Profesor Hardiman menelepon pada Kamis malam, persis seperti yang diramalkan istrinya, dengan agenda yang persis seperti yang diramalkan istrinya: tidak ada agenda yang bisa dipertahankan secara logika.
'Bram! Profesor Hardiman di sini. Suami Maira. Yang bercanda terus di meja makanmu waktu itu.'
'Saya ingat, Prof.' Sulit melupakan lelaki yang menghabiskan makan malam menceritakan persaingan sengitnya dengan kucing tetangga.
'Begini. Hari Sabtu kampus saya ada acara. Festival literasi — kecil-kecilan, mahasiswa yang menggerakkan, beberapa ruang baca komunitas pameran. Saya butuh tamu kehormatan yang bukan dari dunia kampus, supaya acaranya tidak terasa seperti rapat dosen yang diperpanjang. Anda sibuk?'
Bram melirik jadwalnya. Sabtu itu kosong — sebagaimana semua Sabtunya sekarang, sejak ia berhenti membawa pekerjaan ke rumah dan berhenti bermain golf dengan orang-orang yang sebenarnya tidak ia sukai.
'Tidak sibuk, Prof.'
'Bagus! Datang jam sembilan. Pakai baju biasa saja — jangan jas, nanti mahasiswa mengira Anda dari bank mau menawarkan kredit.'
Sabtu pagi, Bram datang dengan kemeja biasa — kemeja yang harganya masih bisa membeli sepeda motor, tetapi setidaknya tidak berjas — dan menemukan festival kecil itu tersebar di lapangan dan lorong-lorong fakultas: stan buku bekas, pojok baca anak, mural setengah jadi, dan mahasiswa-mahasiswa yang berlari ke mana-mana dengan dasi panitia yang miring.
Tidak ada podium kehormatan. Tidak ada papan namanya. Profesor Hardiman menyambutnya dengan tepukan di bahu, menyerahkan seikat balon untuk dibagikan ke anak-anak pengunjung, lalu menghilang untuk memperbaiki pengeras suara yang bermasalah.
Bram Adiwangsa, CEO Grup Adiwangsa, berdiri di tengah lapangan kampus memegang sebelas balon, dan untuk pertama kalinya dalam dua puluh tahun, tidak ada satu orang pun di sekitarnya yang tahu siapa dia.
Rasanya aneh. Rasanya... ringan.
Ia berkeliling dari stan ke stan. Di stan buku bekas ia berhenti paling lama, mengangkat sebuah novel tua yang sampulnya sudah pudar, dan tanpa sadar bergumam: 'Edisi pertama. Sayang kondisinya.'
'Kondisinya justru yang terbaik,' kata sebuah suara dari balik tumpukan buku.
Seorang perempuan muncul dari sana — tiga puluhan, rambut diikat sembarangan, kemeja kebesaran dengan noda teh di mansetnya, lencana panitia bertuliskan satu nama: *Aluna*. Ia mengambil novel itu dari tangan Bram tanpa sungkan, membuka halaman dalamnya, dan menunjukkan coretan pensil di margin.
'Lihat ini. Pembaca sebelumnya menulis tanggapan di sini. Terus di halaman ini, orang lain lagi — tulisannya beda — membalas tanggapan itu. Buku ini sudah diperdebatkan dua orang asing sebelum kita.' Ia menatap Bram. 'Kondisi baik itu bukan berarti bersih. Kondisi baik itu berarti bukunya pernah benar-benar dibaca orang.'
Bram menatap coretan di margin itu, lalu menatap perempuan di depannya. 'Itu cara yang sangat longgar untuk menilai kondisi barang.'
'Itu cara yang sangat tepat untuk menilai buku.' Aluna tidak mundur sedikit pun. 'Anda menilai buku seperti orang menilai aset. Tidak salah, sih. Cuma sempit.'
Dua puluh tahun berbisnis, dan tidak ada satu pun orang — bukan komisaris, bukan menteri, bukan Radit di puncak permusuhannya — yang pernah menyebut cara berpikir Bram Adiwangsa *sempit* di hadapannya, sambil tersenyum, sambil sibuk menata tumpukan buku seolah percakapan ini hanya jeda di antara pekerjaan yang lebih penting.
Bram merasakan sesuatu yang sangat langka terjadi di wajahnya: ia tertawa. Bukan tawa sosial, bukan tawa lima persen — tawa yang keluar sebelum sempat diperiksa.
'Aluna,' katanya, membaca lencana itu. 'Anda yang mengelola stan ini?'
'Saya yang mengelola program ruang bacanya. Stan ini cuma jualan buat beli buku baru.' Aluna menyodorkan novel tua itu kembali ke tangannya. 'Dua puluh ribu. Murah, karena menurut Anda kondisinya jelek.'
'Saya belum bilang mau beli.'
'Anda sudah memegangnya lima menit dan membaca halaman belakangnya dua kali.' Aluna mengangkat bahu. 'Saya ini pengelola ruang baca, Mas. Membaca orang yang membaca itu bagian dari pekerjaan.'
Bram membeli buku itu. Ia membayar dua puluh ribu untuk novel yang di toko buku besar mungkin berharga tiga ratus ribu dalam kondisi mulus, dan ia tahu ia baru saja ditipu secara ekonomis, dan ia tidak peduli sedikit pun — dan ketidakpedulian itu sendiri adalah sensasi yang lebih asing dari segalanya.
Profesor Hardiman menemukannya satu jam kemudian, masih di stan yang sama, masih berdebat — kali ini soal apakah akhir sebuah novel terkenal itu 'jujur' atau 'penulisnya kabur'. Aluna memegang posisi 'kabur'; Bram memegang posisi 'jujur'; tidak ada yang menang; dan Bram menyadari dengan kaget bahwa ia tidak sedang berusaha menang.
'Bram! Kamu masih di sini?' Profesor Hardiman melirik Aluna, lalu melirik Bram, lalu tersenyum dengan senyum yang akan membuat Maira bangga. 'Luna, kenalkan, ini teman keluarga kami. Bram, ini Aluna, tulang punggung ruang baca kami.'
'Kami sudah berkenalan lewat perdebatan, Prof,' kata Aluna. 'Dia kalah, tapi belum mengaku.'
'Dia tidak pernah mengaku kalah,' kata Profesor Hardiman penuh arti. 'Tanyakan saja istr—' ia berhenti sepersekian detik, lalu meneruskan dengan mulus, '—tanyakan saja istri saya. Maira. Mereka kerja bareng lima belas tahun.'
'Maira yang kepala hukum itu?' Aluna mengangkat alis pada Bram. 'Oh. Jadi Anda orang kantoran.'
Nada suaranya saat mengucapkan *orang kantoran* sama dengan nada orang menyebut *orang yang memelihara iguana*: tidak menghina, hanya sedikit heran kenapa ada yang mau.
'Sesuatu seperti itu,' kata Bram.
'Sudah kuduga. Dari cara Anda menilai kondisi buku.' Aluna kembali menata tumpukannya. 'Kalau mau debat kelanjutan, datang saja ke ruang baca kami. Alamatnya di kartu ini. Kami buka tiap sore, dan kopi di sana lebih jujur daripada akhir novel yang tadi.'
Ia menyelipkan kartu ke dalam novel yang baru dibeli Bram, menyapa pengunjung lain, dan pergi — tanpa menanyakan nama lengkapnya, tanpa menanyakan ia kerja di mana, tanpa satu pun pertanyaan yang biasanya mengikuti begitu orang tahu ia teman keluarga Profesor Hardiman.
Bram berdiri di sana memegang buku dan kartu, di tengah lapangan kampus yang riuh, dan mesin di kepalanya — untuk pertama kalinya — tidak punya data apa pun untuk diolah.
Tidak ada motif untuk dibaca. Tidak ada jeda untuk diukur. Perempuan itu tidak menginginkan apa-apa darinya, dan tidak tahu harus menginginkan apa, dan tidak peduli untuk mencari tahu.
Di perjalanan pulang, Bram membuka kartu itu sekali: *Ruang Baca Puan — Jalan Kenanga Dalam, buka setiap sore sampai magrib.*
Ia menyelipkannya kembali ke dalam novel, di halaman yang ada coretan pensilnya, dan menyetir pulang dengan satu pertanyaan yang bukan pertanyaan strategis — pertanyaan pertama jenis itu dalam waktu yang sangat lama:
*Kira-kira, sore ini dia ada di sana tidak, ya?*