"Ibuku tidak pernah membuang apa pun," kata Arman. "Itu kelemahannya, dan hari ini kelemahan itu jadi satu-satunya alasan aku bisa duduk di sini."
Jumat pagi, ia duduk di ujung sofa rumah Reynand dengan kotak kayu kecil di pangkuan, dan kedua tangannya memegang kotak itu seolah takut tutupnya akan membuka sendiri. Ia datang tanpa snelli, hanya kemeja kotak-kotak yang kusut, dan tanpa boneka kelinci, yang membuat Reyna entah kenapa merasa ia tampak lebih muda dari biasanya. Di dapur, Reynand memanaskan sup sambil sesekali mengintip lewat jendela penyekat.
"Aku menelepon ibuku Rabu malam," lanjut Arman. "Sejak Minggu di depan pintu sayap lama itu, aku tidak berhenti memikirkan Lastri. Ibu langsung diam. Lama sekali. Lalu dia bilang, 'Kamu sudah siap, ya.' Aku tanya siap apa. Dia tidak menjawab. Besoknya paketnya sampai."
Ia membuka tutup kotak. Di atas kain beledu hijau yang sudah pudar, tergeletak sebuah gunting kecil berkarat, gagangnya hitam dan bilahnya sedikit bengkok, ujungnya tumpul seperti sudah terlalu sering memotong benang.
"Itu dari kebakaran," katanya. "Ibu bilang waktu petugas menggendongku keluar, gunting ini terselip di selimutku. Dia tidak tahu dari siapa. Dia tidak berani membuangnya, tidak berani juga membukanya di depan siapa pun. Tiga puluh dua tahun ia simpan di dalam kotak sulaman, di bawah benang-benang."
Reyna tidak berani menyentuhnya. Udara di sekitar kotak itu mendadak berubah, lebih dingin dan sedikit berbau hangus yang sangat samar. Benang di pergelangannya menegang.
Lastri muncul di dekat jendela, tidak tegak seperti biasa. Ia berdiri pelan-pelan, hampir ragu, kedua tangan terangkat di depan dada. Tangannya yang melepuh bergetar ketika ia menatap gunting itu, lalu menatap Arman.
"Dia ada di sini," bisik Reyna.
Arman tidak menoleh. Ia hanya menahan napas, matanya kaku menatap kain beledu. "Katakan padaku, apa yang dia lakukan?"
"Dia menunduk." Suara Reyna nyaris pecah. "Dia berterima kasih padamu, Arman. Dan dia minta maaf karena tidak bisa membawanya sendiri."
Arman menelan ludah, lalu memejamkan mata. "Ibu menyimpannya buat dia, rupanya. Bukan buatku."
"Arman." Reynand muncul dari dapur dengan dua mangkuk sup dan wajah yang sengaja datar. "Satu hal dulu. Kamu tidak ikut ke gua."
"Aku ikut."
"Kamu dokter anak. Kamu bukan..."
"Aku bayi keempat, Rey." Arman membuka mata, dan suaranya jernih. "Dia menyelamatkan aku dari api, dan dia masih berdiri di lorong itu tiga puluh dua tahun. Kalau gunting ini harus sampai ke sana, aku yang membawanya. Aku tidak mau lagi jadi orang yang diselamatkan dan cuma bilang terima kasih dari jauh."
Reynand menaruh mangkuk di meja, lalu menyodorkan satu ke arahnya. "Makan dulu. Orang yang mau bicara sehebat itu butuh tenaga."
Arman menerima mangkuk itu, dan ia tertawa kecil, singkat.
***
Sore harinya, ruang tengah berubah jadi gudang. Di lantai berserakan tiga koper terbuka, dua ransel, kantong belanja berisi vitamin, jaket, sarung tangan, termos, dan satu tongkat jalan dari kayu jati yang dititipkan Ayah. Siska berdiri di tengahnya sambil bertolak pinggang, sementara Felli mencentang daftar di buku catatan, dan Valen bersila di lantai melipat selimut.
"Satu koper ini bisa dikembalikan," kata Valen.
"Tidak bisa." Siska menolak. "Itu koper kecil."
"Kita naik gunung, Sis."
"Gue naik gunung dengan gaya." Siska mengangkat sebuah kimono sutra dari dalam koper. "Dan kalau gue harus mengaku di depan Penagih, gue mau mengaku dalam pakaian yang bikin gue merasa kuat."
"Itu kimono, bukan baju zirah."
"Bagi gue itu zirah."
Felli mendongak dari bukunya. "Gue sudah coret kimono dua kali, tapi dia masukin lagi tiap kali gue balik badan."
"Dia diam-diam menyelipkannya di bawah handuk," tambah Valen.
"Kalian ini," kata Reyna dari sofa, tertawa sampai perutnya terasa kaku. "Kalian mau menenangkan gue atau mau bikin gue keburu melahirkan?"
"Dua-duanya," jawab Siska ringan. Lalu, tanpa menoleh, ia menaruh kimono itu di tumpukan yang dikembalikan, dan menggantinya dengan jaket tebal berwarna abu. Ia melakukannya diam-diam, cepat, seperti orang yang takut tertangkap sedang bersikap baik.
Felli mencentang satu baris lagi. "Vitamin: ada. Obat mual: ada. Tensi: ada. Gue: ada." Ia menutup bukunya dan menatap Reyna. "Gue juga bawa stetoskop, Rey. Kalau denyut bayi turun sedikit saja, gue bakal tahu duluan dari Reynand."
"Reynand?"
"Dia pasti yang pertama sadar. Gue sudah lihat caranya menatap lo."
Valen berdeham. "Cerita lain: gue dan Revin sudah janji. Kalau semua ini selesai, kita ambil cuti seminggu dan tidur sepuas-puasnya."
"Itu bukan janji, itu ancaman," kata Felli.
"Itu rencana yang masuk akal."
Siska mendadak berhenti melipat. Ia menatap lantai di antara lututnya, lalu bicara pelan tanpa menoleh. "Gue sudah tahu apa yang bakal gue ucapkan di sana. Gue cuma belum tahu bagaimana mengatakannya tanpa kedengaran sombong."
"Ucapkan saja," kata Reyna. "Sombong atau tidak, Penagih cuma peduli pada yang jujur."
"Gampang buat lo ngomong."
"Cuma itu yang gue punya."
Siska mengangkat wajah, dan tersenyum, tipis dan sedikit miring. "Oke."
Tawa pecah lagi sesudahnya, dan di antara tawa itu Reyna memperhatikan wajah-wajah sahabatnya, satu per satu. Tiga perempuan yang sore ini berdebat soal koper, dan dua hari lagi akan berangkat menaiki gunung menemui penagih tua yang menunggu terlalu lama.
***
Malam turun tenang. Lampu kamar dimatikan kecuali satu lampu tidur di sisi Reynand. Reyna berbaring miring dengan bantal di antara lututnya, tangan di perut. Reynand duduk bersandar di kepala ranjang.
Sudah lima menit Reynand membolak-balik ponsel di tangannya, menghitung ulang daftar yang Felli kirimkan: jam berangkat, rest area, nomor Kapolsek, nomor rumah sakit terdekat dari desa. Setiap kali ia mengira sudah selesai, ia menemukan satu baris lagi.
"Kamu sudah baca itu empat kali," kata Reyna.
"Tiga."
"Aku hitung dari tadi."
Reynand mematikan layar dan menaruhnya di meja, tengkurap, seakan ponsel itu bisa menggigit. "Kalau aku berhenti menghitung, aku mulai berpikir."
"Berpikir itu boleh."
"Berpikir itu menakutkan." Ia tersenyum miring.
"Aku sudah memikirkannya," kata Reyna.
"Soal?"
"Namanya. Kalau perempuan."
Reynand menoleh. Cahaya lampu tidur membuat wajahnya tampak lebih lembut. "Aku kira kita belum boleh bicarakan ini sampai bayinya lahir."
"Tidak ada yang melarang." Reyna menatap langit-langit. "Laras."
Reynand terdiam lama. "Karena..."
"Karena dia datang waktu aku tidak mau melihat apa-apa. Karena dia mau Ibunya tahu. Karena dua kali terima kasih." Suaranya serak. "Dan karena kalau bayi ini lahir selamat, dia akan membawa nama anak yang tidak sempat pulang."
Reynand menunduk dan mencium dahinya. "Laras. Aku suka."
"Kamu setuju?"
"Aku setuju sebelum kamu selesai bicara." Ia menarik selimut sampai ke dagu Reyna, lalu bergeser turun hingga telinganya sejajar dengan perut itu. Ia mulai membaca sholawat, pelan sekali, nyaris sebisik, "Allahumma shalli ala Muhammad", seperti menidurkan seseorang yang belum bisa mendengar.
Reyna memejamkan mata. Di bawah telapaknya, di bawah perutnya yang hangat, sesuatu yang kecil tetapi nyata seolah ikut mendengarkan.