Matahari mengeluarkan cahayanya tanpa malu malu, dan langsung menyorot tepat pada wajah Gavin yang masih tertutup rapat membuat sang empunya menggeliat tak nyaman dan akhirnya memutuskan untuk membuka matanya.
"Good Morning Gavin" Ucap Gavin pada dirinya sendiri, itulah kebiasaan Gavin.
Gavin langsung mandi dan turun ke Lobby untuk sarapan, setelahnya Gavin keluar dari hotel dan berjalan masuk kedalam toko oleh oleh.
Gavin melihat pernak pernik yang cantik disana entah mengapa dia teringat oleh wajah cantik Alessa, Gavin memilih beberapa gelang dan kalung untuk Alessa, Aaliyah, Adara, Belva dan keponakan genitnya Valen.
Setelah dirasa cukup berbelanja Gavin keluar dari toko yang cukup ramai itu, tiba tiba matanya menangkap Kedai Coffee yang ada di dunia.
Gavin memesan minuman kesukaannya, dan duduk di sofa tempat Ravid berada. Oh tunggu, Ravid tidak sendirian melainkan dengan beberapa Pramugari yang salah satunya adalah Gladis.
"Hay Kapten" Sapa para Pramugari itu.
Gavin hanya tersenyum tipis.
"Ravid kapan kita akan flight pulang?" Tanya Gavin membuat para Pramugari memandang Gavin dengan bingung.
"Besok pagi Gave" Ucap Ravid sambil membuka jadwal diponselnya.
Bahkan seluruh Pramugari ingin berlama lama di sini tetapi sang Kapten tampaknya sangat tidak betah.
"Em bagaimana kalau kita jalan jalan ke Pantai?" Tanya Gladis dengan wajah sumringahnya.
Ravid menyambutnya dengan anggukan dengan wajah sumringah.
"Kalian saja saya ingin istirahat" Ucap Gavin malas.
"Oh ayolah Kapten, jarang jarang banget kan kita ke Hawaii dan sekarang harus jalan jalan" Ucap Gladis sambil memegang tangan Gavin dan menggoyang goyangkannya.
Gavin melirik tangannya itu dan melepaskannya dengan kasar, membuat semua teman Gladis menatap Gavin tak percaya. Jika semua pilot muda Gladis perlakukan seperti itu maka mereka akan langsung mendekati Gladis, sangat berbeda dengan Gavin.
Gavin langsung bangkit tak lupa membawa Paper Bagnya dan kopi nya, berjalan dengan santainya meninggalkan Gladis yang mati matian menahan untuk tidak melempar sepatu yang ia kenakan.
"Sudah lah Dis, mungkin Gave alergi dengan tangan mu" Ucap Ravid sambil tertawa dan langsung berlari menyusul Gavin sebelum terkena amukan macan.
Gavin masuk kedalam kamar hotelnya, entah lah hari ini moodnya tiba tiba kacau sejak Gladis menyentuh tangannya. Entah mengapa Gavin merasa tangannya akan memerah sebentar lagi, Oh ayolah Gavin kau terlalu lebay.
Gavin bersantai di balkon sambil memainkan ponselnya, terlintas ide untuk menelpon sang gebetan tercinta namun ia urungkan sebab takut mengganggu. Gavin menatap jamnya yang menunjukkan pukul 4 sore hari Sabtu, maka Alessa jam 9 hari Minggu.
Tanpa basa basi Gavin memencet tombol VidCall, dengan harapan Alessa mau mengangkatnya.
Harapan pun tiba, Alessa mengangkat sambungannya. Yang menunjukkan wajah kesalnya pada seseorang dihadapannya.
"Abang kan, makanya jangan maenin hp Alessa dong. Ke angkat kan" Ucap Alessa sambil cemberut dan belum sadar ada wajah Gavin di ponselnya.
Saat Alessa melirik ponsel, Alessa menunjukkan raut wajah terkejutnya.
"Eh-eh Gavin" Ucap Alessa sambil menggaruk kepalanya yang tak gatal, dia VidCall didepan orang tuanya dan sang Abang yang terus terusan menggoda nya.
"Hay apa kabar?" Tanya Gavin dengan senyumannya yang sangat ulalaa.
"Aku baik, bagaimana dengan mu?" Tanya Alessa dengan sedikit kaku.
"Seperti biasa baik dan merindukan mu" Ucap Gavin, suara dari ponsel Alessa yang sedikit besar membuat kedua orang tuanya bisa mendengar percakapan mereka.
Blushh..
Pipi Alessa mendadak memerah.
"Kamu pake Blush On ya?" Tanya Gavin langsung tertawa tanpa henti.
Axelo yang sudah geregetan pun langsung merebut ponsel Alessa.
"Abang jangan gitu dong, licik ih" Ucap Alessa kesal, dilayar ponsel itu menunjukkan wajah Axel yang sedang mendorong Alessa untuk menjauh.
"Hay bro" Ucap Axelo.
"Hay" Ucap Gavin sambil tersenyum hangat.
"Gimana kalo nanti malam lo ke rumah gua aja? Makan malem bareng" Ucap Axelo.
"Eh Sorry, bukannya nolak tapi gua masih di Hawaii sih besok pagi baru pulang" Ucap Gavin menjelaskan.
"Jadi kapan nih bisanya?" Tanya Axel.
"Lusa deh" Ucap Gavin.
"Oke, ditunggu ya" Ucap Axel, dan dibalas anggukan dengan Gavin.
Saat Axel memberikan ponselnya pada Alessa.
'Patiin aja Patiin' Bisik Alessa namun masih bisa terdengar sampai Gavin.
"Yaudah saya tutup ya" Ucap Gavin saat melihat wajah Alessa.
Gavin menutup panggilan itu, setelah itu Gavin langsung meloncat loncat kegirangan diatas kasur.
Gavin tanpa sadar berdiri di ujung kasur dan akhirnya..
Brukk...
Gavin jatuh kelantai, dengan p****t yang menabrak lantai dingin.
"Aduh Someone help me please" Ucap Gavin sambil mengaduh aduh kesakitan.
Gavin berjalan tertatih tatih menuju kasur, dan menutup matanya berharap hari ini cepat berakhir.
__________
Oke, Gavin membuka mata terpaksa karena mendengar ketukan ralat gedoran pintu karena itu terlalu kuat untuk kesehatan pintu hikss..
"WOI GAVE BANGUN" Teriak Ravid.
"Vid stop Vid! Kasian pintunya, dia bukan homo kaya lo" Ucap Gavin sambil berlari menuju kamar mandi.
Sedangkan dibalik pintu sana ada Ravid yang sedang mengelus dadanya, sabar aja punya temen kaya Gavin.
Gavin membuka pintunya sambil menarik koper.
"Princess Gavin udah siap?" Tanya Ravid dengan wajah yang sok imut.
"Vid Vid! Gua pengen muntah" Ucap Gavin yang seolah ingin muntah, membuat Ravid panik mendadak.
"Gave lo hamil anak siapa? Please kasih tau gua" Ucap Ravid sambil memegang tengkuk Gavin.
Gavin langsung menepis tangan Ravid.
"Mau muntah liat muka lo" Ucap Gavin sambil berjalan dan tertawa jahat.
"Emang sialan, nungguin eh malah ditinggal" Umpat Ravid sambil menyusul Gavin.
Gavin menunjukkan wajah bahagianya pada Pramugari yang menatapnya heran.
"Vid itu si Kapten kenapa bahagia banget gitu sih?" Tanya salah satu Pramugari.
"Entah gua juga bingung" Ucap Ravid.
"Ravid, c'mon" Ucap Gavin sambil melambaikan tangannya pada Ravid.
Ravid hanya mengangguk dan berlari menuju Kaptennya itu.
"Lo di omongin noh sama Crew" Ucap Ravid pada Gavin.
"Gua gak peduli, lagi pula gua bahagia bukan urusan mereka kan?" Tanya Gavin.
"Betul sekali bapak tua" Ucap Ravid dan langsung mendapat hadiah ketokan manja dari Gavin.
Mereka berdua mengecek kelayakan pesawat yang akan mereka bawa, setelah dirasa semuanya siap. Gavin menjalankan tugasnya, setelah take off. Gavin merasa silau karena matahari yang menyorot kearah dirinya, huhu. Jangan ditatap Gave, nanti dingin mu meleleh.
Gavin merasa sebentar lagi tulangnya akan rontok, mereka berdua berjalan menuju Lobby. Salah satu Crew mereka ada yang limbung dan tepat sekali dihadapan Gavin, namun yang menahan adalah salah satu Pramugara yang disebelahnya.
Mereka semua kebingungan, saat ada penumpang yang pingsan Gavin menolong. Ini saat Crew yang pingsan dia kembali seperti sifatnya yang dulu.
Mereka semua menatap Gavin dengan tatapan biasa saja, karena itu sudah biasa kalau Gavin bertindak acuh.
Gavin kan merasa kalau dia meninggal pasti akan nguburin sendiri tanpa bantuan orang lain.
"Gavinn" Teriak Gladis.
Gavin hanya menoleh sejenak, lalu berjalan menuju parkiran mobilnya.
"Gave" Ucap Gladis sambil memegang lengan Gavin.
Gavin langsung melepaskannya dengan kasar dan tatapan tajamnya.
"Anterin aku pulang dong" Ucap Gladis manja.
"Emangnya saya supir kamu?" Tanya Gavin dengan nada datarnya.
"Udah dibilang Gavin alergi sama lo, masih aja di deketin. Rasain lo" Ucap Ravid yang muncul tiba tiba.
"Nyebelin banget sih lo" Ucap Gladis pada Ravid.
"Mau kan Gave?" Tanya Gladis sambil mengedip ngedipkan matanya.
"Enggak" Ucap Gavin langsung pergi dari sana bersama Ravid yang memasang wajah tampang kemenangannya.
Meninggalkan Gladis dengan wajah tertekut 1000 lipatnya.