"Itu lo angkat panci lagi?" suara Siska menusuk dari ambang dapur. "Fel! Dia angkat panci lagi!"
Reyna memegang panci kecil berisi air hangat dengan dua tangan, setengah angkat dari kompor. Ia berhenti kaku seperti anak kecil tertangkap mencuri kue.
"Isinya cuma satu gelas."
"Panci tetap panci." Siska melangkah masuk, merebutnya, dan menaruh kembali di kompor dengan bunyi yang terlalu keras. "Dokter bilang tidak angkat apa pun. Apa pun itu artinya apa pun, termasuk air hangat. Duduk."
Sabtu sore, rumah Reynand berbau sup ayam dan minyak kayu putih. Empat hari sejak dokter memerintahkan istirahat, dan empat hari itu dilewati dengan jadwal yang disusun Felli di buku catatan, siapa menjaga pagi, siapa siang, siapa malam. Rabu Valen datang membawa jus. Kamis Felli membawa alat tensi dan mengukur tekanan Reyna tiap tiga jam sampai Reyna mengancam akan menyembunyikan manset. Jumat Mbah sendiri yang berdiri di samping kompor, melotot tanpa bicara, sampai Reyna menyerahkan sendok sayurnya kepada Valen. Dan hari ini giliran Siska, yang datang pukul sebelas dengan dua kantong film dan satu bungkus keripik singkong.
"Gue bukan pasien rawat inap," protes Reyna dari sofa.
"Lo ancaman keguguran. Itu lebih parah dari rawat inap." Siska mengacungkan remote. "Pilih. Komedi atau drama Korea yang bikin nangis."
"Komedi."
"Salah. Drama Korea. Lo butuh nangis, matanya sudah merah dari kemarin."
Felli, yang duduk bersila di lantai sambil menulis angka tensi, mendongak. "Gue setuju sama Siska buat sekali ini."
Reyna menyerah. Ia menyandarkan kepala ke bantal, membiarkan layar menyala, dan menyadari sambil menatap wajah dua sahabatnya, yang tertawa dan saling melempar keripik, bahwa ada satu hal yang belum bisa ia katakan pada mereka. Garis merah yang mulai menjalar ke arah perutnya, dan rasa bahwa Penagih belum selesai dengannya. Alasan sebenarnya ia diam-diam menghitung detak jantung setiap kali bangun.
Reynand muncul dari ruang kerja, mencium kening Reyna sekilas, dan duduk di lengan sofa. Ia tidak berkata apa-apa, tetapi matanya mengunci pada pergelangan kiri Reyna lebih sering daripada pada layar.
"Lo juga," kata Siska kepada Reynand, tanpa menoleh. "Lo daritadi gelisah. Duduk yang benar."
"Aku duduk."
"Di lengan sofa. Itu bukan duduk, itu menunggu perintah."
"Lo sendiri gimana sama Angga?" tanya Felli, mengalihkan. "Sudah milih tanggal?"
"Mamah gue mau akad tiga bulan lagi. Papah gue mau tiga tahun lagi." Siska melempar sebutir keripik ke mulutnya. "Kami sepakat di tengah-tengah, dan gue yakin hasilnya Mamah yang menang."
"Papah lo kelihatan sayang banget sama lo."
"Sayang itu urusan lain, Fel. Menang debat itu urusan Mamah."
Reyna tertawa untuk pertama kali dalam empat hari. Reynand menatapnya, dan ada sesuatu di wajahnya yang melunak, lalu ia ikut duduk benar di sampingnya dan menarik kaki Reyna ke pangkuan.
***
Malam itu, Reyna jatuh tertidur sebelum jam sepuluh.
Ia berdiri di lorong rumah sakit.
Lantai tegel kuning pucat, lampu neon berkedip lemah, bau antiseptik yang terlalu tajam. Tidak ada orang. Bukan lorong KARTIKA sekarang, tapi sama seperti ingatan buruk yang diberi bentuk: dinding terlalu dekat, pintu-pintu tertutup rapat, jam dinding di ujung berhenti pada pukul dua lewat tiga.
Di tengah lorong, seseorang berdiri membelakanginya.
Reyna mengenakan scrub yang ia pakai di meja operasi hari itu, dan kedua tangannya basah. Ia tidak berani melihat telapaknya.
Sosok itu menoleh perlahan. Tidak ada wajah. Di tempat yang seharusnya ada mata, hidung, mulut, hanya ada permukaan halus seperti kain putih yang direntangkan, dan suara datang dari balik kain itu, lembut dan dekat, seakan berbisik di telinganya sendiri.
"Kamu ingin tahu, kan."
Reyna tidak menjawab.
"Kamu lupa satu malam. Satu malam yang paling penting." Sosok itu melangkah satu langkah. Tegel berderak. "Aku punya semuanya. Setiap kata, setiap bau, setiap wajah. Aku bisa kembalikan. Hari ini. Seluruhnya."
Suara itu. Reyna mengerutkan kening di dalam mimpinya sendiri. Ia pernah mendengarnya. Bukan di rumah sakit, bukan di hutan, tetapi di suatu tempat yang lebih dekat, di balik kelopak matanya sendiri, di antara dua detik yang tidak dicatat siapa pun.
"Aku tidak..." Reyna menelan. "Aku tidak butuh."
"Dokter yang tidak tahu apa yang ia lakukan sendiri, apakah itu dokter?" Suaranya lembut sekali. "Suamimu tahu. Kakakmu tahu. Semua tahu, kecuali kamu. Kamu pantas tahu."
Itu benar. Itu bagian yang paling menyakitkan. Reyna merasakan sesuatu mengendur di dadanya, seperti pegangan yang terlalu lama dicengkeram.
"Harganya?"
Sosok itu diam sebentar. Lalu, hampir sedih:
"Serahkan yang kecil. Kuberi kamu seluruh ingatanmu."
Reyna membeku. Telapak tangannya otomatis menekan perut, dan di dalam mimpi itu ia merasakan sesuatu yang kecil dan hangat berdetak di bawah kulitnya, sepuluh detik yang berhenti dan kembali.
Mulutnya terbuka. Ia sendiri tidak tahu kata apa yang akan keluar.
***
"Rey!"
Reyna terbangun dengan napas patah. Kamar gelap, lampu tidur menyala kuning. Reynand sudah duduk tegak, kedua tangannya mencengkeram bahunya.
"Reyna. Lihat aku."
"Aku..." Ia melihat sekeliling, dan melihat tubuhnya sendiri. "Rey, kaki."
Reynand menyibak selimut. Di pergelangan kaki kanan Reyna, tepat di atas tulang mata kaki, benang merah melingkar tiga kali. Tebal, tidak lagi setipis rambut. Benang itu menarik pelan ke arah ujung ranjang, ke arah lantai, ke arah kegelapan di bawah ranjang, dan kulit Reyna di bawahnya memutih tertekan.
Kalung di leher Reyna panas sekali sampai ia mendesis. Reynand melihat tidak ada apa-apa di kaki istrinya, tetapi ia melihat bagaimana tubuh Reyna tertarik pelan dari ranjang, dan ia tidak menunggu penjelasan. Ia meraih Reyna dan menahannya di dada. Kali ini ia tidak bersholawat; ia hanya memanggil nama lengkap istrinya, Reyna Briliana Ardiaz, sekali, dua kali, tiga kali, dengan suara serak. Lilitan benang di kaki itu lepas satu per satu, lalu menghilang dari mata Reyna.
Kalungnya mendingin pelan.
"Aku di sini," ulang Reynand berulang-ulang, seperti dzikir. "Aku di sini."
Reyna terisak di dadanya. "Dia bicara padaku. Sosok tanpa wajah. Dia tahu semuanya, Rey. Dia..."
"Ceritakan."
Ia menceritakannya. Lorong, jam yang berhenti, tawaran itu. Pada kalimat terakhir, lengan Reynand mengeras sampai Reyna sulit bernapas, dan ia tidak protes.
"Kamu tidak menjawab dia?"
"Aku belum sempat. Mulutku sudah terbuka, Rey, dan aku sendiri tidak tahu apa yang akan keluar." Reyna menyentuh perutnya dengan telapak gemetar. "Kalau kamu tidak membangunkan aku..."
"Aku membangunkan kamu."
"Iya."
Ponsel Reynand bergetar di meja nakas. Ia meraihnya dengan satu tangan, tanpa melepas Reyna, dan menekan loudspeaker.
"Reynand." Suara Revan datang serak dan sadar penuh, tanda ia tidak tidur sedikit pun. "Kakak merasakan benangnya. Adek sudah bangun?"
"Sudah, Kak."
"Dek." Napas Revan terdengar dari seberang. "Dengar baik-baik. Apa pun yang ia tawarkan, apa pun yang ia janjikan, jangan pernah jawab dia."
"Kak." Suara Reyna lebih kecil dari yang ia maksud. "Aku ingat suaranya."