Jalan ke kampung selalu terasa lebih panjang saat kemarau. Bukan karena jaraknya berubah, tapi karena tidak ada lagi yang menyejukkan mata di sepanjangnya. Larasati melaju di antara sawah-sawah yang sudah dipanen sejak musim lalu dan tidak pernah ditanami lagi. Tanahnya retak dalam pola yang aneh—seperti kulit penyu, seperti peta sungai yang mengering. Di beberapa petak, retakannya cukup lebar untuk menelan tapak kakinya.
Kampungnya, Sumberalas, dinamai dengan harapan yang kini terdengar seperti ejekan. Dulu ada sumber—mata air di kaki bukit sebelah timur yang mengaliri seluruh kampung lewat parit-parit batu yang dibangun kakek buyutnya. Larasati ingat berenang di kolam tampungannya waktu kecil, airnya dingin sampai membuat gigi gemeletuk di tengah hari paling panas. Sekarang kolam itu cuma cekungan tanah liat yang mengeras, dasarnya pecah-pecah, dengan satu sandal jepit anak-anak yang tertinggal entah sejak kapan.
Ibunya sedang di halaman saat Larasati tiba, menyapu daun-daun kering yang gugur sebelum waktunya. Perempuan itu lebih kurus dari kunjungan terakhir, dua bulan lalu. Senyumnya tetap sama.
"Laras. Tidak bilang mau pulang."
"Lewat saja, Bu. Ada menara di bukit utara yang harus dibenahi." Larasati menyandarkan motor dan memeluk ibunya. Tubuh perempuan itu terasa ringan, dan ada bau debu di rambutnya yang tidak hilang sekeras apa pun ia mencuci. "Kambingnya mana? Biasanya berisik di belakang."
Ibunya menunduk, menyapu lebih giat. "Sudah dijual. Dua-duanya. Tidak ada rumput, Laras. Beli pakan lebih mahal daripada harga kambingnya sendiri."
Larasati tidak menjawab. Kambing itu satu-satunya yang ibunya punya sejak ayahnya meninggal. Ia tahu menjualnya bukan keputusan kecil.
Di dalam rumah, adiknya, Bayu, sedang belajar di bawah lampu yang temaram karena listrik kampung dijatah. Anak itu lima belas tahun, kurus seperti ibunya, dengan mata yang terlalu serius untuk usianya. Ia ingin masuk sekolah teknik di kota. Gaji Larasati yang menanggung mimpi itu.
"Sumur depan masih ada airnya?" tanya Larasati sambil menaruh ranselnya.
"Tinggal lumpur," sahut Bayu tanpa mengangkat kepala. "Sekarang ambil air dari tangki bantuan. Datangnya seminggu sekali. Kalau telat, beli dari truk. Mahal."
Larasati keluar ke sumur belakang dan menurunkan ember. Tali turun jauh lebih dalam dari yang ia ingat sebelum berhenti dengan bunyi tumpul, bukan cipak air. Ia menariknya kembali. Embernya berisi lumpur kecokelatan, baunya seperti besi dan tanah mati. Sumur ini tidak pernah kering seumur hidupnya. Bahkan di kemarau terburuk pun, dulu, masih ada air sedalam pinggang di dasarnya.
Sore itu para tetangga berkumpul di beranda rumah Pak Karjo, seperti biasa, mengobrol tentang satu-satunya hal yang ada untuk diobrolkan. Larasati duduk di tepi, mendengarkan.
"Sudah tiga tahun makin parah," kata Pak Karjo. "Dulu kemarau ya kemarau, tapi masih ada hujan sesekali di tengahnya. Sekarang awan datang, lewat, hilang. Seperti tidak sudi singgah."
"Salah kita juga," sahut yang lain. "Hutan di bukit ditebang. Mata air jadi marah."
"Nasib," kata Bu Surti, menutup percakapan seperti orang menutup pintu. "Sudah ditakar dari atas. Mau apa."
Larasati menatap ke arah bukit utara. Dari beranda ini, di antara dua pohon kelapa yang daunnya menguning, menara SMAN tampak sebagai garis tegak yang mengkilap ditimpa matahari sore. Menara yang ia kunjungi tadi pagi. Menara yang sensornya melaporkan dosis penyemaian dua kali lipat sementara langit di atasnya menolak menurunkan hujan.
Untuk pertama kalinya, sebuah pertanyaan yang sebelumnya tidak pernah berani ia ucapkan dalam hati mengambil bentuk. Menara itu ada untuk membuat hujan. Itu janji proyeknya, itu yang tertulis di seragamnya, itu yang ia bantu pasang dengan tangannya sendiri tujuh tahun lalu. Lalu kenapa kampung yang berada tepat di bawahnya justru paling kering?
Ia segera menampik pikiran itu. Modifikasi cuaca tidak bekerja seperti keran. Ia tahu itu lebih dari siapa pun di beranda ini. Menyemai awan cuma menambah peluang hujan beberapa persen, dan hanya kalau awannya memang sudah hampir matang. Kalau tidak ada uap, tidak ada yang bisa diperas dari langit. Kemarau ini bisa saja murni alam. Kemungkinan besar memang begitu.
Tapi angka dosis itu. Tapi awan tebal yang lewat begitu saja. Tapi sumur yang tidak pernah kering kini berisi lumpur.
Ibunya datang membawa dua gelas teh dan duduk di sampingnya. "Kamu memikirkan apa, Laras? Dari tadi mukamu jauh."
Larasati menerima gelasnya. Tehnya hangat dan terlalu manis, seperti yang selalu ibunya buat. "Tidak apa-apa, Bu. Cuma capek."
Perempuan itu mengikuti arah pandangan anaknya, ke menara di bukit. "Bisa tidak menara itu menurunkan hujan untuk kita? Kamu kan kerja di situ."
Pertanyaan itu menusuk lebih dalam dari yang ibunya sadari. Larasati menyeruput tehnya untuk menunda jawaban.
"Tidak segampang itu, Bu," akhirnya ia berkata. "Harus ada awannya dulu."
Ibunya mengangguk, puas dengan jawaban yang ia tidak mengerti, dan kembali bercerita tentang harga beras. Tapi Larasati terus menatap menara sampai langit menggelap dan menara itu berubah jadi siluet hitam di antara bintang-bintang yang muncul satu per satu di langit yang sama sekali tidak berawan. Malam itu ia tidur di kamar masa kecilnya, mendengar napas adiknya di kamar sebelah, dan untuk pertama kalinya sejak lama, ia tidak bisa memejamkan mata.