Jumat pagi, Reyna berdiri di depan cermin kamar mandi dengan baju terangkat sampai ke bawah dada, memeriksa perutnya untuk kesekian kalinya sejak Sabtu lalu.
Kulit pucat. Pusar. Tidak ada garis merah, tidak ada getaran, tidak ada apa pun yang menyeberangi tubuhnya dari pergelangan tangan.
"Masih tidak ada?" Reynand bersandar di kusen pintu, sudah berseragam, kancing terakhir kemejanya belum terpasang.
"Masih tidak ada."
"Bagus."
"Aku tidak yakin itu bagus." Reyna menurunkan baju. "Sesuatu yang tidak muncul bukan berarti tidak ada."
Reynand menghampiri dan mengancingkan sendiri kemejanya dengan satu tangan, tangan satunya meraih bahu Reyna. Sabtu malam itu juga, sesudah bubur ayam yang kelewat encer, Reyna menceritakan semuanya: garis yang lepas dari pergelangan, menyusuri lengan, berhenti tepat di atas perutnya. Ia bicara dengan suara datar seorang dokter yang melaporkan kasus, tetapi Reynand memegang tangannya sepanjang cerita dan tidak melepasnya sampai selesai. Mereka menelepon Revan, Revan menjawab satu kalimat, dan satu pekan penuh sejak itu kalimat itu menjadi aturan di rumah mereka: ini bukan urusan sahabat.
"Hari ini kita beri tahu Siska dan Felli dan Valen," kata Reynand. "Soal bayi. Bukan soal garis."
"Bukan soal garis."
"Kamu sanggup berbohong dengan wajah lurus?"
"Aku tidak berbohong. Aku cuma tidak menceritakan semuanya."
"Itu definisi berbohong yang dipakai semua orang," kata Reynand, tetapi ia tersenyum.
***
Pukul sepuluh pagi, Reyna mengetuk pintu ruang direktur dengan jantung berdebar. Lelaki enam puluhan berkacamata bundar itu menyuruhnya duduk, menutup berkas di mejanya, dan menunggu.
"Dokter Reyna. Saya mendengar Anda baru menikah. Selamat. Apa urusan yang membuat Anda datang sepagi ini?"
"Terima kasih, Pak." Reyna menegakkan punggung. "Saya mau melaporkan bahwa saya sedang hamil, dan saya ingin meminta pengurangan beban operasi."
Direktur tidak langsung menjawab. Ia melepas kacamata, mengusap kedua matanya, lalu memakainya lagi.
"Selamat sekali lagi." Suaranya menghangat. "Saya akan atur. Operasi elektif dikurangi, jaga malam ditiadakan. Bagaimana dengan kasus darurat?"
"Kalau tidak ada dokter bedah lain, saya tetap turun, Pak. Seperti waktu limpa pecah itu, Pak."
"Anda juga boleh mengambil cuti penuh bila mau."
"Terima kasih, Pak, tapi saya tidak ingin."
"Itu keputusan Dokter, bukan perintah saya." Ia mengamati Reyna lebih lama. "Tapi pikirkan baik-baik."
Reyna keluar dengan lega yang bercampur lelah. Di koridor, seseorang berdiri tak jauh dari pintu direktur memegang map hijau. Dr. Nina. Rambutnya digelung rapi, jas dokternya putih bersih.
Tatapan Nina jatuh sebentar ke perut Reyna, lalu naik lagi ke wajahnya, cepat seperti tidak disengaja.
"Aku dengar," ujarnya.
"Kuduga."
"Selamat, dr. Reyna." Nina berkata datar, tetapi suaranya tidak sedingin biasanya. "Operasi anestesi untukmu akan kupastikan tidak terburu-buru."
Ia berlalu sebelum Reyna sempat menjawab.
***
Siang di kantin rumah sakit yang riuh, Siska, Felli, dan Valen duduk melingkar di satu meja panjang. Valen datang membawa seragam dinasnya, rambut dikepang, wajah cemas, karena pesan Reyna cuma satu kalimat: "Gue punya kabar. Datang sekarang."
"Jangan bilang lo mau pindah negara," kata Siska.
"Jangan bilang lo cerai," tambah Felli.
"Gue baru nikah sebulan!"
"Dua puluh enam hari," koreksi Valen.
"Dua puluh enam hari." Reyna menarik napas, meremas jemarinya di bawah meja. Rasanya lebih sulit daripada melapor kepada direktur. "Gue hamil."
Hening tiga detik. Lalu kantin yang riuh itu mendadak sepi untuk satu meja.
"HAH?" teriak Felli.
"Pelan!" Reyna menunduk.
"LO HAMIL?" Siska berdiri begitu cepat bangkunya terguling. "REYNA HAMIL! LO BAKAL JADI IBU! GUE BAKAL JADI TANTE! GUE BAKAL JADI TANTE YANG PALING KAYA DI DUNIA!"
"Siska, duduk!"
"Gue gak bisa duduk, gue lagi meledak!" Siska menutup mulutnya dengan dua tangan, matanya langsung basah. "Gue bakal beliin dia sepatu. Lo tahu, sepatu kecil banget yang kayak bola."
Felli sudah menangis tanpa suara, kepala di bahu Valen, bahunya terguncang. Valen sendiri tertawa dengan mata merah, mengusap kepala Felli dengan satu tangan dan meraih tangan Reyna dengan tangan lainnya.
"Lo yang dulu hobi lempar gunting ke kakak lo sendiri," kata Valen. "Dan sekarang bakal punya anak."
"Itu gunting plastik!"
"Anak lo bakal tahu cerita ini."
"Valen!"
"Reynand tahu?" Felli menyeka pipi.
"Dia sujud syukur. Dia nangis lebih keras dari gue."
"Gue mau lihat videonya."
"Tidak ada videonya."
"Gue mau lihat videonya!"
Reyna tertawa sampai perutnya sakit, di antara tiga perempuan yang memeluknya bersamaan dan hampir menjatuhkan piring bakso. Ia menyimpan satu hal di bawah semua itu, satu garis tipis yang tidak boleh ia sebut, dan ia membiarkan hangatnya menutup lubang kecil itu untuk sementara.
***
Malam harinya, Reynand pulang tepat ketika Reyna menyendok nasi ke piring.
"Kamu menolak cuti penuh," katanya dari ambang dapur, bahkan sebelum melepas sepatu. "Pesanmu tadi siang kubaca tiga kali."
Sendok di tangan Reyna berhenti. "Beliau menawarkannya. Aku bilang tidak."
"Aku bukan pasien, Rey. Aku dokter. Aku tahu batas tubuhku."
"Kamu hamil lima minggu dan baru Sabtu kemarin kamu muntah di kamar mandi."
"Dan sekarang aku sudah baik-baik saja."
"Tiga pekan lalu tanganmu ditarik ke arah laut, Reyna!"
Suara Reynand pecah di dapur sempit itu, keras, lebih keras daripada yang pernah Reyna dengar darinya di luar urusan kerja. Ia sendiri tampak kaget. Ia menarik napas dan menunduk, memegang pinggiran meja dengan kedua tangan yang gemetar.
"Maaf. Aku tidak bermaksud membentak."
"Itu sudah lewat, Rey."
"Rasanya baru kemarin." Ia mengusap wajah. "Setiap hari aku bangun dan menghitung berapa kali kamu kena tarikan itu, dan setiap hari angkanya bukan nol di kepalaku. Dan sekarang ada yang kecil di dalam kamu, yang tidak punya kalung, tidak punya Revan, tidak punya apa pun kecuali aku."
Reyna meletakkan sendok. Ia mengitari meja dan berdiri di depan suaminya.
"Dengar. Aku tidak mau cuti penuh karena kalau aku diam di rumah, aku akan sibuk membayangkan semua yang buruk. Aku butuh tanganku bekerja. Aku sudah bicara dengan direktur: tidak ada operasi elektif panjang, tidak ada jaga malam, setengah hari. Itu kompromiku."
"Dan darurat?"
"Dan darurat, kalau tidak ada yang lain, dengan Felli di sampingku. Seperti aturan Kak Revan."
Reynand menatapnya lama, lalu menutup mata.
"Aku takut," katanya lirih. "Itu saja. Aku bukan marah."
"Aku tahu." Reyna menempelkan dahinya ke dada suaminya. "Aku juga takut, Rey. Itu sebabnya aku butuh kamu di sini, bukan di pintu depan."
Tangan Reynand melingkar perlahan di punggungnya. Di meja, nasi dingin dan sendok terlupakan. Di dinding dekat kulkas, pada kalender kecil, ada satu lingkaran merah yang Reynand gambar sendiri sepulang kerja, dengan tulisan tangan miring: Kamis, 09.00, poli kandungan.
"Pemeriksaan pertama," katanya di atas rambut Reyna. "Aku sudah daftarkan. Kamis depan."
"Kamis depan."
"Dan aku ikut sampai ke ruang periksa."
"Kamu boleh ikut."
"Bagaimana kalau detaknya belum terdengar?"
"Kamis depan baru enam minggu. Belum terdengar itu wajar, Rey, dan aku akan mengatakannya sepuluh kali kalau perlu."
Reynand mengangguk di rambutnya. Baru saja ia membuka mulut untuk menjawab ketika ponsel Reyna bergetar di atas meja, dua kali, lalu diam.
Reyna meraihnya dengan satu tangan. Pesan dari Arman.
"Dok Reyna, mohon maaf mengganggu malam-malam. Ada yang belum saya ceritakan soal Lastri. Bisakah kita bicara di luar rumah sakit, secepatnya?"
Reynand membaca layar itu dari atas bahu istrinya, dan lengannya yang tadi melingkar pelan mengencang.
"Lastri," ulangnya. "Nama yang disebut Dokter Arman di kafe itu."
Reyna mengetik satu kata, "Nanti kukabari," lalu menaruh ponselnya telungkup di meja.