Bram tidak pergi ke ruang baca itu pada sore yang sama. Ia menunggu empat hari — bukan karena strategi, melainkan karena ia tidak tahu cara pergi ke suatu tempat tanpa alasan yang bisa dipertahankan, dan empat hari adalah waktu yang ia butuhkan untuk berdamai dengan kenyataan bahwa *ingin* adalah alasan yang sah.
Ruang Baca Puan ternyata sebuah rumah tua di gang kecil, dengan pagar yang dicat ulang oleh tangan-tangan yang tidak rata dan papan nama dari kayu. Di dalamnya: rak-rak sumbangan, karpet-karpet bekas yang bersih, dan anak-anak yang membaca di lantai dengan bunyi halaman dibalik yang ramai seperti sawah.
Aluna sedang duduk di lantai, mengelilingi lima anak yang berebut satu buku bergambar. Ia melihat Bram di pintu dan mengangguk — anggukan biasa, seperti menyapa langganan.
'Datang buat melanjutkan debat, atau buat ngaku kalah?'
'Buat lihat-lihat,' kata Bram.
'Alasan orang yang tidak mau ngaku.' Aluna menunjuk rak di sudut dengan dagunya. 'Rak sebelah situ buku-buku serius. Silakan. Kalau ada yang mau ditanyakan, tanyakan pada anak-anak — mereka lebih tahu isi perpustakaan ini daripada saya.'
Dan ia kembali ke anak-anaknya, meninggalkan Bram Adiwangsa berdiri sendirian di tengah ruangan, tidak diantar, tidak dijamu, tidak diistimewakan.
Bram menghabiskan satu jam di sana. Ia membaca punggung buku, mendengarkan Aluna membacakan cerita dengan suara yang berubah-ubah untuk tiap tokoh, dan memperhatikan hal yang tidak bisa dihentikannya untuk diperhatikan: perempuan ini bergerak di dunianya tanpa satu pun kalkulasi. Ia memberi tanpa mencatat. Ia menyapa tanpa menilai. Ketika seorang anak menumpahkan teh ke karpet, ia tertawa dan mengelapnya sambil terus bercerita — tidak ada sepersekian detik jeda untuk menghitung kerugian.
Mesin di kepala Bram menyala beberapa kali, mencari motif di balik kehangatan itu — *orang sehangat ini biasanya mau sesuatu* — dan setiap kali, mesin itu menemukan nol. Tidak ada yang diinginkan Aluna dari siapa pun, selain agar anak-anak itu pulang dengan satu cerita baru.
Pertemuan kedua tidak sengaja, sungguhan. Rabu berikutnya, Bram masuk ke toko buku besar di dekat kantornya — kebiasaan barunya sejak festival itu — dan menemukan Aluna di lorong buku anak, jongkok di lantai dengan tumpukan delapan buku di pangkuannya dan ekspresi orang yang sedang berperang melawan anggaran.
'Kalau saya bilang rak sebelah sana ada edisi yang sama dengan harga setengahnya, Anda akan berterima kasih atau malah kesal?'
Aluna mendongak, dan wajahnya berubah lega. 'Oh. Mas Debat. Terima kasih, terima kasih sekali — tunjukkan.'
*Mas Debat.* Bram Adiwangsa, yang namanya dicetak di majalah bisnis dan diucapkan dengan hati-hati di ruang-ruang rapat, berdiri di lorong buku anak menjawab panggilan *Mas Debat* sambil menunjukkan rak diskon, dan tidak ada satu sel pun di tubuhnya yang keberatan.
Mereka berakhir di kafe kampus seberang toko buku — Aluna yang mengusulkan, karena 'setelah berhasil hemat seratus ribu, wajib hukumnya merayakan dengan kopi lima belas ribu'. Dan di kafe murah yang bangkunya berderit itulah Bram mengalami satu jam paling membingungkan dalam hidupnya.
Karena ia tidak tahu cara melakukannya.
Selama dua puluh tahun, setiap percakapannya punya struktur: rapat punya agenda, negosiasi punya target, makan malam punya peta. Bahkan aktingnya pada Tiara punya takaran. Tetapi Aluna bercerita tentang anak-anak ruang baca, tentang donatur yang menyumbang buku rusak, tentang mimpinya membuka cabang di kampung halamannya — meloncat-loncat, tanpa alur, tanpa tujuan — dan Bram duduk di sana dengan semua alatnya lumpuh.
Tidak ada yang perlu dibaca. Tidak ada yang perlu dimenangkan. Ia hanya perlu... ada. Dan ia sudah lupa caranya hanya ada.
'Anda diam saja,' kata Aluna tiba-tiba, menatapnya di atas cangkir kopi. 'Dari tadi.'
'Saya mendengarkan.'
'Mendengarkan sambil tegang. Anda seperti orang yang sedang menunggu jebakan.' Aluna mencondongkan badan, menelitinya dengan jujur tanpa basa-basi — cara meneliti yang seharusnya membuat Bram tidak nyaman, tetapi entah kenapa tidak. 'Anda selalu begini, atau cuma kalau ngobrol sama orang baru?'
Bram membuka mulut untuk menjawab dengan salah satu jawaban siap pakainya — dan menemukan bahwa ia tidak mau. Untuk pertama kalinya, ia tidak mau memakai jawaban siap pakai.
'Selalu begini,' katanya akhirnya. 'Sudah lama. Saya... pernah lama sekali berada di situasi di mana setiap percakapan harus dihitung. Sekarang situasinya sudah selesai, tapi kebiasaannya belum.'
Aluna menatapnya lama. Bram menunggu pertanyaan lanjutan — *situasi apa, dengan siapa, kenapa* — yang pasti akan datang, karena selalu datang.
'Alah,' kata Aluna, menyenderkan punggung. 'Ya sudah, pelan-pelan saja. Kopi ini tidak jatuh tempo.'
Tidak ada pertanyaan lanjutan. Tidak ada tatapan menyelidik. Perempuan itu menerima jawaban setengahnya, menyeruput kopinya, dan melanjutkan ceritanya tentang anak bernama Sasa yang baru bisa membaca lancar bulan lalu dan sekarang tidak mau berhenti — seolah yang Bram katakan bukan pengakuan besar, melainkan hal biasa yang orang katakan di kafe pada sore hari.
Dan justru karena itulah Bram merasakannya: sesuatu yang hangat, pelan, di tempat yang sudah lama ia kira mati.
Bukan cinta — ia bahkan tidak akan tahu lagi bentuk cinta kalau cinta itu lewat di depannya. Ini lebih sederhana dan lebih menakutkan dari itu. Ini adalah rasa *nyaman*, dan nyaman adalah satu-satunya hal yang tidak pernah bisa ia produksi sendiri, tidak peduli berapa besar perusahaannya.
Mereka berpisah di depan toko buku saat langit mulai jingga. Aluna mengangkat kantong buku diskonnya seperti trofi.
'Minggu depan ruang baca kedatangan kotak sumbangan dari penerbit. Kalau Anda mau debat sambil bantu saya sortir buku, pintunya terbuka. Kalau tidak, ya saya anggap Anda ngaku kalah.'
'Itu dua hal yang tidak berhubungan.'
'Di dunia saya berhubungan.' Aluna melambaikan tangan, sudah berbalik, sudah berjalan. 'Sampai ketemu, Mas Debat!'
Bram berdiri di trotoar sampai sosok itu hilang di ujung jalan. Lalu ia masuk ke mobilnya, duduk di kursi belakang, dan menatap pantulan wajahnya sendiri di kaca jendela yang gelap.
Wajah itu sedang tersenyum. Ia memeriksanya dengan cermat, dengan seluruh keahlian dua puluh tahun membaca wajah: tidak ada takaran lima persen di sana. Tidak ada otot yang diperintah. Senyum itu datang sendiri, tanpa izin, seperti tamu yang masuk lewat pintu yang lupa dikunci.
'Pak Danu,' katanya pelan, 'rumah dulu.'
Dan sepanjang jalan pulang, lewati lampu merah Sudirman yang dulu meruntuhkan dunianya, Bram Adiwangsa menyadari satu hal yang tidak bisa ia hitung dengan rumus mana pun:
Untuk pertama kalinya, ada tempat yang ingin ia datangi bukan karena peta — dan ia sama sekali tidak tahu langkah selanjutnya.