Sendok di tangan Reyna berhenti di tengah adukan bubur.
Sabtu pagi itu dapur rumah Reynand wangi bawang goreng dan kaldu ayam. Reynand sudah dua kali masuk untuk menawarkan bantuan dan dua kali keluar karena Reyna mengusirnya dengan sutil. Di luar jendela, matahari baru naik di atas pagar, dan di meja makan ponsel Reyna menyala dengan grup percakapan yang tak henti berbunyi karena Siska dan Felli sedang berdebat soal warna bunga untuk akad Siska nanti.
Lalu perutnya berdesir.
Bukan mual, bukan lapar. Sebuah getaran kecil dan halus di sisi kiri bawah. Reyna menahan napas. Ia menaruh sendok, meletakkan telapak tangan di sana, dan menunggu.
Tidak ada apa-apa. Lima detik, sepuluh detik.
Lalu terjadi lagi, sedikit lebih kuat.
"Rey," panggilnya, suaranya lebih tinggi dari yang ia kehendaki. "Reynand!"
Langkah tergesa di lorong. Reynand muncul di ambang pintu dapur dengan kaus terbalik dan sebelah tangan masih memegang pasta gigi. "Apa? Kenapa? Ada yang..." Ia menelan sisa kalimatnya ketika melihat wajah Reyna. "Kamu sakit? Aku telepon Felli."
"Dia menendang."
"Siapa?"
"Laras!" Reyna meraih tangannya dan menempelkan telapak itu di perutnya, tepat di tempat getaran tadi. "Tunggu. Diam. Tunggu."
Reynand membeku. Pasta gigi di tangan satunya meneteskan busa putih ke lantai. Mereka berdua berdiri tegak di tengah dapur, menunggu.
Sepuluh detik. Dua puluh.
"Mungkin cuma gas," bisik Reynand, hati-hati sekali.
"Aku dokter bedah, Rey. Aku tahu rasanya gas."
Dan saat itulah, di bawah telapak tangannya, sebuah dorongan lembut menekan balik. Satu ketukan kecil, jelas, tak mungkin salah, seperti ada yang mengetuk pintu dari dalam dan berkata aku di sini.
Reynand berseru tanpa suara. Mulutnya terbuka tapi tidak ada yang keluar. Lalu ia menjatuhkan pasta gigi ke wastafel, berlutut di lantai dapur yang dingin, dan menempelkan telinga ke perut Reyna dengan kedua tangan memeluk pinggangnya.
"Rey, tidak akan terdengar dari luar. Masih terlalu awal."
"Biar." Suaranya teredam kain baju. "Biar aku coba."
Reyna mengusap rambutnya yang berantakan dan berusaha tidak tertawa. "Kamu sedang pakai kaus terbalik."
"Diam. Aku sedang mendengarkan."
"Rey, buburnya gosong."
"Biar gosong. Ini lebih penting dari semua bubur di dunia."
"Kamu sering sekali bilang begitu sekarang."
"Karena semuanya benar."
Ia mendengarkan selama hampir dua menit penuh. Bubur di panci mulai mengental dan Reyna diam-diam mengecilkan api dengan tangan yang bebas. Akhirnya, tendangan ketiga datang tepat di sisi telinga Reynand, dan ia tersentak mundur seperti disengat, lalu tertawa. Tawa lepas, keras, tak terkendali, tawa yang membuat Reyna ikut terbahak sampai harus berpegangan pada pinggir meja.
"Dia menendangku!" seru Reynand. "Yang, dia menendangku di muka!"
"Kamu yang menempelkan mukamu."
"Dia pasti tahu itu aku."
Ponsel di meja berbunyi dengan panggilan video dari Siska. Reynand yang menjawabnya, masih berlutut, dengan tangan masih di perut Reyna dan wajah merah. "Bayinya menendang!" teriaknya ke layar. "Barusan! Tiga kali!"
Di layar, wajah Siska dan Felli berdesakan, dan jerit mereka membuat speaker ponsel berderak.
***
Sorenya Reyna duduk di teras belakang dengan selimut tipis di bahu. Langit di atas pagar belakang sudah jingga dan merah, dan pohon mangga di sudut halaman menggugurkan satu dua daun. Reynand duduk di anak tangga di bawahnya, punggung bersandar pada lutut Reyna, memainkan ponsel untuk membalas ucapan selamat dari separuh Polres.
Perut Reyna terasa hangat.
Bukan hangat dari selimut. Hangat yang berasal dari dalam, lembut dan merata. Ia menunduk, dan melihat sesuatu bergerak di bawah kain bajunya: cahaya samar, keemasan, tipis. Cahaya itu berdenyut pelan, mengikuti irama napasnya sendiri, lalu perlahan mengalir naik ke dada dan ke leher, hingga bandul kalung penjaga di dadanya ikut bersinar sejenak.
"Rey."
"Hm?"
"Jangan menoleh. Tapi di perutku ada cahaya."
Reynand mematikan layar ponselnya. "Cahaya apa?"
"Hangat. Tidak menyakitkan. Seperti..." Reyna berhenti, mencari kata. "Seperti ada yang menjaga dari dalam. Kamu tahu apa yang dulu paling kutakutkan?"
"Apa?"
"Kalau dia lahir dan ternyata melihat juga. Seperti aku. Aku tahu rasanya kecil dan melihat yang tidak dilihat orang, Rey, dan tidak ada yang percaya."
"Kalau dia melihat, kita percaya," jawab Reynand cepat, seakan sudah menyiapkan kalimat itu sejak lama. "Dan kita ajari dia berdoa lebih dulu daripada takut. Sama seperti Eyang mengajari ibumu."
"Kamu sudah memikirkan ini."
"Sejak di gua." Ia menoleh sedikit. "Dia yang menjaga atau kamu yang menjaga, sekarang?"
"Kami saling." Reyna tersenyum.
Di ujung halaman, di antara pagar dan rumpun pisang, sesuatu putih bergerak. Seekor harimau besar berjalan pelan menyusuri tepi rumput, bulunya menyala jingga oleh matahari terbenam, langkahnya tenang dan tidak terburu-buru. Di pagar ia berhenti dan menoleh sekali. Matanya keemasan dan hangat. Lalu ia melompat ringan ke seberang dan lenyap di antara bayangan pohon.
Reyna mengangkat tangan dan melambai.
"Siapa?" tanya Reynand, tanpa menoleh.
"Eyang. Dia pamit." Ia menurunkan tangan, dan matanya hangat. "Pekerjaannya sudah selesai."
Reynand menggenggam tangannya yang lain tanpa berkata apa-apa. Mereka duduk diam sampai kelelawar pertama melintasi langit.
***
Malam harinya, di kamar, lampu tidur menyala jingga lembut. Reyna rebah menyamping dengan bantal di antara lutut, dan Reynand berbaring di hadapannya, kepalanya sejajar dengan perut yang kini membulat di bawah selimut.
"Sekali lagi," bisiknya. "Tendang sekali lagi."
"Dia sudah tidur, Rey."
"Dia tidak tidur. Dia pura-pura."
"Dia menurun dari siapa, kalau pura-pura?"
"Dari kamu, jelas. Kamu pura-pura kuat setiap Senin."
Reynand menempelkan telinga. Selama beberapa detik tak ada apa-apa, hanya detak jantung Reyna sendiri yang terdengar jauh. Lalu satu dorongan kecil datang, hampir malu-malu, dan Reynand tersenyum sampai matanya menutup.
"Hai," katanya ke perut itu. "Aku ayahmu. Aku yang selalu menyebut namamu di gua. Kamu dengar, kan?" Ia menjeda, lalu mendongak. "Yang. Aku mau tanya dia. Boleh?"
"Tanya saja."
Reynand menarik napas. "Namamu Laras, kan, Nak? Jawab kalau benar."
Reyna menatap langit-langit sebentar, lalu tersenyum, dan membuka mulut. "Iya. Laras."
Dorongan kecil menekan telapak Reynand, sekali, seolah menjawab.
Di ambang pintu kamar, tepat di bayangan antara lampu lorong dan lampu tidur, berdiri perempuan berseragam perawat. Ia tidak melangkah masuk. Tangannya terlipat rapi di depan perut, kepalanya sedikit miring, dan wajahnya tampak seperti seseorang yang sudah menunggu terlalu lama dan akhirnya diizinkan beristirahat.
"Dokter," katanya pelan.
Reyna menegakkan kepala. "Suster."
"Sesudah ia lahir," kata Lastri, "saya boleh pulang."