Reyna sudah di halaman sebelum pintu kasa berhenti bergetar. Lampu taman menyala kuning di sela pohon mangga, dan di ujung jalan masuk, lampu belakang mobil Rio mengecil lalu hilang di tikungan.
"Rio!"
Tidak ada jawaban. Hanya bunyi jangkrik dan bau tanah basah. Reyna berlari kecil sampai gerbang, dan tangan Reynand menahan sikunya dari belakang. Bukan menarik, hanya menahan.
"Pelan, Yang."
"Dia pergi sendiri, Rey. Dia belum boleh sendirian."
"Biarin." Doni muncul di sebelah mereka dengan napas tersengal dan kunci motor di genggaman. "Dia biasa begitu kalau kepalanya penuh. Muter-muter kota, beli kopi, pulang. Kalau gue kejar sekarang, dia malah makin kencang."
"Kamu yakin?"
"Dua puluh tahun gue temenan sama dia." Doni mengusap wajah. "Gue susul pelan-pelan. Kalau dia berhenti di mana, gue ada. Gue kabarin."
Reyna menatap jalan kosong itu lama sekali. Benang di pergelangannya berdenyut sekali, pelan, seperti jari yang mengetuk meja. Reynand merangkul bahunya, dan ia membiarkan dirinya dibawa masuk, walau matanya masih tertinggal di tikungan.
Di pendopo, para sahabat sudah berdiri dengan wajah serba bingung. Siska memegang cangkir teh Rio yang masih hangat, seolah tidak tahu harus menaruhnya di mana.
"Gue salah ngomong?" tanya Angga.
"Lo gak salah apa-apa, Ga," jawab Reynand. "Tiap orang punya jam sendiri."
"Jam gue sudah lewat dua tahun," gumam Alvin, lalu buru-buru menambahkan, "itu bukan pengakuan, itu cuma keluhan."
Revan hanya memperhatikan pintu kasa yang tertutup. "Biarkan dia. Yang mengaku karena didorong tidak akan putus benangnya. Harus keluar dari dalam."
Kabar dari Doni masuk pukul sebelas malam: Rio duduk di warung kopi pinggir jalan raya, memesan dua gelas dan tidak meminum satu pun. Pukul dua belas: pindah ke mobil, diam. Setelah itu tidak ada kabar lagi, dan Reyna berbaring lama di kamar dengan mata terbuka, membayangkan seseorang duduk sendirian di dalam mobil yang gelap.
***
Sabtu subuh, Reyna terbangun karena tidak bisa tidur lagi. Reynand masih terlelap di sebelahnya dengan satu tangan melingkari perutnya, jadi ia keluar dari bawah lengan itu pelan-pelan, sampai ke teras, dan di sanalah ia melihat mobil Rio terparkir miring di depan pagar. Lampunya mati. Sosok di bangku depan tidak bergerak.
Ia mengetuk kaca. Rio menurunkannya setengah.
"Lo kenapa di sini?"
"Gue gak bisa pulang." Mata Rio merah dan kering, seperti orang yang sudah kehabisan air untuk menangis. "Gue gak bisa masuk juga. Jadi gue duduk di sini aja."
Reyna menarik napas, memutar ke pintu penumpang, dan duduk di sebelahnya. Ia tidak berkata apa-apa. Dari masjid di ujung gang terdengar azan, tipis dan panjang. Mereka berdua menunggunya selesai.
"Tiga tahun lalu," kata Rio akhirnya, "gue yang nganter mereka ke gerbang jalur atas."
Reyna tidak bergerak.
"Budhe minta. Pagi itu enam anak itu sarapan di dapur, pamit mau naik ke air terjun, dan Budhe bilang, 'Rio, antar mereka sampai gerbang, jalannya licin.' Gue bawa mobil bak. Mereka duduk di belakang, ketawa-ketawa, bawa ransel gede, ada yang nyanyi." Suaranya menyempit. "Laras turun paling akhir. Dia bilang makasih. Terus pas gue udah mau pergi, dia bilang makasih lagi. Dua kali. Gue ingat banget, karena gue pikir, anak ini sopan banget. Dia juga nyodorin sebungkus pisang goreng dari dapur Budhe buat gue. Gue makan di jalan pulang, sambil nyalain radio."
Ia terkekeh pendek, getir, dan kekehan itu pecah di tengah. "Gue makan pisang goreng itu sambil nyanyi, Reyna. Sambil nyanyi."
"Rio..."
"Di gerbang ada Pak Karta. Berdiri di bawah pohon dengan caping. Dia lambai ke gue, bilang, 'Pulang, Le. Biar saya yang antar mereka naik.' Gue pulang." Ia menelan ludah. "Dua hari kemudian Budhe bilang mereka sudah pulang lewat jalur belakang. Karta bilang begitu. Gue percaya, karena gue mau percaya."
"Tapi lo curiga."
"Gue baru benar-benar curiga waktu Riani kesurupan dan nyebut mahasiswa-mahasiswi itu." Rio menunduk, menatap kedua tangannya di kemudi. "Waktu itu Pak Karta nemuin gue sendirian. Dia bilang, kalau polisi nanya, gue orang terakhir yang melihat anak-anak itu hidup-hidup. Gue yang bakal dicari. Gue takut."
Di jari telunjuk kanannya, di atas stir, Reyna melihat benang merah itu lagi, sehalus rambut, bergetar seperti senar.
"Lo bilang apa waktu BAP?"
"Cuma rumor, cuma bibi gue. Gue gak bilang gue yang nganter." Ia akhirnya menoleh. Wajahnya seperti anak kecil yang tertangkap basah mencuri, tetapi tidak berusaha lari. "Gue yang nganter mereka, Reyna. Gue yang lambaiin tangan. Gue yang bikin mereka sampai ke Karta."
Benang itu putus. Tidak bersuara, tidak ada kilat, hanya hilang dari telunjuknya seperti garis pensil yang dihapus. Tubuh Rio terkulai satu inci ke sandaran, seperti baru melepas ransel yang ia gendong terlalu lama.
"Lo bukan yang membunuh mereka," kata Reyna pelan.
"Gue bukan yang mengantar mereka pulang juga."
"Bukan. Tapi lo yang duduk di sini sekarang, bilang itu keras-keras." Reyna menyentuh lengannya sebentar. "Itu yang pertama dibutuhkan."
Rio menutup wajah dengan telapak tangan dan menangis tanpa suara, bahunya naik turun. Reyna membiarkannya. Di kaca spion, ia melihat pintu teras terbuka dan Reynand berdiri di sana dengan sarung kusut dan rambut berantakan, memegang dua gelas teh. Ia tidak mendekat. Ia hanya meletakkan keduanya di lantai teras, tepat di tempat yang terlihat dari mobil, lalu mundur satu langkah dan menunggu. Reyna menahan senyum di tengah sedihnya.
Setelah beberapa lama, Rio mengambil napas panjang yang gemetar.
"Gue mau nemuin ibunya Laras."
"Lo yakin?"
"Gue lihat dia peluk udara di makam. Gue berdiri di bawah pinus kayak pengecut." Rio mengusap pipi dengan lengan baju. "Dia harus tahu siapa yang nganter anaknya sampai gerbang. Dia berhak marah ke orang yang bisa dia lihat, bukan cuma ke udara."
"Alamatnya ada di berkas Polres," kata Reyna. "Suami gue bisa minta ke Kapolres hari ini."
"Gue gak mau lewat polisi."
"Bukan buat polisi. Buat lo. Biar lo datang sebagai orang yang diizinkan, bukan sebagai orang yang nyelonong."
Rio terdiam, lalu mengangguk.
Pintu belakang mobil terbuka. Doni, yang rupanya sudah menitipkan motornya di warung kopi dan menemani Rio sejak tengah malam, tertidur di jok belakang dengan jaket menutup mukanya, menegakkan badan dan mengerjap.
"Gue ikut," katanya serak. "Dan lo gue yang nyetir. Lo dalam keadaan begini gak gue izinin pegang kemudi."
"Don..."
"Selasa?" Doni sudah mengeluarkan ponsel. "Gue minta izin cuti ke bos sekarang."
"Selasa," kata Rio. "Gue gak mau nunggu lebih lama dari itu. Kalau gue nunggu, gue bakal cari alasan."
Reyna keluar dari mobil, berjalan ke teras, dan mengambil kedua gelas teh yang sudah hangat-hangat kuku. Reynand, di ambang pintu, hanya mengangkat alis bertanya, dan Reyna membalasnya dengan anggukan kecil. Ia membawa kedua gelas itu kembali ke jendela mobil dan mengulurkannya ke dalam.
"Minum dulu, Yo. Baru pergi."
Rio menerima gelas itu dengan dua tangan. Ia meminumnya sampai tandas, lalu menurunkan kaca sepenuhnya sebelum Doni menyalakan mesin.
"Kalau dia nampar gue," katanya, "jangan ada yang nahan."