"Pak Polisi gugup, ya?" bisik perawat di meja pendaftaran, sambil melirik lelaki yang sedang mengisi formulir untuk kedua kalinya.
"Dia begitu dari kemarin," jawab Reyna. "Jangan ditanya."
Mereka tiba di poli kandungan Rabu pagi itu lima belas menit lebih awal, karena Reynand tidak percaya pada angka lalu lintas. Ia membawakan tas Reyna, dan harus mengisi formulir dua kali karena tulisan tangannya sendiri tidak terbaca.
Ruang periksa terasa lebih dingin daripada seharusnya. Atau mungkin hanya Reyna yang menggigil. Ia berbaring dengan baju terangkat sampai bawah dada, gel dingin merambat di perutnya, dan tangan Reynand di sisinya menggenggam begitu kuat sampai ia harus menepuknya dua kali supaya longgar.
"Maaf," bisik Reynand.
"Tanganku nanti kamu patahkan."
"Maaf."
Dokter kandungan itu, perempuan lima puluhan dengan sanggul sederhana yang sama seperti kunjungan sebelumnya, tidak berkomentar. Ia hanya memutar layar sedikit supaya mereka berdua bisa melihat, lalu menggerakkan alat itu pelan-pelan sampai sebuah bentuk kecil memenuhi layar abu-abu.
Dan di tengah bentuk itu, berkedip cepat seperti lampu kecil yang menolak mati, ada denyut.
"Empat belas minggu," katanya. "Detak seratus lima puluh, kuat dan teratur. Ukuran sesuai. Plasentanya bagus. Bercak yang kemarin itu sudah berhenti total, kan?"
"Sudah, Dok," suara Reyna keluar lebih serak dari yang ia maksud.
"Saya menunggu sepuluh detik tadi kalau-kalau ada yang aneh. Tidak ada." Dokter itu tersenyum kecil, lelah tetapi hangat. "Anak ini bandel. Sebagai dokter, kamu tahu saya tidak boleh bilang begitu. Tapi ya, bandel."
Reyna menangis. Bukan dengan suara, hanya air yang meluncur ke pelipis dan masuk ke rambut. Di sampingnya Reynand menunduk, kening menempel pada punggung tangannya sendiri yang masih memegang tangan Reyna, dan bahunya bergetar beberapa kali. Di sudut ruangan, di kursi plastik yang kosong menurut mata siapa pun, Lastri duduk tegak dengan tangan terlipat di pangkuan. Ia memandang layar. Garis seragamnya yang biasanya tegang tampak melonggar untuk sesaat.
"Dok," Reyna menelan ludah, "kalau saya harus pergi ke rumah kerabat di pegunungan, dua pekan lagi, perjalanannya sekitar tujuh jam. Boleh?"
Dokter itu mengangkat alis. "Tujuh jam duduk? Dengan syarat: berhenti tiap satu jam, jalan lima menit, minum cukup. Tidak mendaki cepat. Kalau ada kontraksi, nyeri, atau bercak, langsung putar balik, bukan lanjut."
"Mendaki pelan?"
"Seberapa tinggi?"
"Dua jam," sahut Reynand sebelum Reyna sempat menjawab. "Dengan tongkat. Saya yang menggandeng."
"Kalau begitu pastikan suamimu menggandeng sungguhan, bukan hanya berjanji." Dokter itu melirik Reynand dengan tatapan yang sudah pernah dipakainya pada banyak suami. "Dan kalau bisa, ditunda."
"Tidak bisa, Dok," jawab Reyna. Dokter itu hanya menghela napas, dan menulis sesuatu yang panjang di berkasnya.
***
"Kamu diam dari tadi," kata Reyna.
Mobil sudah terparkir di lahan parkir rumah sakit, mesin mati, kaca atas separuh terbuka. Reynand duduk dengan kedua tangan di kemudi, tidak menyalakan apa-apa. Foto USG pertama tergeletak di dasbor, dan ia hanya memandanginya tanpa berani menyentuh.
"Aku bahagia," katanya akhirnya. "Aku bahagia, dan aku takut sekali karena itu."
"Rey."
"Dua tahun lalu," ia menarik napas, "setelah kamu dibawa ke brankar malam itu, aku ke musala rumah sakit. Aku belum kenal kamu. Aku cuma tahu ada dokter muda yang pingsan sambil bilang 'ajaib', dan sesuatu di tanganmu yang tidak bisa kujelaskan. Aku berdiri di sana sampai subuh."
Reyna tidak menyela.
"Aku tidak tahu kenapa, tapi aku berdoa. Aku bilang..." Suaranya putus. Ia mengulang dari awal. "Aku bilang, 'Ambil apa saja dariku. Apa saja. Asal dia selamat.'"
Hening yang panjang. Dari kejauhan, klakson ambulans menggema lalu mereda.
"Aku bicara pada Allah. Tapi sesudah Revan menjelaskan soal Penagih, soal pakta, soal hal yang dikabulkan tanpa dibalas..." Ia menggeleng. "Bagaimana kalau ada yang mendengar doa itu selain Dia? Bagaimana kalau yang mendengarnya sedang menunggu? Bagaimana kalau malam di gua, yang mereka ambil bukan ingatanmu atau anak kita, tapi aku?"
"Reynand."
"Itu yang kusimpan. Bukan cuma sungai. Itu juga."
"Masih ada lagi?" Reyna bertanya pelan. "Di lemari itu?"
"Tidak. Itu yang terakhir. Sumpah..."
"Jangan bersumpah. Bilang saja."
"Itu yang terakhir."
Reyna menatapnya, dan sesuatu dalam dada naik sampai ke tenggorokan, panas dan tajam. Ia tidak tahu apakah itu marah atau takut, atau keduanya terlalu rapat untuk dibedakan.
"Kamu bodoh," katanya.
"Aku..."
"Kamu bodoh, Rey. Kamu tidak boleh menawar dirimu lagi." Suaranya naik, pecah. "Aku sudah pernah bilang 'ambil saja' di lorong itu karena aku capek, karena aku merasa tidak berguna, dan lihat apa jadinya. Dua tahun. Dua tahun dan anak kita hampir berhenti detak. Jangan kamu pikir kalimat seperti itu cuma dilempar ke langit lalu hilang!"
"Aku tahu."
"Kamu gak tahu! Kalau kamu tahu kamu gak bakal berpikir sampai sejauh itu!" Air matanya mengalir, tidak ia seka. "Aku mau suami yang berdoa supaya sehat, bukan yang mengajukan diri jadi tumbal. Kamu pikir aku bisa membesarkan anak ini sendiri? Kamu pikir aku mau?"
"Rey," ujar Reynand lirih, "bukan itu maksudku."
"Lalu apa?"
"Maksudku, waktu itu aku tidak punya hal lain untuk ditawarkan."
Reyna terdiam. Napasnya tersengal. Reynand menoleh akhirnya, matanya merah, dan ia tersenyum, sangat tipis, sangat salah tempat.
"Dan sekarang aku punya banyak. Kamu, dia. Aku tidak mau menawar apa pun lagi."
Pelan, Reyna mengulurkan tangan, menyentuh wajahnya, dan Reynand memejamkan mata di bawah telapaknya.
"Janji," katanya.
"Janji. Aku ingin menariknya kembali, tapi aku tidak tahu ke siapa."
"Ke tempat itu," jawab Reyna. "Di depan semua orang. Kita tarik bersama."
Reynand mengangguk, dan kening mereka bertemu di antara kursi.
Ketukan di kaca membuat keduanya terlonjak.
Dr. Nina berdiri di samping mobil dalam snelli putih dengan sebuah kotak makan di tangan, rambut dikuncir rapi, wajah sekaku biasa. Reynand menurunkan kaca.
"Maaf mengganggu." Nina menyodorkan kotak itu lewat jendela. "Sup ayam. Aku tidak masak, jadi tolong jangan berharap banyak. Tapi aku tahu kamu di poli pagi ini, dan aku..." Ia berdeham. "Aku mau ikut ke sana."
"Ke mana?" tanya Reyna, walau ia sudah tahu.
"Ke tempat Revan menyebutnya. Aku mendengar dari Felli kemarin, setelah dia cerita semuanya pelan-pelan di pantri." Ia menegakkan bahu. "Aku tahu aku bukan siapa-siapa di sana. Tapi kalau ada yang pingsan, kalian butuh seorang anestesi. Itu pekerjaanku. Satu-satunya yang aku tahu aku bisa."
"Nin," kata Reyna hati-hati, "beberapa pekan lalu kamu pingsan di meja operasi gara-gara benang itu. Kamu yakin?"
"Dan dua malam sesudahnya aku masih menyangkal semua yang kulihat. Aku menyalakan lampu di seluruh rumah." Sudut bibir Nina bergerak, bukan senyum, lebih mirip tarikan otot yang lupa caranya. "Sekarang aku sudah berhenti menyangkal. Itu kemajuan, kan?"
Reynand dan Reyna berpandangan.
"Kamu tahu syaratnya?" tanya Reynand. "Setiap orang harus mengucapkan satu hal."
"Aku tahu." Nina tidak berkedip. "Aku punya satu yang belum kuucapkan. Bukan yang kuucapkan di kamar rawat itu."