Senin pagi, memar di pergelangan kiri Reyna sudah berubah dari ungu menjadi kuning kehijauan. Empat hari di rumah sudah cukup untuk menyembuhkan kulitnya, dengan Mbah yang tak pernah muncul kecuali bunyi sapu lidi di kamar belakang, dengan Revan yang menelepon tiap malam dari kota yang jauh dan hanya bertanya satu hal: kalungnya masih di leher? Hari ini ia berniat kembali bertugas setengah hari, hanya visite, hanya berkas, dan hanya ruang yang bisa ia tinggalkan kapan saja.
Rencana itu bertahan sampai pukul tujuh lewat dua puluh.
"Dok, ada kecelakaan beruntun di tol." Perawat jaga berlari menyusuri koridor poli sambil memegang papan berkas. "Satu pasien ruptur limpa, perdarahan masif, tekanan darah turun terus. Dokter bedah senior masih terjebak macet di luar kota, yang lain cuti. Kata ruang gawat darurat, kalau menunggu setengah jam saja..."
Reyna sudah berdiri sebelum kalimat itu selesai.
"Siapkan kamar bedah dua. Panggil dr. Felli sebagai asisten dan dr. Nina untuk anestesi. Sekarang."
Felli menyusulnya di ruang cuci tangan dalam dua menit, wajahnya pucat tetapi tegak. Mereka berdiri berdampingan di depan wastafel logam. Air mengalir deras dari keran, dan keduanya diam sampai perawat yang tadi mengantar berkas keluar.
"Ini yang dimaksud Kak Revan," kata Felli pelan.
"Ini yang dimaksud." Reyna meraih rantai di lehernya. Jarinya berhenti. "Fel, kalau terjadi sesuatu..."
"Gue di sebelah lo. Gue pegang kalungnya, gue pegang tangan lo, gue pegang apa pun yang perlu dipegang." Felli menengadahkan telapak tangannya. "Sini."
Reyna melepas kalung itu. Rantainya meluncur dari lehernya, ringan, dan seluruh tubuhnya seketika terasa telanjang. Felli menyimpannya di saku dalam seragam bedahnya, di balik apron, tepat di dekat dadanya.
"Satu jam," bisik Felli. "Mungkin dua. Lalu dia kembali."
***
Meja operasi nomor dua terang benderang. Pasien seorang perempuan empat puluhan, perutnya menegang, tekanan darahnya jatuh. Nina berdiri di ujung kepala dengan monitor di hadapannya, pandangannya lurus ke layar, tidak menoleh pada Reyna.
"Tekanan sembilan puluh per enam puluh dan terus turun," lapornya datar. "Siap kapan saja, Dokter."
"Pisau."
Sayatan pertama bersih. Tangan Reyna bergerak seperti sudah ratusan kali melakukannya, dan itu memang benar. Darah menggenang, Felli menyedot, Reyna mencari sumber. Lima menit pertama berjalan seperti operasi mana pun.
Lalu ia merasakan dingin di bawah sarung tangan kirinya.
Reyna tidak mengangkat kepala. Ia melirik ujung matanya ke bawah dan melihatnya, samar di balik lateks tipis: garis merah itu menyala, tipis tetapi jelas, melingkar di pergelangannya dan menjalar pelan ke arah telapak tangan. Hanya dia yang melihat. Felli menatap lapangan operasi, Nina menatap monitor, perawat instrumen menunggu klem berikutnya.
Jemari Reyna bergetar. Sekali. Halus sekali.
"Klem," katanya, suaranya lebih rendah dari yang ia niatkan.
"Klem." Felli menyodorkan alat itu dan menyodorkan juga bahunya, merapat setengah inci ke lengan Reyna seolah kebetulan. Lewat kain, Reyna merasakan sesuatu yang hangat dan keras menekan pergelangannya dari luar sarung tangan: jari Felli, menggenggam pergelangan itu sebentar, pelan dan mantap.
Tangan Reyna berhenti bergetar.
"Tidak di sini," bisik Reyna, nyaris tanpa suara, pada benang di balik lateks. "Bukan di sini. Nanti."
Benang itu berdenyut dua kali, seperti sedang menimbang, lalu pelan-pelan mengendur.
Operasi berlanjut. Limpa yang pecah diangkat, perdarahan dikendalikan, tekanan darah naik menjadi seratus sepuluh. Satu jam empat puluh menit sesudah sayatan pertama, Reyna menutup lapisan terakhir dan menyerahkan jarum kepada Felli.
"Selesai," katanya. "Terima kasih semuanya."
Nina menoleh juga akhirnya, satu detik, dari balik masker. Matanya tertuju bukan pada pasien tetapi pada Reyna.
***
Di ruang ganti, Reyna membuka sarung tangan dengan hati-hati. Pergelangan kirinya memerah di sekitar garis tipis, tetapi benang itu sudah diam. Felli menyerahkan kalung dengan kedua tangan, lalu duduk di bangku dengan lutut lemas.
"Lo ngerti gak, barusan gue hampir pingsan."
"Lo hebat banget."
"Gue cuma megang tangan lo."
"Itu yang gue butuhkan."
Pintu ruang ganti terbuka. Nina masuk, melepas penutup kepalanya, dan berdiri di depan loker seperti orang yang sudah lama menimbang kata-kata.
"Aku tahu kamu bicara sendirian," katanya pelan.
Felli menahan napas. Reyna memasang kalung di lehernya sebelum menjawab.
"Aku bicara pada pasien. Banyak dokter bergumam waktu operasi."
"Kamu bilang 'bukan di sini'. Pasien dibius total." Nina menutup lokernya. Dari wajahnya Reyna tidak bisa membaca apakah ia marah atau hanya lelah. "Aku tidak akan bilang apa-apa kepada siapa pun hari ini. Tapi aku mendengarnya."
Ia keluar tanpa menunggu jawaban.
"Ya ampun," bisik Felli.
"Gue tahu."
Di koridor, Reyna baru melangkah dua meter ketika seseorang memanggil namanya. Arman berdiri di depan dinding kaca, jas dokternya rapi, tangannya menggenggam sebuah boneka kain kecil yang ia masukkan terburu-buru ke saku.
"Dok, maaf mengganggu. Boleh bicara sebentar?"
"Soal apa, Dok?"
"Soal malam itu." Ia menatap Reyna lurus. "Pak Reynand pasti sudah cerita sebagian. Saya tidak mau memaksa. Saya hanya ingin Dokter tahu pintu saya terbuka."
Reyna menarik napas. "Suami saya dan saya sepakat untuk menemui Dokter berdua. Boleh kami kabari harinya?"
"Kapan pun, Dok." Senyumnya hangat dan tulus, lalu ia pergi.
***
Sore itu Reynand menunggu di lobi dengan kemeja biru tua, bersandar di tiang seperti sudah lama berdiri di sana. Wajahnya berubah begitu Reyna mendekat. Ia membaca pergelangannya dulu, baru wajahnya.
"Felli kirim pesan. Katanya kamu melepas kalung."
"Sesuai aturan Kak Revan. Pasiennya selamat."
"Aku tahu. Tapi Rey, kenapa kalung itu tidak bisa dipakai di bawah gaun bedah? Selipkan saja di dalam."
"Karena prosedur steril, Rey. Aku bergerak di lapangan steril. Kalung yang menyentuh kulit lalu keluar masuk dari baju adalah risiko infeksi untuk pasienku."
"Dibungkus plastik?"
"Dibungkus plastik pun tetap bergeser waktu aku membungkuk."
"Dijahit di baju?"
"Reynand."
"Aku cuma ingin kamu aman." Suaranya melembut, dan tangannya menggenggam tangan kanan Reyna, bukan pergelangan kiri yang masih merah. "Tapi aku juga tahu kamu tidak akan membiarkan pasien terbuka di meja demi aku. Jadi aku kalah."
"Kamu tidak kalah. Kamu mengerti."
"Itu sama saja." Ia tersenyum miring. "Arman?"
"Dia menunggu kabar. Aku bilang kita yang tentukan harinya."
Mereka berjalan ke mobil. Mercy putih itu menunggu di bawah pohon ketapang, tertutup daun-daun kering yang jatuh sepanjang hari.
"Minggu," kata Reynand sambil membuka pintu. "Di kafe, di tempat netral, bukan di rumah sakit. Kita dengar dari dia, kita dengar bersama."
"Minggu."
"Dan Rey." Ia berhenti dengan tangan masih di pintu. "Aku bukan lagi cemburu soal dia. Aku cuma tidak mau mendengar sesuatu yang membuatmu menangis tanpa aku di sebelahmu."
"Kamu akan di sebelahku."
"Sampai kamu bosan."
"Aku tidak akan bosan." Reyna masuk ke kursi penumpang, dan pandangannya jatuh pada gedung rumah sakit di balik kaca depan.
Di sayap lama, lantai atas, jendela-jendelanya gelap dan berdebu. Di salah satunya, berdiri sebuah siluet putih yang diam, menghadap ke arah mobil. Reyna mengerjap, dan jendela itu kosong.
"Rey. Sayap lama. Ada yang berdiri di jendelanya."
Reynand menoleh ke gedung, tidak melihat apa-apa, lalu menyalakan mesin tanpa membantah. Tangannya mencari tangan Reyna di atas persneling.
"Minggu," katanya. "Tidak ada yang berubah."