Ruang kerja Arman di lantai tiga lebih sempit daripada yang Reyna bayangkan. Rak buku menempel ke langit-langit, dipenuhi buku kedokteran anak dan boneka kain kecil yang disusun berbaris, ada kelinci, beruang, dan jerapah kekurangan satu telinga. Jendela satu-satunya menghadap halaman belakang, dan dari sana Reyna bisa melihat atap sayap lama yang gelap, genteng-gentengnya ditumbuhi lumut.
Pukul tujuh kurang lima menit, Arman sudah menyiapkan tiga kursi. Di mejanya ada sebuah map cokelat yang sudutnya lapuk.
"Silakan duduk." Ia menarik napas, seperti orang yang sudah menyiapkan kalimat pembuka dan baru sadar kalimat itu tidak muat. "Kemarin Dokter melihatnya di lorong poli kandungan. Itu sayap baru. Dia seharusnya tidak berada di sana."
"Seharusnya?" Reynand duduk lebih dulu dan menarik kursi Reyna dekat ke sisinya. "Dok, istri saya pucat sampai ke bibir."
"Saya paham. Karena itu saya ingin menceritakannya dari awal." Arman membuka map itu. "Tiga puluh dua tahun yang lalu, sayap lama rumah sakit ini adalah bangsal bersalin. Ada ruang bayi di ujung lorong, dengan lima boks."
Ia mengeluarkan selembar foto hitam putih, bergaris putih di sisinya. Bangunan satu lantai dengan jendela-jendela tinggi, dan di depan pintunya berdiri tiga perawat berseragam putih, tersenyum canggung ke kamera. Reyna mengenali perempuan di tengah dari bentuk topinya yang miring.
"Itu dia," bisiknya.
"Lastri. Perawat jaga malam, umurnya dua puluh enam." Arman menaruh jarinya di sudut foto, tidak menyentuh wajahnya. "Malam kebakaran, sekitar pukul dua, korsleting di gudang linen. Api merambat lewat langit-langit lorong. Dari catatan, ia yang pertama menyadari. Ia membangunkan dua perawat lain, menelepon pemadam, lalu masuk ke ruang bayi."
"Dan menyelamatkan?"
"Empat bayi." Arman mengangkat map kedua, kliping koran yang menguning. Judulnya dicetak dengan huruf besar. "Satu per satu, lewat pintu belakang ke halaman. Setiap kali ia keluar, ia menaruh bayi di tangan perawat lain, lalu masuk lagi."
Reyna merasakan tenggorokannya menyempit. "Dan yang kelima?"
"Itu bagian yang paling menyakitkan." Suara Arman berubah, lebih kecil. "Di daftar rumah sakit, malam itu tercatat lima bayi. Setelah bayi keempat, Lastri menghitung ulang, melihat daftarnya, dan masuk lagi untuk mencari yang kelima. Atap lorong runtuh sebelum ia keluar." Ia menutup map. "Esok harinya baru ketahuan bayi kelima sudah dibawa pulang ayahnya sore sebelum kebakaran. Dokumennya terlambat dicoret. Tidak ada bayi kelima di dalam."
Hening. Dari jendela, suara burung gereja terdengar mengecil. Reyna teringat kilau logam di sela jari kanan Lastri kemarin, dan ia tidak lagi merasa itu ancaman.
"Dia mati mencari bayi yang sudah pulang," kata Reynand pelan.
"Ya, Pak."
Reyna memalingkan wajah sebentar. Air mata sudah jatuh sebelum ia sempat menahannya. Ia membayangkan perempuan dua puluh enam tahun, kulitnya terbakar, tetap memutar kepala ke setiap sudut ruang yang runtuh sambil menghitung lima, lima, lima.
"Dokter Arman," katanya parau. "Dokter tahu semua ini dengan sangat rinci."
Arman memandangnya, lalu menurunkan pandangan ke kedua tangannya sendiri.
"Karena saya salah satu bayi itu, Dok."
Beberapa detik tak seorang pun bicara. Reynand yang pertama menarik napas. "Dokter..."
"Saya bayi keempat. Ibu saya menceritakan itu setiap tahun pada ulang tahun saya, dan saya tidak pernah percaya sampai saya mulai bekerja di sini." Ia tersenyum sedikit, pahit. "Waktu pertama kali saya melihatnya di ujung lorong dua tahun lalu, saya belum tahu siapa dia. Baru sesudah membaca catatan lama saya yakin, dan di kafe waktu itu saya belum sanggup mengatakannya. Sejak itu saya mengenalnya dari cara dia berdiri. Seperti seseorang yang masih menghitung."
***
Mereka berhenti di ambang pintu ruang kerja ketika Arman menutup map. Matahari pagi masuk miring dan menimpa foto hitam putih itu di atas meja.
"Saya perlu bertanya," kata Reyna. "Kenapa dia menatap perut saya?"
"Saya tidak yakin." Arman menjawab jujur. "Yang saya tahu dari tiga puluh dua tahun ini, perhatian Lastri hanya pada bayi. Selalu bayi. Setiap kali ada pasien melahirkan di sini, ada yang berdiri di ujung lorong. Ia tak pernah berbuat jahat. Pernah ada ibu yang melihat seorang perawat membetulkan selimut bayinya, lalu bingung sendiri karena tidak ada siapa-siapa."
"Itu yang membuat saya tenang atau tidak tenang?" tanya Reynand.
"Entahlah, Pak. Itu fakta." Arman menghela napas. "Tapi ada satu hal yang berbeda sejak Dokter Reyna. Dulu Lastri tidak pernah keluar dari sayap lama. Dua tahun lalu pertama kali ia berdiri di lorong operasi. Dan pekan lalu di jendela."
Reynand mengangguk pelan. Ia mengusap dagunya, menatap Reyna sebentar, lalu kembali pada Arman. Ia bicara dengan nada yang Reyna kenal dari ruang interogasi: tenang, rapi, tanpa tawar-menawar.
"Saya ingin bertemu dia. Saya tahu Reyna ingin. Tapi dengan syarat." Ia mengangkat satu jari. "Pertama, hanya di ambang pintu sayap lama. Tidak ada yang melangkah masuk." Dua jari. "Kedua, saya berdiri di sisi Reyna sepanjang waktu, tapi saya tidak akan merangkulnya kecuali dia dalam bahaya. Merangkul berarti Lastri hilang, dan kita tidak akan mendapat jawaban."
"Setuju," kata Arman.
"Ketiga, saya bawa dua orang untuk berjaga di belakang. Valen dan Revin." Reynand mengamati Reyna, menunggu bantahan. "Mereka polisi, mereka dekat Reyna, dan mereka tidak akan panik."
"Ini bukan penggerebekan, Rey," ujar Reyna, meski suaranya melunak.
"Ini perlindungan. Beda."
Reyna menarik napas dan mengangguk. Ia ingin membantah, tetapi ia teringat lorong poli kemarin, lantai mengilap, tatapan itu. "Kapan?"
"Selasa senja," kata Arman. "Jadwal pelayanan sepi di sayap itu. Saya sudah izin ke direktur untuk memeriksa arsip lama."
"Selasa."
***
Malam itu Reyna tidak bisa tidur. Reynand sudah terlelap di sampingnya, napasnya teratur, satu lengannya terentang di atas perut Reyna seperti tameng. Jam dinding menunjukkan hampir pukul dua belas, dan rumah itu sunyi, bukan sunyi yang ganjil seperti malam akad, hanya sunyi rumah tua yang sedang beristirahat.
Lalu ia mendengarnya.
Awalnya seperti dengung. Seseorang, jauh sekali, bergumam. Reyna menahan napas dan mendengarkan. Gumam itu naik turun dengan irama yang pelan dan berulang-ulang, nada rendah dan lembut dan sedikit serak, dari dalam dinding di sisi kepala ranjang. Lagu. Nina bobo, dalam bahasa Jawa, lagu yang dulu pernah ia dengar dari Eyang di Jawa Timur dalam ingatan yang sangat kabur.
Ia menyentuh bahu Reynand. "Rey. Kamu dengar?"
Reynand terbangun sepenuhnya dalam hitungan detik. Ia diam. Menempelkan telinga ke dinding, memejam, mendengarkan.
"Tidak ada apa-apa, sayang."
"Dari dinding."
"Aku tidak dengar apa pun." Ia menoleh. "Kamu dengar?"
"Nada rendah. Nina bobo."
Wajah Reynand tidak berubah, tetapi tangannya mengencang di bahu Reyna. Dari sudut kamar, sebuah bayangan kecil bergeser: Mbah, berdiri di dekat lemari dengan kebayanya yang pudar.
"Bukan Mbah yang nyanyi, Nduk," katanya pelan, sebelum Reyna sempat bertanya. "Mbah cuma kenal lagunya. Itu lagu untuk bayi yang belum bisa tidur."
Reyna meletakkan telapak tangan di perutnya, dan nyanyian itu tidak berhenti. Ia memejam. Nadanya tidak menakutkan sama sekali. Itulah yang membuatnya lebih tak tertahankan.