"Seratus tiga puluh," kata Felli.
Ia berlutut di sisi tikar dengan doppler genggam menempel di perut Reyna, dan suara kecil yang berdenyut dari alat itu, cepat dan basah seperti kuda berlari jauh, mendadak melambat. Felli tidak mengangkat kepala. Hanya jarinya yang menegang di gagang alat.
"Seratus sepuluh."
Valen, yang memegang jam tangan di sisi lain, menelan ludah. "Fel."
"Gue dengar." Suara Felli datar seperti suara dokter yang menahan sesuatu supaya tidak bocor. "Nin, pegang saturasinya. Valen, lo hitung napasnya."
Nina sudah memasang klip kecil di jari Reyna dan menatap layarnya. "Sembilan puluh enam. Stabil." Ia menoleh pada Felli. "Ibunya stabil. Yang turun hanya janinnya."
Kata hanya itu membuat bahu Reynand bergetar. Ia tidak bergerak dari tempatnya di kepala tikar, tidak melepaskan tangan Reyna, tetapi air di kolam di belakangnya mulai naik. Pelan, tanpa gelombang, merayap di atas batu datar seperti pasang yang tak tahu waktu, menjilat ujung sepatu Alvin dan Rio yang berdiri di tepi.
"Ndan," kata Alvin pelan, "airnya."
"Aku lihat."
"Apa kita harus mundur?"
"Tidak." Ratna yang menjawab, dari tempatnya duduk bersila. Air sudah menyentuh lututnya dan ia tidak bergeser. "Siapa pun yang mundur, kainnya putus. Yang berjaga tidak boleh pindah."
Reynand mengangguk. Ia ingat kata Ratna di ruang belakang malam itu: tidak boleh bicara kecuali nama. Hanya nama Reyna dan nama anaknya. Mulutnya sudah penuh sholawat sejak tadi dan ia menelannya kembali.
"Reyna," katanya.
Air naik sampai pergelangan kaki mereka.
"Seratus," kata Felli.
"Reyna. Laras."
Dingin merayapi paha Reynand, dan ia tidak peduli. Jarinya meremas jemari Reyna sampai kuku jarinya memutih. "Reyna. Laras. Reyna. Laras." Setiap kali ia menyebutnya, nama yang kedua keluar sedikit lebih pelan dan sedikit lebih basah, sampai ia sadar air mata sudah mengalir ke ujung dagunya dan jatuh di atas kain putih di pergelangan istrinya.
"Sembilan puluh," bisik Felli, dan suaranya akhirnya pecah.
Ayah berlutut di samping Reynand dan memegang bahunya dengan tangan yang besar dan kasar. "Terus panggil, Nak. Dia dengar."
"Budhe Ratna bilang cuma nama, Yah."
"Itu memang cuma nama. Ayah tidak menyuruhmu bicara. Ayah menyuruhmu terus." Suara Ayah tidak setegar biasanya. "Seperti Ayah seharusnya dulu."
Reynand mengangguk, lalu memanggil lagi.
***
Di dalam gua, Reyna sudah jatuh berlutut.
Sakit itu tidak berdarah dan tidak ada lukanya. Hanya ruang di bawah tangannya yang seharusnya hangat dan hidup sekarang berdenyut makin pelan. Di sekelilingnya lingkar cahaya Laras dan teman-temannya bergetar. Lastri menggunting tanpa henti, tetapi benangnya tumbuh lebih cepat daripada yang bisa ia potong.
"Dek!" Revan berlutut di sampingnya, menahan bahunya dengan satu tangan. Wajahnya putih. "Reyna, lihat Kakak!"
"Dia menarik, Kak." Reyna terengah. "Dia menarik pelan-pelan, dia tidak mau lepas."
"Kalau begitu kita yang harus memutus tarikannya. Tidak ada cara lain." Revan menunjuk dinding di belakang retakan. "Di sana. Lihat."
Di dasar retakan, tersembunyi di balik gumpalan benang, ada batu pipih berukir, sebesar meja kecil. Ukirannya kuno, dengan satu lekukan di tengah sebesar dua bilah pedang yang disilangkan. Reyna mengenali bentuk itu dari gambar di kitab Budhe Ratna yang dibaca Revan: tempat Eyang menancapkan segel dulu, sebelum Eyang wafat dan sebelum retakan itu ada.
"Pedangnya tidak boleh dipakai untuk melukai," kata Revan, napasnya tersengal. "Eyang menulis di kitab. Pedang ini boleh memotong benang, tetapi di batu itu ia hanya menancap, tidak menebas. Kita tancapkan bersamaan. Satu kali. Satu napas."
"Satu napas."
"Reyna," kata Revan, lebih pelan, "kalau tarikan itu menang waktu kita menghitung, jangan berhenti. Tancapkan saja."
"Aku tidak akan berhenti."
"Bukan Kakak yang memimpin, Dek. Kamu yang menghitung."
Reyna menarik napas, dan mendengar sesuatu dari jauh, tipis dan putus-putus seperti suara yang datang lewat air. Namanya. Lalu satu nama lagi, nama yang baru mereka sepakati berdua di bawah selimut, ketika bayi itu masih terasa seperti rahasia. Laras. Reyna. Laras.
Suaminya memanggil.
Ia berdiri. Kakinya gemetar, tetapi ia berdiri. Lastri, yang masih menggunting di sisinya, menoleh dengan wajah melepuh yang entah bagaimana tampak tersenyum. Laras dan teman-temannya mengencangkan genggaman. Harimau putih melangkah ke depan membelah benang, dan di balik tubuhnya jalan menuju batu itu terbuka.
"Satu," hitung Reyna.
Mereka berlari. Benang menyambar dari kiri dan kanan, menyayat jaket, menggores pipi, menjerat pergelangan kaki. Revan nyaris tersungkur. "Lari, Kak!" teriak Laras dari belakang. "Kami tahan di sini!" Reyna menjaga tangannya tetap lurus.
"Dua."
Batu itu tinggal dua langkah. Suara Penagih menggelegar, bukan lagi lembut: "Berhenti! Kau sudah berjanji!" Seluruh gua berguncang.
"Aku menariknya kembali!" balas Reyna.
"Tiga!"
Dua pedang menghujam bersamaan ke lekukan batu, dan tidak ada bunyi. Hanya cahaya, putih keemasan, yang menyembur dari batu dan menerangi seluruh gua sampai bayangan pun menghilang. Reyna merasa tangannya, tangan Revan, dan gagang pedang itu menyatu dalam satu denyut. Di depan matanya, harimau putih itu menoleh dan wajahnya berubah. Bukan lagi binatang, tetapi lelaki tua berambut perak dengan mata yang dalam.
"Cucuku," kata Eyang Prabu, pelan dan terang seperti dulu. "Jaga, bukan kurung."
"Eyang..."
"Dia bukan untuk dikunci selamanya. Dikurung membuatnya lapar. Dijaga membuatnya tenang." Ia menatap Reyna, lalu perutnya, lalu Reyna lagi. "Kamu sudah menjaganya sejak sebelum kamu tahu. Teruskan."
Ribuan benang itu berhenti menarik. Mereka menggeliat, menyusut, mengecil, berkumpul menjadi satu helai merah setipis rambut yang menggantung di udara, bergetar lemah. Suara Penagih terdengar sekali lagi, kecil sekali, bukan marah tetapi lelah. Lalu helai itu ditelan batu, meresap ke dalam ukiran seperti air masuk ke tanah, dan seluruh batu berpendar hangat, berdenyut tiga kali.
Kedua pedang terlepas dari lekukan dengan sendirinya. Mereka jatuh ke telapak tangan Reyna dan Revan, ringan dan hangat, seakan sudah selesai bertugas.
***
Reyna membuka mata.
Langit di atasnya hitam dan penuh bintang, dan bulan bundar bersinar tepat di tengah. Air di sekitar tikar sudah surut sampai ke tepi kolam, meninggalkan batu datar basah berkilat. Ia mendengar suara tangis dan suara tawa bercampur dalam satu bunyi aneh, dan sebelum ia sempat menoleh, tangan yang menggenggamnya tak lagi gemetar.
"Seratus tiga puluh delapan," kata Felli. Ia terisak. "Seratus empat puluh. Rey, dia naik. Dia naik lagi!"
Wajah Reynand muncul terbalik di atasnya, basah dan berantakan. Ia tidak berkata apa-apa. Ia hanya menunduk dan menempelkan dahinya ke dahi Reyna, dan untuk waktu yang lama mereka tidak bergerak.