Pukul empat sore mereka berangkat dari villa, dan Reynand sudah dua kali menyuruh Reyna berjalan lebih pelan sebelum mereka melewati pagar.
"Pelan," katanya, untuk kelima kalinya sejak pintu pagar.
"Aku sudah pelan, Rey. Siput saja menyalip."
"Siput tidak sedang membawa dua orang." Ia menggandeng siku Reyna, bukan jemarinya, supaya tangan kanan Reyna bebas memegang tongkat jati milik Ayah. Ujung tongkat itu menancap di tanah lembap tiap kali Reyna menapak, tok, tok, sepelan detak yang sedang dijaga.
Di belakang mereka Felli menghitung dengan caranya sendiri. Setiap seratus langkah ia menyuruh Reyna berhenti dan menekan dua jari di pergelangan tangannya. "Delapan puluh dua kali semenit. Bagus. Jalan lagi. Tapi ini bukan perlombaan, Rey, jadi jangan sok kuat."
"Kapan aku sok kuat?"
"Setiap hari Senin sampai Minggu," sahut Siska dari belakang Felli, dan Alvin tertawa sendiri sampai tas perbekalan di punggungnya berguncang.
Dua belas warga mengantar sampai gerbang jalur. Mereka membawa lampu minyak dan senter, dan lelaki tua berarit itu berjalan paling depan sambil menggumamkan doa yang berulang-ulang, seperti orang menjahit. Di gerbang kayu yang dulu dipasangi larangan, ia berhenti dan mengangkat lampunya tinggi-tinggi.
"Kami tunggu di sini sampai subuh," katanya. "Kalau ada yang perlu dijemput, teriak saja. Pinus ini bawa suara jauh."
Kapolsek sudah berdiri di pos bawah dengan empat anggotanya. Ia hanya mengangkat tangan sebagai salam, lalu menunjuk senternya dan menggerakkan tiga jari. Tiga kali ke timur. Reynand mengangguk.
Sesudah gerbang itu jalur menyempit dan jalan menanjak. Nina memegang tas medis dengan dua tangan, wajahnya kaku sejak dari villa, dan Arman berjalan di sisinya dengan tangan kanan terus masuk ke saku jaket, memegang sesuatu yang tidak ia lepaskan. Budhe Ratna melangkah di antara Rio dan Doni. Ia yang paling tua, tetapi dari semua orang ia satu-satunya yang tidak pernah minta berhenti. Ayah menutup barisan bersama Revin, dengan langkah tentara yang sengaja diperlambat supaya tidak menyusul anak-anaknya.
Hutan pinus sore itu sunyi dengan cara yang Reyna kenal. Bukan sunyi yang kosong, tetapi sunyi orang yang sedang menahan napas. Di dahan-dahan rendah ia melihat benang merah terjuntai, jaring yang dulu menjerat Riani, kini kendur dan berayun pelan tanpa angin. Ia tidak berkata apa-apa. Reynand tidak perlu melihat benang itu untuk tahu; ia merasakan jemari Reyna menegang di sikunya.
"Kendur," bisik Reyna. "Dia membiarkan kita lewat."
"Itu bukan hadiah."
"Aku tahu. Dia sedang menunggu kita datang sendiri."
Menjelang magrib mereka tiba di kolam, tepat ketika bulan terbit di atas pucuk pinus. Bulatnya penuh dan pucat, nyaris keperakan, dan cahayanya jatuh ke air yang tertimpa gemuruh air terjun sampai permukaannya bergetar seperti kulit tambur. Semua orang berhenti tanpa disuruh. Bahkan Alvin berhenti bicara.
Mereka salat magrib berjamaah di batu datar di sisi kolam, Revan di depan, Reynand di belakangnya, dan Reyna salat sambil duduk dengan tangan Felli menopang punggungnya. Selesai salam, tidak ada yang langsung berdiri.
***
Budhe Ratna membuka gulungan kain putih di atas batu. Ia merobeknya jadi belasan lembar yang panjang, satu demi satu, tanpa gunting, tanpa bantuan.
"Ingat urutannya," katanya. "Bicara dulu. Baru kain. Kain itu tanda bahwa kalian sudah selesai bicara, bukan tanda bahwa kalian akan bicara."
Hening. Air terjun mengisi kekosongan itu. Lalu Salma maju satu langkah dari kerumunan, dan Rio refleks maju bersamanya. Salma menggeleng pelan.
"Biar Budhe sendiri, Nak."
Ia membuka tas kain yang selama pendakian tak pernah lepas dari bahunya, dan mengeluarkan sehelai jaket biru tua yang sudah dilipat kecil. Bahannya tebal, kainnya sudah pudar di bagian bahu. Di dada kirinya ada sulaman lambang yang separuh benangnya lepas. Reyna menahan napas, sebab di seberang kolam, di antara batang-batang pinus, satu titik cahaya putih baru saja muncul, dan bentuknya adalah bentuk jaket itu.
"Jaket ini tertinggal di kursi ruang tengah villa Budhe," kata Salma. Suaranya datar, tetapi tangannya yang memegang jaket itu gemetar. "Pagi ketiga, sebelum mereka naik. Gadis yang punya ini bilang akan kembali ambil sore harinya. Dua hari kemudian Pak Karta datang ke rumah Budhe dan bilang mereka sudah pulang lewat jalur belakang. Budhe lihat jaket ini di kursi, dan Budhe tahu, Budhe tahu waktu itu juga, kalau mereka tidak akan pulang tanpa jaket." Ia menelan ludah. "Tiga tahun Budhe simpan di lemari paling bawah. Tidak Budhe cuci, tidak Budhe buang, tidak Budhe serahkan ke polisi. Budhe takut. Dan lebih dari itu, Budhe malu."
"Budhe..." Rio berbisik.
"Tidak ada yang bisa Budhe katakan untuk membela diri. Budhe cuma mau jaket ini kembali kepada pemiliknya." Salma meletakkan jaket itu di tepi batu, tepat menghadap titik cahaya di seberang kolam. "Maafkan Budhe, Nak."
Reyna melihatnya dengan jelas. Dari pergelangan kiri Salma, benang merah sehalus rambut terjulur turun ke tikar, kusut dan hitam di ujungnya. Begitu kalimat terakhir itu terucap, benang itu mengendur, menipis, lalu putus tanpa bunyi dan lenyap seperti asap. Di seberang kolam, cahaya putih itu bergerak sedikit, seperti kepala yang mengangguk.
Ratna mengulurkan selembar kain. Salma mengikatnya sendiri di pergelangan kiri dengan jari yang tak lagi gemetar.
Siska maju sebelum ada yang menyuruh. Ia melepas jam tangan mahalnya, memasukkannya ke saku, dan berdiri dengan dua tangan terkepal di sisi tubuh.
"Gue yang berikutnya," katanya, dan suaranya jauh lebih rendah daripada suara yang biasa ia pakai untuk menelepon manajer rumah sakit. "Semua orang di sini mengira gue suka pakai kuasa karena gue angkuh. Gue biarin kalian mikir begitu. Lebih enak dikira sombong daripada dikira takut."
"Sis," Angga memanggil pelan.
"Biar gue selesaikan, Ga." Ia menarik napas. "Waktu gue diculik di belakang air terjun ini, gue sendirian di dalam bagasi mobil hampir sehari semalam. Gak ada yang tahu gue di mana. Sejak itu gue gak mau lagi ada situasi di mana gue gak bisa nelepon siapa pun dan minta tolong. Makanya gue kenal manajer, kenal direktur, kenal polisi, kenal semua orang yang bisa bantu. Itu bukan kuasa. Itu pagar. Gue bangun pagar karena gue takut sendirian lagi." Suaranya pecah di kata terakhir, dan ia tertawa kecil dengan mata basah. "Dan gue pakai pagar itu buat nyuruh kalian ngikutin gue ke mana-mana, karena kalau kalian di dekat gue, gue gak sendirian."
Felli sudah memeluknya sebelum kalimat itu selesai. Reyna melihat benang di pergelangan Siska, lebih tebal dan lebih pendek dari benang Salma, putus dengan bunyi kecil seperti kuku yang dipatahkan. Siska mengikat kainnya sendiri dengan gigi dan satu tangan, lalu menyeka wajah dengan punggung tangan.
"Jangan ada yang komentar," katanya.
"Gue mau komentar," ujar Alvin, dan Felli menendang tumitnya dengan telak. "Aku diam!"
***
Revan membuka bungkusan kain panjang yang selama pendakian dipanggul Revin. Dua pedang kembar keluar dari sarungnya, bilahnya kusam di bawah lampu tetapi tepinya menyala tipis begitu menerima cahaya bulan. Ia menyerahkan satu kepada Reyna dengan gagang lebih dulu, seperti dulu Eyang menyerahkannya.
Reyna menerimanya dengan kedua tangan. Berat, jauh lebih berat dari ingatannya, dan hangat seperti benda yang baru ditinggalkan seseorang. Kalung di lehernya ikut bergetar halus di balik kerah.
Reynand berdiri di belakangnya. Ia tidak berkata apa-apa. Tangannya menyentuh punggung Reyna sekali, lalu turun, mencari tangan yang tidak memegang pedang dan menggenggamnya erat. Kain putih di pergelangan mereka bergesekan.
Air terjun tiba-tiba mengeras. Bukan lebih keras, tetapi seolah dindingnya yang berdesing, dan di balik tirai air Reyna melihat sesuatu bergerak, gelap dan berlapis, seperti kain hitam yang ditarik pelan-pelan dari balik air.
Revan menoleh padanya. Kedua kakak beradik itu saling menatap sebentar, dan di mata Revan Reyna melihat sesuatu yang jarang ia lihat: bukan keyakinan, tetapi persetujuan.
Reyna menatap tirai air itu dan mengangkat dagu.
"Mulai," katanya.