Kafe kecil itu terselip di ujung jalan yang jarang dilewati orang sepulang gereja dan masjid, dengan kursi rotan, lampu gantung warna kuning, dan hujan gerimis yang mengetuk kaca. Reynand memilih meja paling pojok, menghadap pintu. Reyna duduk di sebelahnya, punggung merapat ke dinding, dan di bawah meja tangan kanannya sudah tergenggam sejak mereka turun dari mobil.
Sepanjang pekan, tidak terjadi apa-apa. Itu yang membuatnya aneh. Benang diam, kalung hangat, Mbah hanya menampakkan diri dua kali untuk mengingatkan Reyna bahwa sayur asemnya terlalu asin. Reyna belajar berdamai dengan tenang yang mencurigakan itu, dan hari ini ia memutuskan untuk menantangnya.
Arman datang tepat pukul empat, sendirian, memakai kemeja kotak-kotak dan jaket tipis yang basah di bahu. Tanpa jas dokter ia tampak lebih muda dan lebih gugup.
"Terima kasih sudah mau datang," katanya sambil duduk. "Saya tahu ini tidak mudah."
"Kami yang berterima kasih," jawab Reynand. Suaranya tenang, tetapi genggamannya di bawah meja mengencang. "Silakan, Dok. Pelan-pelan saja."
Arman memesan teh panas, menunggunya datang, dan baru bicara sesudah pelayan pergi.
"Dua tahun lalu saya belum resmi pegawai tetap. Saya dokter jaga malam di sini, kontrak, sambil menyelesaikan sekolah spesialis. Saya baru diangkat tahun lalu. Itu sebabnya orang mengira saya baru di sini." Ia memutar cangkir di tangannya. "Malam itu saya jaga bangsal bedah. Sekitar pukul satu pagi saya mendengar teriakan dari lorong belakang kamar operasi."
"Teriakan seperti apa?" tanya Reyna.
"Tidak keras, Dok. Tapi menembus. Seperti seseorang berteriak dari dalam air." Ia menelan ludah. "Saya lari, dan sudah ada Pak Reynand lebih dulu, berlutut di depan seorang dokter perempuan. Saya baru tahu belakangan siapa dia."
Dada Reyna menegang. Ia tidak menarik tangannya dari genggaman Reynand.
"Apa yang Dokter lihat?"
"Cahaya merah di tangan kiri Dokter. Samar, sangat tipis, melingkar. Saya tidak bilang kepada siapa pun karena saya pikir saya kelelahan." Arman menggeleng sedikit. "Tetapi sejak kecil, kadang saya melihat yang tidak dilihat orang lain. Jadi saya tahu itu bukan lelah."
"Bapak memegang benang itu," katanya pada Reynand. "Dan putus."
"Putus," sahut Reynand. "Seperti senar."
"Ada yang lain." Arman menurunkan suaranya, dan mata Reyna menangkap bagaimana jarinya mencengkeram gagang cangkir. "Di ujung lorong, tempat sayap lama yang sudah ditutup, ada seorang perawat berdiri. Seragam putih lama, topi kecil di rambut, kulitnya... Dok, saya dokter. Saya biasa melihat luka bakar. Tapi kulitnya melepuh dari leher sampai tangan, dan ia memegang gunting besar yang tua."
Hujan di luar menderas. Reyna mendengar napasnya sendiri.
"Dia menggunting?"
"Tepat saat Pak Reynand menyentuh benang itu. Gunting itu dibuka lalu ditutup di udara, persis di sebelah tangan Pak Reynand." Arman menatap Reynand. "Jadi putusnya bukan hanya karena tangan Bapak. Ada dua. Tangan Bapak dan gunting itu. Dan setelah menggunting, tangannya terbakar lebih parah, seperti benang itu melukainya balik."
Reynand tidak berkata apa-apa. Reyna merasakan telapak suaminya mendingin.
"Aku kira aku yang mematahkannya," ujar Reynand akhirnya, nyaris tak terdengar. "Dua tahun aku mengira begitu."
"Mungkin Bapak ikut mematahkannya. Tapi dia yang menanggung."
"Kenapa baru sekarang, Dok?" tanya Reyna. Suaranya lebih tajam daripada niatnya, dan ia segera melunak. "Maaf. Saya bukan menuduh. Dua tahun itu panjang."
"Pertanyaan yang adil." Arman tidak tersinggung. "Besok paginya saya melihat Dokter di lift, dan Dokter menyapa Pak Reynand yang kebetulan lewat dengan sopan, seperti orang asing. Saya sadar Dokter tidak ingat. Saya bukan siapa-siapa untuk menceritakan malam itu kepada orang yang tidak mengingatnya. Terlalu mudah salah niat." Ia menarik napas. "Jadi saya menunggu. Sampai saya mendengar Dokter akan menikah dengan lelaki yang sama. Saya pikir, sekarang waktunya."
"Sama seperti dulu," gumam Reyna, "kamu menunggu sampai kami siap."
"Ya, Dok."
Reynand mendengarkan semuanya dengan rahang yang makin kendur.
***
Mereka diam cukup lama. Teh Arman mendingin di cangkir, dan pelayan yang lewat membawa nampan sempat menoleh, lalu menjauh.
Reynand menarik napas dan melepas genggamannya dari Reyna, hanya untuk meletakkan kedua telapak di atas meja, di hadapan Arman.
"Dok. Saya harus mengaku sesuatu."
"Pak, tidak perlu."
"Perlu." Reynand menatapnya. "Dua tahun saya tidak suka mengingat Dokter. Saya tahu Dokter yang membantu menaikkan istri saya ke brankar, dan setiap kali ingat itu, saya merasa ada orang asing yang ikut dalam malam yang seharusnya hanya milik kami. Waktu Dokter menyapa Reyna di koridor, saya merasa ada yang ganjil, padahal yang ganjil itu cuma perasaan saya." Ia menggeleng. "Saya bersikap tidak adil. Terima kasih sudah ada di sana. Dan terima kasih sudah mau cerita."
Arman terdiam. Lalu sudut bibirnya terangkat. "Saya tidak keberatan dicemburui, Pak. Itu tanda Bapak mencintainya."
"Itu juga yang saya takutkan."
Reyna tertawa kecil di tengah matanya yang panas. "Kalian berdua ini..."
"Dok Reyna." Arman memutar tubuhnya padanya. "Satu hal lagi. Saya tidak mendengar apa yang Dokter katakan di lorong itu. Saya hanya melihat Dokter bergumam, lalu jatuh. Kalau ada yang Dokter ingat nanti, saya siap mendengarkan. Tapi saya tidak akan bertanya lebih dulu."
"Terima kasih, Dok."
"Malam itu saya penasaran pada perawat tua itu," lanjut Arman. "Esok paginya saya menelusuri catatan lama di arsip kepegawaian. Tidak ada tertulis tentang siapa pun yang meninggal di lorong itu, tetapi ada nama dari sayap yang ditutup. Perawat itu namanya Lastri, kata catatan lama."
Reyna dan Reynand saling menatap.
"Lastri," ulang Reyna.
"Dan dia masih di sana." Arman berdiri, merapikan jaketnya. "Saya melihatnya lagi minggu lalu, dari jendela lantai tiga. Dia seperti sedang mencari seseorang."
Reyna teringat siluet putih di jendela sayap lama. "Saya melihatnya hari Senin. Dia berdiri menghadap mobil kami."
Arman diam sebentar, tidak terkejut. "Berarti benar. Dia mencari Dokter."
***
Mereka berjalan ke mobil di bawah satu payung. Hujan menipis menjadi rintik. Reynand membukakan pintu untuk istrinya, tidak langsung menutup, lalu menunduk sampai wajah mereka sejajar.
"Aku ingin tahu kenapa dia menolongmu."
"Aku juga." Reyna mencengkeram ujung syalnya. "Dan Rey, tangannya. Kata Arman benang itu melukainya balik. Aku merasa ada orang yang terbakar demi aku, dan aku bahkan tidak tahu wajahnya."
"Kamu tahu wajahnya sekarang. Dari jendela."
"Aku tahu siluetnya."
"Itu awal." Ia mengusap pipi Reyna dengan ibu jari yang hangat. "Kita kenal dia pelan-pelan. Seperti kita kenal Mbah."
"Mbah tidak membawa gunting."
"Mbah membawa sapu lidi. Sama berbahayanya."
Reyna tertawa pendek. Ia tahu itu cara Reynand mengurangi beratnya, dan ia menerimanya dengan syukur.
"Aku ingin bicara dengannya, Rey. Kalau dia benar-benar yang menyelamatkan aku malam itu, aku berutang padanya."
"Mungkin." Reynand menggeleng pelan, bukan menolak, tetapi menimbang. "Tapi tidak sendirian. Kita belum tahu apa yang dia mau."
"Kalau dia menginginkan sesuatu dariku," kata Reyna pelan, "dia sudah membayarnya dua tahun lalu dengan tangannya."
Reynand menegakkan badan, memandang atap-atap basah di seberang jalan tempat gedung rumah sakit berdiri.
"Itu yang membuatku tidak tenang," jawabnya. "Orang yang sudah berkorban sebanyak itu biasanya menyimpan satu permintaan."