Firasat itu tidak ikut hilang ketika Revan kembali ke tempat tugasnya Jumat lalu. Ia menempel di punggung Reyna selama enam hari kerja setengah hari, seperti baju basah yang tidak bisa dilepas. Dua kali ia terbangun dengan tangan sudah berada di perut, padahal tidak ingat menaruhnya di sana. Mbah menyuguhkan jahe tiap pagi tanpa ditanya. Pergelangan kirinya diam, kalung dingin, dan justru diamnya benang itu yang membuat Reyna tidak tenang. Sesuatu yang berhenti bergerak tidak selalu berarti sudah pergi.
Selasa pagi, firasat itu memuncak di kursi mobil.
"Kamu pucat," kata Reynand sambil menyetir.
"Aku selalu pucat, Rey."
"Pucat yang ini beda." Ia melirik. "Kita bisa putar balik, kamu bilang saja. Pemeriksaan bisa diganti besok."
"Pemeriksaan sepuluh minggu itu penting. Dan aku mau lihat dia." Reyna mengusap perutnya yang belum kelihatan dari luar. "Lagi pula Lastri bilang dia akan datang lewat ruang yang paling bersih, bukan lewat mobil."
"Itu kalimat paling tidak menenangkan yang pernah kudengar."
"Aku memang tidak sedang menenangkan."
Reynand menahan senyum, tetapi tangannya yang memegang kemudi mengencang. Mereka parkir, naik lift ke lantai tiga, dan duduk di ruang tunggu poli kandungan dengan nomor antrean tujuh belas. Di sebelah, seorang ibu berperut besar mengipasi diri dengan buku KIA.
"Anak pertama, Mbak?" tanya ibu itu ramah.
"Iya, Bu."
"Selamat ya. Nanti kalau sudah sebesar saya, jangan kaget kalau tidur miring pun gak enak." Ia tertawa dan mengusap perutnya. "Yang penting sehat."
"Yang penting sehat," ulang Reyna, dan senyum yang ia berikan terasa seperti pinjaman.
Pukul sembilan lewat sedikit, Reyna merasakan sesuatu yang menetes hangat. Ia berdiri terlalu cepat dan dunia miring ke kanan.
"Rey?"
"Kamar mandi." Suaranya terdengar jauh dari telinganya sendiri.
Reynand langsung berdiri, tetapi Reyna menahan lengannya. "Satu menit. Aku dokter. Tunggu sini."
Di kamar mandi yang sempit itu Reyna menatap noda merah muda di tisu putih, dan seluruh pelajaran kedokteran yang pernah ia hafal seperti diterbangkan angin. Bercak. Hanya bercak. Itu bisa banyak hal. Ia mengatakannya pada dirinya sendiri tiga kali sambil menekan dinding, dan keluar dengan wajah yang diatur.
Reynand sudah berdiri tepat di depan pintu. Ia melihat wajah Reyna, dan tidak bertanya.
"Ada bercak," kata Reyna. "Sedikit."
"Nomor tujuh belas." Reynand menggandengnya masuk tanpa menunggu dipanggil dan berbicara pada perawat dengan suara rendah yang tidak bisa dibantah. Dua menit kemudian Reyna sudah berbaring di ranjang periksa.
***
Dokter kandungan itu perempuan lima puluhan, rambutnya diikat sanggul sederhana, tangannya hangat saat menekan gel dingin ke perut Reyna. Ia mendengarkan keluhan dengan satu anggukan dan tidak bicara apa-apa tentang bercak itu, hanya menyalakan layar.
"Kita lihat dulu," katanya.
Layar hitam putih itu menampilkan bayangan berbentuk kacang, sekecil ibu jari. Di tengahnya, sebuah titik berkedip. Cepat, teratur, kuat.
Reyna membuang napas yang sejak tadi ditahan. Reynand, di samping ranjang, menunduk dan menyentuh keningnya pelan ke tangan Reyna.
"Detaknya seratus enam puluh lima," kata dokter. "Bagus. Besarnya sesuai sepuluh minggu. Bercaknya mungkin..."
Titik itu berhenti.
Tidak melambat. Tidak melemah. Berhenti.
"Dok." Suara Reyna datar, dokter betulan, bukan ibu. "Detaknya."
"Saya lihat." Tangan dokter itu menggeser alat sedikit. "Mungkin posisinya. Saya cari lagi."
Satu detik. Dua. Layar menampilkan kacang kecil yang diam. Di tepi layar, terjadi sesuatu yang tidak ada di manual USG mana pun: benang merah, setipis rambut, muncul dari udara kosong dan melingkar mengikuti bingkai layar, menyala seperti kawat pijar yang baru dialiri listrik. Panas menjalar dari pergelangan kiri Reyna ke sikunya.
Empat. Lima.
Dari sudut ruangan terdengar jeritan. Bukan jeritan telinga, melainkan sesuatu yang menerobos tulang tengkorak. Lastri berdiri di antara lemari obat dan tirai, mulutnya terbuka, kedua tangannya mencengkeram gunting yang gemetar di udara.
Enam. Tujuh.
"Rey," bisik Reyna.
Reynand tidak bertanya apa-apa. Ia sudah menangkap seluruh raut itu. Ia merebahkan tangan kanannya ke atas telapak Reyna yang menempel di perutnya, tangan kirinya meraih pergelangan istrinya yang berpendar, dan mulutnya mulai bergerak. Ya Nabi Salam Alaika. Pelan, nyaris tanpa suara, berulang.
Delapan. Sembilan.
Benang yang melingkari layar bergetar hebat. Jeritan Lastri naik satu oktaf, lalu berubah menjadi sesuatu yang lain, desakan, seperti perawat yang meneriakkan perintah pada rekan.
Sepuluh.
Titik di layar berkedip.
Sekali. Dua kali. Lalu kembali ke irama semula, seratus enam puluh, seratus enam puluh lima, stabil, tidak ada yang terjadi.
Benang itu lenyap seperti disedot. Di sudut ruangan, Lastri jatuh berlutut, mengepit guntingnya di dada.
"Aduh," kata dokter, setengah tertawa lemah. "Maaf. Posisi alatnya. Detaknya ada, detaknya sehat."
Reyna tidak menjawab. Air mata mengalir ke telinganya dalam garis panas.
"Dok." Reynand bicara dengan suara yang bergetar di ujung. "Itu bukan posisi alat."
Dokter itu menatap mereka bergantian, lalu menurunkan alatnya. Ia menarik kursi dan duduk. "Mungkin bukan. Saya tidak bisa menjelaskan yang tadi, dan saya tidak mau berpura-pura bisa." Ia mengusap tangannya sendiri, seakan baru sadar ia merinding. "Yang bisa saya jelaskan: bercak plus keluhan pusing plus kehamilan sepuluh minggu. Itu ancaman keguguran ringan. Bukan keguguran. Detaknya kuat dan kantungnya utuh, tapi saya minta istirahat total di rumah. Dua pekan. Tidak kerja, tidak naik tangga, tidak angkat apa pun."
"Dua pekan," ulang Reyna.
"Dan obat penguat. Dan kembali Selasa depan lagi." Dokter itu tersenyum kecil, dan ada ketakutan di bawah senyumnya yang ia sembunyikan dengan terampil. "Kamu dokter. Kamu tahu aturannya."
Reynand menelan ludah. "Ada yang perlu kami lakukan malam ini, Dok?"
"Tidur. Makan. Jangan stres." Dokter itu meringis. "Saya tahu itu nasihat paling mudah diucapkan dan paling sulit dijalankan."
Reyna mengangguk. Ia turun dari ranjang tetapi kakinya tidak mau bekerja. Lututnya menekuk.
Reynand menangkapnya.
Satu tangan menyusup di bawah lutut, satu di punggung, dan sebelum Reyna sempat protes, ia sudah terangkat dari lantai. "Kamu dengar apa kata dokter. Tidak angkat apa pun, termasuk dirimu sendiri."
"Rey, orang-orang..."
"Biar mereka lihat."
Ia berjalan keluar dari poli melewati ruang tunggu penuh mata, melewati lift, melewati koridor panjang ke lahan parkir. Ibu berperut besar tadi menutup mulut dengan tangan dan memandang mereka sampai pintu lift tertutup.
Di mobil, Reynand membaringkan Reyna di jok yang sudah ia rebahkan dan memasang sabuk dengan jari-jari yang meleset dua kali dari kaitnya.
"Rey."
"Sebentar."
"Kamu menyentuh aku, dan jantungnya kembali." Reyna menahan pergelangannya yang bergetar. "Kamu tahu kenapa?"
"Tidak." Reynand menutup pintu penumpang pelan-pelan, lalu bersandar di sana dengan dahi menempel pada atap mobil. "Aku tidak tahu apa yang kulakukan. Aku cuma tahu aku tidak boleh melepaskan tanganku."
"Itu cukup."
"Tidak cukup." Suaranya parau. "Sepuluh detik, Rey. Aku menghitung bersamamu."
Ia menegakkan badan, memutar ke kursi pengemudi, dan menggenggam kemudi. Reyna melihat buku-buku jarinya memutih. Tangan yang menahan punggungnya tadi, tangan yang menyalakan mesin sekarang, gemetar lebih parah daripada tangan Reyna sendiri.