Rantai itu berderak lagi, lebih keras, dan Arman melompat mundur sampai punggungnya menabrak dinding. Reynand sudah menarik Reyna ke belakang punggungnya. Di ambang pintu sayap lama, Lastri tidak bergeser sedikit pun; gunting di tangannya terangkat, dan dari celah daun pintu terdengar sesuatu menggaruk kayu dari dalam, pelan, sabar, seperti kuku.
"Jangan dekati," kata Reyna, hampir tanpa suara. "Dia menahannya."
Petugas keamanan datang berlari lima menit kemudian dengan kunci cadangan, dan mereka semua menahan napas ketika gembok diperiksa. Gembok itu masih rapat, berkarat, tak tersentuh. Rantai tergantung diam. Garukan itu berhenti begitu lampu senter menyorot celah pintu, dan Lastri, tanpa menoleh, surut ke dalam gelap seperti air yang ditarik kembali.
Lampu kuning ruang tengah sudah dinyalakan sejak pukul empat sore Rabu itu, tiga hari sesudahnya, dan itu tanda pertama bahwa Revan akan mengatakan sesuatu yang berat. Di meja kopi, bungkusan kain batik dari Budhe Ratna sudah terbuka, memperlihatkan sebuah kitab setebal telapak tangan dengan sampul kulit yang menghitam di sudut-sudutnya. Halaman-halamannya bertulis tangan, tinta cokelat yang memudar, huruf Jawa dan Latin bergantian. Anak delapan tahun itu sudah pulang bersama ibunya dalam keadaan sehat dan tidak mengingat apa-apa. Justru karena tenang itu, Reyna merasa seperti menunggu hujan yang tak kunjung turun.
Revan duduk bersila di lantai, bukan di sofa, punggung tegak. Rambutnya lebih kusut daripada biasa. Sejak kitab itu datang, ia tidur tiga jam semalam.
"Duduk dulu, Dek," katanya. "Reynand juga. Kakak mau kalian berdua dengar."
"Kakak membaca ini sejak Rabu lalu," katanya, menepuk sampulnya. "Sebagian besar sudah kakak terima dari Eyang lewat mimpi. Ada satu halaman yang tidak."
Ia membuka sampai ke tengah dan memutar kitab itu menghadap Reyna. Di sana tertulis daftar pendek bernomor, ditulis dengan aksara Jawa yang tidak Reyna kuasai. Hanya baris pertama yang ia kenali: Prabu. Baris kedua ditambahkan kemudian dengan tinta yang lebih terang, dan Revan membacakannya perlahan: putri Prabu.
"Itu Bunda," bisik Reyna.
"Bunda penjaga sebelum kamu, Dek."
Hening. Jam dinding berdetak. Dari dapur terdengar air menetes dari keran yang belum rapat.
"Aku..." Reyna menggeleng. "Bunda? Bunda penjaga?"
"Sejak Eyang tua. Bunda yang memegang kalung itu sebelum kamu, dan setelah Bunda pergi, kalung itu pindah ke kakak lalu ke kamu." Suara Revan datar, tetapi jari-jarinya di atas kitab memutih. "Dan Penagih sudah menagih Bunda sebelum Reyna."
Reyna teringat sesuatu yang selama ini ia kira hanya ingatan anak kecil. Bunda yang duduk di teras sampai larut, memandang pagar kosong dengan secangkir teh yang sudah dingin, dan ketika Reyna kecil bertanya sedang melihat apa, Bunda hanya tersenyum dan berkata, "Menjaga langit, Dek." Ia mengira itu candaan. Ia tidak pernah bertanya lagi.
"Menagih apa?" Reynand bertanya pelan.
"Eyang tidak pernah bilang. Kakak hanya tahu Bunda menahannya sendirian. Sebulan sebelum Bunda jatuh sakit, Eyang datang di mimpi kakak, bilang benang itu sudah melingkari Bunda. Kakak telepon Bunda keesokan harinya. Bunda tertawa dan bilang kakak kebanyakan tidur siang."
"Tapi Bunda tahu," kata Reyna.
"Bunda tahu. Dua hari kemudian beliau menelepon balik dan melarang kakak membicarakannya. Kepada Ayah. Kepada kamu." Revan menelan ludah. "Bunda bilang, 'Jangan menakut-nakuti adikmu, dia belum kuat. Ayahmu juga sedang sibuk menjaga negara.' Dan kakak taat. Kakak pikir menaati Bunda itu bentuk menghormati."
Benang di pergelangan Reyna berdenyut. Ia tidak sadar sudah menahan napas.
"Kakak ditugaskan jauh waktu itu. Tiga puluh jam perjalanan dari sini. Bunda wafat saat kakak sedang berdiri di pos di tengah hujan, memegang radio, dan baru dapat kabarnya dua belas jam kemudian." Matanya basah tetapi suaranya tidak pecah, dan itu yang membuat dada Reyna terasa sesak. "Kalau kakak bicara pada kalian waktu itu, mungkin Ayah pulang lebih cepat. Mungkin kamu ada di sana. Mungkin kakak sendiri tidak berdiri di pos itu. Kakak simpan itu. Sekian lama. Dari Ayah, dari kamu, bahkan dari Revin."
Reyna melihat itu: benang tipis, merah, melingkar di jari tengah tangan kanan Revan yang memegang halaman kitab. Ia menegang seperti kawat yang ditarik pelan dari dua ujung.
"Kak," kata Reyna, "itu bukan salah kakak."
"Kakak tahu. Kakak sudah tahu itu dari dulu." Revan menghembuskan napas. "Tapi kakak baru bisa bilang keras-keras hari ini."
Benang itu putus tanpa bunyi.
***
Pintu dapur berderit, dan sebelum ada yang menoleh, suara sepatu bot yang sangat dikenal sudah melangkah masuk.
Ayah berdiri di ambang ruang tengah dengan tas kain di tangan, rupanya membawa makanan dari rumah dan masuk lewat halaman belakang karena pagar depan terkunci. Wajahnya berubah ketika ia melihat kitab terbuka di lantai dan wajah putra sulungnya.
"Yah..." Revan setengah berdiri.
"Jendela dapur terbuka." Ayah meletakkan tas itu di meja, perlahan, seperti menaruh sesuatu yang mudah pecah. "Ayah tidak bermaksud menguping. Tapi Ayah dengar cukup."
Hening. Reynand beringsut mundur setengah langkah, memberi ruang.
"Ayah tahu Bunda menyimpan sesuatu," lanjut Ayah. "Sejak dulu, Ayah tahu. Setiap kali Ayah pulang, Bunda lebih diam. Pernah Ayah tanya, dan Bunda hanya bilang, 'Yang penting kamu pulang dengan selamat.' Ayah tidak desak. Ayah pikir itu urusan perempuan." Rahangnya bergerak. "Ayah salah. Ayah pikir diam itu menghormati. Rupanya hanya kita bertiga yang saling mengira begitu."
"Yah, kakak..."
"Revan." Suara Ayah rendah, tetapi tak bisa dibantah. "Bunda memilih kamu bukan karena kamu bersalah. Bunda memilih kamu karena kamu yang paling kuat memegang janji. Dan kamu memegangnya terlalu lama."
Revan menunduk, bahunya bergetar. Reynand, yang sejak tadi diam, akhirnya berkata pelan, "Kak. Aku juga menyimpan karena disuruh. Dua tahun. Aku tahu rasanya, dan aku tidak akan pernah menghakimi Kakak untuk itu."
Revan mengangkat wajah dan menatapnya lama. "Kamu adik ipar yang aneh, Rey."
"Kakak yang suruh aku diam."
"Dan sekarang kakak yang suruh kamu bicara." Sudut bibir Revan terangkat, pahit dan lega sekaligus. "Kita ini konsisten."
Ayah melangkah dua kali, dan ia, tentara yang jarang menyentuh anak-anaknya di depan orang, merengkuh putra sulungnya, lalu menoleh dan merentangkan satu lengan lagi.
"Sini, Nak."
Reyna bangkit tertatih dan masuk ke pelukan itu. Bau seragam, bau sabun cuci, bau tembakau tipis yang entah kapan Ayah mulai pakai. Revan di satu sisi, dia di sisi lain, dan perut yang membuncit sedikit di antara mereka. Reynand berdiri di dekat pintu dapur dengan kedua tangan terlipat, dan Reyna melihat bahunya turun, lega.
Lama sekali mereka bertiga seperti itu.
***
Ketika Ayah dan Revan pergi ke dapur untuk cuci muka, Reyna tinggal dengan kitab terbuka di pangkuan. Ia menyentuh baris kedua pada daftar itu dengan ujung jari, aksara yang tidak ia baca tetapi sekarang ia hafal bentuknya.
Reynand duduk di sisinya, tanpa bicara.
"Dia menagih Bunda," kata Reyna. "Lalu menunggu sampai aku besar, lalu menandai aku, lalu mengincar anakku. Dia tidak pernah berhenti menunggu."
"Rey."
"Kalau aku menunggu dia datang ke kita lagi, dia akan datang lagi. Entah di meja operasi, entah di USG, entah di mimpi." Ia menutup kitab itu dengan kedua tangan. Cincin batu hijau tua dari Bunda di jari manisnya ikut menyentuh sampul kulit yang dingin, dan untuk sesaat ia berani bersumpah logam itu hangat. "Aku yang akan menutupnya, bukan menunggu ditagih."