Minggu pagi, lima hari sesudah malam syukuran itu. Tangan Felli dingin seperti es batu, dan Reyna menggenggamnya dengan kedua tangan sejak perias terakhir keluar dari kamar.
"Dua puluh menit lagi," kata Siska dari ambang pintu. Ia sudah rapi dalam kebaya warna dusty pink dan sanggul yang menjulang, dan ia menahan diri untuk tidak menyentuh apa pun. "Dan lo jangan nangis, Fel. Eyeliner lo mahal."
"Gue nggak nangis."
"Mata lo basah."
"Itu karena AC."
"AC-nya mati dari tadi."
"Kalau begitu karena kelilipan."
"Lo kelilipan sejak jam enam pagi? Sama persis kayak waktu lo diwisuda."
Felli memejamkan mata dan tertawa tanpa suara. Gaun akadnya putih gading dengan kerah rendah dan lengan panjang, dan kerudung tipis menutupi rambut yang disanggul sederhana. Gigi kelincinya muncul waktu ia tertawa, dan Reyna tiba-tiba sadar betapa lama ia sudah melihat gigi itu, sejak bertahun-tahun lalu, di ruang jaga, di kantin rumah sakit, di tengah malam ketika Felli memeluk bantal dan bilang ia takut gelap.
"Rey," kata Felli.
"Gue di sini."
"Tangan gue gemetar."
"Gue tahu. Gue pegang." Reyna mengencangkan genggamannya. "Dengar, Fel. Kalau tangan lo masih gemetar waktu penghulu mulai, tatap saja Alvin. Dia akan berusaha keras tidak bercanda, dan itu lucu sekali."
"Dia tidak akan bisa."
"Taruhan?"
"Taruhan. Satu bakso."
"Dan tangan lo gak bakal gue lepas sampai Daddy memanggil."
Pintu kamar terbuka sedikit. Daddy berdiri di sana dengan jas hitam dan peci, wajahnya lebih tua dari yang Reyna ingat dari sarapan di rumah ini beberapa bulan lalu. Ia memandang putrinya lama-lama sebelum berani masuk.
"Cantik," katanya, serak. "Persis ibumu."
Felli menggigit bibir. "Daddy jangan bilang gitu. Nanti aku nangis."
"Tidak apa-apa nangis." Daddy berjongkok di depan kursinya, lutut berderak, dan menggenggam tangan Felli yang lain. "Hari ini boleh. Ibumu juga nangis waktu Daddy melamar. Tiga hari tidak berhenti."
"Daddy bohong."
"Setengah bohong. Dua hari." Daddy tersenyum, dan Felli tertawa sampai air matanya akhirnya jatuh, dan Siska buru-buru menyodorkan tisu tanpa suara.
***
Akad dilangsungkan di ruang tamu rumah Daddy yang luas, dengan karpet merah dan kursi-kursi tersusun melingkar. Alvin sudah duduk di hadapan penghulu dengan jas abu-abu dan peci hitam, punggung tegak seperti sedang apel. Di sisi kanannya Reynand duduk sebagai saksi, di sisi kiri Angga. Ibu Alvin duduk di barisan depan dengan tisu di tangan, dan Ayah di sampingnya, menjawab sopan setiap kali ibu itu menoleh.
Felli dituntun masuk oleh Reyna dan Siska, masing-masing memegang satu lengan. Tangannya masih gemetar. Reyna tidak melepas tangan itu sampai Felli duduk di sisi Alvin, dan baru ketika Felli menoleh padanya dengan mata memohon, Reyna menunduk dan berbisik, "Gue di belakang lo, Fel. Dua langkah."
Alvin menoleh sekali pada Felli. Hanya itu. Ia tidak bercanda, tidak mengedip, tidak mengeluarkan satu pun gombalan khasnya. Ia menatap perempuan di sampingnya dengan mata yang Reyna jarang lihat di wajah sahabatnya: tenang dan serius dan sedikit takut, seperti lelaki yang baru sadar bahwa ia sedang diberi sesuatu yang sangat besar.
Daddy menjabat tangan Alvin dengan erat dan menahannya sedetik. "Jaga dia, Nak," katanya, hampir tak terdengar.
"Siap, Pak." Alvin menelan ludah. "Daddy."
Penghulu memberi aba-aba, dan ruangan menjadi sepi. Daddy sendiri yang mengucapkan ijabnya, suaranya hanya sedikit bergetar.
"Saya nikahkan dan kawinkan engkau, Alvin, dengan putri kandung saya, Fellicia Aula Bramasta, dengan mas kawin seperangkat alat salat dan emas seberat..."
"Saya terima nikah dan kawinnya Fellicia Aula Bramasta dengan mas kawin tersebut dibayar tunai."
Suara Alvin tidak bergetar sedikit pun. Ia mengucapkannya dengan nada rendah dan mantap, dalam satu tarikan yang rapi, tanpa terburu-buru dan tanpa tersendat. Di belakangnya Siska menutup mulut, Angga menahan napas, dan Reynand, yang pernah berdiri di posisi yang sama, memejamkan mata sebentar.
"Bagaimana para saksi?"
"Sah," kata Reynand dan Angga bersamaan.
"Sah!" seru seisi ruangan. "Alhamdulillah!"
Doa dibacakan, dan Felli menangis tanpa suara sepanjang doa itu, bahunya naik turun dan Alvin menggenggam tangannya yang dingin. Reyna berdiri dua langkah di belakang dan tidak berkedip.
Sesudah doa, penghulu mempersilakan mempelai saling menyematkan cincin. Alvin mengambil kotak beludru dari saku jasnya dengan tangan yang mantap, memasangkan cincin di jari manis Felli, lalu menahan jemari itu sebentar lebih lama dari yang diperlukan.
"Kamu tahu apa yang paling bikin aku takut dari tadi?" bisik Alvin, cukup keras untuk didengar barisan depan.
"Apa?" Felli terisak.
"Bahwa kamu bakal bilang tidak."
"Bodoh. Aku sudah bilang iya di gunung."
"Itu kan sebelum Daddy tahu aku suka makan mi instan tiga kali sehari." Alvin tersenyum miring. "Sekarang resmi, Fel. Aku sah jadi orang yang boleh kamu lempar sandal, tanpa konsekuensi hukum."
Tawa pecah. Felli memukul lengannya dengan buket, kelopak mawar berhamburan di karpet, dan Daddy menutup wajah dengan telapak tangan sambil bahunya bergetar. Ibu Alvin tertawa sambil menyeka mata. Reynand menunduk menahan geli, dan Siska berseru, "Dua puluh lima ribu buat yang bisa mengoreksi gombalan paling parah di dunia!"
"Kalau itu gombalan, aku keluar," kata Angga.
"Silakan, Ga. Gue gak nyuruh lo masuk." Alvin mengangkat tangan Felli dan mencium punggung jarinya, sekali, di depan semua orang. "Istriku."
Felli menatap tangannya sendiri, lalu suaminya, dan wajahnya yang basah berubah merah sampai ke telinga. "Iya," katanya. "Suamiku."
***
Reyna masih berdiri di tempatnya ketika kerumunan mulai bergerak ke ruang makan. Reynand menghampiri dan menyentuh sikunya, tetapi Reyna tidak langsung bergeser. Matanya terpaku pada sudut ruangan, dekat jendela besar berkorden putih, tempat bayangan cahaya pagi menimpa lantai.
Di sana berdiri dua orang.
Yang satu perempuan paruh baya berkebaya biru muda, rambut disanggul longgar, wajah teduh dan masih muda untuk ukuran seorang ibu. Di sisinya seorang gadis remaja berseragam abu-abu dengan rambut dikepang dua, yang melambai kecil sambil tertawa tanpa suara. Mereka tidak tampak pucat, tidak basah, tidak terluka. Mereka hanya tampak seperti keluarga yang datang menghadiri pernikahan, dan tidak ingin mengganggu.
Perempuan paruh baya itu menatap Felli yang sedang dipeluk Daddy, lalu menatap Reyna. Ia menempelkan telapak tangan di dada, menunduk sekali, dan tersenyum. Gadis di sisinya mengacungkan jempol.
"Ada apa?" bisik Reynand.
"Mereka datang," jawab Reyna pelan, dan ketika Felli menoleh dari pelukan Daddy, mata sahabatnya mencari-cari ke arah yang sama. "Ibu dan Bunga. Mereka tersenyum."
Felli tidak bisa melihat apa pun. Tetapi ia menatap sudut itu lama sekali, dengan mata basah dan dagu yang sedikit terangkat, lalu tersenyum, pelan, seolah menjawab sebuah pertanyaan yang tak diucapkan.
"Gue tahu," katanya. "Gue merasa."