Tidak ada yang bergerak sesudah Reyna mengucapkan satu kata itu. Air terjun terus bergemuruh, bulan terus naik, dan di antara belasan orang yang berdiri melingkar di batu datar itu, orang pertama yang menarik napas keras-keras adalah Angga.
"Aku maju," katanya, dan Siska yang masih menyeka mata menoleh cepat. "Bukan karena aku berani. Aku maju biar kamu gak ngerasa ngaku sendirian di depan orang." Ia berhadapan dengan Siska, bukan dengan siapa pun yang lain. "Waktu kamu diculik, aku yang nyuruh kamu pulang sendiri malam itu. Aku lagi kesel, aku gak mau nganter. Aku gak pernah bilang itu ke siapa pun, termasuk ke kamu. Tiga tahun aku pikir kalau aku nganter kamu, semuanya gak bakal kejadian."
Siska membuka mulut, tetapi Angga mengangkat tangan. "Biar selesai dulu, Yang."
Benang di pergelangan Angga memendek sedikit demi sedikit seperti tali yang ditarik dari ujung lain, lalu putus. Reyna menunggu sampai Siska sempat menyentuh wajah Angga dengan dua tangan, baru ia mengalihkan pandang.
Alvin maju berikutnya, dan untuk sekali itu ia tidak memasang wajah bercanda. "Waktu Daddy tanya soal Felli, kursi yang gue duduki sampai goyang karena kaki gue gemetar. Gue masih takut gagal jadi suaminya. Gue masih takut Felli bangun tengah malam dan gue gak ngerti harus ngapain." Felli memukul lengannya pelan, dengan jari yang gemetar. "Aku di sini, Fel. Aku gak ngerti. Tapi aku di sini."
Valen mengepalkan tangan. "Dulu gue iri sama lo, Rey," katanya kepada Reyna, tegas dan tanpa basa-basi. "Gue pernah berharap lo salah langkah. Cuma sekali, tapi gue berharap. Gue minta maaf."
"Gue sudah lama lupa," kata Reyna.
"Gue enggak." Valen mengikat kainnya sendiri. "Makanya gue ngucapin."
Revin berdiri kaku, sebab ia satu-satunya di antara mereka yang tidak melihat benang apa pun, dan ia tahu itu. "Gue gak bisa lihat apa-apa dari tadi," katanya pelan. "Gue cuma bisa liat lo sakit, Dek, dan gue gak bisa ngapa-ngapain. Gue sering marah-marah karena gue takut. Itu aja." Doni menyusul sambil menggaruk tengkuk. "Gue sopir doang. Dari dulu gue ngerasa gue yang paling gak guna di antara kalian. Tapi kalian selalu ngajak gue." Arman mengeluarkan gunting karatan dari saku jaketnya dan memegangnya di depan dada. "Saya hidup karena seseorang tidak keluar dari api. Saya selalu merasa berutang sesuatu yang tidak bisa saya bayar." Di belakang cahaya lampu, Reyna melihat sosok perempuan berseragam perawat berdiri sangat dekat dengan Arman, kepalanya menunduk.
Ayah mengangguk kepada Revan, lalu berbicara tanpa melihat siapa pun. "Ayah menyuruh Reynand diam bukan karena kamu belum kuat, Nak. Ayah yang belum kuat mengatakannya padamu."
Reyna menggigit bibirnya kuat-kuat. Revan menggenggam bahu Ayah tanpa bicara.
***
"Aku," kata Nina.
Ia melangkah ke tengah lingkaran dengan tas medis masih tergantung di bahu, dan semua orang menoleh. Wajahnya putih di bawah bulan. Ia tidak menatap Reyna. Ia menatap air.
"Aku sudah minta maaf soal iri. Itu benar, tapi itu bukan semuanya." Ia menelan ludah. "Hari kamu di poli kandungan, Reyna, hari jantungnya berhenti, aku mendengarnya dari perawat di lorong. Dan sebelum aku sempat takut atau kasihan, ada satu detik di kepalaku yang lega. Satu detik. Aku berdiri di situ, dokter, orang yang disumpah menolong, dan aku merasa lega." Suaranya mulai retak. "Aku mau kamu tahu aku ada di sini bukan karena aku orang baik. Aku di sini karena aku mau jadi orang yang tidak merasa begitu lagi."
Hening. Nina menunggu seperti orang menunggu putusan.
Reyna sudah melihat benang itu, merah gelap dan kusut, melingkar tiga kali di pergelangan tangan kiri Nina. Ia tidak menjawab dengan pidato. Ia hanya berkata, "Satu detik itu manusia, Nin. Yang kamu lakukan sesudahnya yang menentukan." Benang itu putus, dan Nina menutup wajah dengan kedua tangan, tubuhnya terguncang tanpa suara.
Reynand melangkah terakhir. Ia tidak menggandeng Reyna lagi; ia berdiri di hadapan lingkaran dan melepas kacamata hitamnya, yang jarang sekali ia lakukan di depan orang banyak.
"Dua tahun lalu aku berdoa di musala rumah sakit," katanya. "Ambil apa saja dariku asal dia selamat. Aku mengucapkannya dengan sungguh-sungguh, dan dua tahun lamanya sebagian diriku menganggapnya harga yang wajar, sampai kamu memarahiku." Ia menoleh pada Reyna, dan matanya merah. "Kamu bilang aku tidak boleh menawar diriku lagi. Kamu benar. Aku tarik doa itu. Aku tidak menyerahkan apa pun, tidak tanganku, tidak umurku, tidak apa yang kupunya. Semuanya milik kita, dan kita tidak menjualnya."
Benang di pergelangan kirinya paling tipis di antara semuanya, tetapi paling lama bertahan. Ia putus dengan bunyi yang hanya bisa Reyna dengar: bunyi kawat halus yang dipetik sekali.
Dan air terjun berhenti bicara.
Bukan senyap, tetapi berubah. Gemuruhnya merendah lalu terbelah, seperti tirai yang disibak dari tengah, dan di baliknya terbuka lubang gelap yang ukurannya cukup untuk dimasuki dua orang bersisian. Udara yang keluar dari lubang itu dingin dan berbau tanah basah serta besi. Lampu di tangan Rio meredup. Kain putih di dua belas pergelangan tangan terangkat sendiri, melayang tipis ke arah gua seperti tertiup angin yang tidak ada.
Sebuah suara datang dari sana, tanpa wajah, tanpa arah.
"Angga yang menyuruh pulang. Alvin yang gemetar. Valen yang berharap. Revin yang marah karena takut." Suara itu mengeja nama-nama mereka seperti petugas yang membaca daftar utang. "Doni yang merasa tak berguna. Arman yang berutang hidup. Ayah yang pengecut. Nina yang lega."
"Sudah kami ucapkan," kata Siska lantang, sebelum ada yang melarangnya. "Semuanya. Lo telat."
Tak ada yang goyah. Reyna menatap wajah-wajah di sekitarnya dan melihat sesuatu yang ia tak sangka: orang-orang itu tidak menunduk. Mereka berdiri lebih tegak daripada ketika mereka datang. Suara itu mencoba lagi, lebih dalam dan lebih dekat, menyebut nama Rio dan Felli, Salma dan Revan, dan ia tak memperoleh apa-apa. Rahasia yang sudah diucapkan tidak lagi punya tempat berpegang.
Lalu suara itu berhenti, hanya sebentar, dan berkata lain.
"Anak Prabu. Kutunggu di dalam."
Revan menggelar tikar anyaman di batu datar, menghadap lubang gua. Ia berbaring lebih dulu dengan pedang kembar di sisi kirinya, dan Reyna berbaring di sampingnya dengan pedang di sisi kanan. Felli berlutut di sebelahnya, jari di nadi. Valen memegang jam tangan. Arman membawa gunting ke dekat dadanya dan Nina, dengan mata sembap, sudah membuka tas medis.
Reynand duduk bersila di kepala Reyna dan menggenggam tangannya yang berkain putih.
"Lima menit," kata Revan, mulai memejamkan mata. "Tidak lebih."
Reyna menatap langit. Bulan nyaris tepat di atas, bulat dan terang seperti lampu operasi. Jemari Reynand mengerat di jemarinya.
"Pegang aku," bisik Reynand.
"Selalu," jawab Reyna.
Ia memejamkan mata, dan gemuruh air terjun lenyap seluruhnya.