Jumat sore, pendopo rumah Ayah sudah berubah jadi tempat rapat. Tikar digelar tiga lapis, bantal duduk dipinjam dari masjid, dan di tengah-tengahnya ada nampan pisang goreng yang dijaga Alvin dengan tatapan serius. Selama empat hari sejak Senin itu, Revan menelepon satu per satu, Ayah mengurus perpanjangan cuti Reyna ke direktur rumah sakit, dan Reynand tidak sekali pun membiarkan Reyna menaiki tangga sendirian. Bahkan tiga anak tangga pendopo pun ia gandeng, seolah semuanya setinggi menara.
"Aku bisa jalan, Rey."
"Aku tahu kamu bisa. Aku cuma mau melihatnya dari dekat."
Sepanjang jalan dari rumah mereka ke sini, ia sudah mengulang daftar yang sama tiga kali sambil menyetir: bantal, air putih, obat mual, sweter, nomor dokter kandungan di layar ponsel. Reyna menghitung dalam hati, dan pada putaran ketiga ia memutuskan tidak mengoreksinya. Orang yang takut kadang butuh daftar, dan daftar itu cara Reynand memegang dirinya sendiri.
Dua belas orang akhirnya duduk melingkar. Reyna bersandar di bahu Reynand dengan bantal kecil di pinggang. Ayah duduk di ujung, tasbih di tangan. Rio mengambil tempat paling jauh dari nampan, memeluk lututnya, dan Doni di sebelahnya sesekali melirik tanpa menegur.
"Kakak mulai dari yang paling gampang," kata Revan. "Siska, Felli. Kalian belum pernah dijelaskan apa pun, dan kakak minta maaf untuk itu."
"Dijelaskan soal apa?" Siska melipat tangan. "Soal Felli yang pekan lalu jadi pembaca daftar dosa kita semua?"
Felli mengangkat telunjuk. "Gue juga mau tahu itu. Alvin sejak malam itu nyodorin teh manis ke gue terus. Gue curiga."
"Kamu tidak salah curiga, Fel." Revan menatapnya lembut. "Yang bicara lewat kamu malam itu bukan kamu. Namanya Penagih. Ia terikat di gua belakang air terjun oleh Eyang kami, dan ia menandai Reyna dengan benang yang hanya Reyna lihat. Sekarang ia mengincar anak yang Reyna kandung."
Hening. Angga berhenti mengunyah. Siska, yang biasanya punya jawaban untuk segalanya, hanya menoleh pelan ke arah Reyna.
"Benang," ulangnya.
"Di sini." Reyna menyingkap lengan baju dan memperlihatkan garis tipis di pergelangan kiri, yang bagi mata mereka hanya tampak seperti bekas luka lama. "Dari dua tahun lalu, Sis. Gue baru ingat asalnya minggu lalu."
"Lo nyimpen ini, dan gue kira lo cuma sering salah pakai jam tangan." Suara Siska pecah di tengah, dan ia cepat-cepat berdeham. "Terus kita ngapain?"
"Kita pulang ke tempat itu. Purnama Rabu empat pekan lagi."
Felli menutup mulut dengan kedua tangan. "Jadi dingin di ruang tamu malam itu..." Ia tidak melanjutkan, dan Alvin menggeser duduknya sampai lututnya menempel pada lutut Felli.
"Itu dia," kata Revan. "Dan kalian tidak salah apa-apa. Dia memilih orang yang ketakutannya paling dekat ke permukaan, bukan yang paling lemah."
"Syukurlah," gumam Felli. "Berarti gue bukan yang paling lemah. Cuma yang paling gampang takut."
"Itu bukan hiburan, Fel," ujar Siska.
"Buat gue itu hiburan."
Valen, yang sudah tahu lebih dulu, hanya menunduk dan memainkan ujung kerudung yang tidak ia pakai, kebiasaan lama ketika ia gelisah.
***
"Ada syaratnya," lanjut Revan, dan nada suaranya turun. "Kitab Budhe Ratna belum sampai, jadi kakak hanya bisa menyampaikan yang kakak terima. Tiga malam ini Eyang datang lagi. Bukan ke Reyna. Ke kakak, di bangku sawo yang sama, dan beliau hanya berkata satu kalimat."
"Apa?" tanya Revin.
"Yang diikat oleh rahasia tidak dilepas oleh pedang. Hanya oleh kesaksian tanpa dusta."
Revan memandang lingkaran itu satu per satu. "Benang melekat pada hal yang kita simpan sendirian. Rasa bersalah, malu, penyesalan, apa pun yang kita bilang pada diri sendiri 'jangan sampai ada yang tahu'. Penagih menarik dari situ. Siapa pun yang ikut ke gua harus mengucapkan satu hal yang selama ini ia simpan, dengan jujur, di depan orang lain. Yang sudah mengucapkannya sebelum purnama, benangnya putus lebih dulu. Penagih tidak punya pegangan padanya."
"Satu hal?" tanya Doni pelan. "Yang mana?"
"Yang paling berat, Don. Kamu sendiri yang tahu."
"Dan kalau ada yang tidak mau?" Angga bertanya, lebih keras dari yang ia maksud.
"Tidak ada yang dipaksa. Siapa pun boleh tinggal di rumah." Revan menggeleng. "Tetapi kakak jujur, yang tinggal juga tidak aman di sini. Benang tidak mengenal jarak."
Alvin menepuk lututnya sendiri. "Ndan, gue ikut. Soal tempat yang gelap gue memang penakut, tapi soal tidak ikut, gue lebih takut."
"Kamu bilang begitu sambil megang pisang goreng," komentar Reynand.
"Pisang goreng itu memberiku keberanian."
Beberapa orang tertawa pendek, tawa yang mudah patah. Reyna memperhatikan wajah-wajah itu, dan ia tahu persis apa yang terjadi di balik tiap kening yang mengerut: dua belas orang sedang membuka lemari paling dalam di kepala masing-masing, mencari-cari kalimat mana yang akan mereka ambil.
Pandangannya berhenti pada Rio. Di telunjuk kanan lelaki itu, tipis sekali, ada kilat merah yang sama seperti di Polsek dulu. Ia sedang menatap cangkir tehnya dan tidak menyentuhnya.
"Aku dulu," kata Ayah.
Semua kepala menoleh. Ayah meletakkan tasbih di pangkuan, dan untuk sesaat Reyna mengira ia salah dengar.
"Yah, itu..." Revan mulai.
"Biar Ayah. Yang tertua mulai lebih dulu, dan Ayah sudah terlalu lama membiarkan kalian mengira Ayah cuma sibuk." Suaranya datar, seperti melapor di depan atasan. "Waktu Bunda sakit, Ayah sedang dalam penugasan. Tiga bulan. Bunda menelepon dan bilang tidak apa-apa, jangan pulang dulu, tugasmu lebih penting. Ayah percaya. Ayah memang ingin percaya."
"Yah," bisik Reyna.
"Ayah pulang ketika Bunda sudah tidak mau makan. Dan kalau ada orang bilang Ayah tentara yang baik, Ayah hanya bisa diam." Ia mengusap mata dengan punggung tangan, cepat, seperti menepis debu. "Ayah tidak ada di sisinya. Itu yang Ayah simpan."
Reyna melihat sesuatu yang tipis dan merah melingkari pergelangan Ayah, lalu lepas tanpa bunyi dan lenyap seperti uap. Reyna beringsut keluar dari bahu Reynand, merangkak dua kali di atas tikar, dan menggenggam tangan Ayah yang kasar dan hangat. Ayah tidak menoleh. Ibu jarinya hanya mengusap punggung tangan putrinya, pelan, berulang-ulang, seperti dulu ketika ia masih kecil dan demam.
"Bunda tahu, Yah," katanya lirih. "Aku ingat Bunda pernah bilang Ayah itu rumah yang selalu pulang terlambat."
Ayah tertawa kecil, serak, dan tawa itu langsung pecah jadi napas panjang.
Revan menatap ayahnya tanpa kata. Revin menutup wajah dengan kedua tangan. Di sisi Reyna, Reynand menggenggam jemarinya lebih erat, dan Siska, yang paling cerewet di antara mereka, hanya menyodorkan kotak tisu ke tengah lingkaran dan mendorongnya pelan ke arah Ayah.
Saat itulah, dari tepi pandangannya, Reyna menangkap sesuatu bergerak. Rio sedang bangkit dari tikar, pelan, nyaris tanpa suara, kakinya menyusup ke sandal. Ia tidak menoleh pada siapa pun. Pintu kasa pendopo berderit sekali, lalu menutup.
Di tikar tempat ia duduk tadi, tinggal secangkir teh yang masih mengepul.