Lima hari sesudah sarapan nasi uduk itu, Reynand sudah beberapa kali boleh duduk di meja Revan untuk mendengarkan dan belum sekali pun dimaafkan. Kemarin pagi pun begitu.
"Kalau denyutnya dua kali berturut-turut, artinya apa, Kak?" tanya Reynand tanpa mengangkat kepala dari buku catatannya.
"Artinya jangan biarkan dia sendirian," jawab Revan.
"Dia sudah dengar, Kak," kata Reyna kepada sendoknya. "Tiga kali."
Reynand menulis kalimat itu persis di bukunya, dan Revan buru-buru meminum kopinya.
Pagi ini Reyna masih memikirkan apakah itu kemajuan atau sekadar kesabaran ketika pintu ruang dokter dibanting terbuka sebelum ia sempat menelan biskuit terakhirnya.
"Rey." Felli berdiri di ambang pintu dengan scrub setengah terikat dan napas habis. "Usus buntu pecah. Perempuan tiga puluh delapan, guru, baru masuk UGD. Perutnya sudah keras seperti papan, tekanan darahnya turun."
Reyna berdiri. Kursinya terguling ke belakang. "Dokter bedah senior?"
"Masih di meja dua, kasus kecelakaan, belum selesai. Gue sudah tanya semua yang bisa ditanya, Rey. Cuma lo yang ada di gedung ini." Felli mengatupkan mulut sebentar, lalu menurunkan suara. "Pasiennya gak bisa nunggu, Rey. Gue sudah tanya tiga kali."
Tangan Reyna naik sendiri ke lehernya. Kalung itu hangat. Pasien yang tidak bisa menunggu, tepat ketika tidak ada dokter bedah lain: untuk kedua kalinya dalam sebulan, dan Reyna tidak lagi percaya pada kebetulan sebanyak itu. Tetapi tidak ada waktu menyelidikinya sekarang. Delapan hari ia tidur di rumah kakaknya, lima hari terakhir di bawah satu atap dengan Revan yang memeriksa pergelangannya tiap pagi seperti mengecek meteran, dan lima hari pula kalimat itu menggema di kepalanya: kecuali di meja operasi yang tak bisa menunggu, dengan Felli di sisimu.
Kalimat itu bukan nasihat. Itu pintu yang hanya boleh dibuka sekali dan hanya untuk satu alasan.
Delapan hari itu Reynand datang tiap petang ke pagar Revin. Ia tidak menekan bel dan tidak meminta masuk. Ia berdiri setengah jam, menitipkan sekantong jeruk atau roti gandum, lalu pulang ke rumah yang menurut Mbah terlalu rapi dan terlalu sepi. "Dia di pagar lagi," lapor Revin tiap petang, tanpa ditanya.
"Biarkan."
"Gue sudah biarkan. Gue cuma melapor."
Reyna belum membalas lebih dari satu kata. Tetapi malam kemarin ia berdiri di balik jendela kamar atas dan menunggu Mercy putih itu berbelok sampai lampunya hilang di ujung gang, dan ia tidak bisa menjelaskan kepada dirinya sendiri kenapa.
"Ini alasannya," kata Reyna pelan, kepada dirinya sendiri.
"Apa?"
"Gue yang lakukan. Lo berdiri di samping tangan kiri gue, dan lo jangan menjauh selangkah pun, apa pun yang terjadi."
Felli mengangguk cepat. "Aturan Kak Revan. Gue hafal."
***
Di kamar operasi, lampu bedah menyala putih dan memantul dari baki instrumen. Reyna mencuci tangan sampai siku, memakai gaun steril, lalu menoleh kepada Felli yang sudah berdiri tepat di sisinya, tangan terulur.
Reyna melepas kalung itu. Pengaitnya tidak mau lepas, dan jari-jarinya yang basah licin untuk sesaat, lalu klik. Kalung itu jatuh ke telapak Felli, dan seperti ada yang dicabut dari tubuh Reyna, udara di ruangan itu berubah. Lebih dingin, lebih sempit.
Di sudut ruangan, dekat lemari steril, Lastri berdiri dengan kedua tangan terlipat di perutnya. Matanya tidak lepas dari pergelangan kiri Reyna. Reyna menahan diri untuk tidak menatap balik.
"Dokter Nina siap?" tanyanya.
"Siap." Suara Nina datar dari balik masker, dari kursi di kepala meja. Tak ada nada apa pun di sana.
"Pasien terintubasi, tekanan sembilan puluh per enam puluh," lapor penata anestesi.
"Pisau."
Sayatan pertama bersih. Rongga perut terbuka, dan Reyna langsung tahu dari bau dan cairan keruh di dalamnya bahwa Felli benar. Usus buntu itu sudah pecah, nanah menyebar ke mana-mana. Ia mulai mengeluarkannya dengan tangan yang terlatih, dan selama sepuluh menit pertama, hanya itu yang ada: kerja, hisap, klem, bilas.
Lalu terasa.
Di bawah sarung tangan kirinya, kulit pergelangan Reyna menghangat. Satu denyutan, dua. Ia tidak berani melirik, tetapi di sudut pandangnya yang sempit, sesuatu yang merah halus merayap keluar dari sela sarung tangan dan gaun, menyusuri punggung tangannya seperti benang jahit yang ditarik tak terlihat.
"Rey," bisik Felli tanpa menoleh, hanya membaca bahunya yang menegang. "Lanjut atau berhenti?"
"Lanjut. Hisap."
Mual halus naik ke tenggorokannya, bayi kecil yang baru delapan pekan itu mengingatkan dirinya sendiri, dan Reyna menelannya bersama napas panjang lewat masker.
Benang itu turun dari tangan Reyna ke tepi meja. Menjalar di atas kain hijau. Menyeberangi baki. Menuju kepala meja.
Reyna mengangkat mata dari rongga perut itu, hanya sedetik. Di atas masker, mata Nina menatapnya. Bukan tatapan dokter kepada dokter. Tatapan orang yang selama bertahun-tahun menghitung apa yang dimiliki orang lain dan tidak pernah selesai menghitung.
Benang itu naik ke pergelangan tangan Nina. Di sana, hampir tak terlihat, sudah ada satu putaran tipis yang melingkar sebelumnya, dan benang dari Reyna menyatu dengannya.
"Nina," kata Reyna.
Nina membuka mulut di balik masker. Reyna tidak bisa mendengar apa yang ia ucapkan, tetapi ia membaca gerak bibirnya: selalu kamu.
Tangan Nina terlepas dari alat ventilator. Kepalanya terkulai pelan ke samping, lalu seluruh badannya meluncur dari kursi dan mendarat di lantai dengan bunyi yang membuat seisi ruangan berhenti bernapas.
"Dokter Nina!" Penata anestesi melompat.
"Ambil alih ventilator!" Felli sudah berseru. "Perawat, panggil anestesi cadangan, sekarang!"
Reyna tidak bergerak. Di tangannya masih ada jaringan yang harus diselesaikan. Tangannya sendiri, yang kiri, mulai bergetar halus, dan benang di pergelangannya menegang seperti kawat. Ia menggertakkan gigi dan menekan punggung tangannya kuat-kuat ke tepi kain steril, menahan dirinya sendiri sebelum tangan itu melakukan apa pun yang bukan atas kehendaknya.
'Tiga detik.' Ia menghitung. 'Empat.'
"Rey," kata Felli. Suaranya sudah di dekat telinga, rendah dan tenang, suara yang dulu dipakainya saat menenangkan Reyna di malam-malam ujian. "Gue pegang klem. Lo tahan tangan kiri, gue kerjakan sisanya. Kita selesaikan berdua."
"Fel..."
"Lo percaya gue."
Reyna menutup mata satu detik. Lalu ia mengangguk.
Bersama-sama mereka menutup lapisan demi lapisan. Felli mengambil jahitan kulit dengan tangan sendiri sementara Reyna memegang pinggiran luka dengan tangan kanan yang mantap dan tangan kiri yang terkunci di bawah lengannya. Di sudut ruangan, Lastri mengangkat guntingnya. Ia tidak mendekat. Ia hanya menggenggamnya, seperti menahan diri untuk tidak mengayunkannya.
Penata anestesi menaikkan tekanan darah pasien dan menggeleng pada layar monitor. "Stabil. Dia stabil."
"Selesai," kata Felli akhirnya, dan baru saat itu Reyna sadar punggungnya basah di bawah gaun.
Felli menarik masker ke dagu dan memandang sudut kosong tempat Lastri tadi berdiri. "Dia masih di situ, ya?" bisiknya. Reyna tidak menjawab dulu. Lastri memang masih di sana, gunting tergenggam, dan untuk sekejap perempuan itu mengangguk kepadanya, pelan, seperti perawat kepada dokter yang baru melewati jaga paling panjang.
Kalung itu dikaitkan kembali ke lehernya oleh jari Felli yang gemetar. Klik. Benang di pergelangan Reyna mengendur, menyusut, dan lenyap ke dalam kulitnya yang pucat.
***
Mereka memindahkan Nina ke brankar kecil di sudut ruang pemulihan, dengan selimut sampai dagu dan oksimeter di jari. Pasien guru itu sudah dibawa keluar, napasnya dalam dan teratur. Reyna berdiri di samping Nina setelah mencuci tangan untuk kedua kali.
"Tekanannya normal," tambah Felli sambil memeriksa layar. "Gula darah normal. Tidak ada tanda stroke. Secara medis dia gak kenapa-kenapa, Rey."
"Secara medis."
"Gue gak bisa tulis di rekam medis kalau benang loncat dari tangan lo."
"Gue tahu."
"Dia bakal ingat?" tanya Felli pelan. "Dan kalau dia ingat, dia bakal bicara?"
"Itu gue gak tahu, Fel. Kita tunggu dia bangun."
Kelopak mata Nina bergerak. Sekali, dua kali. Jari-jarinya menegang di atas selimut, lalu matanya terbuka lebar, dan ia menatap langit-langit seakan-akan langit-langit itu baru saja runtuh.
Kepalanya menoleh. Pandangannya menemukan Reyna, berhenti, dan seluruh wajahnya pucat sampai ke bibir.
"Reyna." Suaranya serak dan pecah. Tangannya meraih udara, lalu tertahan oleh selang oksimeter. "Reyna, ada yang berdiri di belakangmu. Ada yang berdiri di belakangmu dan dia menatapku."