Revan datang dengan ransel hijau lusuh di bahu, sepatu berlumpur kering, dan wajah orang yang tidur di bus sepanjang malam. Revin membukakan pintu pukul tujuh pagi dan belum sempat membuka mulut ketika kakaknya sudah melewatinya masuk, mencari satu orang saja di rumah itu.
"Dek."
Reyna berdiri di kaki tangga dengan kardigan Valen yang kebesaran. Ia mau mengucapkan salam yang rapi, tetapi tubuhnya sudah bergerak lebih dulu, dan tahu-tahu wajahnya terbenam di bahu kakaknya yang bau debu terminal.
"Kamu kurus," kata Revan, tangannya mengusap rambut adiknya pelan.
"Aku muntah tiap pagi, Kak."
"Itu bukan alasan untuk lupa makan." Revan mundur setengah langkah dan menatap Reyna, lalu pergelangan kirinya, lalu kalung di lehernya. Matanya berhenti lama pada kalung itu, kemudian pada perut Reyna, dan sesuatu di wajahnya melunak. "Masih terpasang. Bagus."
"Kakak datang cepat."
"Revin menelepon Rabu malam. Kakak ambil bus pertama sesudah serah terima piket." Ia melepas ransel di kursi. "Kita bicara sambil makan. Kakak tidak mau berbicara dengan perut kosong, apalagi perutmu."
Meja makan Revin kecil, empat kursi dengan taplak kotak-kotak yang dibeli Valen. Valen sendiri menaruh nasi uduk, telur dadar, dan sambal terpisah untuk Reyna, lalu duduk di samping Revin tanpa bicara. Reyna menunggu sampai Revan menghabiskan setengah piring.
"Kak. Siapa Penagih itu sebenarnya?"
Revan meletakkan sendoknya. Ia menjawab seperti dokter yang memberi hasil laboratorium, pelan dan tanpa hiasan, dan itu yang membuat Reyna mendengarkan.
"Sesuatu yang lebih tua dari Eyang. Dulu terikat di tempat yang kita datangi di air terjun itu. Eyang Prabu yang mengikatnya, dengan tangan dan dengan segel. Segelnya retak karena galian di balik air, dan yang keluar lebih dulu bukan dia sendiri, tapi tarikannya. Benang."
"Yang di pergelangan tanganku."
"Dan yang di hutan alam gaib dulu. Dan jin di perjalanan pulang dari pantai." Revan mengangkat telapak tangan sebelum Revin sempat bertanya. "Satu per satu. Yang kita lawan di Jawa Barat dulu hanya pengikutnya, dek. Pesuruh yang mencari pintu. Kamu pintunya."
Valen menyentuh lengan Revin di bawah meja. Revin diam saja.
"Kenapa aku?"
"Karena ada yang pernah kamu berikan padanya. Kalimat, bukan benda." Revan memandangnya lurus. "Malam itu, di lorong rumah sakit, dua tahun lalu. Ingatan itu bukan hilang, dek. Eyang yang menyegelnya, supaya kamu bisa bangun besoknya dan terus bekerja. Kakak tahu isinya. Kakak tidak akan menceritakannya padamu sebelum Eyang membuka segel itu sendiri."
"Itu tidak adil."
"Memang tidak. Tapi bila kamu mendengarnya sebelum waktunya, kamu akan menjadi lebih takut daripada sekarang, dan ketakutan itu tali yang ia tarik." Revan berhenti sebentar. "Itu alasan Ayah memintanya diam. Itu juga alasan kakak."
Reyna menunduk ke piringnya. Nasi uduk itu mengepulkan uap, dan baunya, baunya baik-baik saja. Perutnya tidak memberontak.
"Jadi Reynand diam karena kalian yang suruh."
"Karena kami yang suruh, dan karena ia mau." Revan tidak berusaha melunakkan. "Ia bisa saja memilih membuka mulut kapan pun. Ia memilih menanggung. Salah satu dari kami seharusnya melarangnya menanggung sendirian, dan tidak ada yang melarang. Itu dosa kami, bukan dosanya saja."
"Kakak mau aku memaafkannya karena kakak ikut salah?"
"Kakak mau kamu tahu seluruh gambarnya sebelum memutuskan." Revan menyeka tangan dengan serbet. "Keputusannya tetap padamu."
Hening sebentar. Valen berdeham, mengambil piring kosong, dan membuat dirinya sibuk di wastafel.
"Satu lagi," kata Revan. "Kalung."
"Tidak boleh dilepas kecuali di meja operasi yang tak bisa menunggu, dengan Felli di sisiku. Aku ingat, Kak."
"Ingat itu seperti kamu ingat jadwal piket. Bukan ingat karena terpaksa." Ia menatap dengan sorot yang sama saat dulu mengajarinya menyeberang jalan. "Sekarang bukan hanya nyawamu."
Reyna menyentuh kalung itu. Logamnya hangat, hangat seperti kulit seseorang yang baru saja memegangnya.
"Boleh kakak lihat?"
Reyna mengulurkan tangan kirinya di atas taplak. Revan membalik pergelangan itu dengan dua jari, seperti memeriksa denyut pasien, dan Reyna tahu apa yang ia cari. Dua putaran benang merah halus, setipis rambut, yang sejak pagi akad sesekali berdenyut dan sesekali diam.
"Dua," kata Revan. "Tidak bertambah."
"Itu kabar baik?"
"Itu kabar yang belum buruk." Ia melepaskan tangan adiknya. "Jangan membenci beda tipis itu, dek. Dalam urusan ini beda tipis itu seluruh pertempuran."
"Aku tidak merasakan apa-apa di perut."
"Karena belum waktunya." Revan menatap Valen, yang sudah menaruh sendok dan memandangnya dengan wajah pucat. "Len, kamu boleh mendengar semua ini. Kamu ada di sayap lama waktu Lastri bicara. Tapi sahabat-sahabat lain belum. Itu permintaan kakak."
"Gue ngerti," kata Valen pelan. "Gue gak akan ngomong apa pun ke Siska dan Felli."
"Terima kasih."
Revin menggeser kursinya mendekat ke Valen dan meletakkan tangan di punggung kursi perempuan itu, tanpa menyentuhnya. Itu cara Revin berkata aku di sini.
***
Pukul sebelas, Revin keluar membuang sampah ke ujung gang dan kembali dengan wajah yang tidak bisa disembunyikannya. Ia berdiri di ambang pintu dapur, melirik Reyna, lalu melirik Revan.
"Ada yang berdiri di pagar."
Valen sudah menoleh ke jendela depan. "Dari tadi. Aku lihat sejak sebelum jam sembilan, kupikir tukang parkir."
"Mercy putih," kata Revin.
Reyna tidak perlu bertanya. Dua hari ini ia menerima pesan pendek dari suaminya tiap pagi dan malam, selalu dengan kata-kata yang hampir sama: sudah salat, sudah makan, mualnya bagaimana. Ia membalas satu kata. Sudah. Ia tidak pernah membalas lebih dari itu, dan Reynand tidak pernah memintanya.
Ia berdiri dan berjalan ke ruang tamu. Dari balik tirai tipis ia melihat Reynand berdiri di sisi pagar, tidak menekan bel, tidak bersandar, kedua tangan masuk ke saku jaketnya. Bukan seragam. Wajahnya kelihatan seperti belum tidur sejak Rabu.
"Aku bilang di pagar," kata Reyna tanpa menoleh.
"Dia di pagar," sahut Revin. "Ini sudah dua jam."
Langkah Revan terdengar di belakangnya. Ia berdiri sejajar dengan adiknya dan ikut melihat keluar.
"Suruh masuk."
"Kak, aku..."
"Dek." Suara Revan datar tetapi tidak keras. "Kakak duduk di meja tadi dan mengakui bagian kakak. Biarkan dia mengakui bagiannya di meja yang sama. Bukan supaya urusan kalian selesai. Supaya kalian berdua mendengar hal yang sama dari orang yang sama."
Reyna menggigit bagian dalam pipinya. Ia memikirkan dua hari pesan pendek itu, pada dering pertama yang ia janjikan, pada tas yang dibawakan dengan dua tangan.
Ia membuka pintu sendiri. Udara pagi yang sudah panas menabrak wajahnya. Reynand menegakkan badan begitu mendengar engsel pagar, dan untuk sesaat tampak tidak tahu harus berbuat apa dengan tangannya.
"Aku tidak masuk kalau kamu tidak mengizinkan."
"Aku belum memaafkan kamu." Reyna mengatakannya langsung, di ambang pintu, dengan suara yang mantap. "Aku mau kamu tahu itu."
"Aku tahu."
"Kak Revan sedang menjelaskan. Kamu boleh duduk dan mendengarkan. Hanya mendengarkan."
Reynand mengangguk, dan tenggorokannya naik turun sekali. Ia melewati ambang pintu seolah lantainya terbuat dari kaca.
Di dalam, Revan sudah menarik satu kursi dan menaruh satu piring nasi uduk di depannya. Reynand menatap piring itu, menatap Revan, menatap Reyna, yang sudah duduk lagi di seberang dan memalingkan wajah ke jendela.
"Makan," kata Revan. "Kamu tidak makan sejak kapan?"
"Rabu pagi."
"Kalau begitu kita mulai dari awal lagi," kata Revan, dan mengulurkan sendoknya.