Mercy putih itu sudah berhenti empat kali sebelum pukul sembilan, dan Felli menghitung semuanya dengan jari.
"Satu jam sudah lewat," katanya dari kursi belakang. "Lima menit jalan kaki. Itu aturan dokter."
"Aku sudah berhenti tiga kali," protes Reynand.
"Sekarang empat. Ada masalah?"
Mobil menepi di bahu jalan yang luas, di bawah deretan pohon asam. Konvoi tiga mobil meninggalkan rumah Ayah Minggu pukul enam pagi, dengan mobil Reynand di depan: Reyna di jok sebelahnya, Felli dan Nina di belakang, dan tongkat jati milik Ayah berbaring di antara mereka seperti penumpang kelima. Mobil Revin menyusul membawa Valen, Siska, Angga, dan Alvin yang sejak jam pertama sudah memimpin nyanyian dangdut. Mobil ketiga disetir Ayah sendiri, dengan Revan, Arman, Rio, dan Doni mengisi sisanya dalam diam.
Reyna turun dengan bantuan dua orang dan berjalan pelan di sepanjang bahu jalan, lima menit, sambil menahan pinggangnya. Mobil Ayah berhenti tepat di belakang mereka, dan Ayah turun membawa termos kecil.
"Minum," kata Ayah, menuangkan teh jahe ke tutup termos. "Jangan membantah. Ayah sudah sepuluh tahun tidak pernah membuat teh untuk siapa pun, jadi hargai."
"Ayah belum pernah membuat teh untuk siapa pun?"
"Belum pernah yang enak." Ayah mengangkat bahu. "Tapi yang ini lumayan."
Reyna tertawa, meminum sampai tandas, dan baru ketika ia mengembalikan tutup termos ia sadar tangan Ayah sedikit bergetar. Dari belakang, terdengar bisikan Felli kepada Nina.
"Lo duduk di belakang gue tiga jam ini, Nin, dan lo belum ngomong sepatah kata pun."
"Aku sedang berpikir."
"Soal apa?"
"Soal apa yang akan kuucapkan Rabu." Nina menatap jendela. "Dan soal apakah Reyna mau mendengarnya."
"Dia mau," kata Felli. "Dia selalu mau. Itu masalahnya."
Perjalanan berlanjut. Tiga jam, empat jam, dan hutan mulai menggantikan sawah di kiri-kanan jalan. Pukul sebelas lewat, di tikungan yang menanjak, mobil Ayah di depan mendadak menyalakan lampu rem, dan satu per satu mobil di belakangnya ikut berhenti. Seorang petugas dengan rompi oranye berdiri di tengah jalan sambil melambai.
"Longsor semalam," katanya, menunjuk ke depan. Gundukan tanah merah dan batang pinus patah menutup seluruh badan jalan, dan dua orang dengan cangkul sedang bekerja di tepinya. "Butuh sampai besok untuk dibuka. Bapak-Ibu bisa putar lewat jalur lama, dua jam lebih lambat, tapi aman."
Revan turun dari mobil Ayah dan berdiri lama menatap peta di ponselnya. "Jalur lama," katanya kepada Reynand lewat jendela. "Laras yang tunjukkan jalurnya dulu."
"Jembatan tempat mobil mereka dibuang," kata Reyna pelan.
"Ya."
Jalur lama sempit, berlubang, dan dinaungi pohon-pohon besar yang menutup langit. Cahaya turun dalam bercak-bercak. Mereka melewati jembatan beton yang bagian pegangannya runtuh, dan tak seorang pun bicara ketika roda melintas di atasnya. Reyna menatap sungai cokelat di bawah, dan membaca sebuah doa singkat tanpa suara.
Lalu ia melihat mereka.
Di tepi jalan, di bawah pohon-pohon, berdiri tujuh sosok dalam jarak yang teratur. Seorang perempuan tua berkain dengan bakul di punggung. Lelaki yang memikul cangkul. Dua anak yang berpegangan tangan. Pakaian mereka lusuh dan kuno, warna-warnanya pudar, dan wajah-wajah mereka tidak galak, hanya lelah. Mereka berdiri seperti orang yang sudah lama menunggu angkutan yang tak datang.
"Berhenti, Rey."
Reynand menginjak rem tanpa bertanya.
Reyna membuka pintu, dan tanpa dirangkul siapa pun ia melangkah ke bahu jalan. Reynand mengikuti dua langkah di belakang, tidak menyentuhnya, satu tangan hampir terulur. Mereka berdiri berhadapan dengan perempuan tua itu.
"Doakan kami, Nak," katanya, lirih dan lembut. "Sudah lama tidak ada yang lewat dan mengirimkan doa."
"Berapa lama, Mbah?"
"Sudah terlalu lama. Kami lupa menghitung."
Reyna menoleh, memberi isyarat. Mobil-mobil di belakang sudah berhenti. Revan, Ayah, dan Revin keluar, dan Reynand membaca Al-Fatihah dengan suara rendah. Satu per satu yang lain berdiri mengelilinginya dan menunduk. Ketika doa selesai, tujuh sosok itu sudah tidak ada. Hanya angin yang bergerak di antara daun.
***
Mereka tiba di rumah Budhe Salma menjelang magrib, lampu-lampu teras sudah menyala. Perempuan itu berdiri di ujung halaman dengan kerudung berantakan dan tangan menggenggam ujung baju, dan ketika Rio turun dari mobil Ayah, ia langsung berlari.
"Yo."
"Budhe." Rio nyaris tak sempat menutup pintu. Salma memeluknya sampai kakinya tersaruk, memegang tengkuk keponakannya seperti dulu ketika ia masih bocah.
"Budhe dengar dari Doni, kamu temui ibunya Laras. Kamu ditampar?"
"Iya."
"Pantas." Salma terisak di bahunya, setengah tertawa. "Bagus. Seharusnya Budhe yang duluan."
Dari balik pintu rumah, dua anak kecil berlari keluar dengan sandal terbalik dan berhenti mendadak di depan Alvin yang sedang menurunkan koper. Si kembar, lima tahun, dengan pipi yang sama bulat. Mereka menatap Alvin dari ujung rambut sampai ujung sepatu.
"Om polisi?" tanya salah satunya.
"Betul. Om polisi."
"Om polisi bawa permen?"
Alvin menatap Felli, memohon bantuan. Felli mengangkat bahu dan merogoh tas, mengeluarkan dua permen jeruk milik Valen, yang langsung memprotes dengan jeritan tertahan.
Salma mengusap wajahnya, lalu menatap rombongan itu satu per satu. Pandangannya berhenti pada Reyna.
"Rabu nanti," katanya. "Budhe akan bicara di depan semuanya. Tentang jaket itu, tentang apa yang Budhe lihat, tentang kenapa Budhe diam. Budhe tidak minta dimaafkan. Budhe cuma tidak mau lagi ada yang menyimpannya sendirian."
***
Pukul delapan malam, Ratna sudah menunggu di ruang belakang yang lantainya diganti tikar baru. Ia duduk bersila dengan tongkat di sisi, dan di depannya tergeletak segulung kain putih, seikat sapu lidi, dan sebuah baskom berisi air.
"Duduk," katanya. "Kalian semua. Yang hamil di dekatku."
Reyna duduk. Ratna mengangkat seikat sapu lidi dan menggoyangkannya.
"Ini bukan pedang. Tapi cara memegangnya sama. Satu tangan di pangkal, satu di tengah." Ia menunjukkan pada Revan, yang mengangguk. "Urutannya begini. Pertama, kesaksian. Setiap orang bicara, dan Budhe tidak peduli siapa yang pertama. Kedua, kain." Ia mengambil segulung kain putih dan merobeknya dengan satu tarikan. "Tiap orang mengikat di pergelangan, di tangan yang sama dengan benangnya. Kain itu bukan perisai. Dia penanda: aku sudah bicara."
"Dan ketiga?" tanya Siska.
"Ketiga, yang berjaga di dunia nyata tidak boleh bicara kecuali nama." Ratna menoleh pada Reynand. "Hanya nama Reyna dan nama anaknya. Itu yang memanggil mereka pulang."
"Keempat?" tanya Revan.
"Penolakan. Hanya Reyna yang boleh mengucapkannya." Ratna menatap Reyna lurus. "Coba sekarang."
Reyna menelan ludah. "Aku... Aku minta Penagih melepaskan aku."
"Salah."
"Aku menolak persetujuan lama..."
"Masih salah. Kamu terdengar seperti orang yang menunggu izin." Ratna mengetukkan tongkat. "Jangan minta. Tarik. Kata-kata itu pernah keluar dari mulutmu, jadi kamu pula yang menariknya kembali. Katakan seperti memanggil pulang barang sendiri."
Reyna menarik napas dan menegakkan punggung. "Aku menarik kata-kataku."
"Lagi."
"Aku menarik kata-kataku. Aku tidak menyerahkan apa pun."
Ratna menatapnya lama, lalu mengangguk satu kali. "Dua kata itu cukup. Sisanya hiasan."
"Dan yang kelima?" Revan mengulangi, lebih pelan.
"Pedang. Paling akhir." Ratna mengetukkan tongkat ke tikar sekali lagi. "Kalau urutannya terbalik, pedang hanya jadi besi. Dan Penagih menang."