Reynand tidak melepaskan tangan Reyna selama lima jam.
"Minum dulu, Reynand," kata Felli, menyodorkan botol untuk ketiga kalinya.
"Nanti."
"Nanti terus. Lo bakal pingsan duluan sebelum dia."
"Aku tidak apa-apa."
"Rey," kata Reyna dari bawah selimut, matanya masih terpejam, "minum."
Reynand minum. Felli menatap langit dengan wajah menyerah. Reyna terbungkus selimut tebal di atas tikar, dengan kepala di paha suaminya, dan setiap jam doppler diletakkan lagi di perutnya. Setiap jam angkanya sama: seratus empat puluh sampai seratus empat puluh enam.
"Bayinya pasti bandel," bisik Valen pada jam kedua, saat denyut kecil itu terdengar kencang. "Kayak ibunya."
"Aku dengar," gumam Reyna, matanya masih terpejam.
"Gue tahu."
Menjelang subuh langit di balik pinus memudar dari hitam ke biru tua. Kabut turun rendah di atas kolam, dan air terjun yang semalam menggelegar kini hanya berdesir seperti orang tidur. Revan berdiri di batu datar dan mengumandangkan adzan dengan suara yang jarang ia pakai, rendah dan bergetar, dan Reyna merasakan setiap nadanya menjalar sampai ke ujung jari.
"Bisa berdiri?" tanya Reynand.
"Kalau kamu yang tarik."
Ia menarik Reyna dengan hati-hati seperti menarik sesuatu yang mudah pecah. Kain putih di pergelangan kiri Reyna basah dan kusut, dan ketika Ratna menyuruh semua orang melepas kain masing-masing, Reyna melepas simpulnya pelan-pelan dan mendapati pergelangannya kosong. Kulitnya pucat. Tidak ada garis merah tipis yang selama ini menemaninya sejak Senin subuh yang jauh itu, bahkan bekasnya pun tidak ada. Ia mengusapnya dengan ibu jari dan tak ada yang tersisa.
"Rey," ia berkata, suaranya aneh. "Garisnya hilang."
Reynand mengambil tangan itu dan menatapnya lama, mengusapnya dengan jemari, seolah bisa menemukan sesuatu yang disembunyikan di bawah kulit. Lalu ia mencium pergelangan itu sekali, tepat di tempat benang pernah melingkar.
Mereka salat subuh berjamaah di tepi kolam dengan Revan sebagai imam, belasan orang berderet di batu, dan Ratna di ujung dengan tongkat di pangkuan. Selesai salam, Revan tidak langsung berdiri. Ia mengambil buku cokelat dari tas Reyna dan membukanya di telapak tangan.
"Ada yang belum kita selesaikan," katanya.
Halaman pertama masih bertuliskan tinta merah tua yang kering: Please help me. Ronald. I'm sick! Revan membacakan doa untuknya, pendek, pelan, dan semua mengangkat tangan. Tidak ada tulang yang bisa dikubur, tidak ada nisan, tidak ada yang tahu tempatnya. Hanya doa. Reyna menunduk dan memikirkan lelaki jangkung berambut basah yang kemarin membungkuk padanya di dalam gua.
Ketika kata amin terakhir selesai, sehelai kabut di tepi kolam menebal dan membentuk bayangan lelaki berseragam usang. Ia berdiri tegak dengan topi di dada. Hanya Reyna dan Revan yang melihat, dan mungkin Ratna, yang tersenyum kecil sambil memandang titik yang sama.
"Dia di sana?" bisik Reynand.
"Di dekat batu besar. Sedang memberi hormat."
"Kalau begitu balas," kata Ratna tanpa menoleh. "Orang Belanda itu sopan. Jangan biarkan dia menunduk sendirian."
Reynand menunduk ke arah batu yang ditunjuk Reyna, dalam, seperti ia menunduk kepada atasan.
"Dank u," kata lelaki itu, jelas, lalu menunduk dalam sekali.
"Terima kasih juga, Pak," bisik Reyna.
Bayangan itu memudar menjadi uap pagi. Di tangan Revan, halaman bertuliskan darah itu mendadak kosong, putih seperti tak pernah disentuh pena.
***
Laras datang paling akhir.
Ia berdiri di tepi kolam dengan jaket biru tua yang utuh, dan lima bayangan di belakangnya berderet tenang, tidak lagi basah, tidak lagi terikat. Cahaya dari balik pinus menembus tubuh mereka dan membuat mereka tampak seperti kaca. Di batu tempat Salma meletakkan jaket kemarin, jaket itu sudah tak ada.
"Kak Reyna," kata Laras.
"Iya, Ras."
"Kami pamit." Ia tersenyum, dan Reyna baru sadar ia tidak pernah melihat Laras tersenyum selebar itu. "Terima kasih sudah mau mendengar, waktu semua orang tidak. Terima kasih sudah bawa Ibu. Dan tolong sampaikan ke Bang Rio, pisang gorengnya enak."
Reyna menyampaikannya. Rio, yang berdiri dengan wajah tegang, menutup mulutnya dengan telapak tangan, dan Salma di sampingnya memeluk bahunya.
"Dan Kak," Laras menambahkan, dengan nada malu-malu yang mengingatkan Reyna pada mahasiswi pemalu di dapur rumah Revin, "kalau bayinya perempuan, Kakak mau pakai namaku? Aku tidak keberatan."
Reyna menatap Reynand. "Kami sudah memilihnya."
"Betul?" Mata Laras berkaca. "Aku senang. Dia akan kuat. Aku yang minta."
Lima temannya menunduk bersamaan, sopan dan serius, satu per satu. Lalu cahaya matahari pertama menembus kabut, dan mereka tidak lagi ada, hanya embun yang bergetar di rumput.
Satu sosok lagi menunggu di bawah pinus. Lastri berdiri dengan seragam yang tak lagi tampak melepuh, hanya kusut dan tua, dan di wajahnya ada senyum yang baru. Arman, yang melihat tatapan Reyna, mengerti tanpa dijelaskan.
"Dia di mana, Dok?" tanyanya parau.
"Di bawah pinus itu. Tiga langkah dari Dokter."
Arman melangkah ke sana, berhenti tepat tiga langkah dari pohon, dan memegang gunting karatan di dadanya. "Suster," katanya. "Terima kasih sudah menunggu saya lahir lagi."
Lastri mengangguk sekali. Ia berbalik dan berjalan turun mengikuti jalur ke arah kota, seperti perawat yang sudah selesai giliran jaga dan harus kembali ke bangsalnya.
"Dia pulang ke rumah sakit," kata Reyna pelan. "Dia akan menunggu di sana."
***
Warga masih berdiri di gerbang jalur ketika rombongan turun, lampu minyak mereka sudah padam tetapi tak seorang pun pulang. Lelaki tua berarit itu menyambut paling depan.
"Sudah?" tanyanya.
"Sudah, Pak," jawab Revan.
"Alhamdulillah." Ia menepuk punggung Rio, lalu Revan, lalu Reynand. Kapolsek menurunkan senter dan menarik napas panjang, seperti baru melepas sesuatu yang tiga tahun ia pikul.
"Saya tidur nyenyak malam ini," katanya pelan. "Terima kasih, Pak Komandan."
"Jangan berterima kasih," jawab Reynand. "Anggap ini bayaran Bapak."
Kapolsek tertawa, pendek dan lega.
Reyna naik ke jok belakang mobil Reynand dengan dibantu tiga orang. Di jok itu, di atas tumpukan selimut, Felli dan Valen memeriksanya sekali lagi, dan doppler itu mengeluarkan bunyi yang sudah mereka hafal sepanjang malam.
"Seratus empat puluh dua," kata Felli. "Normal. Sehat. Bayinya baik-baik saja, Rey."
"Ibunya?" tanya Valen.
"Ibunya juga," jawab Reyna, dan ia tertawa, serak dan lepas, dengan sisa tenaga yang tak ia sangka masih ada.
Di halaman villa Reynand membantunya turun dan tidak sanggup melepaskan lagi. Ia berlutut di hadapan Reyna di depan semua orang, memeluk pinggangnya dengan kedua lengan dan menempelkan telinga ke perut itu.
"Rey, jangan lihat aku," katanya serak.
"Aku mau lihat."
"Aku jelek kalau menangis."
"Kamu memang jelek kalau menangis," kata Reyna sambil mengusap rambutnya dan ikut menangis, "dan aku suka."
Siska yang pertama menyusul, lalu Felli, lalu Valen. Alvin dan Angga saling berpandangan lalu menyerah. Satu demi satu semuanya merapat, Doni, Rio, Revin, Salma, Nina, Arman, bahkan Ayah yang berdiri paling akhir, sampai Reyna terkepung di tengah lingkaran lengan dan bahu. Revan memeluk dari belakang Ayah.
Ratna berdiri di beranda dengan tongkat, memandang mereka dengan mata sepuh yang berkilat.
"Prabu," katanya pelan ke langit pagi, lalu menoleh pada Reyna. "Cucu Prabu sudah menjaga."