Aksara memuat novel & drama bertema dewasa (romansa, kekerasan). Dengan lanjut, kamu menyatakan berusia 17 tahun atau lebih.

oleh Canda Sakirrah
kontes menulis II - The Girl PowerDisuatu pagi yang sejuk, terdengar cuitan burung kenari dari atas pohon pinus yang sedikit menjorok kedekat jendela kamar seorang putri cantik. Sang putri pun terbangun dan mencoba mengumpulkan tenaganya untuk duduk di atas ranjangnya, dengan sedikit tenaga yang telah terkumpul ia kemudian duduk dan meregangkan kedua tangannya untuk merilekskan badan. “ kring... kring..” sang putri membunyikan bell untuk memanggil pelayan.Tak lama beberapa pelayan wanita bergegas berdatangan menuju kamar sang putri yang tengah membunyikan bell. Diantara dari mereka ada yang sibuk membawa gaun dan sepatu yang cantik, sementara lainnya sibuk membawa riasan dan perhiasan, juga ada yang membawakan kudapan untuk sarapan sang putri. Mereka masuk kedalam ruangan sang putri, lalu dengan sigapnya para pelayan mulai melayani sang putri dengan baik, mereka melakukan tugasnya dengan sangat rapi dan telaten.“Tidak Meri bukan gaun ini, tolong ambilkan aku pakaian untuk berkuda, hari ini aku ingin jalan-jalan menyusuri pantai”. Ucap sang putri dengan bibir yang agak mengkerut.“Baik tuan putri”“Juga jangan lupa untuk memberitahukan pada pengurus kuda untuk menyiapkan kudaku”“Baik tuan putri”Pelayan itu pun bergegas untuk melaksanakan titah dari sang putri. Sementara itu, pelayan lainnya menyiapkan air hangat dengan wewangian mawar untuk memandikan sang putri. Putri yang begitu cantik nan anggun, memiliki kulit seputih salju dan senyum yang menawan, ia perlahan mencelupkan kakinya kedalam air mawar yang telah disiapkan untuk mengecek suhu air di dalam bak mandinya, dirasa cukup iya pun mulai menenggelamkan setengah badannya, para pelayan pun mulai menggosok tubuh puteri yang putih nan lembut. Tak lama kemudian pelayan pertama yang di perintah membawa pakaian pun datang. Pelayan lain dengan sigap bergegas menyiapkan pakaian dan memakaikan nya pada putri yang telah selesai mengeringkan tubuhnya, rambutnya yang ikal dan berwarna merah terang dibiarkan terurai agar cepat kering sehabis dibasuh, rambut yang indah bagai kelopak bunga mawar itu disinari oleh mentari pagi yang membuatnya makin bercahaya, rambut panjang sepinggang yang indah. Kemudian, dengan cepat seorang pelayan mulai merapikan dan menata rambut sang putri, disisirnya perlahan, lalu diberikan beberapa hiasan rambut dari jepitan emas dan sedikit wewangian. Setelah selesai dengan persiapannya, sang putri pun berlari menuju taman istana sambil mengigit sepotong kudapan kesukaannya, kue jahe yang hangat. Diperjalanan menuju taman, ia tak sengaja bertabrakan dengan penyihir istana yang terlihat bergegas menuju aula utama dimana sang raja berada.“Uugghhhh”. Sang putri terjatuh ketika bertabrakan dengan penyihir di lorong istana.“Maafkan saya madam Brigthy, saya tidak sengaja dan tidak melihat dengan benar”“Putri Rose!”. Tatapan tajam yang diberikan oleh penyihir tersebut membuat putri Rose kaget.“Tidak apa, saya harus segera menemui raja. Berhati-hatilah lain kali” “Baik madam”Setelah mengatakan itu sang penyihir bergegas dengan cepat meneruskan perjalanannya. Namun, putri Rose yang merasa bersalah pun dengan segera mengejar sang penyihir menuju aula kerajaan untuk meminta maaf sekali lagi dengan benar, juga ada sedikit rasa penasaran dihatinya dengan urusan penyihir yang jarang sekali terlihat berkeliaran di area istana. Karena pekerjaan penyihir selalu dikerjakan di menara khusus istana barat. Ketika sang putri hendak memasuki ruangan dimana semua orang berkumpul langkahnya terhenti saat teriakan penuh amarah keluar dari mulut si penyihir.“Yang mulia! Maafkan atas kelancangan hamba untuk menemui anda dengan cara tidak sopan”“Kau! Penyihir tidak tahu malu! Beraninya berteriak dan tidak mendoakan raja terlebih dahulu!”Salah seorang menteri kerajaan menyahut dengan penuh amarah.“Maafkan hamba yang mulia, tapi saat ini ada yang lebih penting sehingga hamba tergesa-gesa dan tidak memberi hormat pada anda terlebih dahulu, maafkan hamba. Semoga keberkahan dan kemuliaan selalu tercurah pada raja kita sang permata kerajaan Emerald. Penyihir gelap istana Barat, Brigthy Swan memberi salam”. Membungkuk dan memberi hormat dengan raut wajah yang khawatir.“Ada kabar apa kau datang kemari Brigthy? Apakah akan ada perang lagi?”. Raja yang menjawab dengan raut wajah penasaran.“Bukan yang mulia, lebih dari itu, lebih dari bencana yang biasa kita hadapi”“Katakanlah!”. Sang raja yang mulai serius mendengarkan.“Saya mendapat ramalan yang berisi kalimat mengatakan bahwa, diwaktu yang telah matang, sang bunga kerajaan akan layu dan membusuk, ia akan tetap hidup tapi tidak memiliki kehidupan didalamnya”“Apa yang kau maksud dengan bunga kerajaan? Apakah itu?!”“Ya yang mulia, sang putri! Putri Rose Gardner Emerald”Sontak semua orang dalam aula kerajaan tercengang dengan perkataan dari sang penyihir. Begitu pula dengan putri Rose yang sedari tadi mendengarkan percakapan mereka dari luar jendela aula.ic_default
Karena kamu suka Fantasi, mungkin kamu suka ini juga:
Fantasi · Misteri & Thriller