Rio menghafal kalimatnya sejak Sabtu, empat versi, dan di depan pagar ia lupa semuanya.
Rumah ibu Laras berdiri di ujung gang sempit dekat tanah wakaf, kecil, bercat hijau pupus, pagar besinya berkarat di sambungan. Kapolres sendiri yang memberikan alamat itu kepada Reynand hari Minggu, dengan satu pesan: jangan datang membawa seragam. Karena itu, Selasa pagi ini Rio memakai kemeja polos yang disetrika Doni semalam, dan Doni menunggu di balik kemudi dengan mesin mati.
Ibu Laras membuka pintu setelah ketukan ketiga. Kerudung krem, daster rumah, tangan basah karena baru mencuci piring. Ia menatap lelaki di depannya, dan Rio menyadari ibu itu mengenalinya dari pinggir makam.
"Saya Rio, Bu." Suaranya keluar lebih kecil dari yang ia rencanakan. "Keponakan Budhe Salma, pemilik villa tempat anak-anak itu menginap. Saya yang mengantar Laras dan teman-temannya sampai ke gerbang jalur atas, pagi itu. Saya yang membawa mobil baknya."
Ibu Laras tidak menjawab. Air dari tangannya menetes ke lantai satu per satu.
"Saya bohong waktu ditanya polisi. Saya bilang saya tidak tahu apa-apa. Saya takut. Padahal saya orang terakhir yang melihat..." Ia berhenti, menelan ludah. "Maaf, Bu. Saya tidak minta dimaafkan. Saya hanya mau Ibu tahu siapa saya."
Pipi Rio terasa panas sebelum ia sadar apa yang terjadi. Bunyinya lebih dulu sampai ke telinga daripada rasa sakitnya, tamparan yang keras dan basah. Wajahnya terlempar ke samping. Dari balik kemudi di seberang pagar, Doni setengah bangkit, lalu menahan diri dan duduk lagi dengan rahang mengeras.
"Tiga tahun," kata ibu Laras, suaranya bergetar. "Tiga tahun saya datang ke kantor polisi tiap awal bulan. Tiga tahun mereka bilang hanyut, hanyut, hanyut. Kamu tahu apa yang saya lakukan tiap malam? Saya masak dua porsi. Satu saya buang paginya. Karena kalau saya berhenti masak, berarti saya mengaku dia sudah tidak ada."
"Bu..."
"Kamu di mana waktu itu? Kamu ngapain?"
"Saya nyalain radio, Bu." Rio tidak mengusap pipinya. "Saya makan pisang goreng pemberian Laras, nyanyi di jalan pulang."
Ibu Laras memejamkan mata. Bahunya turun naik. Lalu ia mengangkat tangannya lagi, dan Rio menutup mata menunggu, dan tangan itu mendarat di bahunya, di tengkuknya, menariknya turun sampai keningnya menempel di bahu ibu itu.
"Dia ngomong makasih dua kali?" bisik ibu Laras di telinganya.
"Ibu tahu?"
"Dari kecil begitu. Takut bikin orang repot." Ibu itu memeluknya erat, dan air matanya membasahi kemeja yang disetrika Doni. "Anak bodoh. Anak bodoh. Kamu juga anak bodoh."
Rio tidak tahu siapa yang ia maksud. Mungkin dua-duanya. Mungkin tiga.
Mereka akhirnya duduk di ruang tamu yang sempit, di antara foto wisuda SMA dan rak buku yang separuhnya berisi diktat kehutanan. Di meja makan tampak dua piring dan dua gelas, tertata rapi. Ibu Laras menyadari arah matanya.
"Kebiasaan," katanya pendek. "Ceritakan hari itu dari pagi. Jangan dihaluskan."
Rio menceritakannya. Sarapan di dapur, ransel-ransel gemuk, lagu yang dinyanyikan di bak mobil, Karta di bawah pohon dengan caping. Doni, yang akhirnya dipanggil masuk, duduk di ujung bangku tanpa berani menyentuh teh yang disuguhkan. Dua kali ibu itu menyuruh Rio mengulang bagian tentang Laras turun dari bak, dan dua kali ia menutup mulut dengan punggung tangan.
Dari saku Rio, ponselnya bergetar dua kali, tiga kali, lalu terus. Ia tidak berani melepaskan percakapan itu, sampai ibu Laras sendiri berkata, "Angkat. Itu pasti penting."
***
Telepon itu dari Budhe Salma, dan baru dua kalimat Rio mengerti kenapa suaranya sepanjang itu berbisik. Dua kerabat Karta, pengemudi truk galian yang lolos dari penggerebekan, mengirim pesan lewat nomor asing ke ponsel Budhe: kami tahu kamu bersaksi, kami tahu pagar rumahmu, kami tunggu di villa kaca itu, karena tak ada orang di sana dan tak ada yang akan dengar.
"Jangan ke villa, Yo," bisik Salma di ujung telepon. "Jangan ada yang ke sini. Budhe sudah lapor Kapolsek, Budhe cuma mau kamu tahu."
"Budhe di mana? Si kembar?"
"Di rumah tetangga, aman. Budhe sendirian di rumah." Napasnya naik turun. "Budhe tidak mau mereka kena apa-apa gara-gara Budhe. Sudah cukup anak orang."
Dalam setengah jam, kabar itu sampai ke Reynand, ke Revin, dan ke Alvin. Reynand menolak ikut, karena Reyna tidak boleh ditinggal, dan ia meminta Revin yang berangkat. Sore itu juga mereka berdua berangkat.
Jalan hutan di malam hari gelap dan berliku. Revin menyetir tanpa bicara, rahangnya kaku, dan Alvin di sebelahnya sudah menghabiskan dua bungkus kacang tanpa sadar.
"Rey tidak bisa ikut?" tanya Alvin akhirnya.
"Rey jaga Reyna. Dan dia benar."
"Gue cuma nanya."
"Lo nanya tiga kali sejak tadi."
"Gue gugup."
"Gue juga." Revin melirik spion. "Bedanya gue gak makan kacang."
Mereka tiba pukul sebelas lewat. Kapolsek sudah menunggu di tikungan sebelum villa, dengan dua petugas bersenter yang dimatikan, jaket gelap menutup seragam. Mereka bergerak tanpa suara melewati semak sampai ke pagar kayu villa kaca di tepi tebing. Di baliknya, di bawah lampu taman yang mati, dua lelaki sedang berjongkok membuka jeriken, bau bensin sampai ke tempat mereka bersembunyi.
"Sekarang?" bisik Alvin.
"Tunggu tutupnya terbuka semua."
Satu tutup terbuka. Dua. Revin mengangguk pada Kapolsek, dan Kapolsek mengangkat tangan.
Selanjutnya terjadi dalam beberapa detik. Alvin menabrak dari samping dengan bahu, Revin menjepit lengan yang lain ke belakang, senter menyala, dan suara Kapolsek menggema ke tebing. "Polisi! Jangan bergerak!" Jeriken terguling, bensin merembes ke tanah, dan salah satu lelaki sempat berteriak sebelum borgol mengunci pergelangannya. Yang satunya langsung menyerah, wajahnya pucat di bawah cahaya.
"Pak Karta bilang kalian tidak akan datang," gumamnya.
"Pak Karta sudah di sel," jawab Kapolsek. "Dan kalian segera menyusul."
***
Menjelang dini hari, Revin berdiri di teras rumah Budhe Salma dengan kopi hitam yang sudah dingin. Salma tidur di sofa ruang tengah dengan selimut kotak-kotak sampai ke dagu, wajahnya akhirnya longgar, tak lagi menahan apa-apa. Si kembar masih di rumah tetangga, dan dari kamar tamu terdengar Alvin mendengkur dengan irama yang sama sekali tidak ia akui di pagi hari.
Pintu kamar paling ujung terbuka. Budhe Ratna keluar sambil membawa sesuatu terbungkus kain batik lusuh. Ia berjalan pelan, tongkatnya mengetuk lantai, dan berhenti tepat di depan Revin.
"Kamu adik laki-lakinya Revan," katanya.
"Revin, Budhe."
"Revin." Ia mengulurkan bungkusan itu. "Ini catatan Prabu. Aku simpan sejak ia wafat, menunggu orang yang tepat. Bawa ke kakakmu. Dia tahu cara membacanya."
Revin menerimanya dengan dua tangan. Kain itu hangat, dan ia mendadak sadar tangannya gemetar sedikit.
"Ada apa di dalamnya, Budhe?"
"Urutan. Siapa bicara lebih dulu, siapa memegang apa, di mana kain putih diikat. Kakakmu sudah mendengar separuhnya dari Prabu sendiri. Separuh lagi ada di sini." Ia mengetukkan tongkat ke bungkusan itu dengan lembut, seperti menepuk kepala cucu. "Jangan kamu buka sendiri. Kitab ini tidak suka dibaca orang yang cuma ingin tahu."
"Baik, Budhe."
Ratna menatapnya lama, mata tuanya jernih. "Kami terlambat tiga tahun untuk anak-anak itu. Jangan terlambat sekali lagi."
Ia kembali ke kamarnya tanpa menunggu jawaban. Revin, yang dikenal paling tidak percaya takhayul di antara semua orang, baru sadar bahwa ia memeluk bungkusan itu ke dadanya seperti memeluk bayi.