Dingin yang menyambut Reyna bukan dingin udara. Dingin itu masuk lewat telapak kaki, merambat ke betis, ke lutut, lalu berhenti tepat di bawah dada, seakan tahu benar apa yang sedang ia lindungi.
Ia berdiri di mulut gua dengan raga yang bukan terbuat dari daging. Pergelangan kirinya tidak berkain putih lagi dan tidak ada tangan yang menggenggamnya, dan itu yang paling sulit ia terima. Pedang kembar terasa berat di telapak kanan. Revan berdiri di sisinya dengan pedang yang sama, bahunya tegak, napasnya teratur.
"Dek," bisik Revan, "jangan berhenti melangkah. Dia tidak suka dijawab sebelum waktunya."
"Aku ingat urutannya, Kak."
"Aku tahu kamu ingat. Kakak cuma perlu bicara supaya kakak sendiri tidak gemetar."
Reyna nyaris tertawa. Ia melangkah masuk.
Dinding gua dipenuhi ukiran lama, huruf-huruf Jawa yang sudah aus dan tertutup lumut. Di tengahnya sebuah retakan panjang membelah batu dari langit-langit sampai ke lantai, dan dari retakan itu keluar sesuatu yang bergerak: kabut, tetapi bukan kabut. Ribuan benang merah, setipis rambut dan sepanjang tak berujung, menggeliat bersama seperti rumput di bawah angin. Mereka bergerak mendekat tanpa bunyi, mengelilingi Reyna dari tiga sisi, lalu berhenti sejengkal dari wajahnya.
"Kau datang," kata suara itu. Tidak keras. Hampir lembut. "Aku tahu kau akan datang. Anak-anak Prabu selalu datang."
Reyna tidak menjawab. Ia mengingat Ratna dan sapu lidinya, dan ketukan tongkat di tikar.
"Aku tidak ingin menyakitimu, Reyna. Itu salah yang diajarkan kakekmu padamu. Aku hanya menagih." Benang-benang itu bergeser, membentuk sesuatu yang nyaris seperti wajah lalu pecah lagi. "Kau ingat malam itu? Pemuda di meja operasi, lorong yang sepi, kata-kata yang kau ucapkan? Aku bisa membuatmu mengingatnya tanpa rasa sakit. Seluruh ingatanmu, utuh. Tak ada lagi bisikan, tak ada lagi mimpi buruk, tak ada lagi lorong gelap. Hidup yang tenang, bersama lelakimu, di rumah yang sudah kau tata."
"Dan syaratnya?"
"Sangat kecil." Suara itu merendah sampai hampir berupa napas. "Serahkan yang kecil. Yang belum pernah kau lihat. Dia tidak akan tahu apa yang hilang, dan kau akan segera lupa bahwa kau pernah memilikinya."
Dada Reyna mengeras. Ia merasakan benang-benang itu bergerak lebih dekat ke perutnya, merayap pelan di atas kain jaket, menunggu satu kata saja. Satu kata, dan semuanya akan tenang.
Ia menegakkan punggung dan mengucapkannya seperti yang diajarkan Ratna: bukan permohonan, tetapi panggilan pulang pada barang miliknya sendiri.
"Aku menarik kata-kataku. Aku tidak menyerahkan apa pun."
Gua bergetar. Retakan di dinding melebar sebesar telapak tangan, dan semua benang di udara menegang bersamaan lalu menyerbu ke satu arah: perutnya. Revan menebas dengan pedangnya, dua benang putus dan berdesing seperti dawai, tetapi puluhan lainnya sudah menembus. Reyna melipat tubuh ke depan dengan pedang menyilang di dada, dan tarikan itu menembus kain, kulit, hingga tempat yang paling dalam.
***
Di batu datar di tepi kolam, bibir Reyna bergerak.
Reynand menunduk di atas wajahnya, jari-jarinya tak mau mengendur di tangan yang berkain putih. Felli menahan pergelangan Reyna dengan dua jari, mulutnya komat-kamit menghitung. Dari mulut Reyna keluar bunyi pelan yang bukan bahasa Indonesia, kasar dan terpatah, dan Reynand menegang.
"Itu Belanda," bisiknya.
"Kamu bisa artikan?" tanya Ayah, berlutut di sisi lain.
"Cetek, Yah." Reynand mendekatkan telinga ke bibir Reyna, mengulang pelan apa yang ia tangkap. "Bid... voor mij. Alsjeblieft." Ia diam sebentar, mencari-cari kata di kepalanya. "Doakan aku. Tolong."
"Dia yang punya buku itu," gumam Revin dari belakang. "Ronald."
Tidak ada yang menjawab. Tanpa disuruh, Budhe Ratna memejamkan mata dan bibirnya mulai bergerak, dan satu per satu orang di sekitar tikar menundukkan kepala.
***
Di dalam gua, tarikan pada perut Reyna tersendat sedetik, bukan karena ia menang, tetapi karena sesuatu menggunting.
Bunyinya halus seperti kain disobek. Lastri berdiri di sisi kanannya, seragam perawatnya masih melepuh dan matanya kosong, tetapi guntingnya, gunting yang sama yang kini dipegang Arman di dunia nyata, bersinar putih di tangan kurusnya. Ia menggunting sekali, dua kali, tiga kali, memotong benang-benang yang menjalar ke perut Reyna dengan gerakan orang yang sudah terlalu sering menyelamatkan sesuatu dari api.
"Berdiri, Dok," katanya, suaranya serak seperti asap. "Bagian ini saya yang jaga."
Dari belakang datang cahaya. Laras berdiri dengan jaket biru tua yang kini utuh, lengkap dengan lambang di dada kiri, dan lima bayangan di sampingnya. Mereka tidak membawa senjata. Mereka saling menggenggam tangan dan membentuk lingkar di sekeliling Reyna dan Lastri, dan benang-benang yang mencoba merayap lewat kaki Reyna terbentur dinding cahaya itu, memerah, lalu padam.
"Kami diizinkan, Kak," kata Laras, tersenyum. "Sekarang kami yang jaga."
"Terima kasih, Laras."
"Jangan berterima kasih dulu. Berdiri saja."
Ada yang lain. Di sisi kiri, tak jauh dari Revan, seorang lelaki jangkung berseragam usang melangkah dari bayangan dinding. Kulitnya pucat, rambutnya basah seperti baru keluar dari air, dan dari saku jaketnya menyembul buku cokelat yang sama dengan buku di tas Reyna. Ia memandang Reyna, lalu menunduk dalam-dalam, penuh hormat. Mulutnya membentuk kalimat yang tadi keluar dari mulut Reyna di dunia nyata. Reyna mengangguk padanya. Belum, kata anggukan itu. Sebentar lagi.
Lalu udara di sudut gua bergolak. Seekor harimau putih melompat dari kegelapan, besar dan tenang, matanya keemasan. Ia tidak menyerang apa pun. Ia hanya berdiri di antara Reyna dan retakan, ekornya berayun satu kali, dan benang-benang yang paling dekat mundur setengah langkah.
Eyang, pikir Reyna. Napasnya mulai kembali.
Tetapi suara itu muncul lagi, kali ini tidak lembut sama sekali.
"Kau pikir mereka cukup?"
Seluruh gua menegang. Benang-benang yang selama ini bergerak liar tiba-tiba diam, kemudian berkumpul menjadi satu ikatan tebal sebesar lengan dan melesat menembus celah di antara lingkar cahaya, melewati gunting Lastri dan sapuan ekor harimau, lurus ke arah perut Reyna.
"Tahan!" seru Revan.
Terlambat. Ikatan itu menghantam, dan Reyna terhuyung ke belakang sampai punggungnya membentur dinding berukir. Sesuatu di dalam tubuhnya tersentak, lalu perlahan, sangat perlahan, ia merasakan denyut kecil yang selama ini hangat di bawah telapak tangannya mulai melemah.
"Tidak," bisiknya. "Jangan."
Lastri menggunting dengan dua tangan, putus asa, dan Laras berteriak memanggil nama teman-temannya. Tidak ada gunanya. Benang itu menarik lebih keras, dan hangat yang ia kenal itu menipis di bawah tangannya seperti api lilin yang ditiup dari jauh.