Lima bulan sesudah Sabtu ketika Laras pertama kali menendang, pada Rabu subuh yang masih gelap dan gerimis, Reyna berbaring di ruang bersalin RS KARTIKA dan menyadari bahwa ia sedang mengerjakan satu-satunya operasi yang tidak boleh ia pimpin sendiri.
"Tarik napas, Bu Dokter," kata dokter kandungan, perempuan berkacamata yang selalu melorot itu. "Tahan. Hembuskan. Bagus."
"Jangan panggil aku Bu Dokter," kata Reyna di sela gigi terkatup. "Aku pasien. Pasien biasa."
"Pasien biasa tidak mengomentari teknik saya sejak jam dua."
"Kalau begitu Dokter yang tidak biasa."
"Karena teknik Dokter..." Ia menjerit pendek saat gelombang berikutnya datang, panjang dan dalam, lalu mengendur. "Bagus. Teknik Dokter bagus."
Reynand tidak pernah melepaskan tangannya. Ia duduk di kursi rendah di sisi tempat tidur, masih memakai kemeja yang dikancingkan salah satu dari bawah, dengan rambut berantakan dan mata merah. Tangan kirinya menggenggam tangan kanan Reyna, tangan kanannya menyeka keringat di pelipisnya dengan kain basah yang entah sudah ia peras berapa puluh kali.
"Kamu hebat," katanya. "Sedikit lagi."
"Kamu bilang begitu dari satu jam yang lalu."
"Karena kamu hebat dari satu jam yang lalu."
Felli berdiri di sisi lain, dalam scrub hijau dengan cincin pernikahan yang tersangkut di sarung tangan. Wajahnya tegang tetapi suaranya tenang, suara yang Reyna kenal dari ribuan jam jaga malam. "Sudah pembukaan sembilan, Rey. Gue dengar detaknya. Kuat. Dia sudah tidak sabar."
"Tentu saja. Dia anak Reynand."
"Itu pujian atau hinaan?" tanya Reynand.
"Diam, Rey."
Di sudut ruangan Arman berdiri dengan snelli putih dan selimut bayi terlipat di lengan, menunggu giliran, sebagai dokter anak yang akan memegang bayi itu pertama kali. Wajahnya putih dan kedua tangannya tidak berhenti saling meremas. Di luar pintu, Reyna tahu, ada lorong, dan di ujung lorong ada ruang tunggu yang sejak tengah malam dipenuhi kursi besi, gelas kopi kertas, dan orang-orang yang mencintainya: Ayah dengan buku saku hijaunya, Revan, Revin dan Valen, Siska yang tertidur di bahu Angga dengan cincin barunya, Alvin yang berjalan mondar-mandir dengan nampan kopi, Nina yang memaksa semua orang makan roti. Dan di bangku paling pojok, kata Revan lewat pesan tadi, ada seorang nenek berkebaya yang duduk tenang dengan tangan terlipat di pangkuan, yang sejak tengah malam ikut menunggu, dan yang tak seorang pun berani mengusir.
Gelombang berikutnya datang.
***
Reyna melihatnya pada saat napasnya paling pendek.
Di ambang pintu, tepat di bayangan antara lorong dan ruangan, perempuan berseragam perawat tua berdiri dengan sanggul rapi dan kedua tangan terbuka di depan dada. Di lengannya tersampir selembar selimut bayi kecil berwarna krem, selimut yang ia lipat sendiri berminggu-minggu lalu di sudut ruang tengah. Lastri tidak melangkah masuk. Ia menunggu, seperti suster yang menunggu persalinan paling lama dalam hidupnya.
"Suster," bisik Reyna.
Arman menoleh cepat ke arah pandangannya. Ia tidak melihat apa-apa, tetapi wajahnya menegang. "Dia di sini?"
"Di pintu. Dia bawa selimut." Napas Reyna tersengal. "Dia tersenyum."
Mata Arman memerah. Ia merenggangkan selimut asli di lengannya dan menggenggamnya lebih erat, seakan sedang menahan sesuatu yang lain.
"Katakan padanya," ujar Arman parau, "kalau mau masuk, masuk saja. Aku tidak keberatan dilihat menangis."
"Suster, masuklah," kata Reyna ke arah pintu.
Lastri menggeleng pelan, tersenyum, dan menunjuk dengan dagunya ke arah tempat tidur: kamu dulu. Reyna menerjemahkannya, dan Arman tertawa basah.
"Dia selalu begitu. Dari dulu."
"Dari dulu kapan?" tanya Felli sambil mengecek monitor.
"Dari aku bayi, Dok. Katanya begitu." Arman terisak kecil. "Kata ibuku, Suster tidak pernah mau masuk ke ruangan sebelum semua bayi tertidur."
"Sekarang, Bu Reyna," kata dokter kandungan, tegas dan rendah. "Dorong. Sekali ini saja."
Reyna mendorong. Dunia menyempit menjadi satu garis api, satu napas, satu tangan yang digenggamnya dengan seluruh sisa tenaga, dan suara Reynand di telinganya yang berkata Reyna, Reyna, Laras, Laras, seperti yang ia katakan di tepi kolam malam itu, dengan nada yang sama, tanpa sholawat, tanpa kalimat lain, hanya nama.
"Aku tidak kuat, Rey," bisik Reyna.
"Kamu kuat. Kamu selalu kuat." Suara Reynand pecah. "Aku di sini. Pegang aku."
"Selalu," katanya, dan mendorong sekali lagi.
Lalu semuanya berhenti.
Satu detik hening yang tidak terputus. Dua detik.
Tangis itu datang seperti lonceng. Melengking, marah, dan sangat hidup.
"Perempuan," kata dokter, suaranya pecah di tengah kata. "Selamat, Bu Reyna. Sehat. Sehat sekali."
Felli memotong tali pusat dengan tangan gemetar, dan Arman melangkah maju membawa selimut, menerima bayi merah kecil yang menjerit-jerit itu dengan dua lengan seperti menerima sesuatu yang pernah ia terima di api, tiga puluh dua tahun yang lalu. Ia mengusap bayi itu, memeriksanya dengan gerakan cepat dan cekatan, lalu menyerahkannya ke dada Reyna.
Dingin sebentar, lalu hangat. Berat. Kecil sekali.
Reyna tertawa dan menangis bersamaan.
"Rey," katanya.
Reynand tidak menjawab. Ia menunduk di atas kepala kecil itu, bibirnya bergetar, dan Reyna melihat suaminya melakukan hal yang ia kira tidak akan bisa ia lakukan dengan tenang. Reynand mendekatkan mulut ke telinga kanan bayi, dan dengan suara lirih yang nyaris tak terdengar, ia membisikkan adzan. Allahu akbar, dan seterusnya, pelan seperti doa yang dititipkan, sampai ujung kalimat.
Ketika selesai, ia mengangkat wajah. Matanya basah, tetapi senyumnya begitu lebar hingga Reyna nyaris tak mengenalinya.
"Namanya," katanya serak. "Kamu yang bilang, sayang. Kamu yang pertama."
"Laras," kata Reyna.
"Laras," ulang Reynand ke telinga kecil itu. "Namamu Laras. Selamat datang, Nak. Ayah sudah memanggilmu sejak lama."
Bayi itu berhenti menangis.
Seolah mendengar. Mata kecilnya, masih tertutup separuh, terbuka perlahan, basah dan bingung. Ia tidak menatap Reynand, tidak menatap Reyna. Ia menatap sesuatu di luar mereka, di sudut ruangan, di ambang pintu, tempat seorang perawat tua berdiri dengan selimut yang tak bisa disentuhnya.
Lalu bayi itu tersenyum.
Senyum kecil, sangat singkat, seperti angin yang menyentuh air. Di ambang pintu Lastri menunduk, mengangkat selimut dengan kedua lengan seperti memeluk seseorang, dan wajahnya yang tua dan lelah menjadi sangat muda. Ia menatap Arman. Ia menatap Reyna. Ia mengangguk pada bayi itu, sekali, penuh hormat.
Lalu cahaya subuh dari jendela jatuh ke ambang pintu, dan di sana tidak ada siapa-siapa.
"Dia pergi, kan?" bisik Arman. Air matanya mengalir tanpa ia sadari.
"Dia pulang," kata Reyna. "Dia bilang, tugasnya selesai."
"Dia bilang begitu?"
"Dia tidak bilang apa-apa. Tapi dia pergi dengan senyum yang sama seperti waktu menyelamatkan Dokter."
Arman menutup wajah dengan selimut yang masih di tangannya, dan Felli, dengan mata merah dan cincin tersangkut di sarung tangan, memeluknya dari samping tanpa bicara.
Reynand menatap bayi itu, yang tersenyum pada ruang kosong, lalu menatap Reyna, dan ia memahami semuanya tanpa dijelaskan. Mereka saling pandang di atas kepala kecil yang hangat itu, dua orang yang pernah berdiri di lorong yang sama pada malam yang tidak diingat salah satunya, dan kini diingat oleh keduanya.
"Ajaib," bisik Reyna.
"Ajaib," bisik Reynand, tepat pada saat yang sama.
TAMAT