Reyna sudah duduk di meja makan sejak sebelum subuh. Teh jahe di depannya dingin, roti tawar di piringnya belum tergigit, dan mual datang dan pergi seperti ombak kecil yang tak mau ia hiraukan.
Semalam lampu merah itu berganti hijau, Reynand menyetir sampai garasi tanpa mengucap sepatah kata, dan Reyna turun tanpa menunggu pintunya dibukakan. Mereka salat isya sendiri-sendiri. Mereka tidur saling membelakangi, dua orang di satu ranjang yang mendadak terlalu luas.
Langkah kaki Reynand terdengar di tangga. Ia muncul di pintu dapur dengan kaus abu-abu, rambut masih basah, mata merah seperti orang yang juga tidak tidur.
"Pagi," katanya hati-hati.
"Kamu belum menjawab pertanyaanku semalam."
Reynand menarik kursi, tetapi tidak duduk. Ia hanya memegang sandarannya. "Aku tahu."
"Kamu tahu namanya. Kamu tahu apa yang dia inginkan." Reyna menaruh kedua tangan di meja, di kiri dan kanan cangkir. "Aku tidak mau menanyakannya tiga kali, Rey."
"Dua tahun."
Hening sebentar di dapur.
"Apanya yang dua tahun?"
"Aku tahu kamu sedang dikejar sudah dua tahun. Sejak malam di lorong itu." Reynand akhirnya duduk, jemarinya saling mengait. "Seminggu sesudahnya Ayah memanggilku ke ruang kerjanya dan menyebut nama itu. Penagih. Ayah dan Kak Revan meminta aku diam sampai kamu kuat. Itu yang kuterima, dan itu yang kuturuti."
"Dua tahun," ulang Reyna pelan. "Kamu duduk di depan Ayah dan mengucap ijab kabul dengan itu di kepalamu."
"Aku tidak pernah berbohong padamu."
"Kamu menyimpan."
"Ya."
"Kamu menyimpan hak untuk takut sendirian." Suara Reyna tidak naik, dan justru itu yang membuat Reynand menunduk. "Itu yang kamu ambil dari kita, Rey. Kamu takut sendirian, dan aku kamu biarkan takut tanpa tahu apa yang kutakuti. Kemarin dia menatap perutku. Perutku. Menurutmu mana yang lebih baik, tahu atau tidak tahu?"
"Tahu." Reynand mengusap wajah dengan kedua tangan. "Aku salah, sayang. Aku tidak akan membela diri."
"Masih ada yang lain?"
Hening. Jam dinding di ruang tengah berdetak tiga, empat kali.
"Ada," katanya akhirnya. "Tapi itu tentang aku, bukan tentang kamu."
"Justru itu." Reyna berdiri. Kursinya bergeser pelan di lantai. "Selama kamu masih mengira ada bagian dirimu yang tidak boleh kusentuh, aku tidak bisa duduk di sini dan pura-pura makan roti."
"Kamu mau ke mana?"
"Ke rumah Kak Revin."
Reynand ikut berdiri, terlalu cepat. "Rey..."
"Aku tidak pergi meninggalkan kamu." Reyna mengangkat tas kecil yang ternyata sudah ia siapkan di kursi sebelah: dua helai baju, sikat gigi, buku kehamilan dari poli. "Aku pergi supaya tidak mengucapkan hal yang tidak bisa kutarik lagi. Kita sama-sama butuh itu."
"Kamu mual. Biar kuantar."
"Aku pesan taksi."
"Kalau begitu biar kubawakan tasnya sampai pagar." Suara Reynand pecah di ujung kalimat. "Itu saja. Tolong."
Reyna menatapnya lama. Lalu ia mengangguk satu kali.
Mbah muncul dari lorong belakang, kebayanya pudar di cahaya pagi, dan menyodorkan termos kecil. "Jahe, Nduk. Hangat. Jangan lupa diminum."
"Terima kasih, Mbah."
Nenek itu hanya melirik Reynand, menggeleng pelan, dan menghilang lagi tanpa bicara.
Taksi daring berhenti di depan pagar sepuluh menit kemudian. Reynand memegang tas itu dengan dua tangan, seperti membawa sesuatu yang bisa pecah, dan meletakkannya sendiri di kursi belakang.
"Aku tidak akan datang ke sana kalau kamu tidak minta," katanya.
"Aku tahu."
"Telepon kalau mualnya parah. Atau kalau kamu butuh apa saja. Jam berapa pun."
"Dan kamu angkat?"
"Pada dering pertama."
Reyna menutup pintu taksi. Lewat kaca ia melihat suaminya berdiri di tengah jalan masuk, tangan kosong, tidak melambai, sampai tikungan memotong pandangan.
***
Revin membuka pintu dengan celana pendek, kaus bertuliskan nama kesatuan, dan sendok di tangan. Ia melihat tas di bahu Reyna, melihat mata adiknya, dan sendok itu turun pelan.
"Dek."
"Kak Revin, boleh aku..."
"Kamar lo masih kosong. Sprei baru diganti minggu lalu, Valen yang maksa." Ia sudah melangkah ke samping, memberi jalan. "Masuk."
"Kakak tidak tanya?"
"Gue tidak nanya." Revin mengambil tas dari bahu Reyna sebelum ia sempat protes. "Gue cuma nanya sudah makan atau belum."
"Mual."
"Berarti belum." Ia berjalan ke dapur dan membuka lemari. "Ada biskuit. Ada bubur instan. Ada pisang yang sudah hitam, tapi Valen bilang pisang hitam itu bagus buat ibu hamil."
"Itu mitos, Kak."
"Dokternya siapa, Valen apa lo?"
Reyna tertawa, pendek, dan tawa itu langsung berubah jadi sesuatu yang lain. Ia duduk di kursi dapur lama yang kakinya sebelah pendek, kursi yang sama sejak ia kuliah, dan menutup mulut dengan telapak tangan.
Revin menaruh sepiring biskuit dan segelas air hangat di depannya, lalu duduk di seberang dan menunggu. Tidak lama. Tidak mendesak.
"Dia tahu, Kak," kata Reyna akhirnya. "Dua tahun. Soal yang mengejar aku."
Rahang Revin bergerak. "Dia bilang begitu?"
"Dia bilang Ayah dan Kak Revan yang menyuruhnya diam."
Revin tidak membantah. Itu yang membuat Reyna mengangkat kepala. "Kakak juga tahu?"
"Gue tahu ada yang disimpan." Revin memutar gelas kosong di meja. "Gue tidak tahu isinya. Setiap kali gue tanya, Kak Revan cuma bilang: belum waktunya, Vin. Gue anggap itu urusan orang yang lebih tua dari gue."
"Kakak marah?"
"Gue marah sekali." Revin mengatakannya datar, dan ketenangan itu lebih meyakinkan daripada bentakan. "Tapi bukan pada lo. Makan biskuitnya."
Reyna mengambil satu. Rasanya seperti kertas, dan ia mengunyahnya sampai habis.
"Kak."
"Hm."
"Kalau Reynand datang ke sini, jangan disuruh pulang. Jangan juga disuruh masuk. Biarkan dia di pagar."
Revin mengangkat alis. "Peraturan baru?"
"Peraturan sementara."
"Gue catat." Ia mendorong piring biskuit lebih dekat. "Sekarang habiskan satu lagi."
***
Menjelang malam, Revin keluar ke garasi dan menutup pintu penghubung di belakangnya. Dari kamar atas masih terdengar bunyi pelan lemari dibuka dan ditutup, Reyna menata bajunya yang tak seberapa. Valen sudah pulang sejam lalu dan langsung naik tanpa bertanya apa-apa, membawa dua kantong pisang yang tidak hitam.
Ia menekan nomor yang sudah dihafalnya. Nada sambung berbunyi lima kali.
"Vin."
"Kak Revan." Revin merendahkan suara sampai nyaris bisikan. "Adek di rumah gue. Dia bertengkar sama Reynand, dan bukan pertengkaran yang biasa. Dia sudah tahu Reynand mengetahui soal Penagih sejak dua tahun lalu."
Hening di ujung sana, cukup lama sampai Revin mengira sambungan terputus. Di belakang suara Revan terdengar bunyi kendaraan dan sesuatu yang mirip pengumuman terminal.
"Dari Reynand sendiri?"
"Dari mulut Reynand sendiri."
"Berarti dia tidak berbohong." Revan menarik napas. "Sudah kuduga hari ini datang, hanya aku berharap bukan sekarang. Dia hamil, Vin, dan sudah ada yang mengintip."
"Kak, kenapa tidak dari dulu..."
"Karena Ayah dan kakak mengira lebih baik ia kuat dulu baru tahu. Kami salah hitung." Suaranya tidak membela diri, hanya lelah. "Jangan salahkan Reynand. Yang menyuruhnya diam itu kami."
"Terus sekarang gimana?"
"Kakak ambil cuti. Sabtu pagi kakak sampai di sana." Ada bunyi langkah, lalu pintu mobil menutup. "Sampai itu, jangan biarkan dia sendirian malam ini, Vin. Dan jangan biarkan dia melepas kalungnya, apa pun alasannya."
Revin menoleh ke jendela kecil garasi. Di lantai atas, lampu kamar adiknya menyala kuning, dan sebuah bayangan berdiri diam di balik tirai, tidak bergerak, seperti sedang mendengarkan sesuatu yang jauh lebih jauh daripada halaman rumah.