Menara 14 berdiri sendirian di punggung bukit gundul, seperti jarum yang lupa pada kain yang seharusnya dijahitnya. Larasati memarkir motor trail di kaki menara, melepas helm, dan langsung merasakan panas memantul dari tanah yang sudah berbulan tidak diinjak hujan. Debu menempel di keringat lehernya sebelum ia sempat membuka tas perkakas.
Ia mendaki tangga besi setinggi dua belas meter dengan ransel sensor di punggung. Setiap anak tangga mengeluarkan bunyi yang ia hafal: yang ketujuh longgar, yang kesepuluh berdecit. Di atas, panel kendali menara berkedip pelan di balik kotak baja yang dicat abu-abu pudar. Larasati membuka penutupnya, menyambungkan terminal genggam, dan menunggu log kalibrasi termuat.
"Halo, Empat Belas," gumamnya pada mesin. Ia selalu menyapa menara seolah mereka punya perasaan. Tujuh tahun memperbaiki sensor di tempat-tempat terpencil membuatnya lebih akrab dengan logam daripada manusia.
Menara ini bagian dari koridor utara Sentra Modifikasi Atmosfer Nasional. Tugasnya sederhana di atas kertas: membaca kelembapan, suhu, dan inti kondensasi di lapisan awan yang lewat, lalu—bila perintah dari pos kendali datang—melepas suar penyemai berisi garam higroskopis atau perak iodida untuk membantu tetesan air tumbuh cukup besar sampai jatuh sebagai hujan. Larasati bukan yang memutuskan kapan menyemai. Ia hanya memastikan sensor menara tidak berbohong soal apa yang ada di langit.
Hari ini sensor kelembapan menara melaporkan angka yang ganjil. Larasati mengernyit. Indikator nosel penyemai menyala hijau—artinya menara baru saja, atau sedang, melepaskan muatan. Tapi radar curah hujan di terminalnya menunjukkan garis datar. Tidak ada yang turun.
Ia mendongak.
Di atasnya, awan kumulus tebal bergulung dari barat daya, dasarnya gelap dan rata seperti perut besi. Awan seperti itu, di musim mana pun, biasanya pecah. Larasati pernah berdiri di bawah awan yang lebih tipis dari ini dan basah kuyup sebelum sempat berlindung. Ia menunggu. Angin membawa bau yang nyaris seperti hujan—bau tanah yang merindukan air. Tapi awan itu lewat. Bergerak ke timur laut, melintasi lembah, dan menjauh tanpa menjatuhkan setetes pun ke bukit tempat Larasati berdiri.
Ia mengamati selama mungkin sampai matahari menyilaukan matanya. Aneh, pikirnya, tapi bukan mustahil. Awan tidak selalu menurut. Kelembapan di bawah dasar awan bisa terlalu kering sehingga tetesan menguap sebelum mencapai tanah—virga, namanya, hujan yang mati di udara. Ia sudah melihatnya ratusan kali. Tidak ada yang istimewa tentang langit yang menahan diri.
Namun indikator penyemai itu. Kalau menara aktif menyemai dan ada awan setebal itu, semestinya ada sesuatu. Bahkan virga pun akan terbaca radar sebagai gema lemah. Layarnya kosong.
Larasati menarik terminal lebih dekat dan menggulir log enam jam terakhir. Di sana tercatat tiga operasi pelepasan suar, masing-masing dengan stempel waktu dan koordinat, masing-masing ditandai berhasil. Tapi setiap operasi mencantumkan parameter dosis yang lebih tinggi dari yang pernah ia lihat. Angka konsentrasi perak iodida hampir dua kali lipat standar. Ia tidak tahu kenapa. Menyemai berlebihan bukan hal yang dilakukan teknisi tanpa perintah; itu menghabiskan persediaan suar dengan boros.
Mungkin sensor dosisnya yang rusak, pikirnya. Itu penjelasan paling masuk akal. Sensor di menara-menara tua sering memberi pembacaan keliru setelah disengat matahari berbulan-bulan. Ia mencatatnya sebagai dugaan kerusakan kalibrasi dan menambahkan baris di lembar laporan rutin: "Sensor dosis 14-N: pembacaan tinggi tidak wajar, kemungkinan drift kalibrasi. Perlu penggantian unit."
Untuk berjaga-jaga, ia memotret layar dengan ponselnya. Foto log, foto angka dosis, lalu foto langit—awan yang sudah menjadi noda kelabu di kaki cakrawala timur. Ia tidak tahu kenapa ia memotret langit. Mungkin karena bukit ini terlalu sunyi dan ia butuh bukti pada dirinya sendiri bahwa awan itu memang ada, bahwa ia tidak salah lihat.
Larasati mengganti unit sensor dosis dengan suku cadang dari ranselnya, mengkalibrasi ulang, dan menutup panel. Seluruh pekerjaan memakan waktu empat puluh menit. Saat ia menuruni tangga, terminalnya berdenting—pesan otomatis dari pos kendali, menanyakan status menara. Ia mengetik balasan singkat: sensor diganti, menara normal, laporan menyusul.
Di kaki menara, ia menenggak air dari botol yang sudah hangat dan duduk sebentar di bayangan tipis tiang. Dari sini ia bisa melihat jauh ke selatan, ke arah lembah tempat ladang-ladang membentang. Warnanya tidak hijau. Warnanya cokelat muda, warna jerami, warna tanah yang menyerah. Di antara petak-petak itu ada titik kelabu lain—menara kembar, Menara 15, dan di baliknya, samar, jejak kampung tempat ia dilahirkan.
Kemarau tahun ini paling parah dalam ingatan siapa pun. Itu yang semua orang katakan. El Nino, kata berita. Siklus, kata para tetua. Nasib, kata ibunya.
Larasati menatap menara di atasnya, lalu menara di kejauhan, lalu langit kosong tempat awan tadi seharusnya menumpahkan isinya. Ia menyimpan ponselnya, memakai helm, dan menyalakan motor. Pikirannya sudah berpindah ke menara berikutnya dalam daftar, ke jam kerja yang masih panjang, ke gaji yang harus ia kirim akhir bulan.
Ia belum tahu bahwa foto-foto di ponselnya akan menjadi hal paling berbahaya yang pernah ia bawa pulang. Saat itu, ia hanya seorang teknisi yang lelah, mengendarai motor menuruni bukit yang gersang, di bawah langit yang—untuk alasan yang belum ia mengerti—menolak untuk pecah.