Reyna menoleh.
Lastri berdiri di belakangnya, tegak dan bersih dalam seragam putih yang tidak pernah kusut, dengan gunting kecil masih tergenggam di tangan kanan. Jarak antara perempuan itu dan brankar Nina tinggal dua langkah. Nina tidak bisa lepas dari pandangannya.
"Jangan bergerak," kata Reyna lirih kepada Nina. "Jangan teriak. Dia tidak akan menyentuhmu."
"Siapa dia?" Suara Nina tersendat. "Kulitnya... seragamnya. Itu bukan pasien, kan? Itu bukan..."
"Namanya Lastri. Dia perawat di rumah sakit ini, tiga puluh dua tahun lalu." Reyna menggeser badannya sedikit, berdiri persis di antara brankar dan sosok itu. "Dia ada di sini karena aku. Dia menjagaku, dan sekarang menjaga yang ada di perutku."
Mata Nina berpindah ke perut Reyna, lalu ke wajahnya, lalu kembali ke pojok ruangan, dan setiap gerakan matanya membuat Felli, yang berdiri kaku di kaki brankar, ikut menahan napas.
"Aku melihat benang di tanganmu," bisik Nina. "Aku merasakannya, Reyna. Seperti ada yang menggenggam tulang pergelangan tanganku dari dalam."
"Aku tahu."
"Aku tidak mau mengerti ini."
"Kamu tidak harus mengerti sekarang." Felli akhirnya bicara, nadanya sudah kembali ke nada dokter yang menenangkan pasien. "Yang perlu kamu lakukan cuma berbaring, Nin. Kami observasi semalam."
Nina memejamkan mata dan menyebut nama Tuhan dengan suara nyaris tak terdengar. Di belakang Reyna, Lastri menunduk sedikit, seperti permintaan maaf yang tidak bisa diucapkan.
***
Jumat pagi, kamar rawat Nina berbau antiseptik dan teh melati dari gelas plastik di meja samping. Ia duduk bersandar di tempat tidur dengan rambut dikuncir sembarangan, tanpa riasan, tanpa snelli, dan itu membuatnya tampak lebih muda daripada yang Reyna ingat.
"Silakan duduk," kata Nina kaku.
Reyna menarik kursi. "Bagaimana rasanya?"
"Seperti mimpi buruk yang aku tahu aku sudah bangun darinya." Nina meraih ponsel dari meja, membuka satu berkas, dan memutarnya ke arah Reyna. Rekaman tujuh belas detik di pos kesehatan: Reyna berjongkok bicara pada sudut kosong. "Aku hapus. Dari ponselku, dari cloud, dari map direktur. Aku sudah telepon sekretarisnya tadi malam."
Layar menampilkan tombol hapus. Nina menekannya di depan Reyna, lalu menunjukkan layar kosong.
"Terima kasih."
"Jangan terima kasih dulu." Nina memeluk lututnya di bawah selimut. "Aku mau bilang sesuatu, dan kalau aku berhenti, tolong jangan bantu aku menyelesaikannya."
Reyna mengangguk.
"Aku iri padamu." Nina mengucapkannya cepat, seperti mencabut plester. "Sejak koas. Kamu mengambil bedah, aku tidak sanggup. Kamu cepat, tenang, semua orang suka. Lalu Reynand." Ia tertawa pendek, pahit. "Dua tahun aku menyimpannya seperti barang curian. Aku datang di undangan dengan wajah datar, menawarkan makan siang pada suamimu padahal aku tahu dia tidak akan menoleh, merekam kamu bicara sendirian karena ingin ada satu hal saja yang bisa membuat orang melihat aku."
Di pergelangan tangan Nina, tepat di bawah gelang jam, Reyna melihat sesuatu yang selama ini hanya bisa ia tebak: seutas benang merah tipis, satu putaran. Benang itu bergetar. Lalu, tanpa suara, ia putus, dua ujungnya meluruh jadi serbuk merah yang hilang sebelum jatuh ke selimut.
Nina mengusap pergelangannya sendiri, matanya membulat. "Barusan..."
"Putus," kata Reyna.
"Rasanya... ringan." Nina menatapnya seakan baru melihat orang lain. "Aku minta maaf. Untuk semuanya."
"Aku juga minta maaf." Reyna sendiri terkejut mendengar kalimat itu keluar. "Soal tatapan di koridor waktu itu. Aku tidak ramah."
Nina tersenyum, setipis garis benang tadi. "Kamu memang tidak ramah."
Ia melirik ke pojok kamar, ke kursi kosong di dekat jendela. "Dia ikut kemari?"
"Dia duduk di kursi itu sejak subuh."
Nina menelan ludah, tetapi tidak memalingkan wajah. "Bilang padanya... terima kasih. Karena tidak mendekat semalam."
"Dia mendengar."
***
Menjelang magrib, Reyna duduk di teras rumah Revin dengan secangkir teh jahe dan menunggu Mercy putih itu menepi. Ia tidak perlu menunggu lama.
Kali ini ia yang membuka pagar. "Masuk."
Reynand melangkah ke teras dan berdiri sampai Reyna menunjuk kursi rotan di seberangnya. Ia duduk, siku di lutut, tangan terlipat rapat, dan lama sekali menatap lantai.
"Aku mau cerita sesuatu yang belum pernah kukatakan ke siapa pun," katanya. "Bukan karena ini rahasia negara. Karena aku malu."
Reyna tidak menyela.
"Waktu aku dua belas tahun, ada sungai di belakang rumah kakekku. Musim kemarau, airnya kelihatan tenang. Aku punya sahabat sejak kecil. Namanya masih tidak sanggup kusebut, Rey." Ia berhenti, menelan. "Hari itu orang tua kami melarang main ke sungai. Aku yang mengajaknya. Aku bilang tidak apa-apa, aku jago renang. Sepuluh menit kemudian arus menarik kakinya, dan aku tidak cukup cepat."
"Reynand."
"Aku bilang ke semua orang dia terpeleset sendiri. Bahwa ia main sendirian dan aku datang terlambat. Orang dewasa mempercayainya. Tidak ada yang bertanya, tidak ada yang menyalahkan. Dan itu yang paling buruk. Aku dikasihani untuk sesuatu yang kulakukan sendiri." Suaranya merendah. "Sejak itu aku belajar simpan sendiri. Kalau sesuatu menyakitkan, simpan. Kalau sesuatu berbahaya, jaga sendiri. Itu yang membuatku jadi polisi. Itu juga yang membuatku... posesif padamu. Aku tidak bisa membiarkan seseorang yang kusayang hilang dari pandanganku sedetik pun."
Air mata Reyna jatuh tanpa suara. "Kenapa tidak bilang dari dulu?"
"Karena kalau aku bilang, aku harus menjawab pertanyaan yang kutakutkan: apakah aku orang yang pantas dipercaya menjaga seseorang." Reynand mengangkat wajah. Matanya basah dan tidak ia sembunyikan. "Dan sekarang aku menyimpan hal tentang kamu sendirian selama dua tahun, lagi-lagi atas nama menjaga. Aku mengulang kesalahan yang sama dengan dalih yang sama."
"Di mobil, Selasa malam," kata Reyna. "Aku tanya kamu tahu namanya atau tidak. Kenapa kamu diam?"
"Karena kalau aku menjawab, aku harus mengaku aku takut. Dan kupikir, kalau kamu lihat aku takut, kamu akan ikut takut."
"Aku sudah takut, Rey." Reyna menyeka pipi dengan punggung tangan. "Yang membuatku sendirian bukan takutnya. Itu diammu."
Reynand mengangguk pelan, beberapa kali, seperti orang yang baru dibacakan putusan yang ia anggap adil.
Reyna menarik napas panjang dan meletakkan cangkirnya. Ia berdiri, melangkah, dan berlutut di depan Reynand supaya matanya sejajar.
"Aku memaafkan kamu," katanya. "Dengan satu syarat."
"Apa pun."
"Tidak ada rahasia sendirian lagi. Apa pun, Rey. Kalau kamu takut, bilang aku. Kalau kamu salah, bilang aku. Kalau kamu tahu sesuatu yang bisa menyakitiku, kamu bilang sebelum aku menemukannya sendiri."
"Janji."
"Bukan janji. Itu syarat."
"Syarat," ulang Reynand, dan akhirnya ia tertawa kecil dengan suara serak. Ia menarik kedua tangan Reyna dan menempelkannya ke pipi.
Mereka pulang bersama sepuluh menit kemudian dengan tas kecil di jok belakang. Revin berdiri di pintu dan hanya berkata, "Kasih kabar kalau sampai," lalu menutup pintu sebelum ada yang melihat wajahnya.
Di tengah jalan, ponsel Reyna bergetar di pangkuan. Nama Ayah muncul di layar.
"Nak." Suara Ayah terdengar berat dari seberang. "Ayah mau bicara dengan Reynand juga. Taruh di pengeras suara."
Reyna menekan tombol itu.
"Sore tadi," kata Ayah pelan, "Eyang berdiri di halaman rumah Ayah."