Sepatu bayi dari Siska dan Felli sudah berbaris di rak sepatu sejak Jumat malam, enam pasang untuk bayi yang baru sebesar kacang. Kamis pagi, ruang tunggu poli kandungan RS KARTIKA penuh dengan ibu hamil dan para suami yang duduk kaku di samping mereka, menunggu seperti menunggu hasil ujian. Televisi di sudut ruangan memutar acara masak tanpa suara. Bau antiseptik bercampur minyak kayu putih menguar dari karpet.
Reyna duduk di kursi plastik biru dengan nomor antrean tujuh di tangan. Reynand duduk di sampingnya, lututnya bergoyang tanpa henti sejak mereka tiba, dan ia sudah tiga kali bertanya apakah Reyna perlu air.
"Aku tidak perlu air, Rey."
"Roti?"
"Aku baru makan roti di mobil."
"Bantal?"
"Aku dokter bedah. Aku pernah berdiri sebelas jam. Aku tidak perlu bantal untuk duduk."
"Baik." Lututnya berhenti bergoyang, lalu mulai lagi.
Reyna tersenyum, lalu senyumnya lenyap. Ada sesuatu yang berubah di udara, tipis, seperti benang yang baru ditarik. Bau antiseptik tiba-tiba terdorong keluar, digantikan bau lain: amis, hangus, dan manis menjijikkan seperti daging yang dibiarkan terlalu lama.
Ia menutup hidung dengan punggung tangan.
"Kamu nyium bau sesuatu gak?" tanyanya.
Reynand menarik napas panjang, mengerutkan dahi. "Bau? Nggak tuh. Mungkin efek kamu hamil jadi sensitif." Ia memperhatikan wajah Reyna yang memucat dan langsung berdiri. "Mau muntah? Aku antar ke kamar mandi yuk."
Reyna mengangguk setuju, berdiri pelan, dan mulai berjalan menuju lorong di sisi kanan ruang tunggu. Di belakangnya, ia mendengar Reynand bicara cepat pada perawat di meja pendaftaran. "Sus, istri saya mual, kami ke toilet sebentar, nomor tujuh ya." Lalu langkah kaki yang berlari kecil, dan tangan hangat yang menyentuh punggungnya.
"Aku di sini."
Mereka berjalan beriringan menyusuri lorong yang sepi. Lampunya putih dingin, lantainya mengilap. Di ujung, lorong itu berbelok ke kiri menuju pintu bertulisan TOILET WANITA.
Reyna berbelok.
Ia berhenti.
Di depannya, lima langkah saja, seseorang sedang mengesot di lantai.
Seorang perempuan dengan seragam putih yang sudah menguning dan lusuh, kancing atasnya hilang, topi kecil di rambutnya miring. Kulitnya melepuh dari leher sampai kedua lengan, merah gelap dan basah di beberapa bagian, mengelupas seperti kertas terbakar. Rambutnya menempel di pipi. Kuku-kukunya panjang, kuning, dan di sela jari kanannya ada sesuatu yang berkilat seperti logam. Ia mengangkat wajah, dan Reyna melihat matanya: dua lubang hitam tanpa pantulan.
Bibirnya terbuka dan tertarik ke samping dalam seringai yang terlalu lebar.
Reyna tahu siapa dia. Arman menyebut namanya di kafe. Lastri. Seharusnya ia lebih siap daripada ini, dan ia sudah siap untuk wajah itu, untuk kulit itu. Tetapi kakinya kaku di lantai, dan ketakutannya tidak datang karena wajah Lastri. Ketakutannya datang karena ke mana tatapan itu jatuh.
Mata hitam itu tidak menatap wajahnya. Tidak menatap kalung di lehernya. Tatapan itu turun, pelan, lurus ke perutnya.
"Rey?" Suara Reynand terdengar jauh, seperti dari dasar sumur. "Reyna? Kamu kenapa? Ada apa?"
Lastri mengesot satu jengkal. Gesekan kain dan lantai menimbulkan bunyi basah. Bau tak sedap menguat sampai ke tenggorokan Reyna, mualnya naik, dan ia menggertakkan gigi menahannya karena ia tidak mau muntah di hadapan makhluk itu, tidak di hadapan perutnya.
Satu jengkal lagi. Kuku panjang itu menyentuh lantai, mengetuk pelan.
"Reyna," kata Reynand, dan kali ini ia tidak bertanya lagi.
Lengannya melingkar di bahu Reyna dari samping, lalu dari depan, erat, menekan seluruh tubuh Reyna ke dadanya. Tubuh Reyna menegang seperti kawat yang ditarik, sesaat. Lalu hangat itu menembus, dan ia merasakan lorong di belakang matanya mengosongkan diri.
Bau itu hilang. Lantai kembali sepi. Di tempat Lastri tadi mengesot, hanya ada pantulan lampu putih di ubin.
Reyna menghela napas yang tidak ia sadari ia tahan, dan sudut bibirnya naik walau matanya masih basah.
"Ajaib," bisiknya.
"Dia hilang?" Reynand tidak melonggarkan pelukannya.
"Hilang."
"Dulu kamu juga bilang ini ajaib." Suaranya rendah di rambut Reyna. "Waktu kita pertama kali bertemu. Malam itu kamu habis operasi pasien tapi gagal. Kamu bilang 'ajaib' waktu aku memegang tanganmu. Ingat gak?"
Reyna menggeleng pelan di dadanya.
"Aku sudah mendengar ceritamu di pantai," katanya, dan suaranya mulai pecah. "Aku sudah mendengar semuanya dari Arman. Tapi aku tetap hanya mendengar, Rey. Aku tidak mengingat. Seperti membaca buku tentang diriku sendiri yang halamannya aku tidak ikut menulis." Air matanya jatuh. "Maaf. Aku masih belum ingat."
Ia menangis dalam pelukan Reynand, menggeleng berkali-kali, pundaknya terguncang. Reynand tidak bicara. Ia mengusap rambut Reyna pelan, dari ubun-ubun ke tengkuk, dan membiarkan tangisnya habis dengan sendirinya.
"Yaudah," katanya akhirnya, selembut mungkin. "Gak apa-apa kalau belum ingat. Sekarang jadi gak nih ke kamar mandinya?"
Reyna menyeka pipi. Ia menoleh ke pintu bertulisan TOILET WANITA, ke lantai yang tadi dilewati Lastri.
"Enggak. Kita ke kantin aja. Tapi jalan tangga ya."
"Tangga?"
"Aku tidak mau lewat lorong itu lagi."
Reynand tidak bertanya. Ia hanya menggenggam tangannya dan memutar arah.
***
Kantin lantai satu belum terlalu ramai. Reynand memesan teh hangat dan roti, meski Reyna sudah bilang tidak perlu, dan menaruhnya di depan istrinya seakan itu syarat mutlak sebelum ia boleh bernapas. Reyna menyesap tehnya dengan kedua tangan.
"Rey."
"Ya?"
"Dia menatap perutku."
Reynand meletakkan cangkirnya. "Siapa? Perawat itu?"
"Lastri." Reyna menurunkan suaranya. "Aku tahu dia yang menggunting benang itu malam itu. Aku tahu dia menolongku. Tapi tadi dia tidak menatapku, Rey. Dia menatap perutku. Dan dia mengesot ke arah sana seperti..." Ia tidak bisa menyelesaikan kalimatnya.
"Seperti apa?"
"Seperti orang yang mau meraih sesuatu."
Hening di antara mereka. Di meja sebelah, dua perawat tertawa membicarakan jadwal shift. Seorang bapak tua menyuap bubur. Hidup biasa terus berjalan tiga meter dari tempat Reyna menahan napas.
"Itu Lastri, kan?" tanya Reyna pelan. "Kenapa dia menatap perutku?"
Reynand memandangnya lama, lalu mengeluarkan ponsel dari saku. Di layar, nama Arman sudah ia temukan.
"Kita tanya Arman."
***
Nomor tujuh dipanggil pukul sembilan lewat empat puluh. Dokter kandungan yang menerima mereka seorang perempuan lima puluhan dengan kacamata menggantung di rantai, ramah dan cekatan, yang langsung menyuruh Reyna berbaring dan mengoleskan gel dingin sambil bercerita bahwa dulu ia dan Reyna pernah bertemu di seminar.
"Dokter bedah menjadi pasien kandungan," katanya geli. "Biasanya yang paling tidak sabar. Coba lihat layarnya, Dok. Ini kantung kehamilan."
Reyna menoleh ke monitor. Ruang hitam kecil dengan lingkaran gelap di tengahnya, tidak lebih besar dari biji jagung. Di dalam lingkaran itu, sebutir titik terang.
"Itu embrionya. Enam minggu lewat sedikit." Dokter menggeser alat. "Dan ini, perhatikan titik yang berkedip ini."
Titik itu berkedip. Sekali, dua kali, ritmis, kecil sekali tetapi pasti.
"Itu jantungnya," kata dokter.
Reynand berdiri di sisi ranjang, memegang sandaran kursi dengan kedua tangan sampai buku jarinya memutih. Ia tidak berkata apa-apa. Bibirnya bergerak tanpa suara. Reyna menggenggam jari-jarinya yang dingin.
"Kamu pingsan?" bisiknya.
"Tidak." Suaranya serak sekali. "Aku cuma lupa cara berdiri."
Dokter tertawa dan menyodorkan tisu kepada keduanya tanpa komentar. Reyna menatap kedipan di layar itu sambil menahan sesuatu yang besar di tenggorokannya. Selama beberapa detik, ketakutan di lorong tadi lenyap sepenuhnya, tergantikan sesuatu yang lebih sederhana dan lebih keras kepala daripada rasa takut.
Ponsel Reynand bergetar di sakunya ketika mereka berjalan keluar. Ia membaca pesan itu, lalu menunjukkannya pada Reyna. Dari Arman, satu kalimat pendek:
Saya sudah menduga. Besok pagi, ruang kerja saya, pukul tujuh. Saya juga menunggu.