Reynand menepikan mobil di bawah pohon trembesi. Lampu hazard berkedip, kuning, dan tanpa perlu dibilang, ia mematikan mesin.
"Sekitar jam empat, Ayah lagi menyiram bunga," lanjut Ayah di pengeras suara, perlahan. "Ada orang berdiri di bawah pohon jambu. Pakai putih-putih. Kepala tertunduk."
"Eyang bicara, Yah?" tanya Reyna.
"Tidak. Tidak sepatah kata." Jeda. "Dia mengangkat kepala, melihat ke arah kota kalian, lalu meletakkan telapak tangan di dada. Lama. Setelah itu hilang."
Reynand menoleh pada Reyna. Wajah istrinya pucat di bawah cahaya kuning itu, tetapi tidak panik, dan genggamannya di ponsel stabil.
"Seperti berpamitan?" tanya Reynand.
"Atau seperti minta maaf. Ayah tidak tahu." Suara Ayah mengeras sedikit. "Yang Ayah tahu, Ayah tidak merasa diancam. Ayah merasa diberi tahu bahwa sesuatu sudah dekat."
"Yah, kami pulang ke rumah malam ini, dan Reyna..."
"Jangan jelaskan di telepon. Ayah tiba Rabu. Kak Revan sudah tahu. Dan Reynand."
"Ya, Yah."
"Terima kasih kamu menjemput dia pulang." Dua kalimat itu dilemparkan Ayah seperti batu kecil ke permukaan air, lalu sambungan ditutup.
Reyna menurunkan ponsel ke pangkuan dan menatap kaca depan. Di luar, kendaraan lewat membawa cahaya yang menyapu wajah mereka berdua bergantian.
"Rey."
"Ya."
"Jalan pulang. Aku mau makan nasi hangat dan tidur di tempat tidurku sendiri."
Reynand menyalakan mesin.
***
Lima hari sesudah panggilan itu, rumah Reynand kembali berbunyi seperti rumah yang ditinggali. Mbah menanak nasi dua kali karena lupa Reyna sudah pulang, Reyna menyambung jaga setengah hari di poli tanpa satu pun operasi, dan Nina mengangguk padanya di koridor dengan wajah yang tidak lagi dikunci. Rabu siang, Ayah tiba di rumah Revin dengan seragam lapangan yang belum diganti, dan mereka semua sudah menunggu di ruang tengah.
Ayah memeluk Reyna lebih lama dari biasanya, lalu menyalami Reynand dengan kedua tangan. Revan duduk di sofa, Revin dan Valen di lantai bersandar ke dinding.
"Sekarang ceritakan semuanya, Yah," kata Revan.
Ayah tidak mengulang ceritanya. Ia hanya mengangkat telapak tangannya sendiri ke dada, meniru gerak itu pelan-pelan, lalu menyampaikan satu hal yang tadi tidak sempat ia ucapkan di telepon: telapak tangan Eyang di dada itu persis cara Bunda dulu menutup doanya untuk anak-anak. "Ayah baru sadar sesudah telepon ditutup," katanya. Revan mendengarkan dengan siku di lutut. Ketika Ayah selesai, ia mengangguk perlahan.
"Eyang tidak pernah berbuat sesuatu tanpa maksud. Segelnya makin tipis, Yah. Mungkin ia mengabarkan itu, dan mungkin ia mengatakan sudah waktunya anak ini ingat." Matanya jatuh ke Reyna. "Kakak belum tahu cara membukanya. Eyang yang punya kuncinya."
"Aku siap," kata Reyna.
"Kamu belum siap," sahut Ayah lembut. "Tapi kamu sudah mulai."
"Yah," kata Reynand. Ia berdiri, meski tak ada yang menyuruh. "Saya sudah bicara dengan Reyna. Semuanya, termasuk dua tahun itu. Tidak ada lagi yang saya simpan sendirian."
Ayah menatapnya lama. "Dulu Ayah yang menyuruhmu menyimpan."
"Dan saya yang memilih menurut, Yah. Bukan salah Ayah saja."
Ayah mengangguk satu kali. Itu cara Ayah mengatakan sesuatu yang jauh lebih panjang.
Ponsel Valen bergetar di lantai. Ia memeriksanya, lalu mengangkat alis. "Angga. Katanya... orang tua Siska pulang. Papah dan Mamahnya. Landing pagi ini."
"Terus?" tanya Revin.
"Dia minta kita semua datang ke rumah Siska jam enam. Jangan telat. Jangan bilang ke Siska." Valen membaca layar sekali lagi. "Dan kita disuruh bawa mi instan."
***
Jam enam sore, ruang makan rumah Siska yang luas itu diisi sebelas orang yang berdiri bergerombol seperti tamu gelap. Papah Siska, lelaki tinggi berkacamata tipis, duduk di kepala meja dengan tangan terlipat. Mamah di sampingnya, anggun dalam kebaya sederhana, matanya menyapu ruangan seperti sedang menghitung kepala.
Siska keluar dari tangga dengan sandal rumah dan wajah curiga. "Ini ada apa? Kenapa gue gak dikasih tahu? Felli, lo kenapa senyum-senyum?"
Angga muncul dari dapur membawa mangkuk. Mangkuk itu berisi mi instan, uapnya masih mengepul, aroma kari menguar.
"Yang." Ia meletakkan mangkuk di depan Siska. "Makan dulu."
"Gue gak..."
"Makan."
Siska menatap Angga, lalu mangkuk itu, lalu Angga lagi. Dengan alis berkerut ia mengambil sumpit. Di dalam mi, di antara lilitan kuning, sebuah kotak kecil berwarna biru tua terbungkus plastik kedap air.
Seisi ruangan menahan napas.
"Ga." Suara Siska pecah. "Lo masukin cincin ke mi gue?"
"Plastik." Angga berlutut di lantai. "Aku sudah cuci. Dua kali. Dan aku sudah bicara dengan Papah dan Mamah sebelum kamu bangun siang ini, jadi mereka tahu, dan mereka tidak bisa melarikan diri."
"Aku sempat berpikir untuk melarikan diri," kata Papah datar.
"Mas." Mamah menepuk lengan suaminya.
"Siska," lanjut Angga, napasnya tersengal-sengal tetapi matanya mantap, "waktu kamu diculik, aku nggak ada di sana. Waktu kamu diteror, aku nyaris telat. Aku belajar dari dua-duanya bahwa aku nggak mau lagi ada di tempat yang jauh dari kamu. Kamu mau jadi istriku?"
Siska menangis dan tertawa dalam napas yang sama, dan tangan yang memegang sumpit gemetar hebat. "Lo gila. Gue pakai piyama."
"Kamu belum jawab."
"Ya!" Siska menjerit. "Iya, Ga! Ya!"
"Mi instan," gumam Alvin, takjub. "Lo lamar dia pakai mi instan. Gue lamar Felli pakai berlian dan gue masih keringat dingin sampai sekarang."
"Diam, Vin," kata Felli, tetapi ia tertawa sambil menyeka mata.
Ruangan meledak. Felli berteriak, Alvin bertepuk sampai tangannya merah, Valen memeluk Revin yang pura-pura tidak terharu. Papah Siska berdiri, berjalan ke Angga yang masih berlutut, dan menepuk bahunya dua kali.
"Kamu punya nyali," katanya. "Itu cukup."
Mamah menciumi dahi putrinya. "Cepat pakai cincinnya, Nak, sebelum Mamah menangis di mi."
Reyna, di belakang kerumunan, merasakan Reynand meraih tangannya dan menggenggamnya. Ia balas menggenggam. Untuk beberapa menit, ia lupa soal benang.
***
Malam itu mereka menginap di rumah Revin, atas permintaan Ayah, dan sekitar pukul sebelas Reyna keluar ke halaman belakang untuk menghirup udara.
Pohon mangga di pojok halaman berdiri hitam di bawah langit tak berbintang. Di bawahnya, tanpa suara, sesuatu yang putih duduk di rumput.
Harimau itu besar, jauh lebih besar dari kucing mana pun, dan bulunya memantulkan cahaya lampu teras seperti salju. Ia menatap Reyna dengan mata kuning yang tidak berkedip.
"Eyang," bisik Reyna.
Harimau putih itu tidak bergerak. Tetapi dalam kepala Reyna, suara itu muncul, dalam, tua, berat seperti kayu jati basah.
Waktunya kamu ingat. Tapi tidak sendirian.
Reyna memegang kalungnya. Sebelum ia sempat membuka mulut untuk bertanya, harimau itu bangkit, berbalik, dan berjalan menjauh ke kegelapan halaman. Rumput tidak bergoyang di bawah kakinya.
Reyna masuk kamar dan duduk di tepi ranjang lama yang baru beberapa hari lalu ia tinggalkan. Dari lantai beralas kasur tipis di sebelah ranjang, ia mendengar napas Reynand yang teratur. Perutnya tenang. Tangannya tenang. Tetapi sesuatu yang tidak punya nama menekan dari dalam dadanya, seperti hari-hari sebelum ujian besar.
"Rey?" Suara Reynand serak dari lantai. Ia sudah setengah duduk, matanya mencari wajah Reyna dalam gelap. "Kamu belum tidur."
"Harimau Eyang ada di halaman tadi. Dia bilang waktunya aku ingat, tapi tidak sendirian."
Reynand tidak bertanya apa-apa lagi. Ia bangkit, duduk di tepi ranjang di samping Reyna, dan menggenggam tangan kirinya, tepat di atas pergelangan tempat benang itu bersembunyi.
"Aku di sini," katanya. "Tidur, kalau bisa."
Reyna menyandarkan kepala di bahunya dan menutup mata. Firasat itu tetap menekan dadanya, dan ia tidak bisa tidur sampai langit di jendela memucat.