Sinopsis
Rose adalah seorang putri yang sangat cantik, anggun, berwawasan luas dan bijaksana. Namun sayang, nasib yang diramalkan padanya hanyalah kehancuran dan keterpurukan. Seorang penyihir kerajaan meramalkan masa depannya akan hancur, “Ia akan tetap hidup tapi tidak memiliki jiwa di dalamnya”. Itulah yang dikatakan sang penyihir pada raja dan ratu mengenai putri mereka Rosetta. Lalu, apakah akan ada seseorang yang dapat mematahkan ramalan penyihir tersebut dan menyelamatkan Rose dari takdir yang buruk? Apakah takdir dapat diubah? Atau ia harus hidup dalam takdir yang telah diramalkan.
kontes menulis innovel II - The girl power
Disuatu pagi yang sejuk, terdengar cuitan burung kenari dari atas pohon pinus yang sedikit menjorok kedekat jendela kamar seorang putri cantik. Sang putri pun terbangun dan mencoba mengumpulkan tenaganya untuk duduk di atas ranjangnya, dengan sedikit tenaga yang telah terkumpul ia kemudian duduk dan meregangkan kedua tangannya untuk merilekskan badan.
“ kring... kring..” sang putri membunyikan bell untuk memanggil pelayan.
Tak lama beberapa pelayan wanita bergegas berdatangan menuju kamar sang putri yang tengah membunyikan bell. Diantara dari mereka ada yang sibuk membawa gaun dan sepatu yang cantik, sementara lainnya sibuk membawa riasan dan perhiasan, juga ada yang membawa kudapan untuk sarapan sang putri. Mereka masuk kedalam ruangan sang putri, lalu dengan sigap para pelayan mulai melayani sang putri dengan baik, mereka melakukan tugasnya dengan sangat rapi dan telaten.
“Tidak Meri bukan gaun ini, tolong ambilkan aku pakaian untuk berkuda, hari ini aku ingin jalan-jalan menyusuri pantai”. Ucap sang putri dengan bibir yang agak mengkerut.
“Baik tuan putri”
“Juga jangan lupa untuk memberitahukan pada pengurus kuda untuk menyiapkan kudaku”
“Baik tuan putri”
Pelayan itu pun bergegas untuk melaksanakan titah dari sang putri. Sementara itu, pelayan lainnya menyiapkan air hangat dengan wewangian mawar untuk memandikan tuan putri. Putri yang begitu cantik nan anggun, memiliki kulit seputih salju dan senyum semanis madu, ia perlahan mencelupkan kakinya kedalam air mawar yang telah disiapkan untuk mengecek suhu air di dalam bak mandinya, dirasa cukup iya pun mulai menenggelamkan setengah badannya, para pelayan pun mulai menggosok tubuh puteri dengan lembut. Tak lama kemudian pelayan pertama yang di perintah membawa pakaian pun datang. Pelayan lain dengan segera bergegas menyiapkan pakaian dan memakaikan nya pada putri yang telah selesai mengeringkan tubuhnya, rambutnya yang ikal dan berwarna merah terang dibiarkan terurai agar cepat kering sehabis dibasuh, rambut yang indah bagai kelopak bunga mawar itu disinari matahari yang membuatnya makin bercahaya, rambut panjang sepinggang yang menawan. Kemudian, dengan cepat seorang pelayan mulai merapikan dan menata rambut sang putri, disisirnya perlahan, lalu diberikan beberapa hiasan rambut dari jepitan emas dan sedikit wewangian. Setelah selesai dengan persiapannya, sang putri pun berlari menuju taman istana sambil mengigit sepotong kudapan kesukaannya, kue jahe yang hangat. Diperjalanan menuju taman, ia tak sengaja bertabrakan dengan penyihir istana yang terlihat bergegas menuju aula utama dimana sang raja dan ratu berada.
“Uugghhhh”. Sang putri terjatuh ketika bertabrakan dengan penyihir di lorong istana.
“Maafkan saya madam Brigthy, saya tidak sengaja dan tidak melihat dengan benar”
“Putri Rosetta!”. Tatapan tajam yang diberikan oleh penyihir tersebut membuat putri Rose kaget.
“Tidak apa, saya harus segera menemui raja. Berhati-hatilah lain kali”
“Baik madam”
Setelah mengatakan itu sang penyihir bergegas melanjutkan perjalanannya menuju aula utama. Namun, putri Rose yang merasa bersalah pun bergegas mengejar sang penyihir menuju aula kerajaan untuk meminta maaf sekali lagi dengan benar, juga ada sedikit rasa penasaran di hatinya, apa kiranya urusan yang sangat penting dari seorang penyihir yang jarang sekali terlihat berkeliaran di area istana. Karena pekerjaan penyihir selalu dikerjakan di menara khusus istana barat. Ketika sang putri hendak memasuki ruangan dimana semua orang berkumpul langkahnya terhenti saat teriakan penuh amarah keluar dari mulut si penyihir.
“Yang mulia! Maafkan atas kelancangan hamba untuk menemui anda dengan cara tidak sopan”
“Kau! Penyihir tidak tahu malu! Beraninya berteriak dan tidak mendoakan raja terlebih dahulu!”
Salah seorang menteri kerajaan menyahut dengan penuh amarah.
“Maafkan hamba yang mulia, tapi saat ini ada yang lebih penting sehingga hamba tergesa-gesa dan tidak memberi hormat pada anda terlebih dahulu, maafkan hamba. Semoga keberkahan dan kemuliaan selalu tercurah pada raja kita sang permata kerajaan Emerald. Penyihir gelap istana Barat, Brigthy Swan memberi salam”. Membungkuk dan memberi hormat dengan raut wajah yang khawatir.
“Ada kabar apa kau sampai datang langsung kemari Brigthy? Apakah akan ada perang lagi?”. Raja yang bertanya dengan raut wajah penuh penasaran.
“Bukan yang mulia, lebih dari itu, lebih dari bencana yang biasa kita hadapi”
“Katakanlah!”. Sang raja yang mulai serius mendengarkan.
“Saya mendapat ramalan yang mengatakan bahwa, diwaktu yang telah matang, sang bunga kerajaan akan layu dan membusuk, ia akan tetap hidup tapi tidak memiliki kehidupan didalamnya”
“Apa yang kau maksud dengan bunga kerajaan? Apakah itu?!”
“Ya yang mulia, sang putri! Putri Rosetta Gardner Emerald”
Sontak semua orang dalam aula kerajaan tercengang dengan perkataan dari sang penyihir. Begitu pula dengan putri Rose yang sedari tadi mendengarkan percakapan mereka dari luar jendela aula.
“Apa yang kau maksud dengan perkataaan mengerikan itu!” murka sang raja begitu terpampang jelas diwajahnya.
Dengan membelalakan matanya pada sang raja, penyihir itu berbicara dengan lantang.
“Itu benar yang mulia, itu benar! Saya kemudian dapat penglihatan di dalam mimpi saya bahwa, diusia putri yang menginjak ketujuhbelas tahun nanti akan ada bencana yang amat berat baginya, dan juga bagi seluruh kerajaan ini. Sang putri adalah penyebab dari segala kemalangan dan segala kesialan yang akan datang tidak lama lagi! Dia akan mengalami kehidupan yang tidak lebih baik daripada kematian!”
Sang raja yang sangat marah dengan perkataan penyihir yang bagai mengutuk anak satu-satunya itu kemudian memerintahkan pada prajurit kerajaan untuk menghukum penyihir Brighty dengan hukuman mati.
“Beraninya kau menghina kebanggaan kerajaan ini! Prajurit bawa dan bakar dia hidup-hidup!”. Titah sang raja yang mutlak bergema di seluruh aula.
“Baik yang mulia”
Para prajurit kerajaan pun mulai menangkap dan membawa penyihir tersebut menuju ajalnya.
“Yang muliaaa! Walau pun saya mati itu tidak akan mengubah keadaan, tidak akan mengubah takdir yang akan dilalui sang putri! Ingatlah, takdir itu akan datang tidak lama lagi”
Teriakan penyihir itu bergema diseluruh aula istana. Di waktu yang sama, putri Rose yang mendengar perkataan penyihir itu pun mulai berlari, dengan ketakutan ia menutup kedua telinganya sambil menangis. Bergegas ia menuju kuda yang telah dipersiapkan oleh pelayan, ia pun mulai memacu kuda hitam kesayangannya itu dengan emosi yang melonjak di dalam hatinya. Melaju dengan kecepatan maksimal ia pergi menuju hutan, sambil berpacu degan angin di atas kudanya ia menangis sejadi-jadinya. Masih tidak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar, ia pun tersadar bahwa usianya akan genap tujuhbelas tahun kuranglebih hanya tinggal dua bulan lagi. Sang putri yang sudah dikuasai oleh kekhawatiran pun mulai kehilangan fokus nya dan hanyut dalam lamunan, ia memikirkan kembali setiap perkataan sang penyihir atas takdir sial yang akan menimpanya pada usia yang ketujuhbelas tahun nanti. Setelah beberapa saat ia kembali tersadar oleh ringkikkan kuda yang ketakutan, di depannya sudah ada segelombolan serigala lapar yang siap menerkam. Sang putri pun mencoba untuk mencari jalan keluar, namun sayangnya ia kehilangan kendali akan kuda yang ia naiki dan tergelincir jatuh mengenai batu tajam yang tepat berada dibawahnya. Ia mulai kehilangan kesadaran akan dirinya, matanya yang perlahan tertutup dan terbuka melihat dengan samar segerombolan serigala yang mulai mendekati tubuhnya. Sesaat sebelum sang putri hilang kesadaran ia mengatakan.
“Mungkin penyihir itu benar, aku memang bernasib buruk"
Perlahan-lahan semuanya menjadi sangat gelap dan putri Rose pun kehilangan kesadaran sepenuhnya. Saat itu ia hanya berharap tidak akan merasakan tersiksanya dimakan hidup-hidup oleh para serigala yang kelaparan. Namun, takdir berkata lain, seorang pria pembawa kayu mendengar ringkikan kuda putri Rose dan bergegas menuju arah suara tersebut, bukannya kuda, ia malah bertemu dengan sang putri yang sekarang tergeletak dan dikelilingi oleh beberapa serigala lapar yang mulai menggigiti badan sang putri. Tanpa banyak berpikir, pria itu pun mengeluarkan pedang dan belati secara bersamaan, ia membenturkan kedua benda tersebut agar membuat suara bising untuk membuat perhatian serigala teralih padanya, sambil berteriak ia menghadang beberapa serigala yang maju mencoba untuk menggigitnya. Tak kalah cepat dari serigala, sang pria pun dengan cepat dan tepat menghunuskan sebilah pedang panjang pada salah satu serigala yang maju pertama, serigala yang lain pun ditebas dengan gesit oleh pria tersebut. Beberapa saat kemudian, serigala yang ketakutan mulai berlarian meninggalkan pria dan sang putri. Pria tersebut kemudian berlari menghampiri tubuh putri yang tergeletak di tanah, dengan perlahan ia membalikkan badan sang putri yang terlungkup. Kemudian ia mencoba membangunkan sang putri, namun sang putri tak kunjung sadar, lalu pria itu mencoba memeriksa apakah ada gigitan serigala yang mengenai atau fatal ditubuh putri yang malang tersebut. Setelah memastikan beberapa kali, hanya terdapat luka dikepala dan luka ringan lainnya. Karena putri masih tidak sadarkan diri, pria tersebut memutuskan untuk membawanya ke rumahnya.
“Sepertinya nona ini adalah seorang bangsawan, sekarang lebih baik aku bawa saja dulu kerumah dan memastikan ia baik-baik saja”
Pria pembawa kayu itu lantas menaikkan sang putri ke atas kereta pengangkut barangnya dengan hati-hati. Ia pun mulai menjalankan keretanya dengan perlahan menuju kediamannya. Tak lama, nampak pemandangan pantai yang indah dari atas bukit, juga terlihat rumah sederhana di dekat pantai, rumah bernuansa tua dengan pahatan dan ukiran kayu yang indah, ternyata rumah itu adalah milik pria tadi yang seorang pemahat kayu. Setelah sampai di rumah, pria tadi terlebih dahulu masuk kedalam kamar dan merapikan tempat tidur yang sedikit berantakan, kemudian ia kembali lagi sambil menggendong wanita yang baru saja ia selamatkan. Kemudian, ia meletakkan dengan perlahan wanita tersebut di atas ranjang yang sudah terlihat rapi dan nyaman.
“Sebaiknya aku memanggil bibi Noeri untuk membantu nona ini”
Sang pria pun bergegas pergi keluar, tak lama kemudian ia datang bersama dengan wanita paruh baya yang membawa beberapa pakaian dan keranjang besar bersamanya.
“Cloury ambilkan air dengan handuk kecil dan beberapa kain bersih untuk membalut”
“Baik”
Tak lama kemudian pria tersebut datang dengan membawa benda yang diminta wanita tadi.
“Bibi, ini”
“Baguslah, sekarang bantu aku dengan ini semua”
“Tapi bi”
“Aku kesulitan melepaskan pakaian berat ini sendiri, nanti saat sudah terlepas pakaian luarnya, kau boleh keluar”
“B-baik”
Beberapa saat kemudian, pakaian yang berat pun terlepas.
“Sekarang kau bisa keluar, dan segera siapkan obat luka luar yang kubawa, semunya ada didalam keranjang dan sudah tertulis takaran yang harus dipakai”
“Baik bi”
Saat pria tadi menyiapkan obat, sang wanita tua bergegas menggantikan pakaian gadis yang sedang terluka, ia membasuh serta noda darah yang menyebar di badan dan kepala sang gadis.
“Kau masih beruntung nak, lukamu tak terlalu parah”. Ucap wanita paruh baya pada sang gadis yang masih belum sadarkan diri.
“tok tok tok”. Terdengar suara pintu diketuk beberapa kali.
“Kau sudah selesai dengan obatnya?”
“Sudah bi”
“Kalau begitu masuk dan bantu aku mengoleskan obat pada gadis ini”
“Baiklah”
Samar-samar aku mendengar obrolan seseorang, terdengar khawatir dan sedikit lirih. Namun, begitu berat dan sulit untuk membuka mataku saat ini. Kepalaku sangat sakit dan badanku rasannya ngilu dimana-mana. Aku merasakan ada tangan besar yang pengusap lembut keningku, perlahan aku dapat membuka mataku tetapi masih sedikit berkabut. Sosok di depan ku yang terlihat agak buram perlahan mulai sedikit jelas, dia sepertinya seorang pria, juga ada suara wanita tua. Perlahan pria ini mengangkat kepalaku dan menyuruhku meminum air yang ia sodorkan. penglihatanku masih kabur untuk melihat dengan jelas keadaan sekitar, kemudian pria tadi mengatakan sesuatu, dalam keadaan setengah sadar aku tidak bisa mendengarnya dengan jelas.
“Anda sudah bangun, syukurlah. Ayo minum obat ini, ini akan menyembuhkan rasa sakit di kepala anda nona”
Ternyata dia ingin aku meminum ini, rasanya aneh dan tidak enak, sepertinya ini obat, kucoba paksakan telan namun sulit.
“Umm”
"Perlahan nona, anda harus meminumnya sampai habis, ini baik untuk meredakan sakit dibadan anda"
Setelah meminum obat itu aku pun tertidur. Aku tertidur semakin lelap dan benar saja, rasa sakit di kepalaku perlahan mulai menghilang. Dalam tidurku aku bermimpi akan hancurnya kerajaan Emerald, mimpi buruk yang terus membuatku takut untuk memejamkan dan membuka mata. Karena saat terpejam, hanya bayangan buruk saja yang ada dan jika aku membuka mata, aku takut mimpi itu menjadi kenyataan. Sepertinya tidurku mulai tak nyenyak dan aku mulai gundah. Beberapa kali aku terbangun dan tertidur kembali, beberapa kali pula aku merasakan tangan besar yang hangat mengusap lembut kepalaku. Setelah beberapa kali tertidur dan terbangun dan tertidur kembali, akhirnya aku kembali terbangun yang benar-benar sulit untuk tertidur kembali. Aku mendapati hari sudah sangat gelap, terlihat dari jendela yang mengarah langsung kelangit. Sepertinya tidurku benar-benar tidak nyenyak, kepalaku juga lumayan pening dan seperti berdenyut-denyut. Perhatianku pun teralihkan oleh suara merdu dari ocarina yang dimainkan dengan lembut oleh seseorang, begitu indah dan merdu setiap nada yang dikeluarkan. Namun, lagu yang cukup sedih untuk di dengar, seakan aku hanyut dalam penderitaan orang yang memainkan itu, seperti ada kekecewaan dan keputusasaan di dalam tiap melodinya. Aku pun mulai menyusuri arah suara tersebut sembari terus berpegangan pada tembok rumah tua yang terbuat dari pahatan kayu, kaki ku lumayan lemas untuk berjalan, namun entah kenapa aku sangat ingin mengikuti suara tersebut. Sampailah aku di sebuah teras yang langsung menghadap laut lepas, begitu indah pemandangan malam itu, samar-samar mulai nampak seseorang yang memainkan ocarina tengah duduk di atas karang dibibir pantai. Aku perlahan menghampirinya dengan bertelanjang kaki, aku merasakan sensasi baru, hal baru yang pertama kali aku lakukan, berjalan telanjang kaki di pantai saat malam hari, hal pertama yang aku rasakan saat menginjak pasir adalah dingin, begitu terasa menjulur sampai kebetisku. Aku menghentikan langkahku dan mulai menggerakan jemari kakiku di atas pasir yang lembut dan dingin. Namun, ingatanku mulai kembali dan kejadian yang membuat aku bisa berada disini mulai tergambar jelas, air mataku mulai menetes. Diringi suara merdu dari ocarina dan deburan ombak yang menambah suasana sedih saat ini, tangisanku pun semakin menjadi dan perasaan pilu yang kurasakan pun seperti sebilah pisau yang lurus menusuk menembus jantungku, begitu terasa sesak dan pilu dadaku. Jika kuingat kembali semua itu, apa yang harus aku perbuat dengan takdir mengerikan yang dikatakan penyihir Brighty? Bukan hanya aku, tapi seluruh kerajaan akan terkena dampak dari kesialanku. Aku yang mulai lemas terduduk di atas dinginnya pasir, tertunduk meratapi keadaanku saat ini, menangis sambil menutupi wajahku. Kemudian, suara ocarina yang ku dengarpun berhenti dan langkah kaki yang semakin jelas terdengar mendekatiku, aku masih saja menangis dan menangis. Tiba-tiba tangan yang kekar dan besar mengusap kepalaku, akupun mulai menurunkan tangan yang menutupi wajahku. Terlihat seorang pria tampan yang tersinari oleh cahaya rembulan berlutut dihadapanku.
“Nona, kenapa anda bisa ada disini?”
Suara lembut yang keluar darinya sedikit menenangkanku dan akupun mulai berhenti menangis. Sekarang terihat dengan jelas sosok tampan itu, ternyata dia adalah pria yang menolongku. Ternyata dia juga memiliki bekas luka besar di atas pelipis matanya, perlahan mulai terlihat semakin jelas. Nampak bola matanya yang biru cerah, bagai langit yang indah disiang hari, rambut coklat gelap yang terurai sebahu, kulit putih yang sedikit pucat. Tak sadar, akupun mengatakan.
“Begitu indah”
“Ah i- indah? E ekhm t- tapi apakah nona tidak apa-apa?”. Berkata sambil melihat sekeliling.
“Ah- i itu , iya uhh, aku dimana?”
Aku yang salah tingkah karena mengatakan hal yang memalukan pun tertunduk malu dan menutupi wajahku. Namun, kembali ku tatap wajah tampan itu di balik jemariku, terlihat ia tersipu malu karena ucapanku yang aneh.
“Ah maaf nona, saya belum memperkenalkan diri. Saya Cloury Fathenty, saya yang menemukan nona pingsan di tengah hutan”
“A aku pingsan di hutan? Ba- bagaimana bisa?”
“Iya nona, apa anda dapat mengingat sesuatu? Tentang bagaimana anda bisa berada di tengah hutan”
Walaupun aku tahu kebenarannya, tapi aku takut untuk menjawab bahwa aku putri Rosetta, aku tidak boleh mengungkap identitasku padanya untuk saat ini, bagaimana ini, apa aku harus memalsukan identitas diri, ah tidak! Akan sulit kedepannya jika dia menanyakan rumahku, bagaimana ini?!
“Nona? Apa ada yang sakit lagi?”
“Ah a-aku”
Apa aku harus berbohong padanya, tapi dia sudah sangat baik mau menolongku. Tapi yang lebih penting sekarang adalah kerajaan dan seluruh rakyat Emerald, jika sampai aku kembali ke istana dan kutukan yang Brighty katakan benar terjadi, maka-, tidak! aku tak sanggup membayangkannya. Sekarang lebih baik aku tinggal disini sampai menemukan cara untuk mematahkan kutukan itu. Maaf Cloury, tapi tolong beri aku tumpangan untuk sementara disini.
“Aku ini siapa? Bagaimana ini aku tidak ingat siapa aku?”
“Apa mungkin nona hilang ingatan?”
“Aku tidak tahu, aku tidak tahu aku siapa, aku hanya ingat aku terbangun dan mendengar suara ocarina lalu mencarinya dan aku menangis karena nada yang dimainkan begitu pilu, a a-“
“Sudah cukup nona, tenang dulu. Kita cari tahu pelan-pelan ya, sekarang kita kembali dulu kerumah, disini mulai dingin”
Dia menutupiku dengan mantel yang iya kenakan, dan dengan lembut memapahku kedalam.
“Nah sekarang lebih baik nona beristirahat saja, saya akan memanaskan sup labu, tunggu sebentar ya”
“Baiklah, terima kasih tuan Cloury”
Cloury namanya terdengar unik, dia tersenyum kemudian bergegas pergi mengambil sup labu untukku. Aku melihat kesekeliling ruangan yang diterangi oleh obor disetiap sudutnya, dari pencahayaan kecil itu aku mulai berfokus pada sebuah lukisan wanita cantik berambut hitam legam yang terbungkus rapi oleh bingkai kayu yang dipahat begitu indah. Aku menghampiri lukisan itu untuk melihatnya lebih jelas, seorang wanita yang sangat cantik memiliki wajah yang agak asing dari kebanyakan orang disini, dia terlihat seperti para pedagang asing Timur yang pernah berkunjung ke kerajaan kami untuk tujuan bekerjasama disini. Matanya yang sedikit agak kecil berwarna serupa dengan rambutnya. Tak lama kemudian Cloury datang dengan semangkuk sup labu panas ditangannya.
“Nona, anda diman- ah melihat lukisan Salju”
“Salju?”
“Iya, dia adalah.. Ah! daripada itu, ini sup labunya, nona pasti lapar setelah pingsan”
Aku tahu dia mengalihkan pembicaraan mengenai lukisan wanita yang ia sebut Salju itu, sebaiknya aku tidak menyinggungnya lagi.
“Aku pingsan? Ku kira aku hanya sedang tertidur saja”
“Ah iya, memang benar anda juga setelahnya mulai sadar dan beberapa kali terbangun lalu tertidur kembali, tapi sebelum itu, anda pingsan lumayan lama dari saat saya menemukan anda di hutan”
“Maaf tuan Cloury, tapi saya benar-benar tidak ingat apapun”
“Tidak apa nona, saya akan menceritakan bagaimana saya menemukan anda, mungkin saja setelah saya ceritakan, anda dapat mengingat sesuatu”
“Baiklah, saya mendengarkan”
“Nah, saat itu saya sedang memotong pohon untuk dijadikan bahan pahat di hutan, saya kemudian mendengar ringkihan kuda yang disertai lolongan serigala. Saya yakin saat itu pasti ada yang tidak beres, karena hutan Glory terkenal dengan serigala hutan, makanya saya langsung menyusuri arah suara kuda itu. Benar saja, saya melihat nona yang pingsan hampir diserang oleh beberapa seriggala hutan. Saya pun bergegas mengusir mereka dan membawa nona kemari. Begitulah kebenarannya”
“Tuan adalah penyelamat saya, saya harus bagaimana untuk bisa membalas kebaikan anda?”
Ternyata aku diselamatkan dari serigala olehnya, Blacky (kuda hitam sang putri) mungkin sudah kembali lagi ke istana, aku berharap ia bisa selamat.
“Tidak, tidak perlu seperti itu. Saya benar-benar tulus menolong anda. Tapi nona, apakah anda tidak mengingat sama sekali siapa anda dan dimana rumah anda?”
“S-saya benar-benar tidak tahu siapa dan dimana rumah saya. Maafkan saya jika amat merepotkan tuan, setelah mentari terbit saya akan segera pergi dari sini”
“Tidak nona bukan itu maksud saya”
“Maafkan saya, saya benar-benar tidak tahu saya-”
“Tidak nona bukan itu maksud saya, saya hanya khawatir dengan kondisi nona. Nona bisa tinggal disini sampai nona benar-benar pulih dan mengingat segalanya”
“Apakah bisa begitu? Apa saya boleh tinggal? Sebagai gantinya saya akan mengerjakan apa saja agar tidak menyusahkan tuan Cloury”
“Tentu saja, saya berjanji. Anda boleh membantu saya tapi sebelum itu nona harus benar-benar pulih dari luka luarnya ya”
“Baik, terima kasih tuan Cloury”
“Sekarang habiskan dulu supnya, dan ya panggil saja saya Cloury, saya agak risih saat seseorang menyebut tuan di awal nama saya, lagi pula sepertinya usia kita tidak jauh berbeda”
“Uhmm, baiklah Cl- Cloury”
“Kalau begitu saya permisi dulu nona”
“Iya, terima kasih”
Aku pun menghabiskan supnya dan kembali tidur. Namun, samar terlihat saat Cloury hendak pergi dari ruangan ini, ia berbalik dan menatap lukisan Salju yang terpajang disudur ruangan. Aku harap, setelah semua kutukanku menghilang, aku bisa membalas semua kebaikan Cloury dan juga wanita tua yang ikut membantuku. Sekarang sebaiknya aku segera beristirahat agar aku segera pulih kembali.