Laporan kuartal itu diletakkan di meja Bram pada Selasa pagi, dan isinya adalah kabar yang paling tidak menarik dalam lima belas tahun sejarah Grup Adiwangsa: semuanya baik-baik saja.
Pendapatan naik sesuai proyeksi. Proyek Senen Raya berjalan empat hari lebih cepat dari jadwal. Tidak ada tender yang dicuri. Tidak ada angka yang bocor. Tidak ada satu pun nama kompetitor yang membuat dada Bram berdesir. Tiga halaman laporan risiko berisi hal-hal seperti *kemungkinan kenaikan harga baja* dan *cuaca musim hujan*, yang oleh standar dua tahun terakhir terasa seperti membaca ramalan cuaca di surga.
Bram membaca laporan itu dua kali, mencari sesuatu yang salah.
Tidak ada yang salah. Itulah masalahnya.
Dua tahun lalu, laporan seperti ini tidak pernah ada. Selalu ada sesuatu yang bocor, seseorang yang bergerak di balik layar, sebuah angka yang terlalu rapi untuk jujur. Bram dulu membaca laporan keuangan seperti orang membaca peta ranjau — setiap kalimat dicurigai, setiap kabar baik diperiksa dua kali. Sekarang kabar baik datang tanpa harus diinterogasi, dan ia tidak tahu harus berbuat apa dengan tangan yang tidak lagi memegang detektor.
'Perusahaan ini membosankan,' katanya pada Maira di rapat Rabu, dan setengah dari kalimat itu adalah lelucon, dan setengahnya lagi bukan.
Maira tertawa — tawa lepas yang tidak pernah ada di dua tahun masa perang. 'Perusahaan yang membosankan adalah perusahaan yang sehat, Bram. Kamu mau aku carikan krisis? Aku kenal beberapa orang yang bisa—'
'Jangan.'
Tetapi benihnya sudah tertanam, dan Bram cukup jujur pada dirinya sendiri untuk mengakuinya.
Benih itu tumbuh di hari-hari berikutnya, pelan, seperti kebiasaan buruk yang menyamar sebagai ide cemerlang. Mulanya kecil: saat membaca berita tentang dua konglomera yang bersaing memperebutkan sebuah pelabuhan, tangan Bram gatal. *Kalau aku masuk sebagai pihak ketiga, diam-diam membeli saham pemenangnya sebelum pengumuman—* Lalu saat seorang rekanan lama menyombong di jamuan makan malam tentang akuisisi barunya, otak Bram otomatis menyusun tiga langkah untuk membuat akuisisi itu terjepit — hanya untuk membuktikan bahwa ia masih bisa.
Ia masih bisa. Itu yang menakutkan.
Puncaknya terjadi di akhir bulan, ketika seorang direktur muda mempresentasikan analisis tentang sebuah perusahaan keluarga yang sedang goyah — rapuh, murah, matang untuk diserbu.
'Ada peluang agresif di sini, Pak,' kata direktur itu. 'Kalau kita bergerak cepat dan senyap, kita bisa mengambilnya dengan harga yang sangat menarik. Lawannya tidak akan sadar sampai semuanya selesai.'
*Lawannya tidak akan sadar sampai semuanya selesai.*
Kalimat itu menggantung di ruang rapat, dan Bram merasakan sesuatu di dalam dadanya bangkit — sesuatu yang hangat dan tajam dan sangat ia kenal. Mesin itu. Menyala penuh untuk pertama kalinya dalam berbulan-bulan, bergembira seperti anjing mendengar bel makan. Papan catur terbuka di kepalanya: langkah satu, langkah dua, umpan di sini, jebakan di sana, dan perusahaan keluarga itu runtuh tanpa pernah tahu siapa yang menendang fondasinya.
Indah sekali. Mudah sekali.
Bram menatap slide di layar untuk waktu yang lama sekali, dan ruang rapat menunggu, dan ia mendengar suaranya sendiri akhirnya berkata:
'Tidak.'
Direktur muda itu berkedip. 'Pak?'
'Kita tidak menyerbu perusahaan yang sedang goyah.' Bram berdiri, berjalan ke jendela. 'Bukan karena tidak bisa. Karena aku tahu persis permainan apa yang sedang kamu tawarkan, dan aku tahu persis siapa yang membayar harganya. Tanya aku bagaimana aku tahu.'
'Bagaimana Bapak tahu, Pak?'
'Karena aku pernah jadi permainannya.' Bram berbalik. 'Dan aku pernah jadi pemainnya. Dua-duanya. Dan aku di sini untuk memberitahumu, dari kedua sisi meja: tidak ada yang menang di permainan itu. Yang ada hanya orang yang hancur cepat dan orang yang hancur pelan.'
Rapat itu bubar dengan perusahaan keluarga yang tidak jadi diserbu dan seorang direktur muda yang keluar ruangan sambil memikirkan sesuatu yang tidak pernah ia pelajari di sekolah bisnis mana pun.
Malamnya, Bram duduk sendirian di kantornya yang gelap dan menamai apa yang terjadi siang itu, karena ia sudah belajar bahwa hal yang dinamai lebih mudah dikalahkan daripada hal yang dibiarkan samar.
Namanya: kecanduan.
Bukan kecanduan kemenangan — ia sudah punya semua kemenangan yang orang waras bisa inginkan. Ia kecanduan permainannya. Pada papan, pada bidak, pada detik ketika lawan menyadari sudah terlambat. Selama dua tahun, adrenalin itu adalah makanan hariannya, dan sekarang dapurnya tutup, dan tubuhnya mengidam seperti perokok yang berhenti.
Perusahaan tanpa musuh adalah surga bagi seribu empat ratus karyawannya dan keluarga mereka. Dan bagi otak Bram Adiwangsa, surga itu terasa seperti ruang tunggu.
Ia mengangkat telepon dan menelepon satu-satunya orang yang akan mengerti tanpa perlu penjelasan panjang.
'Maira. Aku hampir memulai perang hari ini. Tanpa alasan. Hanya karena tanganku gatal.'
Hening sebentar di seberang. Lalu suara Maira, tenang seperti biasa: 'Tapi tidak jadi.'
'Tidak jadi. Aku menamainya. Kecanduan.'
'Bagus. Orang yang bisa menamai penyakitnya sudah sembuh separuh.' Suara kertas dibalik di seberang; Maira pasti sedang di ruang kerjanya di rumah. 'Bram, dengarkan aku. Kamu juara bertahan tanpa penantang. Itu posisi paling berbahaya dalam hidup seorang petarung — lebih berbahaya daripada kalah. Petarung yang tidak punya lawan akan mulai memukul dinding.'
'Lalu apa yang harus kulakukan dengan tangan yang gatal ini?'
Maira terdiam, dan Bram bisa mendengar senyumnya. 'Cari sesuatu yang tidak bisa dimenangkan, Bram. Sesuatu yang tidak punya lawan, tidak punya papan, tidak punya akhir. Dunia ini penuh hal-hal seperti itu — kamu saja yang belum pernah mampir, karena dulu kamu menganggapnya buang-buang waktu.'
'Misalnya?'
'Misalnya, suamiku minggu depan akan meneleponmu soal sesuatu. Angkat teleponnya. Jangan hitung agendanya — dia profesor sastra, agendanya paling mentok minta kamu beli buku.' Maira berhenti sejenak. 'Dan Bram? Hal yang tidak bisa dimenangkan itu biasanya hal yang paling layak diperjuangkan. Tapi kamu belum sampai di bab itu. Sabar.'
Telepon ditutup. Bram menatap kota di bawah jendelanya — kota yang dulu adalah papan caturnya, gedung demi gedung adalah kotak-kotaknya.
Malam itu, untuk pertama kalinya, ia melihat kota itu bukan sebagai papan.
Hanya sebagai kota. Dan untuk lelaki yang menghabiskan dua puluh tahun membaca segalanya sebagai permainan, pemandangan itu asing sekali — asing, dan entah kenapa, membuatnya ingin tahu.