Aku terbangun di pagi hari yang sejuk. Terdengar suara langkah kaki dari luar kamar, aku pun mencoba menghampirinya. Saat kubuka pintu kamar, terlihat Cloury yang sibuk dengan beberapa piring dan alat makan, ia terlihat menata meja makan dengan rapi, aku pun melangkah menghampirinya.
"Pagi Cloury"
"Nona, anda sudah bangun, selamat pagi"
"Ada yang bisa saya bantu?"
"Tidak perlu, daripada itu bagaimana keadaan anda nona? Apa masih ada yang sakit?"
"Ah, saya sudah sembuh Cloury, saya sudah tidak merasa pusing lagi, ini semua berkat obat herbal yang saya minum sebelum tidur"
"Syukurlah, tapi anda masih harus meminum obatnya sampai anda benar-benar pulih total nona"
"Tentu"
"Kalau begitu mari kita sarapan, saya memasak sup labu dan roti panggang"
"Wah, terlihat lezat"
Kami pun makan bersama sambil sedikit berbincang.
"Cloury"
"Ya?"
"Berapa umur anda?"
"Saya delapanbelas tahun"
"Wah, anda masih sangat muda ya"
"Nona juga, sepertinya anda justru lebih muda dari saya"
Maaf Cloury, aku tidak bisa jujur tentang diriku, aku masih harus bersembunyi sampai ulangtahunku terlewat. Karena saat ini cara yang paling masuk akal untuk menghindari malapetaka yang disebabkan olehku adalah menunggu waktu saat hari ulangtahunku tiba. Setelah itu, walau hanya satu hari saja tidak terjadi apapun, maka aku akan jujur padamu tentang kebenaran siapa diriku.
"Nona?"
"Ah, se-sepertinya begitu, sayangnya bahkan saya tidak tahu berapa umur saya saat ini"
"Tidak apa, perlahan pasti ingatan anda akan kembali"
"Iya, saya harap juga begitu"
Kami pun melanjutkan sarapan kami. Setelah selesai, Cloury merapikan kembali meja makan, tentu aku ingin ikut membantunya namun dia melarangku. Cloury adalah tipe orang yang rapi dan pekerja keras, terlihat dari keadaan rumahnya yang sangat rapi dan nyaman walau sederhana. Mataku mengelilingi setiap sudut ruangan di dalam rumah, aku pun mulai tertuju pada satu posisi yang janggal, kuingat-ingat kembali apa yang membuatnya aneh. Ah iya! Aku mengingatnya, potret wanita yang disebut Salju oleh Cloury menghilang. Apa Cloury yang merapikannya? Tapi kenapa? Kenapa harus disimpan tepat setelah kejadian tadi malam. Ia juga seperti menghindari pembicaraan mengenai lukisan itu, apakah ada sesuatu yang tidak boleh aku ketahui dari identitas wanita yang ada dalam lukisan itu? atau lebih tepatnya tidak ingin diumbar sembarang orang. Yasudahlah, lagipula aku hanya menumpang disini, sebaiknya aku juga bisa menjaga privasi dan perasaan Cloury.
"Nona"
Suara Cloury yang memanggilku membangunkanku dari lamunan.
"Iya?"
Cloury terlihat memangku beberapa hasil pahatan kayu dipundaknya.
"Saya akan pergi ke pasar di kota, mungkin akan pulang nanti petang, saya harus mengantarkan beberapa pesanan pelanggan"
"Iya, tentu"
"Anda harus istirahat ya, ingat jangan membersihkan rumah atau bekerja yang berat dulu, anda harus makan dan minum obat teratur, makanan dan obatnya sudah saya sediakan di dapur, anda tinggal menghangatkannya saja"
"Iya, saya mengerti, terima kasih Cloury"
"Kalau begitu saya pamit"
"Iya, hati-hati selama diperjalanan ya"
"Anda juga, baik-baik dirumah ya, jika perlu apa-apa anda ketuk saja rumah yang ada di dekat batu karang besar, rumahnya bibi Noeri, dia yang ikut membantu anda, dia akan ada di rumah saat matahari sudah berada di atas kepala, karena pagi-pagi sekali ia biasa mengambil jamur di hutan"
"Baik, saya akan ingat itu"
"Dan jika ada orang mencurigakan, jangan buka pintunya ya"
"Tentu"
"Ah saya jadi banyak bicara, kalau begitu saya pamit"
"Iya"
Cloury pun pergi menaiki kereta kudanya.
"Sekarang aku harus mulai mencari tahu mengenai ramalan kutukan itu, selagi Cloury pergi"
Rose bergegas pergi menuju kamar yang ia tempati semalam dan membongkar laci meja kecil yang berada di pinggir tempat tidurnya, kemudian ia mengambil beberapa kertas kosong dan sebuah pena yang terbuat dari bulu burung.
"Tinta, tintanya dimana ya, aku harus segera menulis semua ucapan penyihir Brighty sebelum aku melupakannya, sebaiknya kucari di ruang kerja Cloury, setelahnya akan langsung kukembalikan lagi"
Rose bergegas menuju ruang kerja Cloury, akan tetapi ruangan tersebut terkunci rapat.
"Astaga, dia menguncinya, padahalkan aku tidak mungkin mencuri! Haaahhh, tapi wajar saja dia begitu, aku wanita yang entah darimana asalnya yang sekarang menumpang dirumahnya"
Rose pun mencoba mencari tinta dari tempat lain, namun ia tidak juga menemukannya. Sampailah ia pada sebuah ruangan dengan pintu putih yang penuh dengan pahatan bunga matahari disetiap sisinya.
"Waah, pintu yang sangat indah"
Rose mencoba membuka pintu tersebut, namun sama-sama terkunci seperti ruangan kerja Cloury.
"baiklah jika tidak bisa menulis dengan tinta, maka akan kubuat tinta sendiri"
Rose pergi kedapur, ia mengambil sebuah mangkuk kecil, kemudian ia pergi kedekat tungku perapian dan mengambil beberapa arang dari bekas pembakaran kayu, lalu ia menumbuk arang tersebut, ia menambahkan sedikit air pada arang yang sudah bubuk tersebut. Setelah dirasa cukup, Rose mulai menulis dengan menggunakan tinta arang yang dibuatnya tadi.
"Walaupun tinta ini tidak bisa digunakan dengan sempurna, tapi ini lumayan berfungsi. Nah sekarang ayo coba ingat apa saja yang Brighty katakan mengenai kutukanku"
Rose menulis setiap kalimat yang ia ingat kedalam kertas. Ia juga menulis angka tujuhbelas dan tanggal lahirnya, kemudian ia berdiri dan berjalan mondar-mandir sambil memainkan rambut ikalnya.
"Aarrrggghhhh! Aku benar-benar tidak paham kenapa aku bisa menjadi malapetaka kerajaan Emerald"
Disisi lain, seisi istana Emerald tengah dipenuhi dengan emosi dan kekacauan karena sang putri yang menghilang. Dikerajaan Emerald, seorang putri dilambangkan lebih tinggi derajatnya daripada seorang pangeran, karena kerajaan Emerald menjunjung tinggi kehormatan wanita. Apalagi putri yang akan menjadi penerus silsilah kerajaan dimasa depan, dimana ia akan melahirkan calon raja baru dan juga memperbaiki hubungan dan koneksi antar kerajaan. Karena itulah, apabila kabar putri menghilang sampai terdengar kekerajaan musuh, maka akan menjadi celah bagi kerajaan Emerald untuk mempertahankan kehormatan dan kekuatannya.
“Apa kalian sudah menemukan dimana Rose berada?!"
“Ampun yang mulia, tapi kami hanya menemukan kuda tuan putri yang kembali sendiri ke istana tanpa seorang pun yang menungganginya”
“Aku tidak butuh kabar seperti itu! Bagaimana bisa kau kembali tanpa hasil apa pun! Cepat perluas pencarian sekarang! Aku mau kesatria terbaik di kerajaan ini untuk menemukan Rose! Bagaimana pun caranya, Rose harus kembali dengan selamat!"
“Baik yang mulia"
“Dan ingat, jika kabar putri menghilang sampai bocor dimasyarakat, kalian akan menanggungnya dengan kepala kalian”
“Baik yang mulia, kami mengerti kepala kami sebagai taruhannya”
Semua penjaga dan kesatria terbaik pun dikerahkan dalam pencarian putri Rose. Para pelayan dan anggota kerajaan yang mengetahui putri menghilang langsung dibungkam untuk selamanya. Para prajurit, kesatria, pelacak dan pemburu, mereka disebar keseluruh penjuru kerajaan dan hutan yang ada di wilayah tersebut untuk mencari keberadaan sang putri.
“Sabarlah rajaku, anak kita pasti selamat di suatu tempat, aku yakin itu”
“Bagaimana aku bisa sabar disaster permata kerjaan Emerald menghilang, aku takut jika ucapan penyihir Brighty itu benar”
“Itu tidak mungkin! itu tidak akan terjadi! percayalah rajaku, kita akan kembali berkumpul bersama”
“Aku harap begitu"
“sekarang beristirahat lah, anda kurang beristirahat selama beberapa hari ini, biar saya dan perdana menteri yang mengurus kerjaan anda, saat ini anda sudah cukup lelah"
“Baiklah”
“Mari yang mulia, saya antar sampai ke kamar, dan kau perdana menteri, temui aku setelah ini”
“Baik yang mulia ratu”
Sementara itu di kota sudah bertebaran prajurit dan orang-orang bayaran yang dibayar untuk mencari keberadaan sang putri. Rakyat yang curiga pun mulai membicarakan nya satu sama lain.
“Apa kau tahu kenapa prajurit itu sibuk sekali belakangan ini”. Ujar pria gendut penjual roti.
“Mungkin saja mereka akan berperang melawan kerajaan seberang, kabarnya raja kerajaan seberang ingin menikahi tuan putri Rosetta tapi tidak disetujui oleh yang mulia raja”. sahut Geoge si penjual hiasan rumah.
“Tapi apa kau tahu desas desus mengenai sang putri dikalangan pelayan?". Serobot seorang pelanggan wanita dengan semangat.
“Memangnya ada apa?”. Tanya pria gendut penjual roti.
“Kata temanku yang belum lama menjadi pelayan istana mengatakan bahwa dari kemarin tuan putri selalu berada di kamarnya dan tidak pernah sekalipun keluar kamar, bahkan untuk makan bersama raja dan ratu saja tidak muncul”. Wanita itu menjelaskan dengan suara yang agak pelan.
“Yah mungkin beliau sedang kurang sehat, tapi semoga saja tidak”. Geoge si penjual perhiasan.
“Tidak-tidak, itu pasti karena ada sesuatu”. Sanggahan si pelanggan wanita.
“Kau ini! jangan berprasangka yang jelek tentang putri. Lagi pula sebentar lagi beliau berulang tahun, mungkin saja putri sedang mempersiapkan dirinya sebaik mungkin dan ingin menjaga kondisinya sampai acara ulang tahunnya nanti”. Pria gendut penjual roti yang tidak ingin melanjutkan pembicaraan karena sadar sedang diawasi oleh prajurit yang berjaga. Ia memberi kode dengan palingan mata pada si pelanggan wanita.
“A-aku bukan berprasangka buruk, aku hanya khawatir, y-yang kau katakan ada benarnya, pasti beliau sedang mempersiapkan diri sebaik mungkin untuk ulangtahunnya nanti”. Pelanggan wanita itu mengerti dengan sinyal dari pria gendut penjual roti.
Ditengah-tengah pembicaraan, Cloury datang dengan membawa barang pesanan yang akan dititipkan pada George temannya.
“Nah sekarang kembali lagi bekerja sana, jangan merumpi"
Orang-orang yang membicarakan putri Rose pun mulai melanjutkan aktifitasnya masing-masing.
"Oh Cloury! Kau sudah datang, mana barang yang ku pesan"
“Ini barang mu, tapi Geoge ada apa ini? Kenapa penjagaan semakin diperketat? Bahkan sampai ke gerbang utara, aku sampai dua kali di periksa”
“Oh itu, aku juga tidak tahu, aku pun agak heran sih ada apa sebenarnya"
“Yah memang ada sesuatu sepertinya, kalau tidak, bagaimana mungkin begitu banyak penjaga dimana-mana"
“Mungkin, baiklah sudah cukup mengobrolnya sekarang bantu aku angkut barang-barang ini Clour”
“Oke”
Cloury dan George memindahkan semua barang dari dalam kereta kuda Cloury bersama-sama.
“George, apa kau ada pakaian wanita yang seukuran dengan adik mu?“
“Oh tentu saja, ada apa ini? Apa kau sudah memiliki seseorang sekarang?"
“Bukan, berikan saja pokoknya padaku, aku membutuhkan beberapa potong kain juga untuk kubawa“
“Ah baiklah, tunggu sebentar akan ku ambilkan, warna apa yang kau mau?“
“Berikan saja warna yang cerah“
“Oke, tunggu sebentar”
"Yah, baiklah"
Tak lama kemudian George datang dengan membawa setumpuk pakaian dan kain-kain indah.
“Clour! Lihatlah ini semua untuk mu, buatlah gadis itu bahagia ya"
“I-ini terlalu banyak Geroge! Cukup cukup"
“Tidak apa, kaukan selalu membantuku dan ini balasanku, ayo bantu aku memasukan ini semua kedalam keretamu”
“Baiklah, terima kasih banyak George"
"Gampang"
****
“Sekarang aku benar-benar bingung Zackzi, apa yang harus aku lakukan? Rosetta menghilang dan raja mulai sakit-sakitan, aku mulai khawatir perkataan Brighty akan benar-benar terjadi”
“Tenanglah ratu, saya akan menyelesaikan masalah ini, saya berjanji. Rose sudah seperti adik bagi saya, bagaimana pun akan saya temukan putri Rose dalam keadaan baik-baik saja”
“Baiklah, aku harap kau bisa mengerjakan pekerjaan yang masih tertunda dan juga mencari jalan agar peperangan yang mungkin akan terjadi dengan kerajaan seberang bisa dihentikan. Kau harus bisa mencari jalan keluar dari semua masalah ini. Berjanjilah padaku Zackzi, karena aku percaya padamu seperti aku percaya pada anakku sendiri”
“Saya sudah punya rencana ratu, tenang saja. Sekarang berikan saya waktu untuk menyusun rencana yang telah saya pikirkan agar lebih matang dan sempurna. Akan saya pastikan bahwa segala hal akan berjalan sesuai pada tempatnya masing-masing”
“Baiklah, terima kasih Zackzi. Kau memang selalu bisa diandalkan”
“Tidak ratu jangan berterimakasih pada saya, itu sudah seharusnya saya lakukan"
"Kalau begitu aku permisi"
"Baik yang mulia ratu, pengawal-"
"Tidak usah, aku akan berjalan sendiri"
"Baiklah, segala kemuliaan bagi sang permata Emerald"
Zackzi tersenyum dan menghampiri tempat kejanya.
“Max, Jil, masuklah”
Max dan Jil adalah orang kepercayaan Zackzi, merekalah kaki tangan dalam segala tindak kejahatan yang direncanakan oleh Zackzi. Mereka juga yang selalu membereskan setiap perbuatan jahat Zackzi.
“Iya tuan, kami menghadap"
“Apa Rose sudah kalian tempatkan di tempat yang aman?”
“Te- tentu saja tuan, kami melakukannya dengan bersih. I-iya kan Max"
“Benar tuan, kami sudah menempatkan putri di tempat yang anda sebutkan”
“Baguslah, karena aku agak khawatir dengan keadaannya, dia tidak boleh sedikitpun terluka, mengerti!”
“Te-tentu tuan"
“Kau kenapa gagap seperti itu? Jika sampai kutemukan ada yang salah maka kau tahu akibatnya
”
“A-“
“ Jil sedang radang tenggorokan tuan, mohon maafkan tindakannya yang tidak sopan”
“Benar tuan, benar, sa ukhuum, saya sedang sakit tenggorokan”
“Baiklah, tapi jika sampai terjadi sesuatu pada Rose!"
“Baik tuan, kepala kami jaminannya"
“Yasudah, sekarang kirimkan surat pada raja Xaven mengenai rencana kita”
“Baik tuan, kami pergi dulu"
Setelah beberapa saat Max dan Jil pergi untuk melaksanakan tugas. Zackzi berjalan kembali ketempat kerjanya dan mengeluarkan cincin dari dalam saku celananya. Kemudian ia menggesekkan batu permata hitam dicincinya pada sebuah patung ular disebelah lemari buku, batu dicincin dan batu dimata patung ular pun bercahaya secara bersamaan. Kemudian secara ajaib lemari buku yang berada tepat dibelakang meja kerja Zackzi pun bergerak menggeser dan membukakan sebuah jalan rahasia. Terpampang lah sebuah pintu hitam besar yang terkunci rapat, pintu itu terbuka secara perlahan, menuju pada sebuah ruangan gelap. Saat setelah Zackzi memasuki ruangan itu, secara ajaib obor disetiap lampu gantung pun menyala, pintu dan lemari pun kembali tertutup seperti semula. Sampailah di dalam sebuah ruangan yang memajang ratusan lukisan dari putri Rose, juga terpajang sebuah gaun pengantin yang begitu mewah dan indah berlapis permata disetiap jahitannya. Zackzi mulai membuka sebuah laci, lalu ia mengambil sebuah kotak kecil hitam yang berisikan saputangan usam berwarna merah jambu. Ia mengeluarkan sapu tangan tersebut, terlihat rajutan dari benang emas disudut saputangan yang bertuliskan huruf R. Yah tidak lain dan tidak bukan, itu adalah sapu tangan milik putri Rose, diciuminya sapu tangan tersebut dengan raut wajah sedih yang memaksakan tersenyum.
“Rose, sebentar lagi kau hanya akan menjadi milikku dan hanya untukku! Aku sudah tidak sabar untuk memelukmu dalam dekapanku, aku mencintaimu Rose! Aku sangat mencintaimu! Setelah usaha yang aku lakukan untuk mendapatkanmu, aku tidak akan melepaskan mu lagi! Akan kulakukan apapun untuk mu, hanya untukmu! Bahkan aku rela mengotori tangan ini demi untuk menjadikan mu milikku. Lihat saja, setelah aku menjadi raja, aku akan menjadikan mu ratuku satu-satunya, cintaku satu-satunya. Kita akan bersama hingga akhir hayatku. Kupastikan itu terjadi, seperti janji kita dahulu”
Sementara itu, Rose yang berada di rumah Cloury.
"Aku harus menemui penyihir Brighty jika aku ingin mematahkan kutukan ramalan itu. Tapi bagaimana caranya, sementara saat ini aku tidak ingin kembali ke istana"
Rose benar-benar kebingungan dengan semua yang terjadi pada dirinya. Ia berpikir jika melarikan diri adalah satu-satunya cara agar bisa tetap selamat dan menyelamatkan istana Emerald dan seluruh rakyatnya. Tak lama setelah itu Rose berjalan keluar rumah.
"Sebaiknya aku mendinginkan kepala dengan berjalan-jalan keluar sambil memikirkan rencana apa yang selanjutnya harus ku lakukan"
Rose berjalan mendekati bibir pantai.
"Betapa indahnya tempat ini, air pantainya hangat dan jernih"
Tiba-tiba saja Rose dikagetkan dengan teriakan seorang wanita.
"Astaga nona!"
"I-iya ada apa?"
"Anda sudah sadar rupanya"
"Anda? Ah! Anda pasti yang membantu saya bersama dengan Cloury ya"
"Iya, perkenalkan, nama saya Noeri, anda bisa memanggil saya bibi Noeri"
"Bibi Noeri, terimakasih sebelumnya karena sudah mengurus dan mengobati saya, juga meminjamkan pakaian anda pada saya"
"Itu bukan masalah, sekarang yang lebih penting, apakah anda sudah merasa lebih baik?"
"Tentu, ini semua berkat anda"
"Syukurlah kalau begitu, anda sedang apa disini sendirian? Cloury dimana?"
"Saya sedang berjalan-jalan saja, saya merasa bosan dirumah seharian, Cloury sedang pergi ke kota, dia mengantarkan beberapa pesanan pelanggan katanya"
"Oh begitu, oh ya nona, jika tidak keberatan saya boleh tahu nama anda?"
"Ah, soal itu, maafkan saya bibi Noeri, saat saya terbangun, saya tidak mengingat apapun"
"Astaga, pasti karena kepala anda terbentur, baiklah kalau begitu, lalu saya harus memanggil nona dengan sebutan apa?"
"Ah, s-saya juga bingung, terserah pada bibi saja"
"Kalau begitu Rose, bagaimana dengan rose? karena rambut anda yang indah seperti bunga mawar"
Aku sedikit terkejut saat bibi Noeri memutuskan untuk memanggilku dengan namaku sendiri. Tapi aku harus terlihat biasa saja.
"Nona tidak suka ya dengan panggilan saya?"
"I itu, bukan begitu, saya hanya merasa panggilan itu terlalu bagus untuk saya"
"Tidak-tidak itu sangat cocok dengan nona, kalau begitu saya panggil Rose mulai sekarang ya"
"Ah baiklah bi"
"Kalau begitu, aku kerumahku, pakaian dan jubah Rose ada disana, aku baru saja menjemurnya tadi pagi"
"Baiklah"
"Aku juga habis memetik beberapa buah hutan dan jamur untuk membuat sup, kita makan siang bersama ya"
"Ah saya nanti malah merepotkan bibi"
"Tidak, ayo ikut saja"
"Baiklah"
Rose pun ikut serta bersama bibi Noeri kerumahnya. Sesampainya di rumah bibi Noeri, Rose tampak memandangi rumah mungil yang dihiasi berbagai cangkang kerang dan bunga-bunga yang belum pernah ia lihat sebelumnya.
"Bibi, rumah anda sangat indah"
"Ah itu semua perbuatan Salju, sebelumnya aku tidak pernah menghias rumahku hahaha"
"Salju?"
"Nanti tanyakan saja pada Cloury, dia lebih mengenal Salju daripada aku"
"Salju ya, sekarang dimana dia bi?"
"Salju sudah meninggal dua tahun lalu, dia diterkam oleh serigala hutan saat musim dingin"
"A-aku tidak bermaksud"
"Tidak apa, lagipula itu sudah lama"
"Tapi, Salju itu sebenernya siapa nek?"
"Dia-, ah kemari masuklah, kita ngobrol sambil makan kudapan"
"Ah iya bi"
Rose dan bibi Noeri pun masuk kerumah, mereka duduk saling berhadapan di atas kursi kayu.
"Tunggu sebentar, aku ambilkan kue ikan"
"K-kue ikan?"
Aku baru pertamakali mendengar ada kue yang terbuat dari ikan, bagaimana rasanya, aku jadi penasaran. Tak lama kemudian, bibi Noeri kembali dari dapur sambil membawa loyang berisi beberapa kue.
"Ini dia Rose, cobalah"
"Waah, bahkan sampai kuenya pun berbentuk ikan, aku coba ya bi"
"Silahkan"
Aku kira kue ikan adalah kue yang berbahan dasar dari ikan, ternyata hanya namanya saja kue ikan karena bentuknya seperti ikan. Aku dan bibi Noeri sudah mulai akrab, bahkan tanpa sadar aku mulai menggunakan bahasa nonformal dengan bibi, karena dia terasa seperti bibiku sendiri. Selesai menyantap beberapa kue, aku pun kembali bertanya mengenai Salju yang dibicarakan bibi.
"Bi, mengenai Salju"
"Ah iya, tadi Rose bertanya tentang Salju ya"
"Iya bi, siapa dia sebenarnya?"
"Salju adalah ditemukan oleh Cloury bersama dengan suamiku saat sedang menjala ikan dilaut. Mereka menemukan Salju terapung dengan memeluk batang kayu ditengah lautan lepas. Untunglah saat itu Salju masih hidup, kemudian mereka membawanya kemari, dan kemudian aku merawatnya seperti anak sendiri"
"Lalu bagaimana bisa Salju meninggal seperti itu bi?"
"Itu semua salah suamiku, Salju-"
Brak! Suara pintu dibuka dengan keras.
"Bibi Noeri!"
"Astaga Cloury! Kau merusak pintuku"
"Flora!"
"Siapa Flora?"
"Oh, astaga, kau hampir membuat jantungku berhenti!'
Aku yang kaget hanya menatap pada Cloury yang terlihat seperti sangat khawatir.
"Cloury?"
"Nona, saya mencari anda, saya kira anda sudah pergi"
"Saya kira anda baru pulang nanti petang"
"Siapa Flora!"
Tanya bibi Noeri dengan nada tinggi.
"Ah, itu, no-nona ini, maksudnya aku mencoba mencarikan nama untuk nona karena dia kehilangan ingatannya, oh ya bibi sudah tahu?"
"Sudah aku sudah tahu, dan lagi namanya bukan Flora tapi Rose!"
"Apa? jadi nona sudah mengingat?-"
"Tidak-tidak bukan! aku yang memberikan nama itu padanya, aku kira Rose adalah nama yang tepat untuk nona ini, karena dia terlihat seperti bunga mawar, kau sejutukan?!"
"I-iya bi, oh Iya, R-Rose, saya pulang cepat karena hari ini pekerjaan di pasar tidak banyak"
"Ah iya syukurlah"
Cloury pun mampir dirumah bibi Noeri dan kami semua mengobrol sampai tidak terasa hari sudah menjelang gelap.
"Bibi Noeri terimakasih makananya"
"Iya iya, Rose besok mampir lagi ya"
"Iya bi"
"Kalau begitu kami pamit"
"Baiklah"
Aku dan Cloury pun pulang kerumah, diperjalanan Cloury menggenggam tanganku, aku sedikit kaget pada awalnya, namun aku merasa lebih nyaman seperti itu.
"Ah Cloury"
"Iya?"
"Kalau kau lebih suka memanggilku Flora, panggil saja aku begitu saat tak ada bibi Noeri, dan apa kita bisa bicara sedikit lebih santai seperti ini?"
"I itu, baiklah"
"Terimakasih Cloury"
"Saya- ah aku, aku lebih suka memanggilmu Rose, apa boleh jadi Rose saja?"
"Tentu, terserah padamu saja"
Sesampainya di depan rumah Cloury.
"Rose, tunggu, aku punya sesuatu dikeretaku untukmu"
Cloury mengambil setumpuk kain-kain indah dan pakaian wanita.
"Ini semua untukmu"
"I ini semua untukku?"
"Iya, gantilah dengan ini, karena aku tidak memiliki pakaian wanita, jadi aku membeli beberapa"
"Tapi, ini terlalu banyak Cloury, bagaimana bisa aku membalasnya?"
"Tidak apa, temanku juga ikut memberikan pakaian ini dengan percuma, jadi terima ya"
"Baiklah, terimakasih Cloury, juga sampaikan pada temanmu"
Aku dan Cloury pun masuk kedalam rumah dengan membawa pakaian-pakaian dan beberapa bahan makanan. Setelah itu aku mengganti pakaianku dengan pakaian yang dibawakan oleh Cloury.