Bram Adiwangsa bangun pukul setengah enam tanpa alarm, seperti biasa, dan untuk beberapa detik ia berbaring menatap langit-langit kamar sambil menunggu.
Menunggu apa, ia sendiri tidak tahu lagi. Dulu, detik-detik pertama setelah bangun adalah waktu mesinnya menyala: menyusun peta hari itu, membaca ulang posisi semua bidak, memutuskan ekspresi mana yang akan dipakai ke meja makan. Sekarang peta itu sudah tidak ada. Bidak-bidaknya sudah masuk kotak. Dan mesinnya — mesinnya ternyata tidak tahu cara berhenti.
Ia turun ke dapur, menyeduh kopi untuk satu orang, dan duduk di meja makan yang terlalu besar untuk satu orang.
Di situlah ia menangkap dirinya sendiri untuk pertama kalinya pagi itu: ia sedang menghitung sendok. Satu sendok gula, diaduk tujuh kali berlawanan arah jarum jam — bukan karena tujuh adalah jumlah yang tepat, tetapi karena selama dua tahun segala sesuatu dalam hidupnya harus punya angka. Takaran. Lima persen lebih hangat. Empat puluh delapan jam setelah 'pulang ke rumah Mama'. Tujuh dari tujuh.
Bram meletakkan sendoknya.
'Tidak ada yang dihitung,' katanya pelan, pada dapur yang kosong. 'Aduk saja sampai larut.'
Kalimat itu terdengar konyol diucapkan keras-keras. Tetapi ia sudah belajar dari Maira bahwa kebiasaan yang dibentuk bertahun-tahun tidak mati karena keputusan besar — ia mati karena keputusan-keputusan kecil yang diulang, satu per satu, seperti mematikan lampu di rumah yang besar: kamar per kamar.
Masalahnya, rumahnya punya terlalu banyak kamar.
Di perjalanan ke kantor, lampu merah Sudirman membuat mesinnya menyala lagi. Supirnya — Pak Danu, yang menggantikan kebiasaan Bram menyetir sendiri — memilih lajur kanan. Dan otak Bram, sebelum ia sempat menahannya, sudah bekerja: *lajur kanan lebih lambat empat puluh detik, dia tahu itu, kenapa dia memilihnya, apa yang dia—*
Berhenti.
Bram menutup mata dan memaksa kalimat itu selesai dengan cara yang benar: *Pak Danu memilih lajur kanan karena dia suka lajur kanan. Orang boleh punya lajur favorit tanpa motif.*
Ia membuka mata. Pak Danu sedang bersenandung kecil mengikuti radio dangdut, tidak menyadari bahwa barusan ia diperiksa oleh mesin interogasi terbaik yang pernah dimiliki seorang suami.
Maaf, Pak, batin Bram. Bukan salahmu. Mesinnya belum dimatikan semua.
Hari itu, di kantor, kebiasaan itu menyala tiga kali lagi, dan tiga-tiganya di saat yang salah.
Pertama, saat sekretarisnya meminta maaf karena dokumen terlambat sepuluh menit — dan Bram menangkap dirinya membaca jeda di antara kata 'maaf' dan 'Pak', mencari keretakan yang tidak ada. Kedua, saat seorang manajer muda tertawa terlalu keras pada leluconnya di rapat, dan Bram langsung memetakan: *menjilat, atau takut, atau—* padahal leluconnya memang lucu dan anak muda itu memang suka tertawa. Ketiga, yang paling membuatnya malu, saat Maira menelepon hanya untuk mengajaknya makan siang — dan selama tiga detik penuh Bram mencari agenda di balik undangan itu.
Tidak ada agenda. Maira hanya lapar dan kangen mengobrol.
'Kamu diam tiga detik,' kata Maira di seberang telepon. 'Aku tahu persis apa yang terjadi dalam tiga detik itu, Bram Adiwangsa.'
'Aku sedang berusaha.'
'Aku tahu. Makan siang jam dua belas. Jangan telat, jangan bawa papan catur.'
Makan siang itu berjalan baik sampai menit keempat puluh, ketika Maira meletakkan sendoknya dan menatapnya dengan tatapan yang dulu biasa ia pakai untuk meneliti berkas.
'Aku mau tanya sesuatu, dan kamu jawab jujur,' katanya. 'Seminggu terakhir, berapa kali kamu menangkap dirimu sedang menghitung orang?'
Bram membuka mulut untuk menjawab 'tidak sering', lalu menutupnya lagi. Berbohong kepada Maira adalah kebodohan yang tidak pernah berhasil sejak lima belas tahun lalu.
'Setiap hari,' katanya akhirnya. 'Mungkin lima, enam kali sehari. Aku menangkapnya, lalu mematikannya. Tapi besoknya menyala lagi di tempat lain.'
'Dan itu membuatmu frustrasi.'
'Itu membuatku merasa rusak.' Bram menatap gelasnya. 'Aku menang, Maira. Perangnya selesai, aku yang menang. Tapi kenapa aku yang masih berjaga di pos, sementara yang kalah sudah pulang dan tidur?'
Maira diam sejenak. Di luar jendela restoran, Jakarta siang bergerak dengan suaranya yang biasa.
'Karena kamu memakai mesin itu lebih lama dari yang seharusnya,' katanya akhirnya, pelan. 'Orang memakai topeng satu jam, topengnya lepas. Kamu memakainya setahun penuh, dua puluh empat jam, sampai ke tidurmu. Tentu saja ada bekasnya di wajah. Itu bukan kerusakan, Bram. Itu bekas. Bekas dan rusak itu beda.'
'Bekas bisa hilang?'
'Bekas memudar. Pelan. Menyebalkan sekali pelannya.' Maira tersenyum kecil. 'Tapi begini cara aku melihatnya: dua tahun lalu kamu menghitung orang dan tidak sadar. Sekarang kamu menghitung orang, sadar, dan mematikannya. Itu bukan kemunduran. Itu kemajuan yang paling melelahkan jenisnya.'
Sore itu Bram pulang lebih awal. Ia memasak untuk dirinya sendiri — sesuatu yang baru ia pelajari di usia empat puluh satu, dengan hasil yang masih naik turun — dan makan di meja besar itu sendirian, tanpa membaca apa pun, tanpa layar, tanpa peta.
Di tengah makan, mesinnya menyala sekali lagi: *besok Senin, siapkan—*
Tidak. Besok Minggu. Tidak ada yang disiapkan untuk hari Minggu.
Bram mengunyah pelan, menelan, dan mengakui pada dirinya sendiri hal yang selama ini paling sulit ia akui kepada siapa pun: ia lelah. Bukan lelah karena pekerjaan — pekerjaannya justru ringan sekarang. Ia lelah karena menjadi orang yang selalu tahu. Tahu motif, tahu jeda, tahu arti tertawa yang terlalu keras. Selama dua puluh tahun ia mengira mengetahui segalanya adalah kekuatan. Baru sekarang ia merasakan harganya: orang yang tahu segalanya tidak pernah bisa istirahat.
Malam itu ia berdiri di jendela kamar, menghadap taman yang gelap — posisi yang sama dengan malam-malam perencanaan dulu. Tetapi kali ini tidak ada catatan kecil di sudut rencana. Tidak ada umpan. Tidak ada bandar.
Hanya ada satu kalimat yang ia ucapkan pada pantulan wajahnya sendiri di kaca, wajah yang lelah dan jujur:
'Mesinnya belum mati semua. Tapi malam ini, satu kamar lagi lampunya kupadamkan.'
Dan di gelap taman itu, untuk pertama kalinya, tidak ada siapa pun yang sedang ia awasi — kecuali dirinya sendiri, dan untuk itu, ia belum tahu apakah dirinya bisa dipercaya.