"Gue gak bakal ngigau lagi," kata Felli sambil menaruh tas di kamar tamu. "Gue sudah minta Alvin ikat kaki gue ke ranjang."
"Aku tidak setuju diikat," sahut Alvin dari ruang tamu, tempat ia menggelar kasur lipat. "Aku setuju kamu tidur dengan lampu menyala."
"Lampu menyala itu boros listrik."
"Aku yang bayar."
Sabtu malam itu rumah Reynand berbau bawang goreng dan kayu putih. Revin dan Alvin sudah kembali dari desa sejak Rabu dengan bungkusan kain batik yang kini tergeletak di meja kerja Ayah, dipinjam Revan dan dibaca halaman demi halaman dengan kacamata baca yang Reyna baru tahu ia punya. Kamis Rio menelepon dengan suara serak: ibu Laras mengundangnya makan siang lagi bulan depan, dan ia sudah berjanji datang. Jumat tidak ada kabar apa-apa, dan justru itu yang membuat Reynand makin sering melongok ke jendela.
Felli menginap atas ide Siska, yang sedang lembur dan menitipkan satu pesan lewat grup: "Fel, lo jangan tidur sendirian di kost. Titik." Felli tidak membantah. Ia datang membawa bantal sendiri, sekantong keripik, dan wajah yang ia coba buat biasa-biasa saja.
Makan malam berjalan hangat dan agak terlalu ramai, seolah ada bunyi lain yang ingin ditutupi. Reyna memperhatikan Felli menyendok nasi dua kali tetapi menghabiskan separuhnya. Ia tidak bertanya. Ada hal yang hanya bisa keluar kalau tidak ditarik.
***
Pukul tiga lewat sedikit, kandung kemih Reyna membangunkannya, dan seperti kebiasaan seminggu terakhir, ia mengintip dulu keluar jendela kamar sebelum ke kamar mandi. Dari sini taman belakang tampak jelas di bawah lampu teras: bangku besi, pot-pot melati, dan pagar bata setinggi dada di ujung rumput.
Felli duduk di bangku itu. Pakai piyama, kakinya terlipat di bawah tubuh, tangannya di pangkuan.
Reyna sudah setengah membuka mulut untuk memanggil ketika ia melihat rumput di sekeliling bangku. Di antara helai-helai hijau yang basah embun, benang merah tipis menjalar seperti akar yang tumbuh terbalik, merambat dari arah pagar menuju kaki bangku, naik ke pergelangan Felli, dan melingkar di sana tiga kali.
Lalu terdengar suara.
"Kak Fel..."
Pelan sekali, dari balik pagar. Suara anak perempuan, yang manja dan ringan, dengan ujung kata yang naik. Reyna merasakan bulu kuduknya berdiri di seluruh lengan.
"Kak Fel, jemput Bunga dong. Bunga takut."
Felli berdiri.
"Rey!" Reyna sudah mengguncang bahu Reynand yang terbaring di sisinya. "Rey, bangun! Felli di taman!"
Ia tidak ingat bagaimana ia sampai di pintu belakang. Reynand berlari lebih dulu, bertelanjang kaki, dan Alvin muncul dari ruang tamu dengan kaus kusut karena ia memang tidak benar-benar tidur. Mereka sampai di rumput hampir bersamaan, dan Felli sudah berjalan ke arah pagar dengan langkah lambat, kepalanya sedikit miring, seperti orang yang sedang mendengarkan panggilan dari ujung lorong.
Alvin menyambar lengannya. "Fel! Fel, ini aku!"
"Lepasin, Vin." Suara Felli datar dan jauh. "Bunga manggil."
"Itu bukan Bunga," kata Reyna. Napasnya pendek-pendek, tangannya memegang perut. "Fel, itu bukan Bunga. Dengerin gue."
"Dia bilang dia takut. Waktu itu juga dia takut. Gue gak jemput."
"Allahumma shalli ala Muhammad," Reynand mulai, dan suaranya ikut bergetar, lalu ia sambung dengan Ya Nabi Salam Alaika.
Benang di pergelangan Felli menegang. Reyna melihat Felli tersentak ke depan setengah langkah, seolah ada yang menarik dari balik pagar, dan Alvin menancapkan kakinya ke tanah, memeluk Felli dari belakang dengan kedua lengan.
"Kamu gak boleh ke sana. Kamu denger aku? Kamu gak boleh!"
"Kak Fel, kok Kakak diam saja?" Suara anak itu menyedih. "Dulu Kakak juga diam."
Wajah Felli bergetar. Kedua matanya, yang tadinya kosong, tiba-tiba basah dan hidup, sadar sepenuhnya, dan ia berteriak.
"Gue yang maksa dijemput!"
Sholawat Reynand terputus. Alvin tidak melepaskan pelukannya.
"Gue yang telepon tengah malam! Gue yang bilang gue capek, gue mau pulang, jemput gue sekarang! Gue kesel, gue marah, gue maksa!" Air mata Felli mengalir deras ke pipi. "Dan mereka berangkat, dan mereka gak pernah sampai. Gue tahu Daddy bilang bukan salah gue. Gue tahu Alvin bilang begitu. Gue tahu, tapi gue gak bisa percaya!"
"Fel..."
"Gue yang minta dijemput," ulangnya, lebih pelan, dengan suara yang pecah. "Tapi gue bukan yang membunuh mereka. Bukan. Gue bukan yang membunuh mereka."
Benang di pergelangannya putus.
Bunyinya tipis dan pendek. Reyna melihat sisa benang itu melayang beberapa detik di udara, kemudian lenyap sebelum menyentuh rumput. Dari balik pagar, suara anak tadi tertawa kecil, tawa yang cepat memudar, lalu tidak terdengar lagi. Angin lewat di antara pot-pot melati.
Lutut Felli lemas. Alvin menahannya sampai mereka berdua terduduk di rumput basah, dan Felli menjerit dalam tangis, menyembunyikan wajah di dada Alvin.
"Aku di sini," kata Alvin. Ia mengulangnya dengan suara yang tidak sepenuhnya stabil. "Aku di sini, sayang. Aku di sini."
Di ambang pintu dapur, Lastri berdiri dengan gunting terkulai di tangan. Ia menatap pasangan itu, mengangguk sekali kepada Reyna, lalu menghilang pelan seperti kabut yang ditiup keluar jendela.
***
Subuh datang dengan teh jahe yang dibuat Reynand di dapur sambil menggerutu pelan. Mereka berempat duduk di teras belakang beralas selimut tebal, dan Felli, yang kedua matanya sudah bengkak seperti buah plum, menyeruput tehnya dengan dua tangan.
"Suaranya persis," katanya parau. "Gue hafal suara Bunga. Cara dia manggil gue 'Kak Fel', bukan 'Kak Felli', karena dia malas menyebut dua suku kata. Gimana mungkin dia tahu?"
"Dia tidak tahu," jawab Reynand. "Dia hanya mengambil dari kepalamu. Dari tempat kamu menyimpannya paling rapat."
"Jadi Bunga..."
"Bunga tenang, Fel." Reyna menggenggam jemarinya. "Gue gak bohong, dan gue gak bakal pernah bohong soal ini. Kalau Bunga atau ibu lo ada di sekitar lo, gue bakal lihat. Gue gak pernah lihat mereka di sekitar lo. Yang gue lihat tadi itu benang, bukan Bunga."
Felli diam lama. Di langit, warna biru gelap mulai mengencer jadi abu-abu.
"Kalau gue gak bilang kenceng-kenceng tadi, gue bakal jalan sampai pagar."
"Kamu bakal jalan sampai pagar," kata Alvin, duduk di sebelahnya dengan satu lengan masih melingkar di bahu Felli, "dan aku akan berdiri di depan pagar itu. Titik."
"Kamu gak punya wewenang menahan orang jalan di rumah orang."
"Aku polisi."
"Polisi juga gak boleh."
"Polisi boleh kalau urusannya kamu."
Reyna menahan tawa, dan Reynand yang diam-diam memandang langit mengangkat satu sudut bibirnya. Felli menoleh pada Alvin, mata bengkaknya menyipit, lalu meletakkan kepala di bahunya.
"Vin."
"Hm."
"Dengar aku, ya. Semalam aku pikir aku gak akan pernah selesai dengan hal itu. Ternyata tinggal diteriakin doang."
"Sering begitu," gumam Alvin. "Yang kita pikir berat itu ternyata cuma butuh telinga."
Felli mengangkat wajahnya dan menatap Reyna lurus-lurus. Tidak ada lagi bayang gelap di bawah matanya, hanya kelelahan yang jujur.
"Rey. Gue ikut ke gua itu. Gue gak takut lagi."
"Lo masih takut, Fel. Alvin juga. Kita semua."
"Iya, masih." Ia tersenyum, tipis. "Tapi sekarang gue takut sambil berdiri."