Ruang kerja Ayah berbau kopi tubruk dan kertas tua. Di dinding berderet foto penugasan, barisan prajurit berseragam loreng dan seorang lelaki muda yang dulu Reyna kenal sebagai bapaknya, tersenyum di antara semuanya. Jam dinding kayu berdetak lebih keras dari yang Reyna ingat.
Senin pagi, empat hari sesudah mimpi itu, Reyna duduk di kursi kulit di seberang meja Ayah dengan bantal kecil di punggung dan kaki diselonjorkan ke bangku pendek. Reynand duduk di kursi rotan di sebelahnya, begitu dekat sampai lututnya menyentuh lutut Reyna. Revan berdiri di jendela, membelakangi cahaya.
"Eyang bilang apa kepadamu sebelum kamu masuk ke lorong itu, Nak?" kata Ayah. "Ayah mau dengar kata-katanya sendiri, bukan ringkasan."
Reyna bercerita, dan kali ini ia menambahkan hal yang belum sempat terucap di kamar itu: lampu lorong yang padam satu per satu, sarung tangan yang masih basah, dan kalimat yang keluar dari mulutnya sebelum sempat ia pikirkan. Pesan Eyang cukup ia sebut dengan satu kalimat, bahwa menarik kembali kata-katanya bukan pekerjaan Eyang, melainkan pekerjaannya, nanti. Ia menyampaikannya tanpa dihias, seperti membaca laporan. Reynand, yang sudah mendengar bagian lorongnya empat hari lalu, menggenggam tangan Reyna lebih erat. Rahang Ayah mengeras, lalu mengendur, dan tasbih di tangannya berhenti berputar.
"Jadi Eyang tidak menyalahkanmu?" tanya Ayah.
"Eyang menyuruhku menariknya kembali sendiri. Padahal kalimat itu aku yang ucapkan, Yah. 'Ambil saja. Aku memang tak berguna.'"
Hening lama. Jam kayu itu berdetak. Ayah akhirnya melepas kacamata dan mengusap pangkal hidungnya.
"Nak," katanya, suaranya lebih tua dari biasa. "Kalimat yang diucapkan jam dua pagi, sesudah kehilangan orang di tanganmu, tidak dihitung sebagai niat. Ayah pernah berdiri di tempat yang sama, di barak, sesudah kehilangan anak buah. Ayah pernah mengucapkan hal yang lebih buruk."
"Tapi dia mencatatnya, Yah."
"Dia mencatatnya. Itu bedanya dengan manusia." Ayah memandang putrinya lurus. "Yang salah bukan kamu yang putus asa. Yang salah yang berdiri di lorong itu menunggu kamu putus asa."
Reyna menutup mulutnya dengan telapak. Air mata mengalir tanpa suara, dan kali ini ia tidak menyekanya.
"Ayah menyesal tidak ada di sana," kata Ayah pelan.
"Yah..."
"Tidak ada yang bisa mengubah itu. Tapi Ayah ada di sini sekarang."
Revan berdeham dari jendela. "Kakak harus bicara soal syaratnya."
***
Revan menarik kursi dari sudut ruangan dan duduk, siku di lutut, tangan terjalin. Ia tampak lebih kurus daripada waktu tiba di bandara, empat hari puasa dan satu malam tanpa tidur.
"Eyang menitipkan satu hal pada kakak sebelum kamu terbangun, Dek," katanya. "Lewat jalur yang sama seperti dulu. Kakak baru berani mengucapkannya hari ini."
"Apa isinya?" tanya Reyna.
"Segel yang melekat pada benang tidak bisa dibuka atau ditutup oleh orang lain. Hanya yang memberi persetujuan yang bisa menariknya kembali. Itu berarti kamu, Dek. Kamu harus berdiri di tempat ia dikurung, pada malam purnama, dan menolak persetujuan lama itu dengan sadar. Kata-kata yang bukan putus asa. Kata-kata yang kamu pilih."
"Purnama." Reynand mengangkat kepala. "Kak, malam ini purnama."
"Malam ini memang purnama." Revan menatap jendela. "Dan kakak sudah menghitung. Tempat itu berjarak tujuh jam jalan dari sini, ditambah dua jam mendaki. Dokter kandunganmu Selasa lalu bilang detaknya kuat dan bercaknya berhenti, tapi perjalanan sehari penuh dan mendaki bukan yang ia maksud dengan tenang. Dan tanpa kitab Budhe Ratna dan kain putih untuk semua yang ikut, kakak tidak berani. Berangkat malam ini, kita tiba setelah fajar dengan perempuan hamil yang tidak boleh naik tangga."
"Kapan purnama berikutnya?"
"Tiga puluh hari lagi. Rabu."
Reyna menghitung diam-diam. Tiga puluh hari. Usia kandungannya akan enam belas minggu saat itu. Ia akan berdiri di depan benda tua yang mencuri satu malam hidupnya, dengan bayi di dalam tubuhnya yang sudah pernah berhenti berdetak sepuluh detik.
"Tidak." Reynand sudah berdiri. Kursi rotan menjerit di lantai. "Tidak. Kak, aku tidak setuju."
"Rey..."
"Kamu ingat apa yang terjadi di USG? Sepuluh detik. Dia menarik pergelangan kakimu dari tempat tidur. Dia menyuruh Felli bicara dengan suaranya di tengah malam. Dan sekarang kita menyuruh Reyna berjalan ke tempat dia dikurung, di depan matanya, di depan segelnya yang retak, dan menyuruhnya berdebat?"
"Bukan berdebat," ujar Revan tenang. "Menolak."
"Dengan perut enam belas minggu!"
"Kamu menjadi polisi karena tidak mau lagi berdiri di pinggir melihat orang tenggelam. Reyna sudah cerita pada kakak." Suara Revan tidak naik, tetapi kata-katanya menembus ruangan. "Hari ini kamu tidak berdiri di pinggir. Kamu berdiri di sisinya. Kamu penahan. Yang memegang tangannya sepanjang waktu, dan menariknya pulang kalau waktunya habis. Itu bagianmu, Rey, dan tidak ada orang lain yang bisa menggantikan kamu."
Reynand menatap Revan, napas turun-naik. Matanya bergerak ke Reyna yang masih duduk, lalu ke perutnya, lalu ke wajahnya.
"Aku takut," katanya, serak.
"Aku tahu." Reyna meraih tangannya, menariknya duduk kembali. "Kamu bilang kamu tidak akan menyimpannya sendirian."
"Aku takut sekali."
"Aku juga."
Reynand memejamkan mata lama. Ketika membukanya, ketakutan itu masih ada, tapi sesuatu yang lain berdiri di atasnya, lebih keras. "Kalau ada satu tanda saja bahwa denyutnya turun. Satu. Aku menarik kalian pulang. Aku tidak peduli segelnya, tidak peduli upacaranya."
"Kamu boleh," kata Revan. "Itu aturan penahan."
"Kalau begitu aku mau."
***
Sore itu, Reyna berjalan perlahan di halaman belakang rumah Ayah dengan satu tangan di punggung, satu tangan di perut. Pohon belimbing di pojok sudah berbuah kecil-kecil. Foto Bunda di bawah pohon itu, yang dulu ia terima sehari sebelum akad, terbayang di benaknya, senyum di bawah daun.
Reynand berjalan di sampingnya tanpa bicara, sengaja memperlambat langkah.
"Kamu masih marah pada Kak Revan," kata Reyna.
"Tidak." Ia menendang kerikil. "Aku marah pada tempat itu. Pada apa pun yang membuatmu harus pergi ke sana."
"Rey." Reyna berhenti, memegang lengannya. "Selama dua tahun aku dikejar tanpa tahu. Aku tidak mau lagi hidup dengan benang yang menunggu di balik pintu. Aku mau mendatanginya, bukan didatangi."
"Kamu hamil."
"Justru karena itu." Ia mengangkat dagu, dan untuk sesaat Reynand melihat perempuan yang dulu berdiri di bawah kelapa muda di pantai dan menyatakan perasaannya tanpa gentar. "Aku tidak mau anak ini lahir ke dunia yang masih ditagih oleh kata-kataku."
Angin lewat di antara daun belimbing. Dari pendopo terdengar Ayah dan Revan berbicara pelan tentang rute.
"Dan kalau aku gagal?" tanya Reyna, lebih kepada angin daripada kepada siapa pun.
"Kamu tidak gagal sendirian," kata Reynand. Ia mengambil tangan kirinya, membalik pergelangan itu, dan mencium titik tempat benang bersembunyi. "Itu satu-satunya hal yang aku yakin."
Reyna tersenyum, tipis dan basah.
"Jadi?" tanya Reynand lagi.
Reyna menatap pagar, menatap jalan di baliknya yang berkelok ke arah timur, ke arah pegunungan, ke arah air terjun yang belum selesai.
"Kita pulang ke tempat itu."