ayah bundaku dan beberapa tamu undangan terkejut melihat aku telah menampar Rendi, rendi pun hanya memegang pipinya yang memerah karena tamparanku.
" Salwa, jaga sikapmu!!!" bentak ayahku yang mungkin merasa malu dengan kelakuanku di hari pernikahanku.
"nak Rendi maafkan Salwa ya, sebenarnya apa yang terjadi? ucap bundaku kepada Rendi
"tidak apa apa bunda, aku mengerti perasaan Salwa, tentang apa yang terjadi cepat atau lambat Salwa pasti akan mengetahui kebenarannya" jelas Rendi kepada bundaku sambil berlalu pergi meninggalkan kami dengan wajah kecewa. aku tidak perduli dengannya karena aku sangat kecewa dengan apa yang sudah Rendi perbuat kepada pria yang saat ini sudah menjadi suamiku.
prosesi pernikahanpun telah berlalu ayah bunda dan keluarga besarku mengantarkan ku ke kediaman sandi yang sebentar lagi akan menjadi tempat tinggalku juga. kami pun sudah sampai didepan rumah sandi, aku baru pertama kali menginjakkan kaki dirumah ini dan ternyata rumahnya cukup sederhana namun nyaman dipandang mata. mungkin karena banyak dihiasi bunga bunga dihalaman depan rumah .
"sandi, Bu Helen saya titip anak semata wayang saya, tolong jaga dan sayangi dia seperti kami menyayanginya, ucap ayahku melepaskan ku kepada sandi
"iya pak , pasti akan saya sayangi seperti anak sendiri dengan begini Risma juga kan jadi punya teman curhat dirumah ini" jelas Bu Helen, ibu mertuaku. Risma adalah adik semata wayangnya sandi, saat ini dia sedang kuliah dan masih berada di semester tiga.
" iya pak, Salwa sekarang sudah menjadi istri saya sudah pasti akan menjaga dan memanjakannya setiap hari" ucap sandi meyakinkan ayahku agar percaya kepadanya .
setelah berbincang bincang cukup lama akhirnya keluargaku berpamitan untuk pulang.
setelah mereka semua pulang aku dan sandi masuk kedalam kamar, aku merasa sedikit aneh ketika memasuki kamarnya , aku yang sejak kemarin masih berada di kamarku dan tidur sendiri kini berada dalam kamar suamiku dan sudah memiliki teman tidur. diapun membuka pakaiannya sehingga nampaklah dadanya yang kekar dan sixpack, aku tersipu malu melihat tubuhnya , kemudian dia mendekatiku memelukku dan mencium keningku.
"terimakasih sudah mau menjadi istriku" bisiknya dengan lembut yang membuatku merinding mendengarnya. aku hanya mengangguk dan dia mendorongku dengan perlahan keatas kasur kemudian mencium lembut bibirku. tangannya dengan sigap membuka bajuku akupun sudah pasrah dan siap untuk melaksanakan ritual malam pengantin.
setelah pertempuran sengit di atas kasur yang berlangsung beberapa waktu kamipun kelelahan dan aku tidur sambil menempelkan kepalaku didadanya.
"dddddrt dddddrrrrrt" bunyi getar ponselnya
"sabar sayang bos ku menelpon" ucap dia sambil mengambil ponselnya dan keluar dari kamar untuk mengangkat telpon.
"halo" ucap sandi
" untuk sementara waktu berhenti menghubungiku, aku takut Salwa tau" sambungnya
"Salwa tidak akan tau jika kamu tidak memberi tahu" jawab suara yang ada ditelepon
"tapi rendi sudah melihat kita" tegas sandi
"Rendi tidak akan menceritakan kepada Salwa, karena dia tidak pernah tega melihat Salwa terluka" jelas Merry .
ternyata yang menghubungi sandi adalah Merry diam diam mereka menjalin hubungan dibelakangku.
lama aku menunggu sandi masuk kedalam kamar tapi dia tak kunjung muncul . akhirnya aku lelah menunggu dan akupun tertidur sendiri.
"sayang bangun" bisik sandi ditelingaku, akupun perlahan membuka mata dan kamipun keluar kamar bersama , diruang tamu sudah ada mertuaku yang sedang duduk sambil minum teh dan membaca koran.
"eh Salwa sudah bangun" tegur mertuaku dengan ramah
"iya ibu" jawabku
"kok panggil ibu sih, mama dong kan dia sudah jadi mamamu juga" ucap sandi menegurku
"oh iya hehe" jawabku sambil menggaruk kepala yang sebenarnya tidak gatal
" mama gak masak ya, karena bahan dapur habis semua belum sempat belanja kemarin" ucap mertuaku
"bagaimana kalau mama belanja dengan Salwa, supaya kalian berdua bisa cepat akrab" usul sandi
" oke, yuk siap siap" kata mertuaku
aku hanya mengangguk dan kembali kekamar untuk bersiap siap.
ketika aku akan keluar kamar aku mendengar percakapan suamiku dengan mertuaku
"mana uang kamu?" tanya mertuaku
"sini kasih mama, gak usah kasih istrimu" sambungnya
"terus Salwa gimana ma?" tanya sandi
"katamu dia gak butuh uang diakan seorang manager jadi biar dia menafkahi dirinya sendiri" jawab mertuaku.
ya ampun kenapa mertuaku berkata seperti itu, bukankah aku juga berhak atas uang suamiku? bukankah dia berkewajiban menafkahi ku? pertanyaan itu muncul dibenak ku tapi aku menepisnya dan menganggap nya hal sepele, toh memang aku tidak butuh uang dan menikah dengan sandi bukan karena tapi karena cinta.
aku dan mertuaku pun pergi kesupermarket untuk berbelanja kebutuhan rumah, banyak sekali yang dimasukkan keranjang belanja oleh mertuaku aku hanya mengikuti kemana mertuaku melangkah dan tidak terasa tiga keranjang sudah terisi penuh kamipun menuju kasir untuk membayar belanjaan kami.
"kamu yang bayar ya, mama tunggu dimobil" bisik mertuaku sambil berlalu pergi. aku terdiam sambil berfikir bukannya tadi semua sandi sudah diberikan kepada mama seharusnya mama yang membayar belanjaan ini kenapa harus menggunakan uang pribadiku? lagi lagi aku menepisnya dan menganggap ini adalah hal sepele.
dalam perjalanan pulang kami terjebak macet dan aku perhatikan daritadi ibu mertuaku hanya diam saja menonton Drakor diponselnya dan mengabaikan ku.
tiba tiba aku tidak sengaja melihat mobil sandi tepat disebarang jalan yang juga sedang terjebak macet, tetapi didalam mobil duduk seorang perempuan disebelahnya . apakah aku hanya salah melihat tapi aku kenal betul mobil dan wajah suamiku . tapi siapa perempuan itu dia duduk dikursi sebelah suamiku dan mereka asik bercerita sambil sesekali tertawa terbahak bahak namun aku tidak dapat melihat wajah perempuan itu karena tertutup wajah sandi. apakah suamiku telah berlingkuh dibelakangku ?
" ma bukankah itu sandi ?" tanyaku kepada mertuaku sekedar memastikan apakah mataku salah
"mana ?" tanya mertuaku dengan mata yang mencari cari arah jari telunjukku
"eh iya dengan siapa dia? jawab mertuaku sambil melontarkan pertanyaan kepadaku
"entahlah ma" jawabku juga bingung
"Yaa maklum laah, anak mama kan tampan jadi banyak wanita dekat dengan dia" jelasn mertuaku membanggakan anaknya yang sedang bersama perempuan lain di hadapanku
"maa tapi aku ini istrinya" kataku mengingatkan mertuaku bahwa aku adalah istri dari anaknya
"jadi istri harus berlapang d**a, kalaupun suatu saat sandi menikah lagi itu bukanlah sesuatu yang salah, itukan Sunnah" tutur ibuku sedikit menusuk hatiku
"sudah tidak usah terlalu difikir, selama dia masih mencintai kamu dan masih menghormati kamu nanti setelah dia tiba dirumah tanyakan tentang hal ini kepadanya" jelas ibuku menenangkan ku . aku tidak tau jalan pikiran mertuaku, padahal baru beberapa detik yang lalu dia mengatakan sesuatu yang sangat menusuk tapi seketika dengan mudahnya sikapnya berubah manis untuk menenangkanku