Revan puasa empat hari empat malam sebelum ia berani membaca atas Reyna.
Senin ia hanya duduk di ruang tengah rumah Reynand memperhatikan pergelangan adiknya tanpa mengeluarkan kata. Selasa ia salat malam dengan pintu kamar tamu terbuka dan lantunan pelan yang membuat Mbah mengangguk-angguk di dapur. Rabu ia pergi sendirian ke makam Bunda sejak subuh dan pulang menjelang magrib dengan mata sembap yang tak mau ia jelaskan. Kamis malam, setelah buka puasa dengan teh dan tiga butir kurma, ia akhirnya berdiri di tengah ruang tengah dengan kain putih terlipat di lengan.
"Malam ini," katanya.
Ruang tengah sudah dikosongkan. Sofa digeser ke dinding, karpet digulung, hanya satu tikar baru di lantai. Di atasnya semangkuk air doa, segenggam melati, dan lilin kecil yang tidak dinyalakan, karena Reynand bersikeras api di dalam rumah hanya akan membuat Reyna gelisah.
"Aturannya tiga." Revan menunjuk dengan jarinya. "Pertama, kamu masuk lewat mimpi, bukan lepas raga. Lima menit, paling lama. Kedua, Reynand memegang tanganmu sepanjang waktu, dan kakak menjaga dari sisi lain. Ketiga, apa pun yang kamu lihat, jangan menjawab apa pun yang bukan suara Eyang."
"Bagaimana aku tahu itu suara Eyang?"
"Kamu akan tahu." Revan tersenyum tipis. "Eyang tidak pernah berbicara untuk menawar."
Reyna berbaring. Kain putih dibentangkan sampai dadanya. Tangan kirinya, dengan benang yang mengintip, dibungkus telapak Reynand. Ayah duduk di kursi dekat jendela dengan tasbih yang bergerak sangat lambat.
"Aku di sini," kata Reynand.
"Aku tahu."
"Aku tidak akan melepaskan."
"Aku tahu." Reyna menutup mata. "Rey. Kalau aku menangis di dalam, jangan bangunkan aku."
"Aku akan membangunkan kamu," katanya tegas, "kalau waktunya habis. Selain itu tidak."
Revan mulai membaca. Suara itu rendah, kuat, tidak tergesa. Kata-katanya naik seperti kabut di sela pohon, dan Reyna merasakan tubuhnya menjadi berat, lalu ringan, lalu tidak ada.
***
Halamannya halaman rumah Eyang di Jawa Timur, tempat Reyna dulu menghabiskan libur sekolah, dengan pohon sawo yang batangnya hitam dan kandang ayam kosong di sudut. Langit berwarna jingga-ungu, dan dari kejauhan terdengar suara orang menumbuk padi. Ia sudah lama tidak mengingat suara itu.
Di bawah sawo, di bangku kayu panjang, duduk seorang lelaki sepuh berbaju putih bersih dengan ikat kepala. Wajahnya keriput dan teduh. Di kakinya, meringkuk seperti kucing besar, seekor harimau putih memejamkan mata.
"Eyang."
"Cucuku." Eyang Prabu tidak berdiri. Ia menepuk tempat di sampingnya, dan Reyna duduk di sana seperti anak sekolah. "Kamu sudah besar. Sudah menikah, sudah mengandung. Eyang bangga."
"Eyang, aku..."
"Eyang tahu. Kamu mau ingat." Tangan keriput itu menyentuh pipinya, hangat. "Eyang menutupnya waktu itu karena kamu tidak sanggup membawanya sambil bekerja. Sekarang kamu bisa. Tapi dengarkan satu hal, Nduk."
"Ya, Eyang."
"Yang kamu lihat nanti sudah lewat. Tidak bisa diubah, dan yang bukan salahmu tidak akan menjadi salahmu hanya karena kamu mengingatnya."
Harimau di kaki Eyang membuka satu mata kuning, menatap Reyna, lalu menutupnya lagi. Reyna menarik napas.
"Eyang, yang menagih itu..."
"Dia menagih apa yang pernah diberikan kepadanya. Hanya itu hukumnya, dan Eyang tidak bisa mengubah hukum." Suara Eyang tetap lembut. "Menarik kembali kata-katamu bukan pekerjaan Eyang, Nduk. Itu pekerjaanmu. Nanti, bukan sekarang."
Eyang meletakkan ibu jarinya di antara alis Reyna. Ada cahaya. Dunia berputar dan pecah.
Lorong rumah sakit. Pukul dua lewat tiga. Reyna berdiri di depan pintu kamar bedah dengan scrub yang bagian dadanya basah, bukan keringat. Telapak tangannya merah sampai pergelangan. Di dalam ruangan, perawat menarik kain putih sampai ke wajah seorang pemuda dua puluhan yang tidak lagi bernapas.
Tadi ia mencoba segalanya. Pemuda itu tabrakan motor, limpa dan hati robek, pendarahan tidak mau berhenti. Dua jam. Tidak cukup.
Ia berjalan keluar dan tidak sanggup berjalan lebih jauh. Punggungnya menyentuh dinding, dan ia merosot sampai lantai tegel dingin menyentuh kakinya. Dari ujung lorong, jauh, ada langkah sepatu. Tapi ia tidak menoleh. Ia hanya menatap kedua tangannya.
Kau gagal.
Suara itu tidak datang dari telinga. Dari bawah kulitnya.
Kau tak berguna. Orang itu mati di tanganmu.
"Aku sudah coba," bisik Reyna, di lorong yang kosong. "Aku sudah coba semuanya."
Dan tidak cukup. Tidak pernah cukup. Siapa pun akan mati, dan kamu cuma pegang pisau.
Air matanya jatuh tanpa suara. Ia tidak lagi mendengar napasnya sendiri. Di sela itu, rasa kehilangan datang, bukan terhadap pemuda itu saja, tapi terhadap semua tangan yang pernah ia pegang dan terlepas. Ia lelah sekali, dan dalam lelah itu ia mengucapkan satu kalimat yang bahkan tidak ia maksudkan untuk siapa pun.
"Ambil saja," katanya lirih. "Aku memang tak berguna."
Ada yang menjawab dengan satu kata: Baik.
Benang merah muncul dari udara, melingkar tiga kali di pergelangan kirinya, dan menariknya ke bawah, ke dalam lantai. Lorong tiba-tiba lebih dingin. Reyna ingin berteriak, tetapi suaranya tidak keluar.
Lalu sesuatu putih bergerak di ujung lorong. Seorang perawat, seragam bersih, topi miring, kulit melepuh, gunting kecil di tangan, menerjang tanpa suara dan memotong benang itu di ujungnya. Benang itu mendesis. Lastri menjerit tanpa suara, tangannya sendiri menghitam terbakar.
Di ujung lorong yang lain, seorang dokter jaga muda berjas kusut berdiri mematung dengan map terjatuh dari tangannya, matanya terbelalak pada sesuatu yang hanya bisa ia lihat di atas kepala Reyna. Ia tidak berani mendekat. Tidak ada yang bisa menyalahkannya.
Langkah sepatu yang tadi jauh tiba-tiba dekat. Seorang lelaki berseragam polisi, napasnya terengah, jatuh berlutut di depannya dan menggenggam tangan kirinya yang masih berselimut benang.
"Hei. Dokter. Lihat saya."
Benang di tangannya putus total. Reyna menatap wajah asing itu, wajah Reynand dua tahun lebih muda, dengan kerut cemas yang sama, dan mendengar dirinya sendiri berbisik: "Ajaib."
Lalu lorong itu meledak menjadi cahaya.
***
Reyna terbangun dengan jeritan yang tertahan di tenggorokan.
"Aku di sini." Tangan Reynand masih membungkus tangannya, erat sekali, buku-bukunya memutih. "Aku di sini, sayang, aku di sini."
"Aku..." Reyna terisak, tubuhnya terguncang. Kain putih basah oleh air matanya. Revan mengelus rambutnya dari sisi lain, wajahnya tegang dan lelah. Ayah sudah berdiri dari kursi, tasbih menggantung dari jemarinya yang kaku.
"Ingat semuanya, Dek?" tanya Revan pelan.
"Semuanya." Reyna menelan. "Aku ingat Eyang berkata yang bukan salahku tidak akan menjadi salahku hanya karena aku mengingatnya. Tapi aku... Kak, aku yang membukanya."
"Apanya?" tanya Ayah, suaranya parau.
"Pintunya. Aku yang menyuruh dia ambil. Aku bilang ambil saja." Reyna menutup mulut dengan punggung tangan. "Pemuda itu meninggal, dan aku bilang aku tidak berguna, dan ada yang bilang baik. Aku yang membuka pintunya, Rey. Aku yang membuat dia mengejar kita."
Reynand menarik tubuhnya duduk dan memeluk, kuat, tanpa ragu.
"Dengarkan aku." Suaranya rendah, tegas, tepat di telinga Reyna. "Kamu bukan penyebabnya. Kamu dibisiki."