Lorong menuju poli kandungan masih sama: lantai keramik krem, kursi besi berderet, bau antiseptik yang menggantung di udara. Rabu pagi itu Reyna melangkah melewati belokan menuju kamar mandi dan berhenti, hanya sebentar, memandang ujung lorong yang kosong dan terang oleh lampu neon.
"Ada apa?" tanya Reynand.
"Tidak ada apa-apa." Reyna tersenyum sendiri. "Aku cuma ingat, waktu itu aku bertanya apa kamu mencium bau sesuatu."
"Dan aku jawab tidak, karena aku bodoh." Reynand merengkuh bahunya, dan sengaja lewat di tengah lorong, bukan menyusuri dinding. "Hari ini baunya cuma teh jahe dari kantin."
"Dan mual?"
"Tidak. Hari ini tidak ada alasan buat mual."
Di ruang periksa, dokter kandungan, perempuan paruh baya yang kacamatanya selalu melorot, sudah menunggu dengan gel hangat di tangan. Reyna berbaring dengan baju terangkat sebatas perut yang kini membulat jelas, dan Reynand duduk di kursi di sisi tempat tidur, menggenggam tangannya dengan dua tangan.
Pintu terbuka sedikit. Arman menyembul dengan snelli putih dan boneka kain kecil menyembul dari saku.
"Boleh ikut lihat?" tanyanya. "Aku janji tidak banyak bicara."
"Anda selalu banyak bicara, Dok," kata dokter kandungan tanpa menoleh. "Tapi masuk saja. Tutup pintunya."
Arman menutup pintu dan berdiri di belakang Reynand dengan tangan terkepal di depan dada. Layar monitor menyala, dan gambar kelabu yang bergoyang mulai terbentuk: lengkung putih, bayangan gelap, kilatan kecil yang berdenyut cepat.
"Detak jantung seratus lima puluh," kata dokter. "Kuat sekali. Ini kepala, ini tulang belakang. Tangan, lihat, ini jari-jarinya, dia sedang menghisap ibu jari." Ia menggeser alat. "Mau tahu jenis kelaminnya? Posisinya bagus sekali hari ini."
Reyna dan Reynand saling pandang.
"Mau," kata mereka bersamaan.
Dokter menggeser sedikit lagi, mengetik sesuatu di layar, dan tersenyum. "Perempuan. Dan sehat. Sekali lagi, perempuan. Kalau semua berjalan seperti ini, kira-kira lima bulan lagi dia lahir."
"Lima bulan," ulang Reynand.
Reynand tidak bersuara. Genggamannya pada tangan Reyna mengencang sampai buku-buku jarinya memutih, dan Reyna mendengar napasnya terputus, patah-patah. Ia menoleh dan melihat suaminya menunduk dengan bahu naik turun.
"Rey."
"Aku tidak apa-apa."
"Kamu menangis."
Reynand tertawa pendek dan basah, tidak menyangkal. "Anak perempuan, sayang." Suaranya pecah. "Anak perempuan."
Di belakangnya Arman menyeka pipi dengan lengan snelli tanpa malu. "Aku titip salam buat Suster," katanya serak, memandang layar. "Katakan padanya, bayinya seperti yang pernah ia tolong. Kecil, kuat, dan keras kepala."
"Aku sampaikan," kata Reyna. "Tapi Dokter Arman, kenapa tidak Dokter sendiri yang bilang? Dia ada di rumah kami hampir tiap hari."
"Aku takut kalau bertemu langsung aku cuma bisa menangis." Arman tersenyum malu dan mengeluarkan boneka kain dari sakunya, meletakkannya di dekat bantal. "Titip ini buat dia. Aku jahit sendiri. Jelek, tapi sudah dicuci tiga kali."
"Jelek sekali," kata dokter kandungan, melirik. "Tapi bagus."
***
Sore harinya Reyna rebah di sofa ruang tengah dengan kaki di atas bantal, sedangkan Reynand duduk bersila di lantai di depannya dengan buku catatan terbuka dan wajah serius seperti sedang menyusun laporan operasi.
"Aku sudah memutuskan warna kamarnya," katanya.
"Warna apa?"
"Merah muda, merah muda tua, merah muda muda..."
"Rey, itu semua merah muda."
"Perempuan, kan?"
"Dia belum lahir, dia tidak peduli warna." Reyna tertawa dan menjangkau kertas di tangannya. "Coret. Setengahnya. Pilih putih dan krem juga."
"Putih kelihatan kotor."
"Kamu belum pernah punya bayi."
"Aku belum pernah punya apa-apa yang begini kecil." Reynand menutup buku. Ia diam sebentar, lalu meletakkan telapak tangannya di perut Reyna, lembut, dan menunggu. "Sayang. Nama sementaranya masih Laras?"
"Masih. Kenapa?"
"Aku mau pastikan." Ia mendongak. "Waktu di gua, waktu aku memanggil namanya, aku sadar aku tidak mau menyebut nama lain. Rasanya sudah nama dia. Bukan hanya karena Laras yang pergi. Tapi karena nama itu yang membuatku terus memanggil."
"Dan nanti, kalau dia sudah bisa bertanya kenapa namanya Laras, kita ceritakan semuanya?"
"Semuanya yang pantas didengar anak kecil. Gadis pemalu berjaket biru, yang minta ditemukan dan akhirnya pulang."
"Itu cukup. Itu cerita yang bagus."
Reyna mengusap rambut suaminya. "Namanya Laras. Sementara, kita bilang. Tapi sepertinya tidak ada yang sementara lagi."
"Aku setuju."
"Aku tahu." Reyna menyipitkan mata, lalu berbisik, "Rey. Jangan menoleh dulu. Jangan peluk aku."
"Kenapa?"
"Karena ada Lastri."
Reynand membeku. Lalu, sangat pelan, ia melirik ke sudut ruang tengah.
Di sana, di dekat lemari kecil tempat tumpukan baju bayi hadiah Siska, Felli, dan Valen tersusun dalam kantong plastik, seorang perempuan berseragam perawat tua duduk bersimpuh di lantai. Ia mengambil baju-baju mungil itu satu per satu dari kantong, mengibaskannya dengan hati-hati, melipatnya dua kali, dan menyusunnya berderet di atas bantal. Gerakannya cekatan, ritmis, seperti seorang yang sudah melakukan hal itu ribuan kali di bangsal yang sudah tak ada.
"Aku tidak bisa lihat," bisik Reynand.
"Aku bisa. Dia melipat baju bayi."
"Sudah?"
"Sudah tiga puluh. Dia teliti sekali." Reyna menahan tawa. "Dia lebih rapi dari Valen."
"Dan kamu tidak takut?"
Reyna memikirkannya serius. Dulu, di lorong itu, matanya hitam dan kukunya panjang dan bau gosongnya membuat perutnya jungkir balik. Sekarang perempuan itu menyusun baju bayi seolah itu satu-satunya hal yang pernah ia ingin kerjakan seumur hidup.
"Tidak," katanya. "Tidak lagi."
Lastri mengangkat kepalanya sekilas, tersenyum kepada Reyna tanpa suara, lalu kembali melipat. Di sudut mata Reyna, bayangan bau gosong dari mimpi buruk lama itu menguap seperti kabut yang tersentuh matahari.
***
Ponsel Reynand berdering saat azan magrib baru selesai. Panggilan video. Wajah yang muncul di layar kecil itu hitam legam oleh matahari dan bertopi baret.
"Ayah?" Reyna menegakkan duduk. "Ayah bukannya cuti?"
"Cuti Ayah habis kemarin, Nak. Atasan Ayah lebih galak dari Bunda." Ayah tersenyum di layar, di belakangnya tampak tenda hijau, beberapa prajurit lalu-lalang, dan langit sore bergaris merah. "Revan kirim fotonya. Perempuan?"
"Perempuan, Yah."
"Sehat?"
"Sehat. Detaknya seratus lima puluh."
"Bagus." Ayah mengangguk dua kali, lambat. "Nanti Ayah pulang waktu dia lahir. Ayah sudah bilang atasan. Kalau tidak diizinkan, Ayah ambil cuti sakit."
"Ayah!" Reyna tertawa.
"Ayah serius." Ayah mendekatkan wajahnya ke kamera sampai hidungnya memenuhi layar. "Coba arahkan ke perutmu, Nak. Ayah mau lihat."
"Tidak kelihatan apa-apa lewat layar, Yah."
"Biar. Ayah lihat saja." Reyna mengarahkan kamera ke bawah, dan selama sepuluh detik tidak ada suara, hanya napas Ayah yang berat dan bunyi angin di tenda. "Halo, Laras," kata Ayah akhirnya, rendah dan kikuk. "Ini kakekmu."
Lalu ia kembali memajukan wajah. "Reynand. Kamu jaga mereka berdua."
"Siap, Yah."
"Ayah percaya." Ia mundur, dan sebelum sambungan ditutup, tangannya terangkat, kasar dan lebar, dan melambai pelan-pelan ke arah kamera, seperti melambai pada anak kecil di pintu sekolah.