"Selamat pagi, dokter bedah," kata Nina, dan Reyna hampir menjatuhkan klem di tangannya.
Selasa pagi itu ruang operasi nomor tiga terasa terlalu terang. Reyna sudah berdiri di sana sejak pukul tujuh, dengan masker di wajah, kalung penjaga tersembunyi di balik baju scrub, dan pasien hernia berusia lima puluhan yang terbaring tenang di meja. Operasi sederhana, sengaja dipilih, tidak ada yang mendesak. Felli sebagai asisten di sisi kanan, perawat instrumen di sisi kiri, dan di ujung kepala pasien, di balik layar monitor, Nina duduk dengan wajah yang jauh lebih santai dari biasanya.
"Nin?" kata Reyna.
"Ya?"
"Kamu tersenyum."
"Aku tidak tersenyum. Maskerku miring." Nina membetulkan masker dengan telunjuk, tetapi matanya berkerut di sudut. "Mulai. Tekanan darah bagus, saturasi bagus. Dokter Reyna, silakan mulai kapan pun kamu siap, dan tolong jangan berbicara dengan siapa pun yang tidak ada di ruangan ini."
"Aku tidak akan," kata Reyna, dan Felli terkikik di balik maskernya.
Hernianya selesai dalam empat puluh menit. Tangan Reyna stabil dari awal sampai jahitan terakhir, dan di tengah operasi ia baru sadar tidak ada yang dingin di tengkuknya, tidak ada benang melilit pergelangan, tidak ada yang berbisik. Hanya bunyi monitor dan denting instrumen. Ia menutup luka dengan perasaan seorang dokter yang pertama kali merasa bekerja sendirian dengan lega.
Setengah jam kemudian, di ruang pemulihan, Reyna melihatnya.
Di kursi pojok, di bawah jendela, seorang perempuan berseragam perawat kuno duduk dengan tangan terlipat di pangkuan. Kulitnya tidak melepuh. Rambutnya tersanggul rapi. Ketika mata mereka bertemu, Lastri mengangguk kecil, seperti perawat jaga yang menyapa dokter pagi.
"Dia di sini," bisik Reyna.
Nina, yang sedang mencatat di bagan pasien, tidak menoleh. "Pojok jendela?"
"Kamu lihat?"
"Sekilas. Entah kenapa aku jadi bisa." Nina berdeham. "Selamat pagi, Suster," katanya ke arah kursi itu, canggung seperti orang yang baru belajar bahasa asing. Lastri tersenyum, dan Reyna harus menunduk supaya tidak tertawa.
***
Malam harinya rumah Reynand penuh. Tadinya syukuran kecil, katanya, hanya sahabat dan beberapa saudara. Tetapi Alvin membawa dua rantang, Siska membawa kue tart yang tidak diminta, Valen membawa speaker, dan Revin datang terlambat dengan keranjang buah besar yang ia peluk seperti bayi. Di ruang tengah, kursi-kursi digeser, karpet digelar, dan Doni sudah memetik gitar di sudut.
"Ini syukuran apa pesta pernikahan?" protes Reynand dari dapur.
"Syukuran ya syukuran," kata Alvin sambil mengaduk sambal. "Bedanya ada bonus."
"Bonus apa?"
"Jangan tanya. Tonton saja."
Mereka makan lesehan. Cerita-cerita berhamburan, tentang Kapolsek yang tidur dua belas jam, tentang Salma yang mengirim kardus berisi salak, tentang Arman yang kata Nina sudah memesan boneka bayi seukuran kasur. Ayah duduk di sudut sofa dengan secangkir teh, sesekali tersenyum tanpa ikut bicara, dan Revan di dekatnya sedang menelepon pos tugasnya sambil mengangkat tangan setiap kali Alvin berteriak.
Menjelang pukul sembilan Revin berdiri dan mengetuk gelas dengan sendok.
"Perhatian. Perhatian!" katanya. "Gue mau bilang sesuatu."
"Duduk, Kak," kata Reyna. "Kamu bikin gelasnya retak."
"Diam, Dek. Ini momen." Revin menarik keranjang buah ke tengah karpet. "Len. Sini."
Valen, yang sedang menyuap tart, menoleh dengan garpu masih di mulut. "Apa?"
"Sini dulu."
Valen merangkak dengan curiga. Revin membuka keranjang dan mengeluarkan satu jeruk besar, mengupasnya dengan gerakan yang terlalu hati-hati, dan menyodorkan seluruh kulit utuh bagian dalamnya ke tangan Valen. Valen mundur secepat kilat.
"Vin, lo gila? Gue pusing bau jeruk!"
"Buka, Len."
"Gue mau muntah."
"Sebentar saja. Buka."
Dengan wajah ngeri, Valen membuka kulit jeruk itu, dan di dalamnya, terselip di antara kulit putih yang basah, sebuah cincin sederhana dengan batu kecil. Seisi ruangan menahan napas. Valen menatap cincin itu, lalu Revin, lalu cincin lagi.
"Kamu," katanya terbata, "kamu masukin cincin ke jeruk. Ke jeruk, Vin. Aku pusing kalau cium bau jeruk."
"Aku tahu. Karena itu cuma kamu yang bakal mengingatnya sampai tua." Revin berlutut dengan satu kaki, wajahnya merah sampai telinga. "Len, mau gak kamu nikah sama aku? Aku gak romantis, aku sering marah, dan aku kebanyakan makan sambal. Tapi aku mau jadi orang yang selalu bukain jeruk buat kamu, tahu kamu pusing atau enggak."
Valen menutup hidung dengan tangan, menutup mulut dengan tangan satunya, dan terisak-isak tertawa. "Iya. Iya, gue mau. Gue mau. Tapi lo buang jeruknya dulu."
Tepuk tangan meledak. Alvin bersiul keras, Doni memainkan gitar asal-asalan, dan Felli berteriak menyuruh Revin memasangkan cincinnya sebelum Valen benar-benar muntah. Reyna berdiri dan memeluk kakaknya dengan tangan terentang sampai Revin mengaduh karena tertusuk perutnya yang mulai membulat.
***
Siska menunggu keributan mereda, lalu berdiri dan mengacungkan garpu seperti hakim membuka sidang.
"Berikutnya agenda gue," katanya. "Angga dan gue sudah sepakat. Akad kami habis Felli. Bukan sebelum, bukan bareng. Habis."
"Kenapa habis?" tanya Felli.
"Karena kalau gue duluan, lo bakal nangis seharian dan gak bisa dandan. Dan gue butuh lo dandan." Siska menoleh. "Dan satu lagi, Fel. Hutang."
"Hutang apa?"
"Jet." Siska menengadahkan telapak tangan. "Lo janji jet ke Singapura. Waktu itu lo sebut dengan suara lantang, di depan Alvin, Reyna, dan Reynand. Gue minta bukti."
Felli menatapnya lama, lalu merogoh tas dan mengeluarkan amplop cokelat tipis. "Gue sudah tahu lo bakal nagih. Ini surat pinjaman dari Daddy. Jet-nya tersedia untuk bulan madu lo sama Angga. Bukan ke Singapura." Ia tersenyum. "Terserah mau ke mana."
Siska membuka amplop itu, membaca dua baris, lalu memeluk Felli sampai rambut keduanya kusut. Angga di belakangnya hanya mengusap tengkuk dengan wajah linglung.
Ponsel Reyna bergetar saat gelak tawa belum surut. Nomor tak dikenal dari Jawa Timur, panggilan video. Ia mengangkatnya dan menahan layar supaya semua melihat.
"Kak Reyna!"
Riani muncul di layar, memakai kerudung putih dan baju koko longgar, di sebuah ruangan berlantai papan. Wajahnya lebih bulat dari yang Reyna ingat. Di belakangnya, samar, terdengar suara santri melantunkan doa. Rio langsung merebut ponsel, dan dalam sekejap suara Riani yang cekikikan memenuhi ruangan.
"Kak, hafalanku sudah satu juz," katanya setelah Rio menyerah. "Ustazah bilang bacaanku makin rapi. Soal mata sudah selesai, ya, tertutup. Titip salam buat Kak Laras kalau Kakak ketemu dia lagi."
"Alhamdulillah, Ri," kata Reyna, sudut matanya hangat.
"Ibu Nyai bilang aku boleh telepon sepuluh menit karena Kakak menang." Riani melambai. "Salam buat dedek bayinya!"
Setelah sambungan putus, ruangan mereda. Tinggal bunyi sendok dan gelas, dan gitar Doni yang kini memainkan lagu dengan betul. Di sudut sofa Felli menggeser duduknya ke dekat Reyna, mendekatkan kepala sampai rambutnya menyentuh pipi.
"Rey," bisiknya.
"Hm?"
"Kalau gue gemetar waktu akad nanti, pegang tangan gue ya."