Rantai di pintu sayap lama sudah berkarat sampai warnanya mirip tanah. Gembok besar menggantung di tengahnya, dan di atas pintu kayu yang catnya mengelupas, sebuah papan lapuk bertuliskan DILARANG MASUK — BANGUNAN DALAM PERBAIKAN masih tergantung miring, meski perbaikan itu tidak pernah datang selama tiga puluh dua tahun.
Selasa senja, empat hari sesudah lagu nina bobo dari dinding kamar itu, cahaya matahari tinggal garis oranye di ujung atap. Lagu itu tidak terdengar lagi sejak malam tersebut, dan justru karena itu Reyna yakin ada yang sedang menunggu. Arman memutar kunci dengan tangan yang sedikit gemetar. Gembok terlepas dengan bunyi seperti tulang patah, dan rantai jatuh ke lantai semen.
"Aku tidak suka tempat ini," bisik Valen.
"Kamu boleh menunggu di mobil," sahut Revin.
"Aku ikut supaya kamu tidak sendirian. Bukan supaya aku suka." Valen menunjuk senter besar di tangan Revin. "Nyalakan itu."
"Aku sudah nyalakan."
"Berarti rusak."
"Bukan rusak. Langitnya masih terang."
Reyna berdiri di depan pintu dengan satu tangan terselip di genggaman Reynand dan tangan lain di perutnya, hampir tanpa sadar. Kalung di lehernya hangat. Pintu sayap lama terbuka sedikit demi sedikit, mengeluarkan bau debu, kayu basah, dan sesuatu yang lebih tua, bau ruangan yang terlalu lama menyimpan napas.
Lorongnya panjang dan gelap, dengan jendela-jendela tinggi di kiri dan pintu-pintu kamar di kanan. Lantai tegel kuning pucat berdebu tebal, sebagian retak. Di ujung, lorong itu berbelok ke kiri, ke arah yang dulunya ruang bayi.
"Sesuai kesepakatan," kata Reynand pelan. "Ambang pintu. Tidak ada yang melangkah ke dalam."
"Tidak ada," ulang Arman, berdiri satu langkah di belakang Reyna.
Revin dan Valen mengambil posisi di belakang mereka, di bawah bayangan teras. Reynand tidak melepaskan tangan Reyna, tetapi jemarinya longgar, tanda ia sudah memutuskan sesuatu: tidak merangkul, kecuali bila perlu.
Mereka menunggu. Satu menit, dua menit. Di luar, sebuah motor lewat, klakson terdengar jauh. Di dalam lorong tidak ada suara.
Lalu udara bergeser.
Reyna merasakan dingin tipis menyusuri lengannya, dan di ujung lorong, di antara debu dan cahaya sore yang miring, sosok putih muncul begitu saja, tanpa langkah.
Lastri.
Ia tidak mengesot kali ini. Ia berdiri tegak, seragamnya bersih seperti baru disetrika, topi kecilnya lurus di atas rambut yang disanggul rapi. Kulitnya masih melepuh dari leher sampai tangan, tetapi tidak lagi basah. Ia hanya berdiri di sana dengan kedua tangan terlipat di depan perutnya, seperti perawat yang menunggu dokter datang untuk visite.
"Dia ada di ujung lorong," bisik Reyna. "Dia berdiri."
"Apakah dia..." Arman tidak sanggup menyelesaikan.
"Dia melihat kita."
Lastri menunduk sedikit, nyaris menghormat. Bibirnya bergerak. Tidak ada suara yang terdengar di telinga biasa, tetapi di dalam kepala Reyna kata-kata itu muncul jernih, seperti disampaikan oleh seseorang yang berdiri persis di sampingnya.
"Dia bilang..." Reyna menelan ludah. "Dia bilang selamat sore, Dokter."
"Tanyakan malam itu," kata Reynand lirih.
Reyna mengangguk. Ia menegakkan bahu, melangkahkan ujung sepatunya tepat di garis ambang, dan bicara sambil menatap sosok di ujung lorong. "Suster Lastri. Dua tahun lalu, di lorong depan kamar bedah. Apakah Suster ada di sana?"
Ada jeda panjang. Lalu Lastri mengangguk, dan kata-katanya sampai pada Reyna sepotong-sepotong, dan Reyna menerjemahkannya dengan suara pelan.
"Dia bilang ya. Dia melihat saya berlutut di lantai. Ada yang mengikat tangan saya, dan benang itu sangat kuat, dan ia sedang menarik saya... ke bawah." Reyna berhenti, menarik napas. "Dia bilang dia tidak bisa menyentuh manusia, tapi ia bisa memotong yang bukan daging. Jadi dia mengambil guntingnya."
Mata Reynand tertuju pada ujung lorong, pada udara yang kosong baginya. Ia menahan napas.
"Dia memotong benang itu, dan dia terluka," lanjut Reyna. "Benangnya membakar dia balik. Tangannya, lengannya. Dia bilang itu tidak apa-apa. Dia bilang... rasa sakitnya sudah biasa."
Hening yang pecah oleh sesuatu yang tak terduga: suara isakan Arman.
Lelaki itu berdiri di belakang Reyna dengan bahu terguncang dan kedua tangan menutupi mulut. Matanya tertuju pada sosok di ujung lorong, yang sejak tadi hanya tampak samar baginya, seakan Lastri sengaja menahan wujudnya agar tidak menakutinya. Reyna menoleh ke arah yang sama dan melihat Lastri sudah bergerak: satu langkah mundur, lalu satu langkah maju, berhenti di tepi pandangan Arman.
"Dia bilang," bisik Reyna, "kamu yang keempat."
Arman menggeleng, terisak. "Saya..."
"Dia bilang kamu bayi yang paling pendiam. Tidak menangis. Hanya menatap. Dia pikir kamu terlalu tenang dan sempat takut kamu tidak bernapas, sampai kamu mengerjap." Suara Reyna bergetar. "Dia bilang, terima kasih sudah tumbuh besar."
Arman jatuh berlutut di ambang pintu. Valen langsung melangkah maju dan meletakkan tangan di bahunya, tanpa bicara. Revin memalingkan wajah, pura-pura memeriksa senter.
Lastri menatap lelaki berlutut itu, dan walaupun kulitnya melepuh dan matanya hitam, Reyna melihat sesuatu di wajah itu yang tidak bisa disebut selain kelegaan yang sangat tua.
***
Mereka diam cukup lama. Matahari akhirnya tenggelam, dan Revin menyalakan senter untuk kedua kalinya, kali ini sungguhan.
"Tanyakan pada dia," kata Reynand pelan. "Kenapa dia menatap perutmu."
Reyna bertanya. Lastri mengangkat kepala dan mengangkat satu tangan melepuh, bukan menunjuk, hanya membuka telapaknya ke arah Reyna, seperti perawat yang memperlihatkan bahwa ia tidak membawa apa-apa.
"Dia bilang ia tidak mau pergi," terjemah Reyna. "Dia bilang tugasnya belum selesai. Ada yang kecil di dalam saya, dan ada yang lain yang mengincarnya." Ia meneguk ludah. "Dia bilang... 'Ia kini melingkar di perutmu. Ia akan datang lewat ruang yang paling bersih.'"
"Ruang yang paling bersih," ulang Reynand. "Kamar operasi? Ruang bersalin?"
Reyna bertanya, tetapi Lastri tidak menjawab itu. Matanya berpindah, perlahan, dari wajah Reyna ke wajah Reynand. Ada sesuatu di sana, bukan tuduhan, melainkan pengakuan yang sudah lama tertunda.
"Dia menatap kamu," bisik Reyna. "Dia bilang..." Suaranya tersangkut. "Dia bilang kamu tahu apa yang ia inginkan."
Reynand tidak menjawab. Rahangnya tetap rapat, matanya tetap lurus ke ujung lorong. Tetapi tangan yang menggenggam jari Reyna kini terasa dingin sekali.
Lastri mengangguk sekali pada Reynand, kepada dirinya sendiri, lalu menghilang.
***
Di mobil, tidak ada yang bicara sepanjang lima menit pertama. Revin dan Valen sudah pulang lebih dulu dengan motor mereka, setelah memeluk Arman yang masih pucat. Reynand menyetir dengan tangan kaku pada kemudi, matanya lurus pada jalan yang basah oleh lampu-lampu.
Reyna menatapnya dari samping. Wajah suaminya, yang selalu tampak tenang di depan umum, kini seperti dinding yang ditutup rapat dari dalam.
"Rey."
"Hm."
"Kamu tahu namanya." Suara Reyna datar, pelan, dan tidak bergetar sedikit pun. "Kamu sudah tahu namanya jauh sebelum Kak Revan menyebutnya. Kamu tahu apa yang dia inginkan."
Lampu merah menyala. Reynand menginjak rem. Di bawah cahaya merah yang menyapu wajahnya, Reyna melihat rahangnya bergerak, sekali, lalu diam.
Ia tidak menjawab.