Sabtu pagi, enam hari sesudah kafe itu, Lastri tidak pernah muncul lagi, tetapi satu permintaan yang dibayangkan Reynand masih mengendap di kepala Reyna. Lalu mual itu datang tanpa permisi, pukul enam kurang lima belas, dan Reyna sempat berpikir bahwa mi instan tengah malam bersama Mbah yang menunggui dari pojok dapur memang keputusan yang buruk.
Ia berlari ke kamar mandi, menutup pintu, dan muntah sambil memegang pinggir wastafel. Kepalanya berdenyut. Lututnya lemas. Sesudahnya, ia berkumur lama dan menatap wajahnya di cermin: pucat, mata sayu, rambut kusut. Seorang dokter bedah dengan wajah seperti pasien.
Ia sudah terlambat empat hari. Ia menyadarinya Rabu malam, menyimpan angka itu di kepala sampai Jumat, lalu membeli tespack di apotek dekat rumah sakit dengan wajah datar seorang profesional yang membeli perban. Kotak kecil itu sejak kemarin ada di laci kamar mandi, terselip di balik sabun cadangan, dan sampai pagi ini ia tidak berani menyentuhnya.
Ia menyentuhnya sekarang.
Prosedurnya ia hafal di luar kepala, dan ia mengikutinya dengan ketenangan yang sama seperti saat memegang pisau bedah, hanya sedikit lebih basah di telapak tangan. Ia meletakkan alat itu di tepi wastafel, membalik jam tangan ke arah dirinya, dan menunggu tiga menit yang terasa seperti satu jam operasi.
Dari ruang tidur terdengar suara ranjang berderit. "Rey?" Suara Reynand serak, setengah tidur. "Kamu muntah?"
"Sedikit. Tidur lagi."
"Pintunya kamu kunci."
"Aku lagi ganti baju!"
"Kenapa kamu ganti baju di kamar mandi jam enam pagi?"
"Karena aku mau!"
Hening sebentar. Lalu, "Baik, Bu Dokter."
Reyna menunduk. Satu garis merah muncul tegas di jendela kecil itu, garis kontrol. Beberapa detik kemudian, perlahan, garis kedua muncul di sampingnya. Tipis, sedikit pucat, tetapi tidak bisa disangkal.
Ia memegang alat itu dengan dua tangan.
Dua garis.
Ia tidak menangis. Ia tidak berteriak. Ia duduk di tepi bak mandi dan memandang benda kecil di tangannya seperti seseorang yang baru diberi sesuatu yang terlalu besar untuk telapak tangannya.
***
Reynand sedang duduk di tepi ranjang, mengusap wajah dengan kedua tangan, ketika Reyna keluar dari kamar mandi. Ia berhenti mengusap begitu melihat istrinya.
"Kamu pucat sekali. Aku antar ke dokter. Atau kamu sendiri dokter, jadi..."
"Rey." Reyna berdiri di depannya, mengulurkan tangan yang menggenggam alat itu. "Lihat."
Reynand menatap benda itu. Lama. Reyna melihat bola matanya bergerak, dari garis pertama ke garis kedua, kembali ke yang pertama, lalu ke wajah Reyna.
"Ini..."
"Dua garis."
"Itu artinya..."
"Aku sedang hamil."
Reynand tidak bergerak. Wajahnya kosong, dan Reyna sempat takut. Tetapi kemudian bibirnya bergetar, matanya merah, dan ia turun dari ranjang, bukan memeluknya, melainkan berlutut di lantai kayu, menempelkan dahi ke permukaan sajadah yang masih terhampar sejak subuh.
"Alhamdulillah," bisiknya. "Alhamdulillah. Ya Allah. Alhamdulillah."
Bahunya terguncang. Reyna ikut berlutut di sampingnya, menyentuh punggungnya, dan ia merasakan getaran yang mengalir dari tubuh Reynand ke telapak tangannya, getaran seorang lelaki yang menangis tanpa suara.
"Rey, jangan menangis, nanti aku ikut."
"Aku sudah menangis." Reynand mengangkat wajah. Pipinya basah, matanya kacau, dan ia tertawa kecil di tengah sedu. "Aku akan jadi ayah."
"Kamu akan jadi ayah."
"Aku tidak percaya."
"Aku juga tidak percaya." Reyna ikut tertawa, dan air matanya akhirnya jatuh juga. "Aku dokter. Aku tahu persis bagaimana ini terjadi, dan aku tetap tidak percaya."
Reynand memeluknya dengan lengan yang gemetar, lalu melepaskan sedikit dengan takut, seakan ia bisa memecahkan sesuatu. Ia menatap perut Reyna yang masih rata, kemudian menempelkan telapak tangan di sana dengan sangat hati-hati.
"Halo," bisiknya pada kain baju tidur itu. "Ini ayah."
Reyna menutup mulut dengan telapak tangan. Suara tangis dan tawa bercampur di dadanya.
***
Mereka menelepon Ayah lebih dulu, dari ranjang, dengan layar ponsel disandarkan pada bantal. Wajah Ayah muncul setelah dering ketiga, berpeci dan sedang memegang cangkir kopi.
"Reyna? Ada apa, Nak? Masih pagi."
"Ayah." Reyna menggenggam tangan Reynand. "Aku hamil."
Cangkir itu tidak jatuh. Tetapi tangan Ayah berhenti di udara, dan layar menampilkan keheningan yang panjang sekali. Reyna menahan napas.
"Ayah?"
"Ayah dengar," katanya akhirnya, suaranya serak dan lambat. "Ayah dengar, Nak." Ia meletakkan cangkir dengan sangat pelan, lalu menunduk, seperti menyembunyikan wajah. Bahunya bergerak. "Bunda pasti sudah tahu lebih dulu dari Ayah."
"Ayah menangis?"
"Ayah tidak menangis. Ayah kemasukan debu."
"Debu di rumah kita memang nakal, Yah," kata Reynand lembut.
Ayah tertawa pendek, parau, menyeka wajah dengan punggung tangan. "Jaga dia, Nak. Jaga mereka berdua."
"Siap, Yah."
Panggilan kedua mereka tujukan pada Revan. Dering lama, lalu wajah kakaknya muncul, berantakan dan rambutnya basah, di latar sebuah kamar penginapan yang asing.
"Dek? Kakak baru mau ke lapangan."
"Kak." Reyna mengambil napas. "Aku hamil."
Revan tidak berseru, tidak tersenyum. Ia diam. Reyna melihat sesuatu bergeser di matanya, bukan kaget melainkan hitungan.
"Selamat, Dek. Selamat, Reynand."
"Terima kasih, Kak."
"Dengarkan kakak baik-baik, dua-duanya." Nada Revan turun, dalam dan tenang, nada yang selalu dipakainya bila ia sedang menjaga. "Kalung tidak boleh lepas, kecuali di meja operasi yang tidak bisa menunggu. Raga tidak boleh lepas, tidak untuk alasan apa pun. Dan soal benang yang menyeberang ke perutmu, jangan dibahas dengan siapa pun di luar lingkaran ini. Bukan dengan Siska, bukan dengan Felli. Felli cukup tahu bagian yang ia perlukan di meja operasi."
"Kenapa, Kak?"
"Karena yang tidak mereka ketahui tidak bisa dipakai untuk menarik mereka." Ia menatap lurus ke kamera. "Percaya kakak."
"Percaya."
Sambungan terputus. Reynand mengusap lengan Reyna. "Dia tahu sesuatu."
"Dia selalu tahu sesuatu."
***
Menjelang sore, Reynand turun ke dapur untuk membuat bubur dengan resep dari internet, dan Reyna masuk ke kamar mandi untuk membasuh wajah. Sambil mengeringkan tangan, ia mengangkat bagian bawah bajunya dan menatap pantulan perutnya di cermin, entah mencari apa, mungkin hanya ingin melihat tempat kecil itu.
Di pergelangan kirinya, garis tipis bergerak.
Ia membeku. Garis merah itu lepas dari pergelangannya, naik pelan menyusuri punggung tangan, merayap di sepanjang lengan bagian dalam, lalu turun menyilang tubuhnya, menembus kain bajunya, menuju satu titik di bawah pusar. Ia berhenti tepat di atas perutnya, bergetar, seakan mengenali sesuatu di sana.
Reyna tidak bergerak, tidak mengedip.
Lalu garis itu pudar. Dalam sepuluh detik hanya tinggal kulit pucat dan pantulan wajahnya yang ketakutan.
"Rey?" Suara Reynand terdengar dari lantai bawah. "Buburnya jadi! Kamu mau pakai ayam suwir?"
Reyna menurunkan bajunya dengan tangan yang tidak sepenuhnya stabil. Hari ini milik mereka. Ia akan menceritakannya, janji itu tidak ia ingkari, tetapi nanti, sesudah bubur, tidak sekarang saat suaminya sedang menyanyi pelan di dapur.
"Mau!" serunya. "Pakai banyak!"