Nina datang ke rumah mereka sore itu juga untuk mendengar jawabannya, dan Revan, yang masih membaca kitab di rumah Ayah, mendengarkan lewat pengeras suara ponsel Reynand. "Boleh," kata Revan setelah diam cukup lama. "Syaratnya sama dengan yang lain: kain putih, satu pengakuan yang jujur, dan berjalan di barisan belakang." Nina mengangguk tanpa membantah, bahunya turun, lega. Empat hari berikutnya sepi, nyaris terlalu sepi, sampai ponsel Reynand berdering di dapur pada Minggu pagi.
"Reyna tidak sedang bertugas," kata Reynand ke ponsel. Ia berdiri di dapur dengan sendok nasi goreng masih di tangan kiri, dan matanya tidak lepas dari Reyna yang duduk di meja makan. "Dia cuti, Arman. Kamu tahu itu."
Suara Arman di seberang terdengar jelas sampai ke seberang meja karena pengeras suara menyala. "Aku tahu. Aku tidak minta dia memeriksa pasien. Aku hanya minta dia melihat gambar yang dibuat anak ini. Hanya melihat, Reynand. Lalu kalian boleh pulang."
"Anak siapa?"
"Perempuan, delapan tahun. Masuk IGD semalam jam sebelas, dibawa ibunya. Tiba-tiba tidak bisa bicara. Semua pemeriksaan bersih. Pita suara, saraf, tidak ada." Jeda sebentar. "Dan sejak tengah malam dia menggambar hal yang sama. Berkali-kali. Aku sudah menahan diri menelepon sampai pagi."
Reyna sudah berdiri sambil meraih cardigan dari sandaran kursi. Reynand menghela napas panjang, panjang sekali, lalu mematikan kompor.
"Tiga puluh menit," katanya. "Dan aku yang menyetir, dan aku yang menggandeng, dan kamu duduk begitu kami sampai."
"Iya, Komandan."
"Jangan panggil begitu waktu aku sedang cemas."
Minggu pagi, lorong lantai dua anak berbau susu dan cairan pembersih yang manis. Arman menunggu di depan pintu kamar rawat dengan snelli yang kancingnya terlewat satu, rambut yang belum disisir, dan ujung boneka kelinci mencuat dari saku. Ia menyingkir dari ambang pintu tanpa banyak kata, tapi sempat berbisik lebih dulu.
"Ibunya bilang anak ini belum pernah ke rumah sakit ini seumur hidupnya. Rumah mereka dua kota dari sini, dan mereka datang karena IGD terdekat penuh." Ia mengusap tengkuk. "Jadi tidak mungkin dia pernah dekat sayap lama. Tidak mungkin sama sekali."
Di atas tempat tidur kecil, anak perempuan berkepang dua duduk bersila dengan lembar-lembar kertas berserakan di sekelilingnya. Ibunya, perempuan muda dengan mata bengkak, duduk di tepi ranjang memegang sebelah kakinya seolah takut anak itu menguap. Anak itu menatap Reyna begitu ia masuk, lurus-lurus, tanpa senyum, tanpa takut. Tangan kanannya masih menggenggam krayon merah yang sudah tinggal separuh.
"Dia hanya mau krayon merah," bisik ibunya. "Sudah tujuh batang habis, Dok."
Reyna melihat gambar-gambar itu. Satu per satu. Semuanya sama: garis merah tipis yang berkelok panjang, melingkar-lingkar seperti kawat, dimulai dari pergelangan seorang anak kecil dan memanjang keluar dari bingkai kertas. Di gambar yang paling baru, garis itu bertemu sebuah bangunan, kotak berjendela banyak dengan atap miring dan tulisan yang tidak terbaca di atas pintunya.
"Itu sayap lama," bisik Arman di telinganya. "Aku yakin."
Reyna menelan ludah. Benangnya sendiri berdenyut di bawah lengan baju, cepat dan gelisah, dan tangan kirinya turun sendiri ke perut, menutupinya, seperti yang akhir-akhir ini sering ia lakukan tanpa sadar. Dan ketika ia menatap pergelangan kecil di atas seprai itu, ia melihatnya: benang merah yang nyata, tebal dan hidup, mencuat dari kulit anak itu, naik lewat dinding seperti ditarik dari balik beton, menuju arah lorong.
***
Mereka keluar kamar, Reyna dengan langkah yang tidak lagi sepenuhnya sadar. Reynand dan Arman mengikuti di sisi kiri dan kanannya. Benang itu terbentang di udara, berkelok melewati kantor perawat, lorong linen, dan berujung di pintu ganda kayu di ujung koridor paling belakang yang biasanya dikunci dengan rantai.
Pintu sayap lama.
Dan di ambangnya, Lastri sudah berdiri. Seragam putih yang kusam, kulit melepuh di balik lengan baju, gunting terangkat di depan dada seperti perisai kecil. Wajahnya menghadap ke dalam gelap. Ia tidak menoleh pada mereka.
Benang itu menembus tubuhnya begitu saja, seperti kabel menembus kabut. Di sisi lain, ia menghilang dalam gelap yang pekat.
"Dia menahan sesuatu," bisik Reyna. "Lastri tidak pernah berdiri begitu."
"Berhenti di sini, Yang." Reynand sudah menghalangi jalannya, satu lengan melintang di depan perutnya. "Jangan satu langkah lagi."
"Rey, anak itu..."
"Aku tahu."
"Dia dipanggil lewat benang yang sama seperti aku. Aku harus lihat apa yang ada di dalam."
"Tidak." Suara Reynand pelan dan sangat keras kepala. "Syarat kita di sayap itu, ingat? Ambang pintu. Dan itu pun cuma kalau kita punya urusan dengan Lastri, bukan kalau ada sesuatu yang memakai anak kecil untuk memancing kamu keluar."
Arman memucat. "Memancing?"
"Kenapa anak itu, Man? Kenapa anak delapan tahun yang tidak pernah mendengar kata Penagih dalam hidupnya? Kenapa benangnya tidak ke arah kami, tapi ke sini?" Reynand menggeleng. "Karena dia tahu Reyna akan datang. Dia tahu kita tidak akan membiarkan anak itu."
Di ambang pintu, Lastri menoleh sekali. Matanya yang melepuh bertemu mata Reyna, dan ia mengangkat guntingnya setinggi dada, lalu menurunkannya perlahan ke bawah. Gerakan kecil, jelas, seperti ibu yang menyuruh anaknya diam di tempat.
Reyna mundur satu langkah. Lalu dua.
"Doa," katanya. "Kita bacakan di kamarnya. Dari sini."
***
Mereka bertiga kembali ke kamar rawat itu. Reynand duduk di tepi ranjang, tangannya menangkup tangan kecil yang masih memegang krayon, dan mulai membaca surat pendek dengan suara rendah yang stabil. Ibu anak itu menunduk dan ikut menggumam. Arman berdiri di kaki ranjang dengan kedua tangan terkepal di saku, di dekat boneka kelinci.
Pada ayat ketiga, benang di pergelangan anak itu bergetar, kendur, dan satu helai menjauh dari kulitnya seperti kain ditarik dari paku. Anak itu menarik napas panjang, tersedak, lalu terbatuk keras sambil menunduk.
"Ibu," katanya.
Ibunya menjerit kecil dan memeluknya. "Sayang! Dek! Kamu bisa bicara!"
"Haus," bisik anak itu serak, dan Arman buru-buru menuangkan air dari kendi.
Reyna tidak sempat tersenyum. Anak itu meletakkan gelas, menoleh perlahan ke arahnya, dan di wajah kecil yang masih sembap itu terpasang ekspresi yang bukan miliknya, datar, tua, sabar sekali. Suara yang keluar dari mulutnya bukan suara anak delapan tahun.
"Purnama," katanya. "Aku sudah menunggu."
Krayon merah di tangannya patah menjadi dua.
"Dok?" Ibu itu mendongak pada Arman, wajahnya pucat. "Barusan dia bicara apa? Suaranya kok..."
"Tenang, Bu." Arman maju, memasang suara paling rata yang bisa ia kumpulkan, dan tangannya yang memegang kelinci sedikit gemetar. "Dia baru sembuh dari mogok bicara, kadang suaranya aneh dulu. Biar dia tidur. Saya periksa lagi sebentar lagi."
Kepala anak itu sudah jatuh ke bahu ibunya, napasnya panjang dan teratur. Reynand menarik tangannya perlahan dan menatap Reyna di atas kepala si kecil. Tidak ada kata yang perlu diucapkan antara mereka. Mereka meninggalkan ibu dan anak itu di bawah pengawasan seorang perawat jaga, lalu berdiri bertiga di koridor, agak jauh dari pintu kamar.
"Dia menyebut tanggalnya," kata Reyna pelan. "Lewat anak delapan tahun. Aku benci itu."
"Aku juga." Reynand menggosok wajahnya dengan kedua telapak. "Dan itu artinya dia sabar. Orang yang sabar lebih berbahaya daripada orang yang marah."
"Aku akan minta petugas periksa gembok sayap lama hari ini," kata Arman. "Dan kunci cadangannya kubawa pulang."
"Jangan buka." Reynand menatapnya tajam. "Apa pun yang kamu dengar dari dalam, jangan buka."
"Aku tidak sebodoh itu."
"Kamu membawa boneka kelinci ke dalam saku snelli, Arman."
"Itu bukan bodoh, itu perlengkapan kerja."
Reyna nyaris tertawa, tetapi suaranya tertahan di tenggorokan. Dari ujung lorong yang paling jauh, rantai pada pintu sayap lama berderak sekali, keras, seperti ada yang menariknya dari dalam.