"Ingat dari mana, Dek?" Suara Revan di pengeras suara tidak naik, tetapi cara ia memilih kata membuat Reynand menahan napas. "Hati-hati menjawabnya."
Reyna menekan telapak tangan ke dahi. Di lorong mimpi tadi, suara itu memanggilnya begitu dekat sampai ia mengira bibirnya hampir menyentuh telinga. "Aku tidak tahu persis, Kak. Bukan dari hutan, bukan dari gua. Dari... sebelum itu. Dari malam yang kakak segel."
Hening panjang di seberang. Reynand mengusap punggung Reyna dengan gerakan lambat, teratur, seperti menenangkan anak kecil yang demam.
"Itu berarti segelnya sudah retak dari sisi yang kakak kira paling kuat," kata Revan akhirnya. "Kakak tidak akan pura-pura itu kabar baik."
"Kak, aku..."
"Dengarkan. Kakak naik penerbangan pertama yang kakak dapat, paling cepat tiba subuh dua hari lagi. Sampai itu, jangan sendirian. Bukan hanya kalian berdua. Panggil semuanya. Yang percaya, yang pernah melihat, yang sayang. Penagih memilih orang yang sendirian, dek, karena ketakutan paling mudah ditarik dari orang yang tidak ada yang memegang."
"Dua hari?" ulang Reynand. "Kak, itu lama."
"Itu secepat yang bisa manusia lakukan." Ada bunyi kertas tiket dilipat. "Kalungnya jangan dilepas. Tidur boleh, tapi jangan tidur sendirian di kamar yang sepi. Dan Reynand."
"Ya, Kak."
"Pegang dia."
"Itu yang sedang kulakukan."
Sambungan mati. Reynand tidak menaruh ponsel. Ia mengetik pesan ke grup sahabat dengan satu jari, ibu jarinya yang satu lagi tidak melepas bahu Reyna: 'Kumpul di rumah gue. Bawa bantal. Jangan tanya.'
***
Pukul lima sore, ruang tamu rumah Reynand sudah berubah menjadi tempat penampungan. Kasur lipat dijajarkan di lantai, tumpukan bantal dan selimut menggunung di sudut, sepuluh kotak martabak, tiga rantang rendang buatan ibu Alvin, dan kantong plastik berisi cemilan yang jumlahnya mustahil habis dalam semalam. Mbah mondar-mandir di sela kasur lipat, wajahnya cerah untuk pertama kalinya sejak Reyna mengenalnya, sementara Reyna, yang dilarang mengangkat apa pun, hanya duduk di kursi dan menunjuk di mana nampan teh harus diletakkan.
"Rumah ini sudah lama tidak seramai ini," katanya pada Reyna. "Bagus. Yang jahat tidak suka tempat ramai."
Siska bersila di tengah ruangan, memimpin permainan kartu dengan Angga dan Alvin. Felli membereskan obat dan vitamin Reyna di meja kecil sambil sesekali menyuapkan makanan ke mulut Reyna tanpa diminta. Valen dan Revin tiba paling akhir dengan dua bantal yang sama dan alasan yang sama kuatnya: "Rumah gue sepi."
"Aturan menginap!" seru Alvin, berdiri di atas sofa dengan sendok kayu seperti tongkat komando. "Satu. Siapa pun yang mendengkur dipindahkan ke teras."
"Dua," sambung Angga. "Siapa pun yang tidur duluan, wajahnya dicoret."
"Tiga," kata Siska. "Yang paling pertama minta pulang jadi pembayar martabak seumur hidup."
Tawa pecah. Reyna tertawa juga, dan baru setelah itu ia sadar kepada siapa Alvin mengedipkan mata sebelum turun dari sofa: kepada Reynand, yang berdiri bersandar di kusen pintu dapur dengan wajah yang lebih tenang dari seharian. Mereka tidak bertanya kenapa. Mereka hanya datang.
Malam bergulir dengan permainan kartu, cerita-cerita konyol tentang masa koas, dan Alvin yang kalah tiga kali berturut-turut dan harus berjoget diiringi lagu dari ponsel Siska. Pukul sebelas, satu per satu tumbang di kasur lipat. Pukul dua belas lampu ruang tamu diredupkan. Reyna berbaring di kasur utama di tengah, Reynand di sisi kanannya, Felli dan Siska di sisi kiri dengan guling di antara mereka.
***
Reyna terbangun.
Ruangan terlalu dingin. Bukan dingin AC. Dingin yang menusuk dari lantai, seperti udara dari ruang bawah tanah yang lama tertutup. Napasnya berembun di depan mulut. Jam di dinding menunjukkan pukul tiga.
"Rey," bisiknya, menyentuh lengan Reynand.
Reynand sudah terjaga. Matanya terbuka lurus ke langit-langit. "Aku merasakannya."
Dari sisi kiri terdengar bunyi kasur bergeser. Reyna menoleh.
Felli duduk. Rambutnya jatuh menutup sebagian wajah, bahunya turun, punggungnya tegak kaku seperti ditarik dari atas dengan benang. Matanya terbuka tetapi tidak menatap apa pun.
"Fel?" Siska yang paling dekat langsung terjaga, menyentuh bahu Felli. "Fel, lo mimpi?"
"Siska," kata Felli. Itu suara Felli, tetapi lebih dalam, lebih datar, dengan jeda yang tidak biasa. "Pernah menyalin tugas Reyna semester tiga lalu bilang ia mengerjakan sendiri. Pernah menghapus tiga unggahan karena iri pada foto bahagia seseorang."
Siska menarik tangannya seperti tersengat.
"Angga." Kepala Felli berputar sedikit. "Menangis di kamar mandi kantor setelah Siska diculik, selama dua puluh menit, dan menyuruh semua orang bilang ia sedang batuk."
Angga duduk tegak, wajahnya putih.
"Valen. Menyembunyikan satu bungkus permen jeruk di laci supaya tidak ada yang tahu ia sebenarnya suka." Lalu ke arah sisi lain: "Alvin, menunggu di depan kost sampai jam dua pagi dan pura-pura kebetulan lewat. Revin, menulis tiga puluh pesan untuk Valen dan menghapus semuanya."
"Fel!" Alvin merangkak ke sisinya. "Fel, bangun!"
"Itu bukan Felli," kata Reynand pelan, sudah berdiri. "Jangan guncang dia."
Felli, atau yang memakai suaranya, menoleh pelan ke arah Reyna. Kepalanya miring.
"Dan Reyna," katanya. "Dua tahun ia berpura-pura baik-baik saja."
Udara di ruangan seperti membeku. Reyna merasakan pergelangan kirinya menyala, benang merah mencuat dari kulit dan melingkar tiga putaran dalam hitungan detik, dan kalung di lehernya menghangat cepat.
Di dekat rak buku, Lastri muncul. Tidak tegak seperti biasa. Ia berjalan miring, seperti membawa beban, dan menempatkan dirinya persis di antara Felli dan Reyna. Gunting kecilnya terangkat.
"Allahumma shalli ala Muhammad," Reynand mulai, suaranya serak lalu mantap, lalu ia sambung dengan Ya Nabi Salam Alaika.
Satu per satu mereka bergabung. Revin lebih dulu, lalu Valen, lalu Angga yang suaranya bergetar. Alvin menarik Felli ke pelukannya dan ikut melafalkan dengan wajah basah. Siska menekan kedua tangan ke mulut sebentar, lalu ia pun bersenandung dalam nada yang tidak sempurna.
Bahu Felli melemas. Kepalanya jatuh ke dada Alvin. Napasnya jadi panjang dan teratur.
"Gue..." Felli membuka mata, bingung. "Kenapa semua orang melihat gue?"
"Gak apa-apa," sahut Alvin cepat, mengusap rambutnya. "Cuma mimpi buruk."
Tetapi Reyna sudah bangkit, menangkap pandangan Lastri yang menunjuk ke jendela. Di sela tirai, ada cahaya samar di halaman.
***
Reyna membuka pintu teras pelan-pelan. Reynand mengikuti dengan tangan melingkar di pinggangnya, tidak membiarkannya berdiri sendirian.
Enam sosok berdiri di rumput basah di luar pagar, tidak menyentuh tanah. Laras di depan, berjaket almamater biru tua yang tidak lagi basah, dan lima yang lain berbaris di belakangnya, dua perempuan dan tiga laki-laki, wajah mereka tenang.
"Kak," sapa Laras pelan.
"Kalian..." Reyna kehilangan kata. "Bukan sudah pergi?"
"Kami diizinkan, Kak. Kembali sebentar." Laras tersenyum malu, seperti yang selalu ia lakukan. "Kak Lastri yang memanggil kami. Kami berenam jaga di pagar. Yang berani lewat harus lewat kami dulu."
Mata Reyna panas. "Terima kasih."
"Kami yang berterima kasih. Dua kali." Laras menunduk hormat.
Dari kejauhan, langit di ujung jalan mulai memucat. Azan subuh terdengar sayup dari masjid. Di tikungan, sebuah taksi berhenti dan seorang lelaki turun dengan ransel hijau lusuh.
Revan menutup pintu taksi dan berdiri sebentar menatap enam sosok di pagar, lalu mengangguk pelan seperti kepada rekan lama.
"Kakak bilang paling cepat dua hari," kata Reyna, setengah tertawa, setengah menangis.
"Dua hari itu kalau kakak menunggu jadwal." Revan mendekat, memeluk adiknya erat di bawah langit yang masih kelabu. "Sudah. Sekarang kita salat dulu."