"Kamu yakin tidak mau tinggal satu hari lagi?" tanya Ratna di teras villa, Sabtu pagi, ketika bagasi mobil sudah penuh dan Doni sudah dua kali membunyikan klakson kecil.
Reyna menggeleng. Dua hari di villa kaca itu sudah cukup untuk tidur sampai pagi, makan masakan Salma tiga kali sehari, dan mendengar Reynand berdebat dengan Felli tentang berapa banyak bantal yang layak untuk ibu hamil. "Aku mau pulang, Budhe. Kerjaanku di rumah sakit menunggu, dan ranjang sendiri menunggu."
"Ranjang sendiri paling benar." Ratna mengulurkan tangan keriput dan menepuk pipinya dua kali, seperti menepuk anak kecil yang baru belajar berjalan. "Kembali ke sini kapan saja, Nduk. Bukan karena ada yang mengejar. Karena rumah ini ingat kamu."
"Insyaallah, Budhe."
"Dan kalau anakmu lahir, bawa dia lihat pinus-pinusnya. Biar kenal siapa yang menjaga tanahnya dulu."
Reyna tidak bisa menjawab. Ia memeluk perempuan sepuh itu lama-lama, dan Ratna membiarkannya.
Mobil melaju turun sebelum pukul sepuluh. Jalan lama yang berkelok-kelok kini tampak biasa saja: pohon asam, sawah, warung kopi yang baru membuka rolling door-nya. Tidak ada tujuh sosok yang berdiri di bahu jalan meminta didoakan. Reynand menyetir dengan satu tangan, sedangkan tangan lainnya tak pernah jauh dari lutut Reyna.
"Kamu kenapa dari tadi diam?" tanyanya.
"Aku lagi mengira-ngira."
"Mengira apa?"
"Rasanya aneh tidak ada yang kulihat." Reyna menyandarkan kepala ke sandaran jok. "Sepanjang jalan ini. Tidak ada satu pun."
"Itu bagus, kan?"
"Bagus. Cuma sepi." Ia menoleh. "Rey, aku mulai kangen mereka. Itu normal?"
Reynand tertawa pendek. "Kamu istriku. Apa pun yang kamu rasakan, normal buatku."
Ia tertidur sebelum mobil sampai tol. Kepalanya merosot pelan ke bahu Reynand, dan Reynand menegakkan bahu itu supaya tidak miring. Tiga jam penuh ia tidak menggeser tubuh, dan dari jok belakang Felli diam-diam mengambil foto, lalu menunjukkannya kepada Valen tanpa suara.
***
Ayah datang Minggu pagi tepat pukul tujuh, dengan kaus polos dan celana kain, tanpa seragam dan tanpa sepatu lars. Di tangan kanannya ada tongkat jati.
"Ayah?" Reyna membuka pintu rumah dengan rambut masih basah. "Ini baru jam tujuh."
"Ayah yang janji sehari penuh, Nak. Dan sehari penuh dimulai pagi." Ayah mengangkat tongkat itu. "Dan ini Ayah ambil, karena kamu sudah tidak butuh."
"Aku masih pakai kemarin."
"Berarti sekarang tidak. Mana suamimu?"
"Mandi."
"Lama sekali mandinya."
"Dia ganti baju tiga kali, Yah. Katanya mau bertemu mertua."
"Ayah sudah kenal dia dua tahun." Tetapi sudut bibir Ayah bergerak naik.
"Ayah tunggu di beranda. Ayah sudah cuti seminggu, tapi sehari ini punyamu."
Mereka berjalan kaki. Ayah menolak naik mobil, katanya terlalu lama tidak berjalan pelan dengan anaknya. Reynand mengekor beberapa langkah di belakang dengan tangan di saku, tahu diri, sampai Ayah melambai tanpa menoleh, menyuruhnya menyusul. Warung yang dituju Ayah ada di sudut alun-alun kota lama, tenda biru pudar dengan meja plastik dan bangku kayu panjang, kuah soto beruap dari panci besar di atas arang.
"Dulu Bunda sering bawa kalian ke sini," kata Ayah sambil duduk. "Ayah jarang ikut. Tapi sekali dua kali Ayah ikut, dan kamu duduk di pangkuan Ayah, mukamu belepotan sambal."
"Aku tidak ingat."
"Karena kamu empat tahun." Ayah memesan tiga mangkuk tanpa membuka menu. "Waktu itu Ayah janji akan sering ikut. Ayah tidak menepatinya."
Reyna menunduk ke mangkuk. "Ayah, aku kira Ayah sudah lupa janji sehari penuh itu."
"Ayah mencatat."
"Ayah mencatat?"
"Di buku kecil. Sejak malam Ayah berjanji di rumah Revin." Ayah merogoh saku dan mengeluarkan buku saku kumal bersampul hijau tentara. Halaman terakhirnya dibuka: sebaris tulisan tegak dengan bolpoin, dan garis tebal di bawahnya. "Sehari penuh untuk Reyna. Dicoret kalau sudah selesai."
Reyna tertawa dan menangis bersamaan. Reynand, yang sedari tadi menyendok soto dengan khidmat, menunduk lebih dalam supaya tidak ketahuan matanya basah.
Mereka makan lama. Ayah bercerita tentang barak tempat ia ditugaskan di timur, tentang kuda pertama yang ia kenal, tentang Bunda yang dulu menertawakannya karena tidak bisa membedakan kunyit dan jahe. Reyna bertanya, Ayah menjawab, dan sesekali Reynand menimpali.
"Yah, Bunda dulu marah kalau Ayah telat pulang?"
"Marah itu kata yang kurang tepat," kata Ayah, menyendok kuah. "Bunda diam. Dan diamnya Bunda lebih mengerikan dari semua komandan Ayah. Ayah kapok sebelum sempat telat lagi."
"Aku tahu rasanya," gumam Reynand, dan Reyna menyikut rusuknya. Sepanjang pagi itu tidak ada kata benang, tidak ada kata Penagih, tidak ada kata segel.
***
Sorenya, di pendopo rumah Ayah, Revan membuka bungkusan kain panjang di atas meja jati.
Dua pedang kembar berbaring berdampingan, bilahnya bersih, tepinya tidak lagi berpendar. Ayah menatapnya tanpa menyentuh. Reyna berdiri di sisi Revan, kedua tangannya saling menggenggam di depan perut.
"Ini milik Eyang," kata Revan. "Sekarang Kakak dan Reyna merasa ini bukan lagi milik kami berdua. Ayah yang paling pantas menyimpannya."
"Ayah bukan keturunan Prabu," jawab Ayah pelan. "Ayah hanya menantunya."
"Justru itu, Yah." Reyna maju satu langkah. "Eyang memilih Ayah buat Bunda. Berarti Eyang percaya sama Ayah."
Ayah mengangkat salah satu pedang dengan dua tangan, seperti mengangkat sesuatu yang sangat rapuh. Cahaya sore menyentuh bilahnya dan tidak terjadi apa-apa, dan itu tampaknya yang membuat bahunya turun.
"Pusaka," katanya akhirnya. "Bukan senjata. Ayah simpan, Ayah rawat, Ayah ajarkan nanti pada cucu Ayah bahwa benda ini tidak pernah dipakai untuk melukai." Ia menatap Reyna dalam-dalam, mata tua itu berkaca. "Dan Ayah mau bilang sesuatu yang seharusnya Bunda sampaikan lebih dulu. Kamu penjaga sesudah Bunda, Nak. Sesudah Eyang. Jaga, bukan kurung."
Reyna menahan napas. Ia ingin menjawab bahwa ia tidak merasa cukup besar untuk itu. Tetapi ia teringat gua, dan lingkar cahaya Laras, dan suami yang memanggil namanya sampai air naik ke pinggangnya.
"Iya, Yah," katanya. "Aku terima."
Ayah mengangguk, dan Revan menepuk bahu adiknya dengan tangan yang tidak sepenuhnya mantap.
***
Malam itu ponsel Reyna bergetar di meja kamar. Pesan dari Nina.
'Selasa kamu masuk setengah hari. Aku yang jadi anestesimu. Jangan membantah, dan jangan minta yang berat.'
Reyna membacanya dua kali, lalu menunjukkannya kepada Reynand yang bersandar di ambang pintu dengan handuk di bahu.
"Dia menyuruh," kata Reynand.
"Dia menyuruh."
"Kamu mau balas apa?"
Reyna mengetik: 'Siap, Dokter Nina.' Lalu menambahkan satu kata lagi, ragu-ragu, sebelum menekan kirim: 'Terima kasih.'
Balasan datang sebelum ia sempat menaruh ponsel. Hanya satu titik, lalu satu kalimat pendek: 'Jangan telat.'