjata, mobil terguling, orang yang menodongkan pisau ke leherku. Tidak ada yang membuatku sepanik tadi, waktu aku terbangun dan tempat tidurmu kosong."
"Kamu menangkapku."
"Hampir terlambat."
"Hampir," ulang Reyna, dan ia meraih wajah suaminya dengan kedua tangan, membiarkan jempolnya menyeka air di pipi Reynand. "Tapi kamu menangkap aku. Dan kamu bersholawat sambil gemetar. Aku dengar tiap katanya."
"Aku fals."
"Kamu fals sekali." Ia tersenyum di tengah gemetarnya. "Itu doa paling merdu yang pernah kudengar."
***
Ponsel Reyna, satu-satunya yang tidak dalam mode pesawat, berdering menjelang subuh. Nama di layarnya membuat Reynand yang sedang mengompres pergelangan tangan istrinya mengangkat kepala.
"Kak Revan," kata Reyna. Ia menyalakan pengeras suara.
"Dek." Suara Revan terdengar dalam dan lelah, jelas bukan baru bangun. "Kakak tidak mau mengganggu bulan madu. Tapi kakak terbangun tiga jam lalu dengan telinga berdengung. Kamu baik-baik saja?"
"Baru saja ditarik ke laut, Kak. Sama benangnya."
Hening. Reyna bisa membayangkan kakaknya memejamkan mata dan menarik napas panjang di ujung telepon, di kota yang jauh.
"Kalungmu?"
"Bersinar. Benangnya mundur."
"Berarti kalungnya cukup. Untuk malam ini." Revan berhenti sebentar. "Dek, pulang. Pagi ini."
"Kak, kami baru..."
"Pagi ini. Bukan karena kakak takut. Karena di tempat yang jauh dari pegangan yang kita siapkan, dia lebih mudah mencari jalan. Pantai itu terbuka. Rumah Reynand sudah kakak periksa dari jauh, di situ ada yang menjaga."
Reyna melirik Reynand. Reynand, yang sudah mendengar semuanya, tidak membantah. Ia hanya mengangguk pelan pada ponsel itu, seolah Revan bisa melihatnya.
"Kami pulang, Kak."
"Anak baik. Dan Reynand."
"Ya, Kak."
"Jangan lepas tangannya."
"Tidak akan."
Sambungan terputus. Di luar jendela, langit mulai pucat.
***
Mereka salat subuh di beranda, di atas dua sajadah yang dipasang bersebelahan, dengan laut membentang abu-abu di depan. Sesudahnya Reyna duduk memeluk lutut sementara Reynand mengemasi koper dengan gerakan lambat, melipat setiap baju seperti sedang menunda.
"Kita baru dua hari lebih," katanya akhirnya, tanpa menoleh. "Aku sudah janji empat hari tanpa kasus. Satu hari lagi dan aku mengingkarinya."
"Kamu tidak mengingkari. Kasusnya yang datang tanpa janji."
"Tetap saja." Ia menutup koper dan menatap istrinya. "Rey, aku tidak mau bulan madu pertamamu berakhir dengan tangan ungu dan telepon dari kakakmu pukul empat pagi."
"Aku justru mau ingat yang lain." Reyna tersenyum, tipis tapi sungguh-sungguh. "Perahu itu. Es kelapa. Kamu tertawa di perahu."
"Itu tawa paling lepas yang kuingat dalam setahun."
"Berarti sudah berhasil."
"Berhasil apa?"
"Mengisi kepalaku dengan yang bukan benang. Malam ini aku akan ingat tangan kamu di pinggangku, bukan tarikan itu. Itu lebih kuat dari doa mana pun yang bisa kupanjatkan."
Reynand terdiam, lalu mengembuskan tawa kecil yang pecah di ujungnya. Ia menunduk, menekan dahinya ke dahi Reyna sebentar.
"Kamu keras kepala."
"Kamu juga."
Reynand duduk di hadapannya, di atas pasir yang mulai kering, lalu menggenggam kedua tangan Reyna, menghindari pergelangan yang ungu.
"Kita ulang bulan madunya," katanya. "Bukan hanya empat hari. Sepuluh hari. Dengan hantu pun boleh."
"Dengan hantu pun boleh?"
"Asal hantunya tahu sopan santun seperti Mbah di dapur."
Reyna tertawa, lalu menangis sedikit, lalu tertawa lagi. "Janji?"
"Janji. Aku tulis di buku nikah kalau perlu."