"Kami tidak punya hak melarang lagi," kata kepala dusun.
Ia lelaki enam puluhan bertubuh kecil, memakai peci hitam yang sudah pudar di bagian pinggirnya, dan duduk di kursi rotan di beranda rumah Budhe Salma dengan dua tangan di lutut seperti murid yang dipanggil guru. Selasa pagi itu kabut masih menggantung di pucuk pinus, dan di halaman berkumpul sekitar sepuluh warga yang berdiri tanpa suara, sebagian memegang topi di dada. Kapolsek berdiri di ujung beranda dengan surat tugas terlipat di saku, dan tidak mengeluarkannya.
"Tiga tahun kami percaya jalur itu terlarang," lanjut kepala dusun. "Pak Karta bilang air terjun itu sarang yang jahat, bilang magrib jangan lewat sana, bilang yang berkemah akan celaka. Kami percaya. Anak-anak kami, kami larang ke sana. Ternyata..." Ia berhenti, dan jakunnya naik turun. "Ternyata yang jahat bukan tempatnya."
Reyna duduk di sisi Reynand di kursi rotan lain. Ia tidak tahu harus menjawab apa, dan Reynand meremas jemarinya sebentar sebelum bicara.
"Kami tidak meminta Bapak membuka seluruh jalur," katanya. "Hanya sampai Rabu malam, sampai subuh. Kami akan naik sore ini ke villa, dan besok sore ke air terjun. Kapolsek bersedia mendampingi."
"Untuk apa tepatnya, Pak Komandan?" Seorang warga di halaman angkat suara, lelaki tua berkulit legam dengan arit terselip di pinggang. "Kalau untuk cari tulang lagi, sudah ketemu semuanya."
"Bukan tulang, Pak." Revan yang menjawab, tenang dan sopan. "Ada yang masih terikat di sana. Kami mau melepaskannya, dan mohon doa dari Bapak-Bapak sekalian, dari jauh pun tidak apa-apa."
Hening panjang. Kepala dusun menatap Salma yang berdiri di pintu, lalu menatap Rio yang menunduk. Akhirnya ia berdiri dengan bertumpu pada lutut.
"Izin kami berikan." Ia menoleh ke belakang. "Siapa yang mau menemani sampai gerbang jalur dengan lampu dan doa, ayo."
Awalnya tak ada yang bergerak. Lalu lelaki tua yang membawa arit itu maju satu langkah, dan yang lain mengikuti satu per satu, sampai dua belas orang berdiri di depan beranda. Lelaki tua itu menepuk bahu Rio ketika ia melewatinya.
"Ayahmu dulu teman main gundu saya," katanya. "Jadi tenang saja."
Rio tidak bisa bicara. Ia hanya mengangguk, dan untuk beberapa saat mata Salma dan matanya bertemu di seberang halaman.
Kapolsek menyusul Reynand ke ujung beranda ketika kerumunan bubar. "Besok pukul tiga saya dan empat anggota berjaga di pos bawah gerbang jalur. Kalau Bapak butuh kami, nyalakan senter tiga kali ke arah timur. Kalau sampai pukul sebelas malam tidak ada kabar, kami naik."
"Terima kasih, Pak."
"Jangan berterima kasih." Kapolsek menatap deretan pinus di kejauhan. "Saya sudah tiga tahun tidak enak tidur. Anggap ini bayaran saya."
***
Siang itu, saat para lelaki mengangkut perbekalan ke bagasi mobil, ponsel Reyna bergetar di saku cardigan. Nomor tak dikenal dari Jawa Timur. Ia menjauh ke ujung beranda dan menjawabnya.
"Kak Reyna?"
Suara yang ia kenal betul, lebih tenang dari yang ia ingat. "Riani?"
"Iya, Kak. Aku minjam telepon pengasuh pondok. Boleh, tapi cuma lima menit." Ada jeda, bunyi lantai kayu berderit, dan seorang perempuan batuk pelan di kejauhan. "Kakak sehat? Dedek bayinya?"
"Sehat. Kamu sendiri?"
"Alhamdulillah. Mataku sudah tertutup sempurna, Kak. Aku tidak lihat apa-apa lagi. Rasanya aneh. Sepi." Riani tertawa kecil. "Tapi aku suka. Aku bisa tidur."
Reyna menahan napas, dan sudut matanya panas. "Aku senang dengarnya."
"Kak, aku mau sampaikan sesuatu. Kemarin Ibu Nyai, pengasuh pondok, memanggilku. Aku belum cerita apa pun ke beliau, Kak, belum sama sekali. Tapi beliau bilang, 'Sampaikan pada kakakmu di sana: dia akan menawar kalian satu per satu.'"
Dada Reyna terasa dingin. "Menawar?"
"Katanya begitu, Kak. Satu per satu, bukan sekaligus. Dan tawaran itu akan terdengar seperti hal yang kalian inginkan." Suara Riani berubah lirih. "Aku tidak mengerti artinya. Tapi Ibu Nyai bilang, jangan ada yang menjawab sebelum Kakak menarik kata-kata sendiri."
"Sampaikan terima kasihku untuk beliau."
"Pasti, Kak. Dan Kak Reyna..." Riani ragu. "Seluruh santri di sini sedang puasa dan baca doa buat Kakak malam ini dan besok. Jadi Kakak tidak sendirian."
"Aku tahu," bisik Reyna. "Terima kasih, Ri."
Sambungan terputus. Reyna berdiri lama dengan ponsel di telapak tangan, memandang pinus di kejauhan, lalu menyusul yang lain tanpa mengatakan apa-apa tentang isi telepon itu, kecuali kepada satu orang.
***
Menjelang magrib, mereka sudah di villa kaca di tepi tebing. Dinding-dindingnya membuka ke arah hutan, dan di bawah, jauh, air terjun yang tak terlihat dari sini terdengar sebagai desis halus di bawah angin. Para sahabat memenuhi ruang tengah dengan tawa yang terlalu keras: Alvin yang mengumumkan bahwa ia tidak akan mengucapkan apa-apa sebelum makan malam, Felli yang menyuruhnya diam, Doni yang memetik gitar kecil tanpa lagu, dan Siska yang berdiri sendirian di depan kaca besar sambil menggerakkan bibir tanpa suara, mengulang sesuatu berkali-kali. Reyna dan Reynand keluar ke teras kayu di sisi timur, ke tempat yang tak bisa dilihat dari dalam.
"Dia akan menawar satu per satu," ulang Reynand setelah Reyna menceritakannya. Ia tidak terkejut, hanya mengangguk lambat. "Aku sudah menduga."
"Tawaran apa yang akan dia berikan padamu?"
"Mungkin hal yang sudah kutawarkan sendiri dua tahun lalu." Ia mengeluarkan sebuah gulungan kain putih dari saku jaket. Kain dari Ratna, kasar dan bersih. Ia merobeknya sedikit dengan giginya, lalu mengikatkan satu ujung ke pergelangan kiri Reyna, tepat di atas garis merah tipis, dan satu ujung lagi ke pergelangan kanannya sendiri. Simpulnya dua kali, rapat dan rapi.
"Kata Budhe Ratna kain itu penanda, bukan tali."
"Aku tahu. Ini bukan upacara." Ia mengangkat dua pergelangan yang kini tersambung kain, berayun di antara mereka seperti jembatan kecil. "Ini latihan. Supaya kalau besok tanganmu ditarik ke mana pun, aku sudah hafal rasa kain ini."
Reyna tertawa, pendek dan basah. Ia menyandarkan kepala ke bahunya, dan mereka berdua menatap hutan yang makin biru di bawah langit sore.
Lalu ia melihatnya.
Di tepi hutan, di seberang jurang yang membelah halaman villa dari pepohonan, enam titik cahaya putih muncul satu per satu di antara batang-batang pinus. Tidak berkedip, tidak bergerak, berderet rapi seperti lampu kecil yang dinyalakan untuk menyambut tamu. Di titik paling depan, cahayanya membentuk samar sosok gadis berjaket biru tua.
"Rey," bisik Reyna.
"Aku di sini."
"Mereka sudah menunggu." Reyna menegakkan kepala. "Enam. Semuanya."
Reynand menatap arah yang sama dan tidak melihat apa-apa, hanya gelap yang makin pekat. Tetapi tangannya mengeratkan simpul kain itu.
"Besok sore," katanya.